Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 107


__ADS_3

Sherin jatuh pingsan tak sadarkan diri mendengar kabar bahwa saat ini Mamanya berada di kantor polisi dan terancam akan di penjara karena tuduhan penganiayaan serta beberapa tuduhan lain yang ia sendiri pun belum tau dengan jelas apa yang sudah dilakukan oleh sang Mama.


Sherin sudah mencoba untuk menghubungi pengacara keluarga agar mau membela untuk membebaskan Mamanya dari tuduhan minimal meringankan hukuman, tapi pengacara itu malah dengan lantangnya mengajukan pengunduran diri karena tau ia tidak akan sanggup untuk membayar jasanya.


Seorang pelayan wanita berusaha untuk membuatnya sadar dengan memberikan minyak angin di hidung serta mengoleskannya pada telapak tangan Sherin yang terasa begitu dingin.


Sherin mulai menggeliat pertanda sebentar lagi ia akan sadar dari pingsannya karena syok dengan semua masalah yang menghantamnya di waktu yang bersamaan.


"Non," panggil sang pelayan yang tampak begitu mengkhawatirkan anak dari majikannya itu.


Sedikit banyak ia sudah tau apa yang saat ini tengah terjadi di dalam keluarga tempatnya bekerja, ia bahkan tau bahwa rumah ini sudah bukan lagi milik sang majikan karena sudah laku terjual dan seharusnya mereka harus sudah berkemas karena pemilik baru rumah itu akan segera menempatinya.


Sherin menangis histeris di dalam pelukan sang wanita, menangis mencurahkan segala kemalangan yang menimpa dirinya tanpa memberikan jeda sedikitpun, dan mengetahui bahwa Rona sedang hamil makin menambah kemalangan juga kesedihan di dalam hidupnya.


Wanita itu seakan tidak sanggup untuk menerima semua yang sudah tuhan takdir kan untuk hidupnya sehingga akhirnya pun ia menyalahkan semua ini kepada sang pencipta.


"Kenapa hidup aku begitu menyedihkan seperti ini Bi, Kenapa?" suara Sherin begitu lirih menandakan betapa ia sangat kecewa dan tidak terima dengan yang harus ia hadapi.


"Pria yang aku cintai malah menikah dengan wanita lain, lalu perusahaan bangkrut dan sekarang Mama malah di penjara, sebenarnya kesalahan apa yang sudah aku perbuat hingga tuhan memberikan kenyataan yang sangat kejam ini!" Rintih Sherin menyalahkan takdir yang sudah tuhan buat untuknya.


"Sherin nggak mau seperti ini? Sherin nggak terima!" pekik wanita yang sudah benar-benar kacau itu, suaranya begitu lantang mengisi kamar yang sebentar lagi harus ia tinggalkan.


"Bibi ngerti Non, tapi kita juga tidak bisa berbuat apa-apa." pelayan itu berusaha untuk menenangkan wanita muda yang tampak sedang tidak stabil.


Sherin berusaha menepis air mata dari kedua matanya, menghapusnya hingga benar-benar tidak bersisa dan meninggalkan jejak apapun lagi, lalu terdiam dengan tatapan yang menerawang jauh juga segala pikiran yang ada di dalam kepalanya.


"Ayo Bi, Kita kemas barang-barang yang akan kita bawa," ucap Sherin kemudian seraya turun dari tempat tidur.


Hal itu membuat wanita yang sudah lama bekerja di rumah itupun memandang penuh keheranan, merasa sangat aneh dengan perubahan mendadak yang Sherin munculkan, namun ia tidak mau berpikir jauh karena yang harus ia lakukan saat ini adalah ikut berkemas karena mereka harus segera keluar dari rumah besar yang selama ini mereka tinggali.


Wanita berusia 20 tahunan itu menatap rumahnya untuk yang terakhir kali sebelum benar-benar pergi.


Berulang kali ia menyusut air matanya yang memaksa untuk keluar, namun ia berusaha untuk tegar dengan semua yang terjadi, beruntung masih ada mobil dan sedikit uang tabungan sehingga ia bisa menyewa rumah untuk dirinya dan juga seorang pelayan setia yang akan ikut bersamanya.


Ia patut bersyukur karena di saat semua orang bahkan sebagian pelayannya yang langsung pergi begitu tau bahwa ia tidak mungkin akan sanggup untuk membayar gaji mereka, pelayan wanita yang satu ini tetap setia padanya mau menemani dirinya yang memang sangat membutuhkan sandaran untuk membagi segala kesedihan yang menimpanya.


