
Langkah kaki Roman bergerak begitu cepatnya ketika memasuki rumah sakit dan mencari ruangan yang tadi sudah diberitahukan oleh lelaki yang membawa istrinya ke rumah sakit.
Roman masih tetap saja berpikiran bahwa Tania lah yang sedang ada di rumah sakit.
Langkah kaki Roman terhenti ketika matanya melihat sosok lelaki yang begitu ia kenal tengah duduk di kursi samping ruangan yang ia tuju.
"Lu Rama kan?" mencoba memastikan bahwa orang yang ada didepannya benarlah orang yang ia kenal.
Rama lantas berdiri dari duduk dan berhadapan dengan Roman yang tengah melangkah perlahan kearahnya.
"Lu ngapain kesini?" Rama malah balik bertanya saking bingungnya.
"Lu yang telepon gua kan tadi?" untuk sekian kalinya pertanyaan dibalas pertanyaan kembali tanpa ada jawaban.
"Mana istri gue?" Roman kembali mengajukan pertanyaannya.
Rama hanya menggerakkan telunjuknya kearah pintu di samping tubuhnya sebagai jawaban bahwa yang Roman cari ada didalam ruangan dengan raut wajah kebingungan.
"Sebentar." Rama menahan Roman yang hendak masuk kedalam ruangan.
"Apaan lagi?" tanya Roman yang sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri.
"Bukannya istri lu Tania?" tanya Rama.
"Iya, lu pikir siapa?"kata Roman dengan ekspresi kesal mendengar pertanyaan dari Rama.
"Jangan bilang lu selingkuh?" mulai sibuk menduga-duga.
"Dih gila." sentak Roman yang sudah mulai kesal dengan Rama,seenaknya saja lelaki itu menuduh dirinya selingkuh.
Rama melotot tajam mendengar makian Roman kepadanya, ia berpikir sudah selingkuh malah berani mengatai dirinya gila, sungguh tidak tahu diri, pikir Rama tentang Roman.
"Selingkuh sampai hamil, bener-bener nggak punya otak sih." kata Rama menyindir dengan suara yang cukup mengganggu telinga Roman hingga lelaki itu berbalik dan memberikan sorotan tajam padanya.
"Ngomong apaan lu?!" bertanya geram pada Rama yang juga tak kalah geramnya pada Roman yang masih saja mengira bahwa wanita di dalam sana adalah selingkuhan Roman.
Melihat Roman yang sepertinya sudah mulai emosi, Rama memilih untuk mengalah saja daripada harus membuat keributan tak jelas di rumah sakit yang pastinya akan menjadi tontonan orang-orang sekitar hingga membuat malu, lebih baik menyudahi saja sebelum menjadi baku hantam.
"Silahkan masuk." kata Rama dengan suara yang dibuat seramah mungkin agar emosi Roman musnah seketika.
Roman mendengus melihat tingkah Rama yang berubah drastis sekarang ini.
Roman menderapkan langkah kakinya ke dalam kamar lalu matanya melihat sekeliling dan terhenti ketika kedua matanya melihat bukan wajah istrinya yang ada di atas ranjang melainkan wajah sang adik iparnya yang seringkali membangkitkan gejolak emosi didalam dirinya.
"Tania mana?" tanya Roman pada Selfi yang terlihat gugup karena takut menghadapi sang kakak iparnya sekarang ini yang berdiri didepan pintu dengan wajah sudah terlihat kecewa sekaligus marah karena dihadapannya kini bukanlah istri yang ia cari-cari.
Selfi menggeleng sambil menundukkan wajah tak berani melihat kakak iparnya terlalu lama.
__ADS_1
Rama yang baru masuk langsung berdiri didekat Roman.
"Gua mau pulang, lu urus selingkuhan lu tuh." masih saja mengira Selfi adalah selingkuhan Roman.
"Selingkuhan, selingkuhan. adek ipar gua dia!" Roman menyentak dengan mata melotot pada Rama.
"Hah?" wajah Rama terlihat bodoh.
"Makanya tanya dulu, jangan asal tuduh!" Roman kembali mengoceh pada Rama.
Rama melihat Selfi dengan pandangan menyelidik dan penuh pertanyaan.
"Kenapa malah menelepon kakak ipar,bukan nya menelepon suami kamu?" Rama mengajukan pertanyaan pada Selfi.
"Nikah aja belum!" Roman yang menjawab pertanyaan Rama.
Setelah berkata begitu Roman terdiam dengan bola matanya yang bergerak dengan cepat mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Rama.
"Tadi lu bilang apaan? hamil? siapa yang hamil?" Roman melihat Rama meminta jawaban.
wajah Rama tampak bingung dan dengan ragu telunjuknya menunjuk Selfi yang semakin menundukkan kepalanya dengan air mata yang mulai turun membasahi kedua pipinya.
"Lu hamil?" tanya Roman pada Selfi.
"Sama siapa? dia?" malah seenaknya menuduh Rama.
