Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 53


__ADS_3

Jam 8.30 pagi motor besar yang di naiki oleh sepasang suami istri sudah mulai melaju membelah jalanan menuju rumah sakit.


Hari Senin membuat jalanan terlihat lebih ramai dari hari biasanya meskipun jam kantor sudah lewat kurang lebih 1 jam yang lalu, ibukota memang akan selalu seperti ini karena banyaknya kesibukan dari penghuninya yang tidak hanya sebagai pekerja kantoran saja, pasti ada manusia-manusia lainnya yang mempunya kesibukan sendiri untuk mencari penghidupan yang harus tetap berjalan setiap harinya.


Motor dengan suara yang terdengar sangat macho seperti tidak mau kalah dengan sang pemiliknya itu pun terpaksa menghentikan putaran rodanya kala lampu lalu lintas berubah menjadi merah.


Tangan Rona yang sejak tadi berada di pinggang lelaki yang selalu berpenampilan bak seorang bad boy itupun terlepas guna membenarkan letak duduknya yang sejak tadi selalu saja turun hingga sangat menempel pada tubuh lelaki yang untungnya sudah menjadi suaminya.


"Pegel Kak." adu Rona, tentunya mengadu hanya untuk mencari perhatian dari sang suami, tapi sepertinya ia harus menelan dalam hal yang ia inginkan itu dengan sangat terpaksa, sebab ia menikah dengan keturunan Aditya yang tingkat menyebalkan dan tak jelasnya itu mungkin melebihi Ayahnya sendiri.


"Biasa naik matic sih!" cibir Darren dengan posisi yang tak berubah, menatap lurus ke depan menunggu lampu berubah warna.


Bibir Rona mengerucut bagaikan seekor bebek. "Aku sering naik motor kayak gini Kak." tak terima dengan pernyataan lelaki yang sangat setia dengan Hoodie berwarna gelap bahkan Rona sempat melotot tak percaya kala kemarin membereskan pakaian suaminya begitu banyaknya koleksi Hoodie dari lelaki itu.


Mendengar pengakuan dari wanita di belakangnya Darren pun memutar tubuhnya dan memicingkan mata. "Sama siapa?" selidiknya seperti tidak suka pada kenyataan bahwa wanita yang sudah menjadi istrinya sudah pernah naik motor besar dengan lelaki lain, Darren sangat tau kalau Rona hanya bisa mengendarai motor matic, tentunya tidak mungkin bukan kalau wanita itu mengendarai motor besar? tidak mungkin juga dengan Papahnya sebab mertuanya itu tidak pernah mau naik motor terlebih tidak ada motor besar seperti dirinya di rumah sang mertua.


"Sama Tyo." sahut Rona acuh, mengetahui ekspresi suaminya sudah mulai tak enak untuk di lihat.


Darren mendengus mengeluarkan napas panas di hari yang masih terbilang pagi ini.


"Jalan Kak." seru Rona tidak membiarkan suaminya untuk mengoceh mengatakan segala protesnya tentang Tyo, Tyo dan Tyo yang memang selalu adu mulut jika mereka sudah bertemu lebih lagi Darren yang tampaknya sudah kadung kesal pada temannya itu karena baru pertama bertemu saja sudah memanggilnya dengan sebutan Om. luar biasa sialan bukan?.


Darren melirik emosi pada lampu yang memang sudah berubah, lalu menggeleng kepalanya sesaat dan menjalankan motor dengan laju yang tak terkira membuat Rona kaget dan dengan segera berpegangan pada pinggangnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan Kak." saran Rona saat Darren malah dengan sengaja menyalip kendaraan yang ada di depan mereka.


Perkataan Rona tak di gubris sedikitpun oleh Darren, terbukti dengan tangannya yang semakin lihai menarik gas, laju kendaraan roda dua yang cepat dengan pemiliknya yang tengah emosi hanya karena wanita yang sudah menjadi istrinya itu sudah sering kali berboncengan dengan bocah tengil yang menjadi musuhnya sejak pertama bertemu itu membuat mereka bisa dengan cepat sampai di halaman rumah sakit.


Jantung Rona berdegup sangat kencang hingga ia malah terbengong ketika motor sudah berhenti, ia memang sering membawa motor dengan kencang bagaikan seorang pembalap tanpa rasa takut sedikitpun, tapi kenapa ketika berada di boncengan ia malah ketakutan seperti ini, seolah tidak percaya pada suaminya sendiri yang tidak akan mungkin mencelakai mereka berdua.


Darren yang sudah turun dari motor dan tengah merapikan rambutnya setelah membuka helm hanya mendiamkan Rona begitu saja seraya menatap dengan tatapan yang tajam. sepertinya cemburu seorang Darrendra lebih menyeramkan dari lelaki bernama Aditya Erlangga.



"Cepat Rona, aku mau ke kampus habis ini." suara Darren yang tegas dan berat sungguh mengejutkan wanita yang masih duduk di atas motor, kepala Rona bergerak seolah baru tersadar dari sebuah lamunan yang begitu lama.




Rona yang sudah sangat sering berkunjung ke rumah sakit untuk menemui Papahnya itupun gegas menghampiri suster yang berdiri di depan ruang kerja sang Papah.



Sang suster sudah begitu kenal dengan Rona pun menyunggingkan senyum yang sangat ramah dan di balas oleh anak dari Dokter yang selama ini ia dampingi ketika sedang menjalankan tugasnya.


__ADS_1


"Papah ada Sus?" tanya Rona dengan tangan Darren yang masih menggenggam erat tangannya.



"Ada, tapi kamu di suruh daftar dulu katanya." sahut sang Suster dengan senyuman ketika tak sengaja bertatapan dengan Darren.



"Iish, Papah gimana sih." keluh Rona ketika Papahnya itu tetap mengharuskan dirinya untuk mendaftar sebelum bertemu dengannya.



"Udah ada pasien yang antri soalnya." beritahu Suster sambil melirik pada beberapa pasien yang duduk di kursi tunggu tak jauh dari ruangan sang Papah.



"Daftar di mana?" Darren yang sejak tadi diam pun angkat bicara.


Suster pun mengantar Darren dan Rona agar bisa mendaftar sebelum makin banyak orang yang datang untuk memeriksa kehamilan atau yang keluhan yang lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan sang mertua.


Selesai mendaftar keduanya duduk menunggu giliran mereka untuk masuk ke dalam ruangan yang sejak tadi pintunya terbuka dan tertutup ketika ada pasien yang masuk dan pasien yang selesai menjalankan pemeriksaan.


\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2