Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 67


__ADS_3

Darren baru saja memarkirkan motornya saat melihat asisten setia Ayahnya datang menghampiri, lelaki yang dia panggil Om itu seperti seorang cenayang bahkan bisa mengetahui jika dirinya baru saja sampai.


Dari raut wajah sang asisten Darren bisa melihat ada ketegangan di sana, jelas pasti Ayahnya sedang mengomel, apalagi jika bukan karena dirinya yang datang terlambat padahal Ayahnya sudah mengingatkan untuk datang lebih pagi.


Mau bagaimana lagi, dia masih tergolong pengantin baru, jadi orang-orang disekitarnya harap memaklumi saja jika sewaktu-waktu dia datang terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali.


Darren meletakkan helmnya di atas tangki motor lalu turun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah memakai helm.


Pria muda yang berstatus suami orang itupun menghampiri Johan yang sedang mengarah padanya.


"Ayah kamu sudah nyap-nyap sejak dua jam yang lalu," adu Johan pada anak atasannya yang kini menggaruk kepalanya mendengar aduan yang dia katakan.


Oke sepertinya mulai detik ini Darren harus mempersiapkan telinganya dari omelan sang Ayah yang mungkin akan sangat panjang.


Darren menarik nafasnya dengan sangat panjang mengingat tadi malam saja gendang telinganya saja nyaris rusak karena perbuatan istrinya.


"Ayahnya dimana sekarang Om?" tanya Darren seraya mengikuti Johan yang sudah membelakanginya.


"Di ruangannya, jangan berharap kalau Ayah kamu pergi rapat! dia sengaja mengundur jadwalnya karena memang sudah menunggu kamu," terang Johan sambil menekan tombol lift.


"Wow." bibir Darren bergerak tanpa mengeluarkan suara, Ayahnya benar-benar mengincarnya sangat mengincarnya.


Ketika di dalam lift Johan mendapati Darren yang sedang menepuk-nepuk kedua telinganya, membuat Johan mengernyit bingung lalu kemudian mengabaikannya ketika ingat bahwa yang ada di dekatnya itu adalah keturunan dari Aditya Erlangga jadi tidak usah lagi merasa heran dengan segala tingkah lakunya yang memang hampir 99% sama.


Sedangkan Darren tengah benar-benar mempersiapkan telinganya sebelum masuk ke dalam ruangan sang Ayah yang bawelnya akan melebihi burung aduan sekalipun.


Keduanya keluar dari dalam lift dan langsung menuju satu ruangan yang tidak begitu jauh dari lift itu, melewati meja sekretaris pria yang sepertinya baru Darren lihat.


"Ganti lagi Om?" bisik Darren ketika Johan akan membuka pintu.


"Setelah Mama mertuamu Resign tidak ada yang sesuai dengan Ayahmu," sahut Johan membuka pintu dengan sangat lebar yang langsung membuat Darren bisa melihat seraut wajah dengan ketegangan yang menghiasinya.


Johan mempersilahkan Darren masuk dengan nada yang sangat mengejek, pria yang sudah sangat matang itu seolah senang dengan apa yang akan Darren terima sebentar lagi.


Yang dilakukan oleh asisten dari Ayahnya itu sangat disadari oleh Darren bahwa pria itu sudah sangat tak sabar untuk melihat adegan Ayah dan anak yang memiliki sifat serta kelakuan yang sama.


Sebelumnya Johan bahkan tidak pernah bersikap formal begini terhadapnya, bahkan sampai melebarkan tangannya guna meminta dia masuk, Darren melirik pada sang asisten menyebalkan yang sifatnya sangat menyebalkan, tanpa dia ketahui bahwa sifat menyebalkan yang Johan punya itu akibat terlalu lama bergaul dengan Ayahnya yang secara tidak sengaja tertular oleh sang Ayah.


"Kemarin Ayah suruh kamu datang jam berapa?!" baru saja duduk Darren sudah mendapatkan pertanyaan dengan nada tajam dan juga mengerikan lalu masih harus di tambah oleh wajah sang Ayah yang memang selalu menjadi lebih menakutkan jika sedang marah seperti ini.

__ADS_1


Terlihat jelas bahwa pria di depannya saat ini benar-benar sedang sangat marah padanya sangat tidak mungkin jika Darren tidak takut pada Ayahnya yang sejak dia kecil bahkan sudah sangat tahu seperti apa Ayahnya itu jika ada sesuatu hal yang tidak dia sukai, bahkan sang Ayah bahkan sampai menunda rapatnya hanya untuk menunggu dirinya datang, apalagi jika bukan untuk memarahinya.


"jam 7," jawab Darren pelan.


"Dan sekarang sudah jam berapa?!" suara Aditya semakin tegas dan berat.


"Jam 8 lewat 58 menit."


"Jam 9 kurang." sambar Johan, baginya jawaban anak dari atasannya itu sungguh sangat bertele-tele kenapa lebih memilih menjawab dengan jawaban yang panjang sedangkan ada jawaban yang lebih singkat dan cepat, lagipula ini memang sudah mendekati jam 9 bukan? hanya kurang dua menit saja lalu kenapa masih saja membawa-bawa angka delapan di dalamnya, membuang-buang kata, begitu yang ada di dalam pikiran sang asisten senior yang duduk di meja kerjanya yang memang berdampingan dengan atasannya.


Entahlah kenapa dari dulu Johan tidak di perbolehkan mengisi ruangannya sendiri yang padahal sudah ada sejak dia pertama kali bekerja, dulu dia bahkan hanya menempati ruangannya itu selama beberapa Minggu saja namun Aditya langsung memberi perintah untuknya pindah dan berbagi ruangan dengan pria itu.


