Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 64


__ADS_3

Roman yang tak tidur semalaman karena terus berusaha menghubungi no ponsel sang istri yang ternyata tak aktif , membuat wajah Roman terlihat tak segar dengan bawah matanya yang menghitam.


"Istri gua nggak bilang emangnya sama elu?.


Lagi-lagi mengajukan pertanyaan yang semalam sudah ia ajukan pada penjaga di rumahnya.


" kalau bilang namanya bukan kabur pak." jawaban sang penjaga malah memunculkan tajamnya mata Roman yang sebenarnya mengantuk.


"Lebih baik bapak tanya sama keluarganya." saran yang cukup baik meluncur dari mulut si penjaga.


"Nggak perlu di ajaran gua juga udah tahu!!!" berjalan kesal masuk ke dalam rumahnya kembali tak menghiraukan tatapan mata dari penjaga rumahnya.


"Gimana Dit?" Roman kembali menghubungi temannya yang semalam ia minta untuk membujuk Rianti agar mau mengatakan dimana keberadaan istrinya.


"Nihil." sahut Aditya dari ujung telepon.


"Nihil apaan?" tanya Roman.


"Nggak mau ngasih tahu, malah gue kena omel." tukas aditya tajam.


Roman menarik napasnya begitu panjang hingga memenuhi rongga paru-paru nya.


"Gua mesti gimana sekarang?" berkata dengan ke frustasian karena di tinggal oleh sang istri.


"Ya elu lagian.."


"Iya Dit iya, gua salah kenapa gua nggak ngomong sama Tania soal Ninda, gua salaah." mengaku salah sendiri sebelum mulut Aditya berucap.


"Gua juga kan nggak tahu kalau bakalan kayak gini." lanjut Roman lagi.


Lelaki itu tampak menyesal dengan apa yang sudah terjadi, istrinya pergi karena ulahnya sendiri.


"Hallo mbak." Rianti di dalam kamarnya menghubungi Tania melalui nomor telepon rumah tempatnya menginap sekarang ini.


"Iya Ri kenapa?" sahut Tania begitu mendengar suara Rianti.


"Mbak Roman lagi nyariin mbak dari semalem." Rianti melapor pada Tania, sekarang dia sudah seperti seorang agen mata-mata saja.


"Dia tanya sama kamu?" tanya Tania kemudian.


"Iya, ini mas Adit juga bujukin aku dari semalem." beritahu Rianti tentang apa yang di lakukan Aditya padanya semalam.


"Kamu nggak kasih tahu kan?" Tania bertanya khawatir takut Rianti memberitahukan di mana ia sekarang ini.


"Nggak, ini aku mau tanya dulu sama mbak, soalnya mas Adit semalem cerita soal Ninda itu." ujar Rianti seraya matanya terus mengawasi pintu kamar takut suaminya yang tiba-tiba masuk dan mendengar dengan siapa ia bicara sekarang, sebab dari semalam ia tak mengaku saat Aditya bertanya dirinya tahu tidak dimana Tania berada.


"Iya mantannya dan mereka beneran selingkuh." Tania menebak sendiri apa yang akan di katakan oleh Rianti.


"Iih bukan itu mbak." jawab Rianti dengan nada tertahan.


"Terus apa? mereka mantan kekasih terus ketemu lagi, ya apa lagi kalau bukan kembali berhubungan." Tania mengusap air matanya yang mendadak meleleh turun.

__ADS_1


Rianti lantas menceritakan semua yang di katakan oleh Aditya tadi malam tentang Ninda juga tentang gadis kecil yang bersamanya itu yang ternyata mereka sedang mencari Karza ayah kandung dari anaknya Ninda.


"Kalau kayak gitu kenapa Roman nggak cerita." ujar Tania saat Rianti menyelesaikan ceritanya.


"Aku nggak tahu juga kalau itu mbak, mas Adit cuma cerita itu soalnya." sahut Rianti.


"Sekarang mbak mau kasih tahu Roman nggak, biar dia jemput mbak." kata Rianti yang langsung di tolak oleh Tania.


"Nggak usah Ri, biarin aja biar dia mikir enak apa nggak di tinggal sama istri, kalau apa-apa nggak pernah mau ngomong sama istri, nggak mikirin istrinya bakal marah apa nggak, seenaknya aja." Rianti hanya mendengarkan saja curhatan tak sengaja yang sekarang tengah keluar dari mulut Tania.


Para istri itu tampak melanjutkan obrolan melalui telepon sama seperti suami mereka yang juga tengah berbicara di telepon dalam ruang kerja Aditya.


"Yaudah lah nanti juga pulang Man." kata Aditya mencoba menenangkan temannya yang sudah sangat gelisah itu.


"Yaelah Dit, dulu emang Rianti pulang sendiri?" tukas Roman mendengar omongan Aditya.


"Nggak kan gue jemput." jawab Aditya enteng.


"Nah kan Rianti aja lu jemput baru mau pulang, Rianti sama Tania tuh sama Dit, kalau udah ngambek susah buat di bujuk." menyamakan sifat kedua wanita yang menjadi istri mereka.


"Ribet banget Man, lu suruh suryo aja buat cari." saran Aditya kemudian.


Roman menarik napas panjang untuk yang ke sekian kalinya.


