Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 42


__ADS_3

Menjelang pagi di saat suara ayam sudah berkokok dan matahari menembus gorden kamar, dua orang lelaki masih duduk saling menghadap dengan papan catur diantara mereka, meski salah satunya sudah terus saja menguap sedari awal mereka memulai permainan itu.


"Payah kamu Darren, masa nggak bisa main catur." ejek Roman pada menantunya yang sedari tadi tak pernah menang melawannya.


Penampilan Darren yang sudah tak jelas karena rambut yang acak-acakan membuat ia makin terlihat mengenaskan di hari pertamanya sebagai pengantin, pengantin lelaki yang harus menemani mertuanya main catur.


"Darren emang nggak bisa main catur Pah." sahut Darren dengan mata yang merah karena semalaman tidak tidur.


Roman mendengus kesal. "Memang cuma Ayah kamu yang bisa menjadi lawan imbang buat Papah." sungut Roman lalu merapikan papan catur dan melenggang begitu saja meninggalkan sang menantu yang langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, merentangkan kedua tangannya lalu berulang kali menarik napas lega karena akhirnya penderitaannya bermain catur berakhir sudah.


Gerutuan terus keluar dari mulutnya mengomeli sang istri yang meninggalkannya dengan mertua yang sifatnya sama konyol dengan Ayahnya.


"Awas aja kamu ya Na." mengancam pada Rona yang saat ini sudah berdiri di depan pintu kamar ingin masuk namun sedikit ragu.


"Kak." Rona membuka pintu dan mengintip ke dalam, Darren yang mendengar suara wanita yang semalam meninggalkannya menengok dan menatap dengan mata bagaikan seekor elang pembunuh yang siap mencabik tubuh mangsanya, namun dia sadar tidak mungkin mencabik tubuh istrinya sendiri yang bahkan belum sempat dia sentuh membuat Darren melengos sadis tanpa menjawab panggilan istrinya.



"Ada Ayah sama Ibu di luar." beritahu Rona tentang kedatangan orang tua suaminya yang pasti juga akan mengantar mereka ke apartemen nantinya.



Dengan mulut yang terbungkam bagaikan ada sebuah lakban yang menutupnya hingga tak bisa bersuara Darren beranjak bangun dari ranjang setelah merilekskan otot-otot tubuhnya yang sangat pegal karena harus duduk berjam-jam guna memuaskan mertuanya yang sepertinya memang sengaja mengerjainya, berjalan ke dalam kamar mandi tanpa peduli tatapan bersalah yang Rona tunjukkan.



Rona tentu sangat sadar apa yang membuat suaminya menjadi seperti sekarang ini, tidak lain karena dirinya yang kabur pada malam pertama mereka yang seharusnya berakhir romantis dan sumringah di wajah Darren namun berganti menjadi raut kekesalan yang tercetak jelas di wajahnya.



Rona mengeluarkan satu setel pakaian sang suami dari dalam tas beserta dengan \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* yang membuat Rona tersipu malu menyentuh benda itu meletakkan semua itu ke atas ranjang yang sudah dia rapihkan lalu setelahnya keluar dari kamar guna membuatkan teh untuk suaminya, meskipun ada pelayan yang sudah pasti akan membuatkan teh namun Rona memilih untuk membuatkan sendiri minuman bagi sang suami, setidaknya itu hal pertama yang ia lakukan sebagai seorang istri.



"Mana Darren?" tanya Rianti pada sang menantu.



"Lagi mandi Bu." jawab Rona dengan senyum seraya kembali sibuk memasukkan gula ke dalam teh.


Rianti yang melihat itu hanya bisa membulatkan mata, terkejut dengan apa yang menantunya itu lakukan lalu setelahnya menahan tawa dan pergi meninggalkannya begitu saja.


"Kenapa Ri." tanya Tania begitu berpapasan dengan Rianti yang sudah menjadi besannya.



"Suut." Rianti menahan mulutnya dengan telunjuk dengan kode mata sehingga membuat Tania melihat ke arah putrinya yang tengah membelakangi mereka.

__ADS_1



"Apa mau ada pertunjukan?" Tania bertanya seolah tau akan terjadi sesuatu yang mengejutkan di rumahnya saat ini.



