Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 22


__ADS_3

Setelah puas melampiaskan emosinya Roman langsung pergi meninggalkan Imran yang tengah memegangi perutnya seraya meringis kesakitan dan terus mengeluarkan sumpah serapah nya


"liat aja gue bakal terus gangguin Tania " ancam nya seraya kembali duduk di atas tanah karena masih merasakan sakit di seluruh persendian tubuhnya selalu dihajar oleh Roman


Roman melajukan mobilnya dengan cepat dan setelah jarak lumayan jauh dari tempat Imran berada ia menghentikan laju mobilnya dan parkir dipinggir jalan


didalam mobil Roman tengah melihat wajahnya melalui kaca spion, meneliti setiap inci dan memeriksa apakah ada luka yang terlihat mencolok yang mungkin akan disadari oleh istrinya saat pulang nanti


saat melihat ada sedikit memar di kening serta luka dibibir bawah bagian kirinya, dengan cepat Roman langsung mengambil salep yang bisa menghilangkan memar yang memang telah ia sediakan sebelumnya


ia terlihat mengoleskan salep pada luka yang didapatnya karena Imran yang membalas pukulan nya tadi


Roman harus menunggu beberapa saat sampai lukanya tak terlihat


sambil menunggu salep bekerja Roman terlihat merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan dimana-mana, lalu menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum


Roman mengambil ponselnya di dashboard mobil dan memeriksanya, ia segera menghubungi Tania begitu melihat ada panggilan tak terjawab dari istrinya


"kenapa baby? " tanya Roman saat Tania menjawab panggilannya


"kamu dimana? kok belum jemput? " menanyakan keberadaan suaminya yang tak kunjung menjemputnya padahal dirumah ia sudah terlihat rapi dengan wajah yang terlihat sumringah meski sejak tadi merasakan pusing


"aku baru selesai urusannya, ini aku langsung pulang kok" jawab Roman seraya kembali melihat wajahnya di spion memastikan salep sudah bekerja


"yaudah cepetaan,jangan mampir-mampir lagi ke tempat lain" berkata dengan nada yang terdengar manja membuat Roman semakin curiga mendengar istrinya yang bersikap tidak biasanya


"iya sayaaank, yaudah aku jalan sekarang ya" sahutnya seraya menyalakan mobil yang akan menuju rumah guna menjemput sang istri


"he em" imbuh Tania seraya menutup ponsel mengakhiri pembicaraannya dengan sang suami


Tania tengah duduk di kursi yang ada diteras rumah menunggu suaminya datang seraya tangannya sibuk membongkar-bongkar isi tas entah barang apa yang kini sedang ia cari


tiin..


tiin..


terdengar suara klakson mobil Roman diluar pagar halamannya,


"nggak usah dibuka yud" larang Tania pada penjaga baru yang sudah bersiap untuk membukakan pagar seraya menghampiri suami yaang sudah menunggu didalam mobil


"iya bu" begitu mendengar perkataan majikannya

__ADS_1


ia pun urung menggeser pagar dan hanya membuka pintunya saja saat Tania melewatinya


melihat Tania tengah berjalan kearahnya Roman yang sudah berdiri diluar mobil memicingkan mata memperhatikan penampilan istrinya


celana jeans yang terlihat ketat juga sepatu ber hak lumayan tinggi dikakinya, membuat Roman mengurut kepalanya


apalagi saat Tania berjalan sedikit limbung karena pusing yang masih ia rasakan dikepalanya membuat Roman gegas berlari mendekat


"kenapa? " tanyanya khawatir dengan tangan yang merangkul pinggang istrinya


"pusing " sahut Tania memegangi kepalanya


"kalo pusing nggak usah jalan ya, kapan-kapan aja jalannya " imbuh Roman pada Tania seraya menatap wajah istrinya seraya otaknya terus menebak apakah dugaannya tadi pagi benar


"tapi aku mau jalan " kata Tania manja sambil menggoyang lengan sang suami yang dengan setia memeganginya


Roman menarik napas panjang makin curiga dengan kelakuan istrinya saat ini


"tapi nanti kamu testpack ya" kata Roman


"hah" wajah Tania terlihat bingung


"aku belum telat kok" lanjutnya mencoba menampik kecurigaan suaminya


"yaudah iya" dengan berat hati menuruti permintaan suaminya toh hanya sekedar melakukan testpack saja dan bukan harus melakukan hal yang merugikan baginya


setelah Tania menyetujui permintaannya Roman langsung membuka pintu penumpang untuk Tania


dan iapun duduk dibalik kemudi serta menyalakan mobil bersiap pergi menuruti istri tercintanya yang mungkin kini sedang mengandung seperti dugaannya..


