
Darren yang baru saja sampai di pintu apartemennya langsung mengetuk pintu, entah kenapa sekarang dia sedang ingin di bukakan pintu oleh sang istri, padahal dia pun tau kata sandi pintu apartemen itu, namun sepertinya efek kehamilan dari istrinya membuat dia jadi ingin melakukan hal yang lain serta berbeda dari biasanya.
Darren menunggu cukup lama, berdiri bersandar di samping pintu dengan tangan yang sesekali mengetuk dan juga menekan bel pintu, entah sedang apa Rona sekarang hingga membutuhkan waktu untuk membukakannya pintu.
"Naaa," panggil Darren dengan bibirnya yang manyun karena kesal Rona tak kunjung membuka pintu.
Di saat kekesalan itu malah keluar seorang wanita yang tinggal di depan unitnya.
Wanita yang dulu pernah Darren ceritakan pada Rona hingga membuat sang istri cemberut kesal karena cemburu.
Wanita yang terlihat modis itu malah menghampiri Darren membuat pria yang menunggu di bukakan pintu oleh istrinya itupun segera menegakkan tubuhnya.
Tepat saat bibir wanita itu terbuka untuk mengeluarkan kalimat, pintu di belakang Darren terbuka lebar dan muncul lah wajah wanita yang sejak tadi membuat Darren menunggu.
Lalu tanpa basa-basi Rona langsung menarik lengan sang suami untuk masuk ke dalam dan menutup pintu dengan sangat keras membuat sang wanita bergidik ngeri lalu segera melangkah pergi.
"Tuh anak kecil-kecil nyeremin banget," gumamnya sambil setengah berlari menuju lift.
Di dalam apartemen mulut Rona mulai berceloteh, protes pada sikap tak jelas suaminya yang bukannya langsung masuk ke dalam malah diam saja di luar pintu.
"Alasan terus Kak," seru Rona kala mendengar suaminya membela diri ketika ia mempermasalahkan apa yang ia lihat barusan.
"Aku emang kepinginnya kamu bukain pintu Na," sahut Darren lagi tak mau disalahkan sedangkan dia memang tidak berbuat salah.
Karena memang wanita itulah yang lebih dulu mendatangi dirinya.
"Biasanya juga langsung masuk kok, kenapa harus mesti tunggu aku bukain dulu. kan aku nggak mungkin selalu standby buat dengerin kamu datang, bisa aja aku lagi di kamar mandi atau lagi ngapain gitu," kata Rona seraya duduk di sofa lalu memalingkan tubuhnya dari sang suami, sangat enggan melihat wajah suaminya yang ia anggap kecentilan.
"Ini karena Dede bayinya yang ingin kayak gitu, aku juga sebenarnya nggak mau, tapi kalau nggak dilakuin aku malah jadi kayak kesel."
Darren berusaha untuk memberi penjelasan pada istrinya yang sejak membuka pintu tadi raut wajahnya sudah terlihat sangat menggemaskan dengan cemberut yang makin membuat pipi kenyal serta bibirnya yang mungil terlihat lucu.
"Malah bawa-bawa anak aku lagi, emang dasar Kakaknya aja yang tukang tebar pesona," ketus Rona.
"Anak kitaaaaa, emangnya kalau nggak ada aku kamu bisa bikin sendiri!" seru Darren protes dengan penyebutan Rona pada anak yang sedang di kandungnya.
"Lagian aku ini nggak perlu tebar pesona, karena pesona aku emang udah meluber tumpah ruah sejak aku dilahirkan.
Oh ya ampun kedua mata Rona pun terbeliak tak percaya betapa suaminya itu sudah sangat percaya diri bahkan tingkat percaya dirinya sudah melebihi tingginya gunung, meskipun belum setinggi langit.
"Ke pedean!" sentak Rona.
"Kenyataan," ralat Darren.
__ADS_1
"Tau ah!" kata Rona jutek.
"Ciee ngambek." dan dengan ngeselin nya Darren malah menggoda sang istri hingga akhirnya wanita itu malah jadi tertawa karena ulah sang suami.
****
Dua orang anak muda keluar dari dalam kantor polisi dengan mulutnya yang sama-sama saling terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak juga berkomentar tentang apa yang baru saja mereka lakukan.
Dari gestur tubuh keduanya tampak jelas ada yang sedang berusaha mereka kendalikan, Permana dengan tingkahnya sesekali menggaruk daun telinga sedangkan Sherin asik dengan kedua tangannya yang saling meremas.
