Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 61


__ADS_3

Darren yang sudah berada di ruang kerjanya mulai mempelajari semua yang menjadi tanggung jawabnya di kantor itu, tanggung jawabnya sebagai seorang Direktur, dia baru saja bekerja namun Ayahnya langsung memberikan posisi yang cukup tinggi kepadanya, bukankah seharusnya dia mulai dari bawah dulu? agar mengerti lalu setelah itu baru menempati posisi Direktur itu.


Tapi ketika Darren menghubungi sang Ayah hanya kalimat-kalimat tegas tak bisa di bantah yang keluar dari mulut Ayahnya itu. "Itu akan jadi perusahaanmu nantinya, jadi sebaiknya mulai sekarang kamu kendalikan perusahaanmu sendiri agar Ayah tidak merasa pusing lagi jika harus memegang perusahaan itu juga." begitu kata sang Ayah melalui sambungan telepon tadi.



Dan Darren hanya bisa menghembuskan napas panjang dengan mata tangannya yang mulai memijit kening, jabatan Direktur di hari pertamanya bekerja bukankah sangat membebani dirinya.



"Apa minta Om Johan aja ya untuk bantuin?" mulai memikirkan asisten setia Ayahnya berharap pria dewasa yang memiliki wawasan luas tentang segala urusan kantor itu mau beralih padanya.



Tetapi kemudian sepertinya dia harus mengurungkan niatnya itu sebelum mengungkapkan pada sang Ayah, karena dia sangat yakin Ayahnya itu tidak akan membiarkan asisten kesayangannya itu bekerja untuknya.


Darren tau, biarpun mereka berdua sering kali beradu argumen tetap saja tidak akan bisa dipisahkan begitu saja, apalagi hanya untuk dirinya belum mengatakan permintaannya saja nyali Darren sudah ciut dan sangat yakin tidak akan dipenuhi oleh Ayahnya itu.


Sudahlah lebih baik mulai menjalankan saja semua yang Ayahnya inginkan, toh itu dia lakukan agar bisa mendapatkan gaji setiap bulannya untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga.



Berkas demi berkas mulai Darren pelajari di bantu dengan seorang sekretaris wanita yang bahkan belum dia tau siapa namanya.


"Nanti setelah istirahat ada rapat Direksi Pak." suara halus dari sang sekretaris pun mengisi pendengaran Darren yang tetap tak mau mengangkat kepalanya, menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang mulai memusingkan kepalanya.


"Buatkan saya kopi." baru membuka mulut ketika meminta kopi, guna kopi untuk sedikit meredakan pusing di kepalanya, tidak mungkin mengeluh sebab jika mengeluh tentunya yang akan di salahkan adalah kenapa dirinya menikah jika belum siap dengan segala tanggung jawab, kenapa menikah jika belum juga lulus kuliah dan akhirnya sekarang isi kepalanya hanya akan ada pekerjaan juga tugas kuliah yang setiap pulang kerja harus dia hadapi.

__ADS_1



"Baik Pak." jawab wanita yang memakai pakaian warna senada dari atas hingga bawah.



Wanita itu baru saja akan beranjak ketika suara Direktur barunya kembali terdengar. "Nama Mbak siapa?" tanya Darren yang sejak tadi lupa menanyakan nama wanita yang menjadi sekretarisnya itu.



"Desi Pak, Desi Puspasari." sahut sang sekretaris dengan iringan senyum sopan namun ada sirat keanehan sebab Direktur yang artinya atasannya itu malah memanggil dirinya Mbak.


"Baiklah Mbak Desi, tolong buatkan saya kopi." kata Darren yang lucunya masih menyematkan panggilan Mbak pada sekretaris yang sudah bekerja di kantor Ayahnya itu dua tahun yang lalu.


Desi mengangguk dengan gerakan perlahan lalu melangkah keluar. "Kenapa gue mesti di panggil Mbaaak? muka gue tua banget apa?" tanyanya pada diri sendiri di balik pintu sang Direktur baru yang sudah ia tutup.




"Kenapa lu Des?" seorang karyawan yang melihat tingkah Desi bertanya aneh dengan tingkah sang sekretaris.



"Nih Direktur baru nyebelin, masa gue di panggil Mbak." adunya pada sang teman yang langsung saja memperdengarkan suara tawa yang cukup mengganggu telinga.


Tawa mengejek masih mengudara di dalam toilet membuat Desi kesal. "Gue mau bikin kopi, sama ngeselinnya lu sama si Direktur baru." ketusnya yang tak terima di tertawakan sebegitu kencangnya.

__ADS_1


Desi menghentakkan kakinya dengan tangannya yang membawa nampan berisi secangkir kopi, hanya berani menghentakkan kaki ketika sepanjang jalan menuju ruangan sang Direktur dan hentakkan kaki itu terhenti ketika sudah berada di depan pintu lalu berganti dengan langkah kaki yang begitu halus.



"Kopinya Pak." meletakkan kopi ke atas meja.



"Saya masih muda tidak perlu memanggil Bapak." protes Darren yang sejak tadi telinganya merasa gatal mendengar kata Pak berulang kali.



Desi mengerutkan alisnya. "Tidak mau di panggil Bapak, lalu mau di panggil apa? tadi juga dia manggil gue Mbak." hanya berani membatin tanpa berani mengatakan langsung isi hatinya yang dongkol dengan Direktur baru itu.


Direktur baru yang dari wajahnya saja sudah terlihat jelas bahwa itu adalah jiplakan sempurna dari seorang Aditya Erlangga, siapapun pasti akan menyetujui dengan pendapat Desi bahwa Darren adalah Aditya muda dengan segala sifat menyebalkannya itu.


"Lalu saya harus panggil apa?" kata Desi akhirnya.



"Terserah Mbak, asal jangan Bapak, saya belum punya anak." kata terserah meluncur seenak jidat dari mulut keturunan Aditya dan Rianti itu.



Desi memutar bola matanya, baru sehari saja meladeni Direktur di depannya itu kepalanya sudah berputar dengan sangat cepat, berputar tak mau berhenti membuat dia pusing tujuh keliling.


__ADS_1


"Baiklah." kata Desi kemudian memilih beranjak dari ruangan itu guna sedikit mencari ketenangan dalam hatinya mulai merasa begitu dongkol.


****


__ADS_2