"Kalau bukan elu terus siapa?!" kata Roman sengit.
"Ya mana gua tau, tanya sama orangnya lah." sahut Rama dengan nada kesal.
"Tuh tanya adek ipar lu." menyuruh Roman bertanya pada Selfi kembali.
"Nggak usah nangis Sel!!" bentak Roman mendengar isak tangis sang adik ipar.
"Gua lagi pusing sekarang ini mikirin mbak lu kabur, nah elu malah nambahin pusing kepala gua, mending lu pasangin bom dah ni sekalian kepala gua." ucap Roman pada Selfi seraya mengurut keningnya.
"Sebaiknya gua pulang sekarang, gua nggak mau mencampuri urusan orang lain." ujar Rama mencoba menyelamatkan dirinya dari kepusingan yang akan semakin memenuhi kepala jika dirinya masih tetap berada didalam ruangan bersama Roman dan adik iparnya.
Lagi pula ia juga sudah tidak ada kepentingan apapun lagi ditempat itu.
"Nggak ada! lu diem disini temenin gua!" Roman meminta Rama untuk tetap ditempat itu menemani dirinya dengan perkataan yang lebih terdengar seperti perintah yang harus dituruti.
Dahi Rama mengernyit seraya memberikan tatapan penolakan pada permintaan Roman.
"Kak, mbak Tania emangnya kemana?" tanya Selfi takut-takut pada Roman yang langsung memberikan tatapan tidak bersahabat padanya.
"Nggak usah banyak tanya deh lu, kasih tau aja siapa tuh orang yang udah bikin lu hamil sekarang!" kembali menanyakan tentang siapa lelaki yang sudah menghamilinya.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau itu anaknya Imran." Roman menebak sendiri, karena yang ia tahu sekarang ini Selfi memang hanya berhubungan dengan satu laki-laki, yaitu Imran.
Mendengar pernyataan Roman Selfi tak menjawab.
Yah sekalipun Selfi tidak menjawab pertanyaan darinya namun Roman sudah bisa membaca ekspresi yang ditunjukkan wajah Selfi bahwa dugaannya memang benar, Imran lah orang yang sudah menghamili Selfi.
"Lu gila?! lu tahu Imran kayak gimana?" Roman kembali melampiaskan emosinya dengan memarahi Selfi bahkan tidak perduli dengan keberadaan Rama yang tidak ia ijinkan untuk pergi.
"Gua nggak mau tahu, sekarang lu hubungin dia suruh dia tanggung jawab." kata Roman tajam kepada Selfi.
Selfi malah menangis.
"Dia nggak mau tanggung jawab kak." adu Selfi pada Roman tentang apa yang dikatakan oleh Imran padanya saat ia meminta laki-laki itu untuk bertanggung jawab dan menikahinya.
"Maafin aku kak." Selfi berkata lirih di tengah isak tangisnya.
Mendengar pengakuan Selfi rasanya Roman ingin sekali mengamuk dan menghancurkan semua yang ada didepannya sekarang ini, namun untungnya ada Rama yang mencoba menahan Roman agar tidak merusak fasilitas didalam kamar rumah sakit ini.
Rama mencoba menenangkan Roman dan membuatnya duduk di sofa.
Kini hanya terdengar suara isakan dari Selfi tanpa ada suara lain lagi untuk beberapa saat, karena lima menit kemudian terdengar suara ponsel Roman berbunyi berulang kali.
Setelah agak lama diacuhkan oleh Roman, lelaki itu akhirnya menjawab dengan terpaksa panggilan di ponselnya.
"Hallo." ucap Roman.
"Lu dimana sekarang?" terdengar suara dari Aditya yang meneleponnya.
"Rumah sakit." menjawab dengan suara berat.
"Lu sakit? apa ada praktek?" tanya Aditya.
"Sakit hati, sakit kepala, sakit pikiran jadi satu semua." tukas Roman sambil memejamkan mata.
"Rumah sakit mana? gua ke sana sekarang ada yang mau gua kasih tahu ke elu." ucap Aditya cepat.
Roman lantas memberitahukan posisinya sekarang ini kepada Aditya yang langsung bergerak menyusulnya ke rumah sakit.
Rama yang baru saja dari luar membeli minuman untuk dirinya dan juga Roman tak tahu bahwa sebentar lagi dia akan kembali bertemu dengan lelaki yang dulu menjadi saingannya untuk mendapatkan Rianti.
Tak tahu apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu saat bertemu nanti,karena yang pasti Rama akan menunjukkan sikap biasa.
Entah bagaimana dengan Aditya nantinya jika harus berhadapan dengan lelaki yang dulu begitu memuja istrinya bahkan sampai rela menyembunyikan istrinya itu di bali.
*************************
Perlahan kita selesaikan semua masalahnya dulu ya, sampai semua selesai dan kita tamatin deh novel ini 😉😉😉😉😉
__ADS_1