
pukul setengah delapan kurang Roman sudah stanby di Caffe menunggu Aditya juga Johan seraya terus menatap amplop yang tadi sore ditunjukkan istrinya
" bos sama anak buah sama aja kelakuannya" masih bersungut-sungut apalagi saat ia ingat kembali apa yang tertera di dalam amplop itu
benar-benar tak habis pikir kenapa ia bisa mengenal manusia sengaco Aditya dan juga Johan
membuat alasan yang sewajarnya saja dua orang itu tidak bisa, malah kini membuat Tania pastinya akan curiga, yah meski Tania belum mencurigainya tapi suatu saat pasti Tania akan mencari tahu semuanya
Roman masih tak sabar menunggu kedatangan dua orang yang telah membuatnya senewen dengan perbuatan yang mungkin tidak mereka sengaja, tapi tetap saja perbuatan mereka nanti akan berdampak padanya ya meski memang dia lah sang dalang utamanya
Mobil yang dikendarai oleh Johan sudah memasuki parkiran yang ada di caffe
Johan langsung mematikan mesin mobil dan gegas menyusul Aditya yang sudah terlebih dulu membuka pintu penumpang lalu turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam caffe
seperti biasa Roman selalu memilih tempat bagian pojok agar mereka lebih leluasa untuk mengobrol tanpa banyak orang yang akan berlalu-lalang, alasan itu yang selalu ada dipikirannya ketika memilih tempat
Aditya dengan cepat dapat menemukan Roman sedang duduk di tempat kegemarannya, langsung saja Aditya melangkah mendekat berbarengan dengan Johan.
"udah lama? " tanya Aditya seraya menduduki sofa kosong didepan Roman lalu dengan santainya menyilangkan kaki serta menyenderkan tubuhnya di sofa
"udah seabad gue nungguin " menjawab dengan sangat berlebihan
"duduk lu Johhan" menekan kata Johan terdengar sekali dari nada bicaranya Roman sangat gemas pada asisten temannya itu
"gimana saya duduknya pak? " kebingungan sedangkan dua orang dihadapannya kini duduk dengan seenaknya di sofa paling pinggir bahkan menghalangi jalannya untuk menempati sofa kosong yang ada dibagian dekat jendela
mendengar pernyataan Johan refleks Aditya menyingkirkan kakinya dan membiarkan Johan untuk melewatinya
"noh duduk lu" titah Roman pada Johan yang langsung dituruti
"bapak galak amat" menggumam seraya menjatuhkan badannya disofa
"pake ngedumel lagi " kata Roman menyahuti gumaman Johan
"minum gue sama Johan mana? " Aditya yang sejak tadi diam mendengar omongan tak penting dari dua orang terdekatnya menanyakan minuman yang hanya ada satu gelas diatas meja
"pesen sendiri lah dit" Roman menjawab cepat
"pesenin lah lu yang minta gue sama Johan kesini, nggak ada inisiatifnya lu jadi temen " mempertanyakan kepekaan Roman terhadap dirinya juga Johan yang diajak bertemu
"gue bukan temen lu berdua hari ini! " masih marah
"Lah" Johan mengernyit semakin tak mengerti ada apa dengan si dokter sekarang ini
"apa lo?! " menengok Johan yang kini menunjukkan senyum terpaksanya untuk Roman
"peak! " ujar Aditya mengatai Roman seraya melambaikan tangan memanggil pelayan
"gue marah sama elu berdua! " Roman berkata sengit
"marah pake bilang-bilang, lu pikir gue sama johan perduli gitu? " Aditya berkata mengejek seperti sangat sengaja membuat Roman makin kesal padanya
Roman tak menjawab perkataan Aditya lagi karena Aditya dan Johan kini tengah sibuk memesan minuman mereka juga berbagai makanan
Roman malah memicingkan mata melihat kelakuan Aditya dan Johan
yang memesan makanan seenaknya
"gue nyuruh kesini bukan mau ngajak makan-makan" makin sengit saja Roman dibuat Aditya serta Johan yang mulai ketularan sifat Aditya yang memang tidak semenggah sejak muda
Aditya tak menanggapi dia malah makin asik memilih menu
__ADS_1
"apa lagi han? " malah mengajak-ngajak Johan lagi yang sudah meletakkan buku menu untuk kembali memilih
Johan baru saja akan mengambil kembali buku menu tapi tak jadi begitu melihat Roman sedang melirik kearahnya, Johan melepas kembali buku yang sudah tersentuh ujung jarinya seraya berdehem
"itu aja" ujar Aditya kemudian pada sang pelayan pria berpakaian hitam
pelayan mengangguk dan pergi meninggalkan ketiga orang lelaki yang mungkin akan melakukan pertempuran mulut mereka
"udah? " kata Roman ucapan yang terdengar bertanya namun sebenarnya ia sedang menyindir tingkah polah ayahnya Riana dan Daren
Aditya mengedikkan bahu menanggapi Roman
Roman lalu meletakkan amplop tepat diatas meja yang masih hanya terdapat segelas minuman miliknya
Aditya dan Johan saling menatap tak mengerti meski mereka sangat kenal amplop yang ditunjukkan oleh Roman
"siapa yang bikin? " bertanya seraya melihat Johan dan Aditya bergantian
Aditya dengan entengnya menunjuk Johan yang duduk disampingnya, mata Roman langsung melihat Johan dengan tajam
"kok saya pak? " ucap Johan seolah tak Terima ditunjuk oleh Aditya
