
Mata Rendi membelalak terkejut melihat Rona dan Sherin tengah saling mendorong hingga akhirnya tubuh Rona lah yang terpeleset karena kakinya menginjak batu yang licin.
"Rona!!" teriak Rendi lalu berlari menuju Rona yang sudah berada di dalam sungai, arus cukup deras namun untungnya Rona bisa berenang meski tetap saja sangat sulit untuknya agar bisa menju tepi sungai.
"Gila lu Sher." maki Rendi lalu melompat untuk menolong Rona yang bukan malah mendekat tetapi malah makin menjauh.
Di pinggiran sungai Sherin menatap acuh lalu dengan ringan melangkahkan kakinya kembali menuju tenda bersama dengan Nella yang sesekali menoleh ke belakang.
"Kita tinggal bilang sama Darren kalau Rona lagi berduaan sama Rendi." cetus Sherin dengan senyum jahatnya.
Darren tengah kebingungan mencari Rona yang tidak ada padahal tadi sudah jelas dia meminta gadis itu untuk menunggunya, dan sekarang hanya ada ransel milik gadis itu yang tergeletak di dekat tenda.
"Rona lagi berduaan sama Rendi di bawah." Sherin tanpa basa-basi langsung menjalankan fitnahannya untuk membuat Darren marah pada Rona.
Darren menatap Sherin dengan tatapan tidak percaya.
"Kalau nggak percaya liat aja sendiri, Nella juga liat kok tadi." menatap Nella yang kini mengangguk mengiyakan pernyataan temannya itu.
Dengan sangat cepat Darren pun berlari menuju sungai yang memang terletak di bawah, kakinya menuruni jalanan bertanah dan di pinggirnya di tumbuhi rumput-rumput liar.
Saking tergesa nya bahkan kakinya hampir saja tergelincir, Darren segera menggapai pohon di sebelahnya agar tidak jatuh.
Langkahnya terhenti ketika melihat Rona berada di dalam pangkuan Rendi dengan tubuh keduanya yang basah.
"Na." suara Darren begitu pelan bahkan seperti tercekat di tenggorokannya melihat Rona berada di pangkuan Rendi dan tangan lelaki itu bahkan memeluk pinggangnya.
Meskipun suara Darren sangat pelan tapi nyatanya telinga Rona tetap bisa menangkap suara dari lelaki yang ia cintai itu.
"Kak." seru Rona dengan mata yang terlihat merah dan wajah yang pucat.
Melihat Rona yang tidak baik-baik saja Darren pun kembali berlari menghampirinya dua orang itu dan segera merebut Rona dari Rendi.
__ADS_1
"Lu apain Rona?!" tanya Darren dengan kemarahan yang tersirat jelas dari matanya.
Rendi menggeleng karena memang dia tidak melakukan apapun kepada Rona, dia hanya menyelamatkan Rona dari perbuatan gila yang telah dilakukan oleh Sherin dan Nella.
"Bukan Kak Rendi, dia hanya tolongin Rona, Kak Rendi nggak lakukan apapun sama Rona." tutur Rona dengan suara yang sangat pelan dan tatapan mata yang seperti tengah meyakinkan Darren.
"Kak Rendi cuma tolongin Rona." lanjut gadis itu seraya memegang tangan Darren yang sudah terkepal bersiap untuk menghadiahkannya kepada Rendi.
"Sherin yang dorong Rona." tutur Rendi seraya berdiri dan berjalan meninggalkan kedua orang itu.
Darren menatap mata Rona seperti bertanya apa yang dikatakan oleh Rendi itu memang benar.
Rona mengangguk pelan.
Darren menarik napasnya lalu membuka jaket yang dia pakai untuk menutupi tubuh Rona.
Mata Sherin seakan mau lepas dari tempatnya ketika melihat Darren datang dengan Rona yang berada di dalam gendongannya, sungguh melihat pemandangan itu membuat Sherin semakin memanas.
"Kenapa lu berdua?" tanya Rendi dengan wajah yang terkesan mencibir.
"Munafik lu." maki Sherin, karena ia tahu sejak awal melihat Rona, Rendi sudah menjadikan Rona sebagai targetnya bisa di lihat dari caranya saat memandang atau bahkan mendekati Rona, namun siapa yang menyangka kalau Rendi bukan memanfaatkan situasi tadi untuk membuat Darren marah pada Rona yang akan menguntungkan dirinya.
"Gue nggak butuh bantuan lu berdua, gue bisa dapetin apa yang gue tanpa harus melibatkan orang lain." kata Rendi dingin seraya tersenyum mengejek.
Darren meminta Rona untuk mengganti pakaiannya karena sekarang juga dia akan membawanya pulang dan meninggalkan acara camping yang membuatnya naik darah itu.
Rona keluar dari dalam tenda sudah dengan pakaian keringnya berjalan di samping Darren.
"Sekali lagi lu bikin celaka Rona, gue nggak bakal tinggal diam!" ancam Darren pada Sherin yang mendengus marah.
__ADS_1
"Dasar cewek sialan." batin Sherin memaki Rona.
Setelah berpamitan pada temannya yang lain Darren pun meninggalkan tempat itu berdua dengan Rona.
"Susah kalau cowok udah kegilaan sama cewek mah." ejek Bimo setelah Darren pergi.
Permana dan Angga menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Bimo yang memang sangat keterlaluan jika sudah berbicara.
Sekian Jam berjalan menyusuri jalan setapak akhirnya Darren dan Rona sampai di parkiran mobil.
"Capek ya." ucap Darren pada Rona yang terlihat sangat kelelahan.
"Maafin aku Ya Kak." kata Rona sedih.
"Untuk?" alis Darren tertaut mendengar permintaan Rona.
"Karena aku camping Kakak jadi berantakan." Rona benar-benar menyesal dengan apa yang sudah terjadi, apalagi semua itu penyebabnya karena dirinya.
Darren mengurut pangkal hidungnya seraya membuang napas kasar.
"Bukan karena kamu Na, Aku emang nggak cocok berteman sama mereka." sahut Darren lalu membuka pintu mobil agar Rona bisa masuk.
"Sepertinya kamu sudah melupakan permintaan aku Na." ucap Darren ketika sudah duduk di dalam mobil dan menatap Rona di sampingnya.
"Lupa apa?" Rona terlihat bingung.
"Kakak, kamu keasikan memanggil aku Kakak, padahal sudah berjanji untuk memanggil aku dengan sebutan Sayang." protes lelaki di depan kemudi mobil itu, memang sejak tadi telinganya sangat gatal mendengar Rona yang kadang masih saja memanggilnya dengan sebutan Kakak, sejak tadi pun sudah sangat ingin memprotesnya.
Rona reflek membekap mulutnya begitu menyadari kesalahan yang ia lakukan.
__ADS_1
"Jangan di ulangi lagi." kata Darren lalu menjalankan mobilnya menjauh dari tempat yang semenjak dia tiba pun sudah selalu memancing emosinya, sepertinya terlalu banyak makhluk tak kasat mata di tempat itu, atau jangan-jangan temannya sendirilah yang sudah berubah menjadi makhluk tak kasat mata itu sendiri.