Terdengar konyol, namun Johan tahu apa yang membuat Aditya lebih memilih untuk satu ruangan dengannya, selain untuk mempermudah pekerjaan namun juga untuk membuat asistennya itu mendengarkan setiap omongannya yang kadang tak masuk akal jika sedang kesal atau mendapat masalah.


Dengan kata lain Johan sangat dibutuhkan oleh Aditya dalam suasana hati yang seperti apapun.


Darren menoleh pada asisten Ayahnya yang memang tak kalah menyebalkan dari sang Ayah, dia sengaja menjawab seperti itu agar tidak terlihat dia datang terlalu siang, tapi pria yang selalu ada di samping Ayahnya itu mengacaukan rencananya.


Johan menyunggingkan senyum ledekan dengan mata yang melirik pada Aditya, menebak kalau sebentar lagi akan ada yang semakin tersulut bagaikan sebatang korek yang di siram oleh bensin.


"Ayah sudah menunggu kamu dari Jam 7 dan kamu malah baru datang dua jam kemudian!" bentak Aditya marah.


"Dimana tanggung jawab kamu Darren!" suara Aditya makin meninggi bahkan tangannya juga sambil mengetuk meja seolah menunjukkan betapa gemasnya dia pada anaknya sendiri.


"Darren minta maaf Ayah," kata Darren mengakui kesalahannya lebih baik ketimbang harus membela diri karena kenyataannya memang dirinya lah yang salah.


Sejak kemarin Ayahnya sudah mengingatkan dirinya untuk datang lebih pagi karena Ayahnya itu memang ingin mengajarinya tentang semua urusan kantor dan kewajibannya sebagai pemimpin di kantor cabang yang kemarin dia datangi.


Aditya menghela nafasnya lalu menyandarkan punggungnya di kursi dengan mata yang mengawasi sang anak.


Anaknya itu pasti memiliki alasan kenapa sampai bisa datang terlambat dari yang sudah dia minta, tidak mungkin tidak ada alasan karena sejak kecil dia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk disiplin apalagi menyangkut tanggung jawab.


Tentu ada alasan yang bisa dijelaskan oleh anaknya itu.


"Kenapa sampai datang sesiang ini?" tanya Aditya dengan suara yang mulai melunak, tampak tidak tega mengomeli anak kesayangannya yang menjadi sekutunya sedari kecil.


Darren menatap Ayahnya dengan wajah yang tak bisa di artikan, dia menggaruk tengkuknya kebingungan haruskah dia menjawab pertanyaan dari sang Ayah dengan jujur kenapa dia bisa datang sangat terlambat.


"Ayah menunggu jawaban kamu Darren," ujar Aditya saat anaknya tak kunjung memberi jawaban, membuatnya harus menunggu.

__ADS_1


Apakah anaknya itu masih belum cukup puas sudah membuatnya menunggu sampai dua jam.


Darren menoleh pada Johan yang malah mengedikkan bahunya, menyadari anak dari atasannya itu tengah meminta pendapat darinya.


Darren merengut kala asisten Ayahnya itu tidak bisa dimintai pendapat.


"ehem." akhirnya berdehem lebih dulu guna membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa sangat kering diiringi dengan tatapan menunggu dari sang Ayah.


"Rona bikin Darren begadang Ayah," sahut Darren malu-malu.


"Uhuk uhuk." Johan terbatuk mendengar apa yang dikatakan oleh Darren membuat Darren dan Aditya sontak melihat padanya.


"Alasan yang sama dengan yang anda berikan jika datang terlambat Pak," kata Johan pada Aditya yang memang akan mengatakan hal yang sama seperti yang barusan di katakan oleh Darren jika datang ke kantor lebih siang. "rianti bikin saya begadang" itu akan selalu jadi alasan rutin yang di dengar oleh Johan beberapa tahun yang lalu.


Aditya pun mendelik lalu mengepal selembar kertas dan melemparkannya pada sang asisten yang menghindari lemparan kertas itu.


Darren menyembunyikan senyumnya karena baru mengetahui bahwa ternyata Ayahnya itu sama saja dengan dirinya.


"Tidak usah tersenyum begitu! segera pelajari ini!" Aditya menghempaskan sebuah Ordner yang lumayan tebal menandakan bahwa di dalamnya banyak lembaran-lembaran kertas dengan beratus ribuan ketikan atau bahkan malah jutaan ketikan yang harus Darren baca dan pelajari.


Darren mengurut keningnya baru melihatnya saja dia sudah di buat pusing, lalu bagaimana caranya dia bisa tahan membaca semua yang ada di dalam Ordner tebal itu.



"Tapi Darren harus ke kampus Ayah," ucap Darren sepertinya ingin menyelamatkan matanya agar tidak rabun karena harus membaca segitu banyaknya lembaran kertas.



"Makanya selesaikan dengan cepat! jika tidak selesai kamu tidak boleh pulang!" kata Aditya tajam memberikan ancaman.


Darren membuang nafasnya lalu menggaruk kepalanya dengan sangat kasar membuat rambutnya jadi sangat berantakan karena ulahnya sendiri.


Aditya melihat pada Johan yang mengulum bibirnya, asistennya itu sangat senang melihat anaknya sengsara tentu harus di beri pelajaran. batin Aditya.



"Ajari Darren Han," seru Aditya membuat Johan tercengang.


Habislah dia hari ini, pekerjaannya sedang banyak tapi malah harus di minta untuk mengajari pemuda yang memang belum memiliki pengalaman, jangankan pengalaman lulus kuliah saja belum, "astaga," gumam Johan seraya mengatur nafasnya.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2