"kan emang kamu yang bikin" Lagi-lagi Aditya dengan santainya menjawab
"tapi kan suruh bapak" masih berusaha membela diri didepan Roman
"tapi tetap aja kamu yang bikin" ucap Aditya lagi
dan acara saling tuduh-menuduh dihadapan Roman terus saja berlangsung
"bisa diem nggak lu berdua! " bentaran Roman seketika membuat dua orang didepannya menjadi hening tak melanjutkan perdebatan mereka
"nih lu baca" meminta Johan untuk membaca apa yang sudah dibuat oleh dirinya
"ya lu baca lagi, lu periksa ada yang aneh nggak dari hasil perbuatan lu" tetap memaksa Johan untuk menuruti keinginannya
"baca han" Aditya ikut mengatakan hal yang sama pada Johan
dengan gerakan sedikit enggan Johan membuka amplop dan mengeluarkan isinya serta membaca dengan teliti mencari keanehan yang dipertanyakan Roman
"nemu yang aneh nggak? " ujar Roman
Johan mengerutkan kening lalu menggeleng
"saya rasa nggak ada yang aneh pak, ini hanya surat PHK biasa" kata Johan masih memegang kertas ber ketikan tinta hitam
"monyong yang begini dibilang nggak ada yang aneh" mengambil kertas dari tangan Johan dengan cepat, lalu menunjukkan nya pada Aditya
mata Aditya langsung mengikuti arah tangan Roman yang menunjuk ketikan dikertas
"wah parah lu Han " ucap Aditya begitu melihat apa yang ditunjuk Roman, memojokkan Johan
"lu emang nggak periksa dulu asisten lu bikin alesan kayak gini? " bertanya pada Aditya
"nggak " menjawab polos, karena kenyataannya dia memang tak membaca lebih dulu saat Johan memberikan amplop yang berisi surat PHK tania
dia menerima saja apa yang dilakukan Johan
"bos sama anak buah kelakuan sama-sama nggak jelas" maki Roman
"yang pentingkan gue udah nurutin mau lu Man" imbuh Aditya
__ADS_1
"tapi alesan yang dibikin dia nih nggak semenggah dit" menunjuk Johan yang tak ikut bicara
"ADA ORANG YANG MEMINTA SAYA MEM PHK KAMU alesan kaga logis yang pernah gue tau selama hidup" menyebutkan isi alasan yang dibuat oleh Johan
"lagian lu Johan kalo nggak ada ide nanya dong sama gue" ujar Aditya sudah tidak pakai kata saya kamu lagi jika tingkat gesreknya mulai keluar
"saya sudah tanya bapak kan, tapi bapak malah nggak mau tahu" Johan nampak membela diri didepan Roman yang bergantian menatap dua orang sedang beradu argumen
Aditya membelalak mendengar Johan mengatakan tentang dirinya
"kok lu gitu Han" imbuh Aditya
Johan menggaruk kepalanya mulai serba salah menghadapi Roman dan Aditya
"tenang aja lah pak, kan saya nggak nyebut nama bapak"Johan berusaha menenangkan Roman sekaligus menyelamatkan diri
" bener tuh Man, disitu kan nggak ada nama lu" kata Aditya kini membela Johan
"tapi ini alesannya nggak masuk akal " masih teguh pada pendiriannya tentang alasan yang dibuat Johan
"iya siih nggak masuk akal " disini mulai terlihat Aditya emang bener-bener plin-plan dia nyari aman sendiri sepertinya
Johan menarik napas panjang, pening kepalanya dijadikan tumbal oleh bosnya saat ini
ditengah serunya adu argumen yang tak menemukan titik untuk mendinginkan kepala Roman yang kadung emosi oleh perbuatan bos dan asisten didepannya ini
ponsel di sebelah gelasnya bergetar sekali menandakan ada pesan yang masuk ke ponselnya
gegas Roman membukanya begitu melihat notif dilayar dengan nama istriku asoy
pesan gambar yang rupanya dikirim oleh Tania
begitu melihatnya mata Roman melotot bahkan mungkin ia akan lupa berkedip jika Aditya tak berdehem mengagetkan nya
"alhamdulillah" puji syukur Roman menerima kabar dari istrinya
Johan dan Aditya saling memandang bingung melihat Roman yang tadi sangat berapi-api namun dalam sekejap berubah teduh saat mendapat pesan
"lu berdua gue maafin" imbuh Roman kemudian pada dua orang yang sedang kebingungan
"nih liat" menunjukkan apa yang ada dilayar ponselnya
Johan refleks menyalami Roman begitu melihat gambar testpack dengan garis dua
cengiran lebar Roman terus terpajang apalagi saat Aditya mengucapkan selamat padanya
"jadi kita ditraktir kan? " kata Aditya seraya melihat makanan yang sejak tadi sudah ada di meja dan belum tersentuh karena sibuk saling tuduh
Roman mengangguk cepat kegirangan
selesai makan mereka masih berbincang
Roman bercerita tentang Selfi yang kini tinggal dengan dirinya dan Tania
"bapak jangan kebanyakan cuci mata, nanti mata bapak bukannya bersih tapi malah pedih terus nangis " Johan seperti dapat membaca apa yang ada dipikiran Aditya
Aditya langsung melotot pada Johan yang akhir-akhir ini seolah berubah menjadi seorang cenayang bisa membaca pikirannya
"anak lu dua dit! " Roman menimpali.
dan sekarang Aditya yang justru kena serang Johan dan Roman sampai mereka memutuskan untuk mengakhiri acara nongkrong di caffe karena malam yang semakin larut..
__ADS_1
*****