Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 54


__ADS_3

"Mas kangen." Aditya sudah begitu agresifnya mendekati Rianti saat langit di luar sudah mulai gelap.


Rianti menghindar dengan memasang wajah sinis nya.


Seolah tak perduli lelaki yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya itu malah dengan sengaja meniup-niupkan telinga sang istri.


"Nanti Daren bangun." kata rianti ketus, padahal anaknya lelaki nya itu sudah tertidur pulas di box nya dengan posisi ternyaman, bahkan sepertinya jika ada goncangan pun Daren tidak akan mudah untuk terbangun.


Aditya berjalan menuju box guna memastikan apakah anaknya itu sudah benar-benar pulas atau belum, sebab ia tidak mau jika nanti saat dirinya tengah begitu terhanyut dan meresapi akan terjeda dan yang lebih parah nya terhenti sama sekali kalau mendadak anak nya terbangun dengan suara tangis yang tentunya kencang.


Memasang senyum saat mencoba mengelus pipi sang anak dan memanggilnya namun tak ada respon sedikitpun "Aman." gumamnya kemudian lalu kembali pada Rianti yang kini sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut bulu kesayangannya.


"Mau bikin mas kerja keras sepertinya kamu ini." berbisik pelan seraya ikut masuk ke dalam selimut.


Rianti menggeser tubuhnya ketika suaminya sudah begitu dekat dan hembusan napasnya begitu terasa menyentuh pipinya yang kini terlihat berisi akibat berat badan yang bertambah akibat menyusui.


"Kok menghindar terus sii yank?" tanya Aditya karena untuk sekian kalinya Rianti menggeser tubuh nya menjauh


Tak ada jawaban yang di berikan oleh sang istri membuat Aditya jengah sendiri.


"Mas marah nih?!" mengeluarkan kata sakti nya jika sudah di diamkan oleh Rianti


"Bodo, marah tinggal marah." sahut Rianti ketus seraya menarik selimut


Aditya mengernyitkan kening seiring dengan mulut yang di manyunkan.


"Kenapa siih,mas baru pulang udah di ambekkin?" tanya yang tidak juga peka tentang apa yang menyebabkan sang istri ngambek seperti sekarang.


"Kenapa sayank..?" bertanya lagi ketika tak juga ada jawaban


"Tau ah" kata Rianti singkat dengan masih menutupi wajah dengan selimut


"Dih aneh, tau-tau ngambek." ucap Aditya, padahal seharusnya ia sadar dan ingat kenapa istrinya seperti itu.


"Terserah ah." kata Aditya yang sudah kesal dan turun dari ranjang berniat keluar kamar.


"Maaas.." Rianti membuka selimut dan memanggil sang suami ketika sadar suaminya akan keluar kamar meninggalkannya yang sebenarnya juga merasa kangen akan belaian sang suami.


"Mas kesel sama kamu." sahut Aditya yang sudah berdiri di depan pintu memegang handle


"Aku tuh lagi ngambek sama mas, bukan nya di bujuk malah di ambekkin balik.!" sentak Rianti kesal , hampir saja ia berteriak di dalam kamar, namun untungnya ia bisa mengontrol suaranya agar tak membangunkan Daren.


"Ya kamu ngambek kenapa,? mas baru pulang udah di giniin." sewot Aditya tak mau mengalah


Rianti membanting tubuhnya ke ranjang mendengar perkataan suaminya yang masih saja tak tahu ia marah karena apa.


Aditya makin mengernyitkan kening dengan pandangan mata bingung seratus persen melihat tingkah istrinya yang sudah menyuguhkan drama aneh saat ia pulang.


Rianti menyentak-nyentak kakinya di ranjang macam anak kecil yang tengah merajuk tak di belikan mainan.


"Apa sih Yank, kamu tuh jadi kayak Riana deh lama-lama." kembali menghampiri sang istri yang bertingkah konyol di atas ranjang.


"Mau minta dede baru lagi? iya?" pertanyaan yang membuat Rianti berhenti bertingkah aneh dan lantas meliriknya dengan tajam, membatin heran kenapa bisa ia memiliki suami yang selalu berpikiran untuk membuat anak di tengah dirinya yang sedang marah itu.


"Mas tuh nggak ngerti apa emang nggak mau ngerti!?" menghembuskan napas kesal


Aditya mengedikkan bahunya "Apa yang harus mas ngerti?" tanyanya kemudian sambil duduk di depan sang istri


"Iisshh." desis Rianti memalingkan wajahnya enggan menatap wajah Aditya.

__ADS_1


"Mas nggak ngerti ah sama kamu." sahut aditya akhirnya


"Masih ngambek kayak gini, mas tinggal kamu ya, biarin aja nggak mas temenin tidur." mengeluarkan ancaman kembali


Rianti mendengus mendengar ancaman yang di katakan suaminya itu "Yaudah sana mas tidur di luar." usir Rianti, yang rupanya tak mau mengalah.


"Hadeeehh rumiiit." berkata gusar sambil menggaruk kepala membuat rambutnya berantakan.


"Tega banget kamu yank." berkata dengan raut memelas


"Sana, tadi katanya nggak mas mau tidur disini." merasa di atas angin melihat ekspresi yang di berikan Aditya


"Tadi mas mau keluar kan? yaudah sana keluar." kata Rianti lagi


"Becanda yank, becanda."


"Aku nggak suka di becandain!" tutur Rianti


Aditya membuang napasnya yang semakin saja memenuhi paru-paru sekaligus menyesakkan dadanya.


