Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 105


__ADS_3

Aji yang kebetulan hendak ke belakang mendengar namanya di panggil dari dalam rumah, teriakan kepanikan jelas membuat pria itu segera melempar gelas yang akan dia simpan di dapur.


Aji bergegas menuju pintu depan berbarengan dengan mobil Aditya yang baru saja sampai.


"Aji kenapa?" tanya Aditya melihat penjaga rumahnya yang tengah berlarian, Johan mengedikkan bahu karena dia juga tidak tau apa-apa, bukankah mereka memang datang bersamaan? tentu ketidak Aditya tidak tau dirinya pun juga tidak tau.


"Bu!" pekik Aji begitu membuka pintu dan mendapati majikannya tengah di Jambak oleh Melly.


Pria itu segera membantu Rianti untuk bisa melepaskan diri dari wanita yang sepertinya kejiwaannya sudah sangat terganggu itu.


"Rianti!" Aditya yang baru saja masuk berteriak melihat istrinya sudah terluka.


Tanpa menunggu lagi diapun menarik Melly agar menjauh dari istrinya lalu menghempaskan nya dengan kencang hingga tersungkur dan kepalanya membentur tepian meja lalu mengeluarkan darah.


Aditya terlihat sangat panik sampai berulang kali membolak-balik wajah Rianti melihat bekas luka yang sangat terlihat karena perbuatan wanita gila yang kini tengah meringis memegangi kepalanya.


"Kenapa bisa sampai seperti ini?!" teriak Aditya marah pada Aji yang dia anggap lalai.


Ini bukan pertama kalinya penjaganya itu lalai dalam bekerja, selalu seperti ini bahkan dulu Rianti kabur pun pria itu bahkan dengan bodohnya bisa dibohongi oleh Rianti sehingga membiarkan ia pergi.


"Ini bukan salah Aji Mas, aku yang membiarkannya masuk," tutur Rianti membela Aji, karena memang dirinya lah yang sudah membiarkan Melly untuk masuk ke dalam rumah.


Mendengar keterangan dari istrinya, Aditya pun kembali melayangkan tatapan kemarahannya pada Melly, kobaran api terlihat jelas di matanya karena tentu dia tidak akan bisa terima istrinya di sakiti seperti ini.


Aditya bergerak ke arah wanita yang masih terduduk dengan kepala yang berdarah lalu menarik wanita itu dengan sangat kasar hingga berdiri.


"Aku sudah cukup sabar menghadapi mu, aku bahkan membiarkan mu hidup bebas tapi ternyata kamu kembali membuat masalah denganku, bahkan berani mencelakai istriku!" Aditya berkata begitu geram pada wanita tak tahu diri yang belum juga kapok berurusan dengannya.


"Kamu jahat Dit, Kamu menghancurkan semua yang aku punya, kamu membuat aku jatuh miskin!" seru Melly begitu lantang berhadapan dengan Aditya.


"Kamu pantas mendapatkan itu semua! bahkan kamu pun pantas mati!" suara Aditya begitu menggelegar di dalam ruangan tamu rumahnya yang meja dan juga vas bunganya sudah berada di atas lantai.


Plak! plak!


Aditya menampar pipi Melly kiri dan kanan untuk membalas apa yang tadi sudah wanita itu lakukan pada istrinya.


"Mas." Rianti yang malah tidak mau suaminya melakukan kekerasan pada seorang wanita sekalipun wanita itu telah melukai dirinya.


"Berhenti," pinta Rianti ketika Aditya kembali sudah mengangkat tangannya.


Rianti menggeleng memberi tanda pada suaminya untuk berhenti.

__ADS_1


Aditya pun menurut meski dari wajahnya terlihat jelas bahwa masih ada kemarahan yang dia rasakan.


"Jebloskan dia ke penjara!" seru Aditya dengan suara yang menunjukkan kegeraman.


Johan yang sedari tadi menyaksikan pun segera mengangguk lalu menarik Melly yang masih saja memberontak berusaha untuk melepaskan diri namun Johan mencengkeram tangannya dengan sangat erat lalu Aji pun membantunya dan memasukkan wanita itu ke dalam mobil.


"Kita ke rumah sakit sekarang," Aditya menarik tangan sang istri yang terbengong menyaksikan Melly di seret.


"Aku tidak apa-apa Mas," ucap Rianti ketika suaminya sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Kamu sudah gila!? lihat wajahmu itu!" sentak Aditya kesal dengan sang istri.


Rianti diam tak berkutik kala mendengar bentakan dari sang suami, bahkan rahang Aditya yang mengeras saja sudah cukup membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara.


Aditya menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya menuju rumah sakit, di sepanjang perjalanan mulut Aditya tidak bisa berhenti untuk mengomeli tentang sikap istrinya.


