Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP musim kedua


__ADS_3

"Mamah Roja berangkat ya." seru Rona dengan suara yang cukup cempreng kepada sang Mamah yang bahkan jaraknya tidak terlalu jauh darinya.


"Astaga Rona kalau ngomong itu pelan-pelan." malah Kini terdengar suara Papahnya yang mengomel dari dalam kamar karena mendengar betapa cemprengnya suara anak gadisnya itu.


Mendengar suara sang Papah gadis yang memakai seragam sekolah dan siap untuk berangkat itu malah jadi merengut karenanya.


"Kalau dibilangin cemberut deh." seru Roman ketika keluar kamar mendapati wajah ditekuk anaknya.


"Mamaah." memanggil sang Mamah seperti tengah mengadukan Papah.


Tania mendelikkan mata saja namun tindakannya itu sudah cukup untuk membungkam mulut Roman yang sebenarnya masih ingin mengomel.


"Sudah kamu sekolah sana." kata Tania pada sang anak.


Rona pun menyunggingkan senyum yang manis ketika berpamitan pada Mamahnya, namun ketika berpamitan pada sang Papah mulut Rona kembali di manyunkan.


"Hati-hati bawa motornya, jangan ngebut." teriak Tania saat Rona sudah berjalan keluar.


"Santai, Rona kan pembalap." sahut Rona yang membuat kedua orang dewasa itu menggeleng-geleng melihat tingkahnya.


"Makin tomboi aja, gimana Daren mau suka." ucap Roman.


"Dih, kata siapa Daren nggak suka sama Rona?" sahut Tania yang tidak terima dengan perkataan suaminya itu.


"Kata aku barusan." sahut Roman enteng.


"Daren itu sebenernya suka sama Rona Pah, cuma emang kayak gitu aja anaknya, susah buat dia ngomong langsung."


"Sok tahu kamu."


"Loh aku memangnya tahu kok." tak terima di bilang sok tahu oleh Roman padahal ia memang tahu bahwa sebenarnya Daren suka pada anaknya.


"Tahu darimana?" masih tetap tidak percaya dengan perkataan sang istri.


"Ibunya sendiri yang bilang sama aku." memberitahu darimana ia tahu kalau sesungguhnya Daren itu menyukai Rona.


"Kok Adit nggak bilang sama aku?"


"Kalian kalau ketemu yang di obrolin itu masalah yang nggak jelas, makanya sampai kapan juga nggak akan tahu soal Daren dan Rona." sahut Tania ketus lalu berjalan menaiki tangga untuk mengambil cucian kotor yang akan di cuci.


Di rumah itu mereka memang mempunyai pembantu tapi Tania tetap saja melakukan pekerjaan yang akan di lakukan oleh pembantunya itu.


"Udah lah, aku mau makan pusing ngurusin anak muda." ucap Roman lalu menyuap makanan yang memang sudah di sendokkan oleh istrinya.


"Iya deh yang udah tua." ejek Tania dengan mimik lucu.


"Tua juga kan kamu masih kualahan ladenin aku." sahut Roman seenaknya dan mendapat cubitan dari Tania.


"Ngaco kalau ngomong." sungut Tania.


"Kenyataannya kan gitu."


"Cepat makan, setelah ini antar aku belanja. kamu nggak ke rumah sakit kan hari ini?" kata Tania yang tidak mau suaminya mengeluarkan perkataan yang semakin ngelantur dan mungkin akan di dengar oleh pembantu rumah tangganya yang sejak tadi mondar-mandir membersihkan ruang tengah.


"Iya cinta." jawab Roman dengan suara yang di buat seromantis mungkin.


"Aku siap-siap dulu, kamu abisin makannya." Tania melenggang masuk ke kamar mereka.

__ADS_1


Di tengah jalan mendadak motor Rona mati tanpa gadis itu tahu penyebabnya.


Rona menuntun motornya sampai ke pinggir lalu mencoba untuk menyalakannya kembali namun nihil, motor itu tetap tidak mau menyala.


"Ini motor kenapa siih?" bingung Rona yang tak mengerti apapun tentang mesin motor karena yang ia tahu hanyalah membawanya dengan kencang agar bisa cepat sampai di tujuan.


"Kan kemarin baru di bawa ke bengkel." katanya lagi seraya kembali men starter motor itu.


"Iih nyala dong, bisa terlambat ini, ayo nyala. nyala nyala nyala." kata Rona yang sudah mulai tak sabar.


"Ngeseeellliiiiinnn." teriak Rona lalu duduk di trotoar dan menendang ban motornya sendiri.


"Telepon Papah aja deh." ujar Rona kemudian mengambil HP dari dalam tas sekolahnya, tapi belum juga HPnya ia keluarkan tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.


"Rona." suara pemuda yang motornya sudah berhenti di samping motor Rona.


"Duuh untung lu muncul Yo." ternyata Tyo teman sekelas Rona lah yang sekarang sudah ada di depan gadis yang memiliki rambut lurus dan berkulit putih sama seperti sang Mamah.


"Mogok lagi?" tanya Tyo melihat motor matic yang mejeng di tepi jalan itu.


"Iya."


"Makanya kalau pakai motor itu di perhatiin Rona jangan tahunya cuma kebut-kebutan aja." omel Tyo tentang bagaimana Rona memperlakukan motornya sendiri.