"Ayo Non," ajak sang pelayan yang sedari tadi sudah ada di dalam mobil.


Wanita yang memakai celana jeans serta kaos berwarna abu-abu itupun mengangguk dan duduk di belakang kemudi, mulai memutar kunci mobil lalu perlahan menjalankan mobil itu keluar dari halaman rumah yang dulu selalu menjadi tempat untuk menghirup udara segar dari hembusan angin karena beberapa pohon besar yang tumbuh di sana.

__ADS_1


Begitu sudah melewati pagar rumah, Sherin pun menghentikan mobilnya lalu melongokkan kepala guna melihat rumah yang sudah bukan miliknya untuk terakhir kali.


Hatinya terasa begitu sakit karena tidak akan lagi bisa menginjakkan kaki di rumah peninggalan sang Papa, meski sebenarnya tidak rela namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan rumah itu hingga akhirnya kembali menjalankan mobilnya meninggalkan rumah yang hanya akan menjadi kenangan saja bahwa ia pernah tinggal di rumah sebesar itu.


Handphone milik Sherin berdering dengan sangat keras ketika mereka sedang dalam perjalanan mencari rumah yang bisa ia sewa.


Wanita itu menepikan kendaraannya guna memeriksa siapa yang tengah menghubunginya.


Nama Nella terpampang di depan layar sehingga tanpa berpikir lama Sherin pun menjawab panggilan dari sang teman.


"Lu di mana sekarang?!" baru saja di angkat suara Nella sudah menyerangnya dengan pertanyaan.


"Di jalan," sahut Sherin dengan suara yang lemah.


"Jalan mau kemana?" tanya Nella yang memang belum mengetahui apapun yang sedang dihadapi oleh temannya.



"Nanti aja gue jelasin, ceritanya panjang sekarang gue lebih baik lu bantuin gue," desak Sherin pada temannya yang wajahnya kian mengernyit dengan permintaannya barusan.




Wanita itu sungguh bingung sebab Sherin yang memang tidak kuliah dan sangat sulit untuk di hubungi, baru hari ini ia bisa menghubunginya dan berbicara.



"Bantu gue buat cari kontrakan, nanti kalau emang lu ada kita langsung ketemu aja di sana. gue bakalan cerita semuanya pas kita ketemu!" jelas Sherin seraya mengetuk-ngetukkan jari jemari tangan kanannya di stir mobil.



"Kontrakan?" dan lagi-lagi Nella malah melontarkan pertanyaan mendengar permintaan Sherin.


Sherin menghela nafas yang terasa sangat berat dan juga menyesakkan dadanya, temannya itu malah terus menerus mengajukan pertanyaan sedangkan dari tadi ia sudah mengatakan bahwa akan menceritakan semuanya setelah mereka bertemu.


"Nell, please banget untuk kali ini jangan banyak bertanya. gue sudah katakan sejak tadi bahwa gue akan cerita semuanya sama elu, tapi tolong untuk sekarang ini lu bantu gue buat cari rumah kontrakan yang bisa gue tempati," pinta Sherin dengan nada bicaranya yang terdengar sangat resah.


__ADS_1


Mendengar suara Sherin yang seakan sangat frustasi Nella pun akhirnya mengerti, wanita itu berjanji untuk mencarikan rumah kontrakan untuk sang teman.



"Kalau bisa yang kamarnya ada dua Nell, karena gue sama Bibi," tukas Sherin.



"Ya udah, gue matiin dulu teleponnya nanti gue langsung hubungin alu kalau udah ada," sahut Nella.


Sherin mengangguk meski ia tahu temannya itu tidak akan bisa melihat apa yang ia lakukan.


Wanita itu menarik nafas sedikit lega lalu kembali menyimpan handphonennya.



"Bi," panggil Sherin pada wanita yang duduk di sebelahnya.



"Iya Non, ada apa?" sahut wanita yang memang selalu di panggil Bibi oleh sang majikan.



"Kita ke kantor polisi dulu ya sebentar, Sherin mau ketemu sama Mama," tutur Sherin mencengkeram stir mobil dengan kedua tangannya.



"Iya Non, sambil menunggu temannya Non telepon," jawab wanita yang terlihat begitu tulus terhadap Sherin.



Bahkan wanita itu tetap tidak meninggalkannya sekalipun tau sangat besar masalah yang harus di hadapi oleh wanita muda yang duduk di sampingnya saat ini.



Tanpa berlama-lama Sherin pun membawa mobilnya ke kantor polisi dimana sang Mama di tahan sementara sebelum nantinya akan menjalani persidangan dengan segala tuntutan yang akan memberatkannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2