"Bagaimana bisa kamu berhadapan dengan wanita itu bahkan berani membiarkannya masuk dan berdua saja dengannya!" Aditya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan wanita di sampingnya ini.


Rianti bahkan sudah sangat mengenal bagaimana gilanya seorang Melly yang bisa melakukan apa saja tanpa berpikir lebih dulu, wanita itu sangat sanggup untuk mencelakai orang lain demi mencapai apa yang dia inginkan.


"Kamu ini polos atau memang bodoh!" untuk sekian kalinya Aditya memarahi sang istri.


Rianti menunduk mengatupkan bibirnya, sangat rapat sehingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantah perkataan sang suami.


Di sepanjang jalan itu Aditya terus mengoceh panjang lebar dengan raut wajahnya yang menyiratkan kemarahan.


Kali ini dia benar-benar tidak akan pernah membiarkan Melly, wanita itu akan dia buat mendekam di dalam penjara.


Roman yang baru saja akan keluar dari rumah sakit betapa terkejut begitu berpapasan dengan Aditya dan matanya langsung menatap Rianti dengan sangat tidak percaya.


"Apa yang terjadi?" tanya Roman dengan raut wajah yang cemas.


"Perbuatan Melly," sahut Aditya.


"Hah? ah gila tuh perempuan," kata Roman turut kesal.


Pria itu langsung mengantarkan Aditya dan juga Rianti agar istri temannya itu bisa segera di tangani.


Dokter serta suster pun segera menangani luka yang ada di wajah Rianti, mengobati memar serta sudut bibirnya yang pecah karena perbuatan Melly.


Roman dan Aditya terlihat berbicara ketika Dokter dan sistem tengah mengobati Rianti.

__ADS_1


"Terus sekarang tuh orang dimana?" tanya Roman yang sedari tadi begitu ingin tau apa yang Aditya lakukan.


"Kantor polisi, gue udah perintahkan Johan untuk menuntutnya tentang yang dia perbuat hari ini dan di tambah dengan apa yang sudah dia lakukan pada Rianti dulu," jelas Aditya.


Roman menghela nafas dalam dan panjang, "Kan dari dulu juga gue dan Johan sudah bilang sama elu untuk langsung masukin dia ke penjara, jika lu melakukan itu gue rasa kejadian ini nggak akan pernah terjadi," tukas Roman mendesah karena mengingat dulu pun dia sudah pernah memperingatkan temannya itu, tapi si kepala batu bernama Aditya malah dengan pikiran tak jelasnya mengambil tindakan sendiri tanpa sepengetahuan dirinya dan juga Johan.


Aditya mengusap wajahnya dengan kasar seraya menatap kasihan pada sang istri yang di wajahnya kini terdapat luka memar dengan bibirnya yang membengkak efek pukulan yang diberikan Melly.


Dan kali ini dia pun merasa bersalah dan menyesal tindakannya yang dulu, tapi semua yang sudah terjadi tidak akan mungkin bisa diubah kembali, dan sekarang yang dia lakukan hanyalah membuat mantan kekasihnya yang gila itu mendekam di dalam penjara, jika perlu untuk selama-lamanya.


****


"Ibu kenapa Yah?" Darren yang mendapat kabar bahwa Ibunya terluka langsung mendatangi rumah orang tuanya sepulang kerja, melewatkan kuliahnya.


"Diserang oleh ibu dari temanmu," sahut Aditya dengan entengnya.


Darren mengerutkan keningnya bingung tak mengerti dengan jawaban yang baru saja Ayahnya itu berikan.


"Ibu teman Darren? siapa? memangnya ada masalah apa?" tanya Darren seraya duduk di samping sang Ayah.


"Sherin," kata Aditya singkat.


"Sherin? jadi benar Ayah kenal sama Mamanya Sherin?" tanya Darren dengan keterkejutan yang luar biasa terlebih lagi ketika Ayahnya itu mengangguk.


"Berhati-hati dengan anaknya, karena Ayah sudah memasukkan Ibunya ke dalam penjara," tegas Aditya.


"Memangnya apa hubungan Ayah dengan Mamanya Sherin? lalu kenapa dia melukai Ibu?"


Perkataan Aditya malah makin membuat Darren mengajukan banyak pertanyaan guna memenuhi rasa penasaran yang ada di dalam hatinya.


Penasaran ada hubungan apa orang tuanya dengan Mamanya Sherin? Darren langsung ingat bagaimana terkejutnya wanita itu kala melihat dirinya.


"Nanti Ayah ceritakan, sekarang yang harus kamu waspadai adalah Sherin, jangan sampai kamu lengah," jelas Aditya lalu masuk ke dalam kamar untuk melihat istrinya yang sedang beristirahat.



Darren terdiam memikirkan ucapan Ayahnya barusan, lalu dia pun menyusul sang Ayah ke kamar guna bertemu dengan Ibunya.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2