"Motor di suruh kerja rodi tapi jarang di servis ya begini jadinya." masih lanjut mengomel.


"Ini kemarin baru di servis loh." sahut Rona dengan bibir manyun.


"Iya di servis setelah hampir setahun, jadinya sekali di servis malah kaget nih motor."


"Panggil orang bengkel aja, ini udah jam berapa bisa telat kita." ucap Tyo sambil melihat jam di layar HPnya.


"Teleponin, gue nggak nyimpen nomor orang bengkel soalnya."


"Dih nyusahin banget nih anak." dengus Tyo namun tetap membantu Rona untuk menghubungi bengkel yang menjadi langganannya untuk datang.


Rona tak bersuara kala Tyo sedang berbicara dengan orang bengkel yang temannya itu hubungi.


"Bentar lagi orangnya Dateng." Tyo memberitahu Rona dan 10 menit kemudian dua orang bengkel yang tadi di telepon oleh Tyo pun muncul.


"Nitip yang Bang." kata Tyo yang memang sudah sangat mengenal si lelaki yang akan membawa motor Rona untuk di perbaiki.


"Nanti pulang sekolah di ambil." katanya lagi.


"Siip." sahut lelaki bernama Joko seraya mengacungkan jempolnya.


"Lu ngapain masih bengong di situ?" tanyanya pada Rona yang berdiri di samping motor dan hanya bengong saja melihat motornya mulai di bawa.


"Eh iya." Rona tertawa bodoh menyadari tingkahnya sendiri.


"Naik cepat gue nggak mau di suruh ngiterin lapangan lagi gara-gara elu ya Na." ketus Tyo, ya sebelumnya karena kejadian yang sama juga pernah terjadi hingga akhirnya mereka datang terlambat dan mendapat hukuman.


"Ya maap."


Baru saja Rona akan naik ke motor yang dikendarai oleh Tyo gerakannya itu terhenti ketika telinganya menangkap satu suara yang memanggil namanya dengan sangat tajam.


"RONA!" Rona menoleh kebelakang hingga akhirnya tak jadi naik motor Tyo ketika melihat siapa yang sekarang muncul.

__ADS_1


"Kak Daren." kata Rona pelan seraya memamerkan senyuman pada Daren yang bahkan hanya matanya saja yang terlihat karena pemuda itu memakai helm, sorot mata Daren begitu tajam melihat Rona dan Tyo bergantian.


"Gue jalan duluan deh Na, temen lu nakutin." kata Tyo langsung tancap gas ketika Rona belum menjawab perkataannya.


"Lah." kata Rona menatap motor Tyo yang kabur secepat kilat.


"Ngapain kamu disini? bukannya sekolah malah pacaran." tanpa bertanya lebih dulu sudah menuduh saja.


"Kakak bilangin Papah kamu." kata Daren menakuti.


"Itu temen aku kak. motor aku mogok Tyo bantuin buat telepon bengkel." jawab Rona.


"Terus ngapain kamu malah mau naik ke motor dia?!"


"Kan sekolah Rona sama Tyo sama kak, jadi sekalian aja biar nggak terlambat." sahut Rona yang padahal dalam hatinya merasa sangat senang karena itu artinya Daren cemburu melihatnya dengan pemuda lain, senyum Rona merekah tanpa gadis itu sadari.


"Ngapain kamu senyam-senyum sendiri!?" mengernyitkan keningnya melihat tingkah aneh Rona yang sekarang tengah senyum padahal dirinya tidak sedang mengeluarkan gombalan.


Rona menggeleng cepat lalu mengatupkan bibirnya.


Sesaat kemudian mata Rona membelalak lebar kala menyadari bahwa ia sudah terlambat ke sekolah.


"Aku udah terlambat kak." seru Rona panik.


"Anterin aku Kak." pinta Rona.


Namun dengan tegasnya Daren menolak.


"Nggak!"


"Iih kak Daren please, nanti Rona di suruh muterin lapangan lagi kalau telat.


"Biarin, kakak nggak mau tahu." sahut Daren yang malah menjalankan motor besarnya dan meninggalkan Rona begitu saja.


"Kak Dareeen jahaaaat, aku aduin Om sama Tante." teriak Rona yang sudah tidak terdengar oleh Daren.


"Ngeseliiin." kata Rona menghentakkan kakinya ke jalanan lalu buru-buru memesan ojek online.


Ketika sampai gerbang sekolah sudah hampir di tutup, Rona pun secepat kilat berlari agar bisa masuk.


"Yah di hukum lagi ini sih." kata penjaga sekolah melihat Rona yang baru masuk dengan napas tersengal.


"Emang guru udah Dateng?" tanya Rona.


"Lah udah mulai belajar malah, ini udah jam berapa neng?"


"Jam 7 lewat."


"Nah kan."


"Tapi kenapa gerbangnya baru di tutup?" bukannya cepat masuk ke kelas Rona malah sibuk bertanya pada sang penjaga.


"Ada mobil masuk makanya di buka, udah sana masuk."


"Nggak nanti aja pelajaran kedua." sahut Rona karena tahu jika masuk sekarang yang ia dapatkan hanyalah hukuman dan dengan santainya gadis itu melenggang menuju kantin sekolah meninggalkan penjaga yang menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu.


\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2