"Ini kamu awalnya ngambek sama mas sampe kayak gini tuh kenapa?" bertanya awal mula kemarahan sang istri terjadi


"Mas kenapa sih nggak peka banget jadi suami!!" menyentak marah


"Yang nggak peka di bagian mana nya sayaank!!" berkata gemas seraya menahan tangannya yang hampir saja mencubit pipi Rianti saking rasa geregetan nya ia terhadap sang istri.


Rianti memasang wajah cemberutnya


"Kenapa?" tanyanya dengan suara lembut namun khas dengan suara berat dan seraknya bagai seorang penyanyi rock.


"Mas dulu suka godain cewek!" kata Rianti akhirnya


"Aahhhh" Rianti memiringkan kepalanya menghindari jitakan selanjutnya yang sudah siap di berikan Aditya


"Ngaco pikiran kamu tuh." kata Aditya


"Tapi bener kan yang diomongin Roman tadi?!" tutur Rianti sambil menepis tangan sang suami yang sudah kembali mendarat di kepalanya mengacak-acak rambut hitam lurusnya


"Bener, tapi kan itu dulu, semenjak kenal kamu sampai sekarang mas udah nggak kayak gitu lagi."


"Tapi kan tetep aja mas pernah godain cewek sampai di pukulin orang." berkata tepat di depan wajah suaminya


Mata Aditya bahkan tak sempat berkedip di buatnya.


"Iya mas salah, maafin mas ya sayank." mengalah saja dari pada istrinya semakin ngambek dan sulit untuk di luluh kan sehingga berimbas pada liburnya acara melepas kangen yang sejak tadi ia harapkan


Rianti mendengus berulang kali membuat hidung nya kembang kempis.


"Udah ya marahnya, mas kangen banget loh sama kamu" berkata penuh harap agar prosesi segera berjalan.


"Yaudah aku maafin, tapi.." menjeda omongannya


"Halah pake tapi segala, ujung-ujung nya bersyarat ini mah" batin Aditya sudah menerka apa yang akan di katakan oleh istrinya kemudian.


"Mas!!" menggoyang lengan suaminya yang terbengong dengan berbagai macam praduga ngawur nya


"Iya,, tapi apa sayank?" memamerkan wajah dengan garisan senyum di kedua bibirnya bahkan terlihat sekali senyum itu begitu kaku seolah sang pemilik bibir tak ikhlas untuk memberikan senyum itu.


"Mas mau turutin?" tanya Rianti

__ADS_1


"Iya mas turutin asal jangan aneh-aneh." kata Aditya menyanggupi apa yang akan di ajukan oleh Rianti


"Nggak aneh kok" menggeleng cepat


"Yaudah apa?" bertanya serius


"Mas jagain Daren besok.."


"Oke, cuma jaga Daren doank." Aditya tampak menyanggupi dengan nada meremehkan


"Riana juga." rupanya Rianti belum selesai berkata


"Hah." mulut Aditya terbuka lebar


"Masa Riana juga yank, dia kan lagi marah sama mas" lanjut Aditya lagi


"Yaudah kalo nggak mau." sahut Rianti sudah bersiap membungkus tubuhnya kembali dengan selimut


"Eh eh eh, iya yaudah mas mau." kata Aditya panik tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan mata


"Bener?" tanya Rianti meyakinkan perkataan sang suami


"Bener sayank!!" gemas karena rasanya ia sudah tak tahan


"Tapi nggak sampe sore ya, mas ada urusan soalnya" kata Aditya kemudian sebab ia ingat harus memberi pelajaran pada Imran si hama pengganggu itu


"Kemana?" tatapan Rianti menyelidik


"Nemenin Roman ke bengkel." menjawab cepat hingga tak sengaja nama Roman ikut terbawa


dan setelah ini ia harus segera menghubungi Roman meminta kerjasamanya jika nanti Rianti menghubungi temannya itu menanyakan apa yang sudah ia katakan.


"Oh yaudah" meski bibirnya mengatakan kata yaudah namun hatinya tetap saja menaruh curiga


Tangan Aditya sudah terlihat bekerja di balik selimut yang menutupi tubuh sang istri hingga satu suara menghentikan kegiatannya


"Bu." suara Riana di balik pintu yang terkunci hingga terdengar ketukan-ketukan


karena tak di jawab oleh ibu nya yang kini berwajah panik bergegas membenahi pakaiannya


Sedang Aditya menjatuhkan kepalanya ke atas bantal, lemas merasa perjuangannya sejak tadi akan berakhir mengecewakan.


Riana berjalan masuk mengikuti ibunya dan naik ke atas ranjang seraya melihat ayahnya yang tengah memijit kening berkali-kali.


"Ana mau tidur di sini." kata Riana lalu merangsek diantara ayah dan ibunya


Mata Aditya makin membelalak tak percaya dengan pendengarannya.


lalu memandang Rianti dengan wajah memelas dan meminta di kasihani


Rianti mengedikkan bahunya sambil menggeleng-geleng, dengan tubuh yang kini di dekap oleh anak gadisnya..


Riana sudah terlihat memejamkan kedua matanya, namun Aditya tahu anaknya itu belum tidur, dan tengah memasang telinga mendengarkan percakapan apa yang akan di bicarakan oleh kedua orang tuanya.


Aditya turun dari ranjang


"Aku tunggu di kamar bawah" berbicara tanpa suara seraya menunjuk keluar kamar pada Rianti yang mengangguk pelan..


Pria berperawakan tegap itu melangkah menuruni tangga menuju kamar tamu yang ada di bawah di dekat ruang kerjanya guna menunggu sang istri..

__ADS_1


*******


__ADS_2