
Setelah makan malam Rona dan Darren sedang duduk berduaan di ruang tv dengan Darren yang tiduran di pangkuan sang istri, malam ini keduanya menginap di rumah Ayahnya itu.
Sedangkan kedua orang tuanya sedang asik berbincang-bincang membicarakan banyaknya masalahnya negara yang sebetulnya bukan urusan mereka.
"Kayaknya kamu nggak usah kuliah deh," kata Darren.
"Lah kok gitu?" dari cara bicaranya tampak bahwa Rona tidak terima dengan yang baru saja di ucapkan oleh suaminya itu.
Jelas ia akan protes jika sampai ia tidak jadi kuliah, kuliah sudah ada di depan mata masa dengan seenaknya di batalkan begitu saja, rasanya tidak akan mungkin di terima oleh Rona.
"Kan kamu hamil," tukas Darren seraya menciumi perut istrinya yang bahkan masih sangat datar.
"Ya terus kalau hamil kenapa? memangnya ada larangan wanita hamil nggak boleh kuliah?"
Dari nada bicaranya saat bertanya terlihat ada kekesalan serta ketidak terimaan karena harus gagal kuliah dengan alasan hamil.
Sungguh terdengar sangat tidak masuk akal baginya, karena kuliah tidak akan mengganggu kehamilan ataupun sebaliknya, apalagi ketika ia tidak harus mengalami semua hal yang biasanya di alami oleh wanita hamil, tentu makin percaya dirilah Rona untuk menampik segala alasan yang Darren berikan.
"Nanti kamu kecapean, kuliahnya juga nanti nggak bisa konsen." Darren menatap wajah istrinya yang sudah berubah masam.
"Papaaa."
Dengan suara nyaring dan juga cemprengnya Rona berteriak memanggil sang Papa, Darren pun langsung tersontak duduk karena kelakuan istrinya itu.
"Ngapain sih Na, Papa-Papa terus," protes Darren panik karena ia tahu Rona akan mengadu pada orang tuanya karena tidak di ijinkan berkuliah.
Dan tiga detik kemudian muncul empat orang dewasa secara bersamaan dengan wajah yang panik karena mengira ada yang terjadi dengan dua anak muda yang sebentar lagi akan mempunyai anak.
"Ada apa? kenapa?" tanya Roman dan juga Aditya bersamaan.
"Kak Darren larang Rona kuliah," dan langsung mengadu pada orang tuanya yang berdiri menatap mereka berdua.
Roman menghela nafas panjang lalu menatap sang anak yang memelas minta untuk di berikan pertolongan olehnya, agar keinginannya untuk kuliah bisa tetap terlaksana.
"Darren cuma nggak mau Rona kecapean Pah, Kan Tau sendiri tugas kuliah tuh pasti banyak, apalagi buat mahasiswa baru kayak Rona ini, pasti bakal banyak kegiatan yang mesti dia ikuti," Darren mencoba untuk memberikan penjelasan kepada sang mertua.
"Perkataan suami kamu ada benarnya juga, memang lebih baik kamu tidak usah kuliah dulu."
__ADS_1
Akhirnya Roman memberikan jawaban yang dengan jelas membuat Rona kecewa karena tidak sesuai dengan yang dia harapkan.
"Tapi kan dulu sebelum nikah udah janji mau ijinin Rona tetap kuliah," celetuk Rona dengan bibirnya yang maju sekian senti.
"Di tunda aja Na setahun, habis lahiran kamu baru kuliah," Tania mencoba mengeluarkan pendapatnya.
Namun tanpa tanpa bicara Rona malah lari ke lantai atas lalu masuk ke kamar suaminya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur menelungkup lalu menangis.
"Malah ngambek," ucap Roman seraya menatap menantunya yang terbengong.
"Nggak mau di kejar?" tanya Aditya pada sang anak yang sangat tidak peka padahal istrinya itu sedang merajuk.
Setelah mendengar perkataan sang Ayah barulah Darren bergerak, turun dari sofa dan melangkah malas meniti tangga menuju ke dalam kamarnya.
"Na," panggil Darren.