Darren sudah keluar dari dalam kamarnya, rambut yang basah dan pakaian yang rapi tetap tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat sangat kurang tidur, pengantin baru itu berjalan menuju sang Ayah yang tengah berbincang dengan Papah mertuanya yang tengah tertawa seperti tidak pernah merasa telah melakukan apapun pada menantunya sendiri.



"Bagaimana malam mu Darren? sepertinya kamu tidak tidur sepanjang malam." ledek Aditya yang baru melihat wajah anaknya saja sudah bisa tau bahwa anaknya itu tidak tidur semalaman.



Darren diam tak menjawab sedangkan di sudut sana sang mertua malah tengah menahan tawanya.



"Anak lu payah Dit, Masa kalah terus." seloroh Roman yang tentu saja membuat Aditya berpikiran lain, karena dari dulu seperti itulah Aditya, tidak pernah nyambung orang berkata jelas saja dia akan mengartikan lain, apalagi perkataan ambigu yang di katakan oleh Roman barusan.


Mata Aditya membelalak lebar menatap tak percaya sang anak. "Jangan sembarangan lu Man, anak gue mana mungkin kalah." sungut Aditya pada sang teman, karena Aditya merasa dia sangatlah tangguh jika sedang bersama istrinya jadi tidak mungkin keturunannya akan kalah begitu saja bahkan berulang kali.


"Tapi buktinya kalah." Roman mengedikkan bahunya acuh.


"Darren." seru Aditya meminta sang anak menepis pernyataan Roman.


"Kamu perlu belajar dari Ayah." keluh Aditya akhirnya.



"Memang hanya elu yang paling jago." seloroh Roman.



"Kenapa mertua kamu bisa tahu kalau kamu kalah terus?" tanya Aditya merasa bingung, masa hal pribadi seperti itu Roman bisa tau, kan tentu sangat tidak mungkin. begitu pikiran Aditya saat ini.



"Kan emang sama gue Dit." Roman yang menjawab hingga Aditya melihat padanya dengan pandangan yang sulit di mengerti.



"Lu gila Man!" bentak Aditya membuat Tania serta Rianti yang ada di ruang makan berlari menuju mereka, sudah berpikir bahwa kedua lelaki itu akan mulai pertengkaran lagi seperti biasanya.



"Gila gimana?" Roman yang tidak tau apa yang kini ada di dalam kepala Aditya bertanya dengan raut heran.

__ADS_1



"Kenapa sih Mas?" tanya Rianti yang berdiri di depan pintu bersama Tania yang juga memasang wajah bingung.



"Nih Roman emang gila." tuding Aditya tak jelas menunjuk temannya.



"Gue gila kenapa peak." menepis telunjuk sang teman yang berada tepat di depan wajahnya.



"Itu lu bilang sama elu, kalau bukan gila apa namanya?!" sengit Aditya kacau dengan pemikirannya sendiri.



"Darren, Ayah kamu kenapa?" kali ini bertanya pada anaknya yang terdiam memikirkan sang Ayah, memikirkan apa yang membuat Ayahnya menjadi seperti itu.



"Darren sama Papah cuma main catur Ayah." kata Darren akhirnya menyelesaikan perdebatan gila karena kesalahpahaman dari kedua lelaki dewasa di depannya itu.


Dan ekspresi Aditya pun mendadak sangat kaku menyadari pemikiran konyolnya.


"Cuma main catur?" suara Aditya terdengar pelan.



"Astagaa Aditya! emangnya apa yang lu pikirin?!" bentak Roman yang baru menyadari ternyata dia dan Aditya membicarakan hal yang jauh berbeda.



Tidak ada jawaban dari Aditya hanya tangannya saja yang kini menggaruk kepalanya yang sungguh terasa mendadak sangat gatal.



"Gila lu!" gantian Roman mengatai Aditya sengit.



Rianti dan Tania mendesah kesal dengan kelakuan suami-suami mereka yang sepertinya tidak pernah bisa berubah sampai kapanpun.



Rona muncul membawakan secangkir teh untuk suaminya dengan wajah yang sangat polos tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi meletakkan cangkir itu di meja depan suaminya dengan diiringi tatapan dari dua pasang mata wanita yang tampak menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


****


__ADS_2