
Pengantin baru yang sudah berada di apartemen itu hanya duduk menutup mulut, ya orang tua mereka tadi mengantar sudah pulang dan membiarkan mereka memulai kehidupan rumah tangga di usia muda setelah sebelumnya mengisi apartemen dengan segala kebutuhan yang keduanya perlukan, mulai dari perabotan besar kecil bahkan isi kulkas untuk kebutuhan perut pengantin baru itupun para orang tua itu yang mengisinya, bisa di bilang pengantin baru itu hanya menyiapkan fisik saja untuk menjalani kehidupan pernikahan yang baru akan di mulai hari ini.
"Kakak mau aku buatkan minum?" tawar Rona mencoba mencairkan suasana, tapi sepertinya tawarannya itu tidak akan di terima oleh Darren terlihat dari raut wajah yang yang masih kesal dengan kejadian semalam dan tadi pagi, tragedi malam pertama dan teh di pagi hari sungguh melekat jelas di dalam ingatannya.
"Jangan buat apapun sebelum membuat kekesalan yang sejak semalam aku rasakan hilang!" tegas Darren pada sang istri.
"Memang kenapa?" dengan polosnya masih bertanya kenapa, sungguh Rona Aliza yang sangat keterlaluan.
"Karena akan semakin membuat darah ku naik." seru Darren dengan pandangan yang sangat tajam, tentu sejak tadi dia menunggu istrinya itu berinisiatif untuk membujuk dirinya, tapi yang dia dapatkan malah tawaran minuman yang mengingatkannya pada secangkir teh yang rasanya ajaib itu.
Rona memelintir ujung bajunya tak berani menatap wajah sang suami, sungguh sejak semalam kenapa ia merasa begitu takut pada suaminya itu, suami yang padahal ia cintai dan dulu bahkan dialah yang selalu berinisiatif untuk melakukan pendekatan saat lelaki itu terus menghindar darinya dengan berbagai cara, aneh bukan? dia yang dulu mengejar malah sekarang setelah dapat menjadi mati kutu tak bisa berkutik, tentunya semua itu karena dia takut membayangkan malam pertama yang konon katanya menurut cerita yang dia baca akan terasa sangat menyakitkan, apalagi setelah dia semalaman membrowsing di internet mencari tau tentang hal itu, makin ciutlah nyalinya untuk menghadapi milik suaminya yang katanya benda tumpul tapi nyatanya bisa menyakiti.
Diam-diam Darren memperhatikan Rona dari ujung kepala hingga ujung kaki yang hanya terbalut celana selutut memamerkan betis putihnya, baru melihat betis milik Rona saja Darren sudah menelan saliva nya dan kembali membayangkan tubuh polos Rona saat di dalam tenda dulu.
Sekejap Darren menghembuskan napasnya lalu melirik jam di pergelangan tangan yang menunjuk di angka 3 sore.
__ADS_1
"Jika melakukannya saat sore apa masih bisa di sebut malam pertama?" pertanyaan Darren sukses membuat Rona mengangkat wajahnya, menatap suaminya yang tengah mengarahkan pandangannya keluar jendela menatap langit sore yang mulai terlihat mendung.
Sepertinya Rona paham apa yang tengah di pikirkan oleh suaminya saat ini karena dalam sekejap dia berdiri dengan cepat membuat Darren menatapnya heran.
"Aku mau mandi ya Kak." ucap Rona pelan lalu tanpa menunggu suaminya itu menjawab dia langsung kabur ke dalam kamar tanpa berani menoleh.
Wanita yang ada di dalam kamar mandi mulai menyalakan shower yang perlahan membasahi tubuh polosnya, menyalurkan kesegaran tak terhingga lalu menyapukan spon yang sudah ada sabun cair di atasnya ke tubuh putih tanpa cela miliknya, mandi dengan tenang meskipun jantungnya terus memompa lebih kencang karena memikirkan ucapan suaminya seperti tengah mengingatkan bahwa malam pertama harus segera terjadi.
__ADS_1
"Kenapa sekarang dia jadi sangat mesum sekali." gumam Rona di sela mandinya memikirkan Darren yang jauh berbeda dari yang dulu dia kenal, Darren dulu sangat tak peduli padanya bahkan terkesan seperti tidak suka terhadapnya, tapi kenapa semakin kesini malah sangat menakutkan.
Rona memejamkan mata mengingat kembali bagaimana untuk pertama kalinya mereka berciuman, bibirnya tersenyum setiap kali memikirkan kejadian itu, sepertinya Rona tau mulai hari ini dia tidak akan bisa bersembunyi kemanapun dari sang suami.
Pasrah, itu lebih baik. dan melayani suaminya di atas ranjang mau tak mau harus dia lakukan mau menunda sampai kapanpun hanya akan membuat Darren marah nantinya.
"Semoga tidak terlalu sakit." tutur Rona pelan meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja setelah memberikan apa yang menjadi hak suaminya itu.
Di dalam kamar seorang lelaki sudah menutup gorden yang membuat kamar menjadi gelap, tentu karena langit sore yang menjadi mendung karena akan menurunkan hujan sebentar lagi.
Sudah merapikan ranjang dan menyusun bantal dengan rapi dan berdiri puas menikmati apa yang dia perbuat, dengan tangan yang menyilang di atas dada lelaki itu menunggu istrinya keluar dari dalam kamar mandi, menunggu yang sungguh membosankan padahal belum ada 15 menit istrinya di dalam sana.
Bibir Darren tersenyum karena sebentar lagi ranjang di depannya itu akan menjadi tempat yang akan dia ingat sampai kapanpun.
\*\*\*\*
__ADS_1