Dan di saat ada yang ingin mereka katakan, mulut mereka malah dengan sangat kompak mengeluarkan sebuah kata.
"Aku.."
Mata mereka saling menatap tak percaya kala menyadari melakukan hal yang bersamaan, lalu keduanya pun saling mengulas senyum yang terlihat begitu malu-malu.
"Kamu duluan saja," kata Permana akhirnya.
Bukankah mengalah pada seorang wanita adalah sikap seorang lelaki sejati? pria itu mengulas senyum seraya membukakan pintu mobil untuk wanita yang wajahnya tetap terlihat cantik walau kelopak matanya sedikit menghitam menandakan ada banyak pikiran yang membuatnya kesulitan untuk dapat memejamkan mata dengan tenang guna melupakan sejenak masalah yang datang pada hidupnya.
Sherin tidak langsung masuk ke dalam mobil itu, raut wajahnya seperti tengah memikirkan satu hal yang ingin ia sampaikan.
"Aku ingin menemui kedua orang tua Darren," ucap Sherin.
"Untuk?" kening pria yang berada di depannya dan tengah memegangi pintu mobil pun mengerut, kedua bola matanya pun menunjukkan keheranan dan seakan meminta jawaban atas apa yang baru saja Sherin katakan.
Permana mendesah panjang lalu berkata, "aku akan antar kamu, cepat masuk," katanya dengan sorot mata yang lembut dan penuh pengertian.
Mengerti bahwa saat ini Sherin memang perlu untuk minta maaf agar jalan hidup yang wanita itu pilih kedepannya menjadi jauh lebih tentram tanpa ada beban pikiran tentang masa lalu.
Permana juga mengerti dan paham jika tidak sekarang lalu kapan lagi? semua harus di lakukan dengan cepat agar Sherin benar-benar bisa membuka lembaran baru yang lebih indah dan tanpa perasaan bersalah setiap saat, mau tidak mau karena ia adalah anak dari seorang wanita yang sudah melakukan tindakan kriminal.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Sherin belum juga masuk ke dalam mobil meski pintu mobil sudah di buka dengan sangat lebar.
"Maksudnya?"
"Kamu, apa kamu tidak ada urusan? aku takut kamu ada urusan yang harus kamu selesaikan. aku tidak apa-apa kok kalau pergi sendiri, aku bisa pesan kendaraan online," jelas Sherin takut menyusahkan pria jangkung di depannya sekarang.
Permana menggelengkan kepala, "aku ini punya banyak waktu kosong untuk mengantar kamu kemanapun kamu mau."
Luar biasa seorang Permana yang terkenal mahasiswa teladan dan juga pendiam ternyata juga bisa mengeluarkan perkataan yang membuat lawan jenisnya tersipu malu.
Gerakan mata Permana seolah meminta Sherin untuk segera masuk ke dalam mobil pun dapat di mengerti oleh wanita itu.
__ADS_1
Sherin masuk dan duduk dengan benar lalu memasang sabuk pengaman untuk melindungi dirinya.
"Sekarang giliran kamu," kata Sherin tiba-tiba kala Permana sudah duduk di balik kemudi.
"Apa?" Permana malah bertanya bingung.
"Bukannya tadi ada yang mau kamu katakan?" tanya Sherin mengingatkan karena sepertinya pria di sampingnya ini malah lupa.
"Ooh." mulut Permana membulat seperti baru sadar bahwa tadi dia memang ingin mengatakan sesuatu.
"Nanti saja, setelah semua urusan kamu selesai," jawab Permana yang memilih untuk menunda apa yang tadi ingin dia katakan pada Sherin.
Menurutnya saat ini juga belum tepat mengingat masih ada hal penting yang harus Sherin lakukan.
Sherin mengangguk pelan, padahal sejak tadi jantungnya sudah berdebar sangat kencang menunggu kalimat apa yang akan Permana ucapkan dari mulutnya.
Sherin pun melamun menebak-nebak dengan pikiran serta hatinya yang memang mulai merasakan getaran aneh setiap kali mendengar suara Permana apalagi memandang wajahnya.
"Kita jalan sekarang?" tanya Permana membuat lamunan Sherin terinterupsi akibat pertanyaannya.
"Iya," sahut Sherin sambil menggerakkan kepalanya.
Permana menghembuskan nafasnya lalu mulai menjalankan mobilnya mengarah pada tujuan yang tadi di katakan oleh Sherin.
__ADS_1
\*\*\*\*\*