****


Rianti tengah memakaikan baju pada riana ynag terlihat baru saja selesai mandi


"loh ini tangan kamu kenapa kk? " tanya Rianti saat kedua matanya melihat lengan anaknya yang masih terlihat sedikit membiru meski kemarin Roman sudah berusaha menyamarkan nya dengan mengompres pakai es batu, namun kejelian mata Rianti rupanya tidak bisa dikalahkan oleh apapun, ia tetap saja mampu melihat memar yang sudah terlihat samar.


riana diam saja tak menyahuti pertanyaan ibunya, karena ia tidak mau sang ayah terkena marah oleh ibunya


karena riana tak kunjung menjawab pertanyaannya Rianti memilih untuk memanggil sang suami yang sudah berada di ruang kerjanya setelah sebelumnya menidurkan Daren.


Rianti memakaikan riana baju dengan cepat dan meminta salma untuk memberi Riana makan

__ADS_1


Rianti melongok kekamar memeriksa apakah suaminya ada disana, namun yang ia cari tak ada hanya ada Daren yang sudah terlelap di box nya


ia gegas menuruni tangga dan menuju ruang kerja dimana suaminya akan menghabiskan waktunya disana jika sedang banyak pekerjaan


"Maas" membuka pintu lalu segera masuk ketika dilihatnya sang suami sedang duduk di sofa dengan setumpuk berkas di hadapannya


"kenapa? " mengalihkan matanya yang sejak tadi berkutat dengan kertas kearah Rianti yang baru saja masuk


"aku liat tangan riana memar" berkata sambil duduk tepat di sebelah sang suami


mendengar pernyataan Rianti Aditya melirik kesana-sini


"Riana bilang apa? " sudah terlihat panik takut anaknya akan mengadu pada ibunya


Rianti menggeleng " aku tanya dia nggak mau jawab"


Aditya menarik napas lega sebab Riana tidak mengatakan hal yang aneh tentang kejadian kemarin, jika tidak sudah pasti Rianti akan marah padanya dan menuduh dirinya tidak mengawasi Riana dengan benar


"mas tahu tangan Riana kenapa? " bertanya pada suaminya yang sudah pasti juga tidak akan menjawab pertanyaannya


"nggak tahu yaaank, namanya anak kecil mungkin dia lari-lari terus tangannya kepentok apa gitu" Aditya berkata meyakinkan


Rianti hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Aditya


"Riana sekarang dimana? " melihat Rianti menanyakan anaknya


"lagi makan sama salma, mas lagi apa? " tanya Rianti melihat suaminya sudah sibuk, .


dan pertanyaan Rianti membuat Aditya terus mengucap syukur dalam hatinya karena Rianti sudah tak bertanya lagi tentang memar di tangan anak gadisnya


"banyak kerjaan yank, minggu besok mas juga harus ke Jerman sama johan"


mendengar apa yang dikatakan suaminya, Rianti serentak mendaratkan wajahnya ke dada Aditya merasa tak rela jika ia ditinggal oleh sang suami


"mas sebentar kok " berusaha membuat istrinya tenang, ia tahu saat ini Rianti sangat membutuhkannya untuk mengurus kedua anak mereka, meskipun ada salma tapi terkadang kedua anak mereka lebih ingin bersama orang tuanya ketimbang orang lain,.seperti yang terjadi tadi pagi saat Riana ingin dimandikan oleh ibunya dan Daren yang juga terus menangis tak ingin lepas dari tangan ibunya.


terdengar suara isakan tangis dari Rianti


Aditya mendekapnya erat dan membiarkan istrinya menangis meluapkan apa yang ada di dalam hatinya..


****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2