Rona tak menjawab karena sibuk menangis, rasanya ia begitu kecewa karena keinginannya untuk kuliah masih belum jelas, suaminya kini berubah pikiran yang tadinya setuju malah tidak karena ia yang sedang hamil.
"Sini duduk, kita ngomong dulu pelan-pelan," kata Darren duduk di sebelah tubuh istrinya sambil mengelus rambutnya yang halus.
"Aku mau kuliah Kak," ucap Rona dengan wajah yang tertunduk.
"Iya aku ngerti kamu mau kuliah. tapi kan kamu lagi hamil, kalau mau di tunda setahun kayak yang Mama bilang tadi," kata Darren dengan lemah lembut, beruntung mualnya cukup tau diri untuk tidak muncul sehingga dia bisa leluasa untuk berbicara dengan sang istri tanpa harus repot bolak-balik ke kamar mandi.
"Ya kan tadi aku bilang Kak, memangnya wanita hamil di larang untuk kuliah? nggak kan?" Rona menatap sang suami dengan begitu memelas.
Darren menggaruk kepalanya bingung harus bagaimana lagi memberitahukan istrinya itu.
"Iya nggak ada yang larang, cuma kan dari tadi juga aku udah jelasin sama kamu, aku tuh cuma khawatir kamu kecapean Na," Sahut Darren kemudian.
"Kalau aku janji nggak bakal kecapean gimana? kamu bolehin aku kuliah?"
Rona melihat Darren dengan penuh harap, berharap pria itu mau mengiyakan keinginannya saat ini.
Darren memicingkan mata di dalam kepalanya sudah muncul persyaratan yang akan dia lontarkan setelah mendengar ucapan sang istri.
"Ya udah kamu boleh kuliah," kata Darren akhirnya.
__ADS_1
Mata Rona membulat sempurna sekaligus berbinar cerah mendengar jawaban dari pria tampan yang sedang menanggung gejala wanita hamil.
Rona begitu senang bahkan berulang kali mendaratkan ciuman di pipi Darren.
"Tapi ada syaratnya," kata Darren membuat Rona berhenti lalu termangu mendengar ucapannya.
"Kok harus ada syarat?" bingung Rona.
"Ya iyalah, enak aja kamu. aku udah turutin kamu dan sekarang gantian kamu yang harus turutin aku!" seru Darren dengan senyuman yang menyebalkan.
Rona segera menjauhkan wajahnya lalu berkata ketus, "ya udah apa!?," tanyanya kemudian.
"Sama istri pake syarat-syarat segala," gumam Rona seraya memalingkan wajahnya, enggan menatap wajah sang suami yang ngeselin.
"Apa ih?" tanya Rona tak sabar ketika Darren malah diam saja menatap dirinya.
"Nanti kalau ngeluh capek atau aku lihat kamu kecapean jangan protes kalau aku minta kamu untuk cuti kuliah."
Persyaratan yang Darren berikan memang terdengar sangat biasa namun tetap saja Rona membelalakkan kedua matanya mendengar syarat itu.
"Nggak usah protes! karena kalau kamu protes aku malah nggak bakalan kasih ijin kamu kuliah! bodo amat kamu mau ngambek kek, nangis sambil kelojotan di lantai kek, BO DO AM MAT!" tekan Darren lalu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Apalagi yang akan pria itu lakukan jika bukan memuntahkan makanan yang tadi baru dia makan, entah bagaimana caranya selama beberapa bulan ini dia harus membiasakan diri dengan keadaannya ini, tidak bisa menolak karena Tuhan yang sudah membuatnya begini, ini rencana Tuhan yang dia tidak tau apa maksudnya.
Rona menendang-nendang selimut serta seprei hingga jadi berantakan, perkataan suaminya jelas sudah final tidak bisa di ganggu gugat apalagi di paksa untuk di ubah, yang harus ia lakukan nantinya adalah mempersiapkan dirinya agar tidak sampai kelelahan ketika sudah kuliah jika tidak mau kuliahnya terhenti di tengah jalan.
Dari dalam kamar mandi Rona mendengar suaminya yang mulai kembali muntah-muntah membuat ia segera menghampiri membantu memijit tengkuknya.
****
__ADS_1