"Lu kayak nggak tahu si Suryo aja Dit, dia kan kalau abis dapat duit langsung pergi liburan." Roman mengingatkan kelakuan orang suruhan Aditya itu jika sudah mendapatkan bayaran setelah menyelesaikan pekerjaan yang di berikan padanya.


Aditya menepuk keningnya. "Oh iya kemarin dia baru bilang kalau mau pergi liburan."


"Sumpek kali otaknya ngikutin orang mulu." Aditya membuka laptopnya membuka email yang di kirim oleh Johan dari Jerman.


"Johan kapan pulang?" tanya nya saat Aditya sibuk membaca kiriman email.


"Besok." menjawab singkat.


"Yaudah lah Dit gua mau mandi." tukas Roman seraya beranjak membuka bajunya yang belum ganti dari tadi malam.


"Hhmm." langsung mematikan teleponnya dan kini sibuk membaca tiap ketika email yang di kirimkan Johan sambil menggeser kursi untuk ia duduki.


*********


"Makan dulu setelah itu minum obatnya." Selfie tampak telaten mengurus Imran yang justru malah kesal dan memberikan tatapan mata tak bersahabat.


"Gua bisa makan sendiri." mengambil piring berisi makanan yang ada di tangan Selfi secara kasar.


"Yaudah." Selfi masih berkata lembut berusaha memaklumi sikap Imran padanya yang mungkin kesal karena motor kesayangannya harus ia jual untuk membayar biaya rumah sakit.


Imran makan dengan cepat hingga membuatnya tersedak.


"Pelan-pelan makannya." kata Selfi panik lalu mengambil kan segelas air dan memberikannya pada Imran.


"Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu." tukas Selfi setelah Imran selesai minum.

__ADS_1


"Ngomong aja." Imran berkata dingin.


Selfi sedikit ragu untuk berbicara apa lagi melihat Imran yang terus saja marah-marah padanya membuat nyalinya menyusut , takut kemarahan Imran akan semakin menjadi setelah mendengar perkataannya nanti.


Tapi untuk tidak mengatakannya pun rasanya tidak mungkin, ia tak mau menanggung masalah yang mereka buat bersama itu sendirian.


"Jadi ngomong apa nggak? tadi katanya mau ngomong!" sentak Imran kesal karena Selfi malah melamun.


Selfi tergagap mendengar sentakan Imran wanita itu menunduk meremas-remas jari jemarinya.


Mau tidak mau ia harus mengatakannya sekarang juga pada Imran, meskipun nantinya akan mendapatkan kemarahan dari lelaki yang ada di depannya sekarang.


Imran menatap Selfi tak sabar dengan apa yang akan di katakan wanita itu padanya.


"A aku." Selfi tergagap dan berulang kali ia menelan ludahnya membasahi kerongkongan nya yang terus saja terasa kering.


"APA?!" Imran membentak kencang membuat Selfi tersentak makin kencang meremas jari-jemari nya.


"Aku hamil." kata Selfi pelan bahkan sangat pelan hingga Imran harus memasang telinganya dengan baik.


"Hamil?" mengulangi pernyataan Selfi memastikan benar kata hamil yang baru saja keluar dari mulut wanita itu.


Selfi mengangguk mengiyakan pertanyaan Imran.


Melihat gerakan kepala Selfi yang mengiyakan pertanyaannya membuat Imran melempar piring yang sejak tadi ia pegang.


prang. .


Piring serta makanan yang masih ada di dalamnya hancur berhamburan di lantai.


"Nggak mungkin,itu bukan anak gua!!!" membentak tak Terima pengakuan Selfi.


"Itu bukan anak gua!!" mengulangi perkataannya seraya meremas kedua bahu Selfi dengan tangannya.


Selfi meringis merasakan sakit , air mata turun deras membasahi wajah wanita yang kini sedang berbadan dua hasil hubungannya dengan lelaki yang sekarang malah tak mau menerima kenyataan yang baru ia ungkapkan.


"Pergi lu dari sini, gua nggak mau ngelihat muka lu lagi." Imran mengusir Selfi dari hadapannya.


"Tapi kamu harus nikahin aku, ini anak kamu." Selfi masih berusaha memberi pengertian pada Imran.


"Nggak! itu bukan anak gua, gua nggak akan nikah sama elu!!" mendorong tubuh Selfi dengan kasar hingga wanita itu terjatuh ke lantai.


"Keluar sekarang juga atau gua bakal berlaku lebih kasar dari ini." Sorot mata Imran begitu tajam seperti ingin menelan Selfi hidup-hidup.


Selfi langsung bangun dari lantai dengan tangis nya semakin pilu, lalu ia keluar dari ruang perawatan Imran karena takut lelaki itu akan melakukan tindakan yang lebih sadis lagi terhadap dirinya.


"Berengseeeek, cewek bego ngapain lu pake hamil." memaki sendiri, padahal saat berhubungan dirinya sendiri lah yang enggan memakai pengaman, tapi kini saat Selfi hamil dirinya juga yang menolak untuk bertanggung jawab.


Selfi keluar dari rumah sakit, berjalan seorang diri di jalan besar yang di lewati banyaknya kendaraan dengan laju yang cukup kencang , hingga langit berubah gelap Selfi masih terus menyusuri jalanan seolah kakinya tidak merasa lelah sedikitpun.


***********

__ADS_1


__ADS_2