Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 31


__ADS_3

"Rona." seru Roman saat sampai di klinik dan tidak mendapati sang anak di klinik itu.


"Bapak cari siapa?" seorang wanita yang memakai seragam berwarna putih menghampirinya, sudah jelas wanita itu adalah seorang suster di klinik yang lumayan besar itu.


"Anak saya." sahut Roman dengan mata yang bergerak ke sana sini guna mencari anaknya yang entah ada di mana.


"Anak Bapak namanya siapa?" tanya suster dengan sabar saat menyadari tengah berbicara dengan pria yang tampak panik.


"Rona, Rona Aliza." terang Roman dengan napas yang memburu, ke khawatiran tergambar jelas di wajahnya apalagi saat Darren mengatakan bahwa tubuh Rona demam.


Roman yang memang hanya datang sendiri karena tidak mau memberitahu pada istrinya tentang keadaan Rona itu, dia tahu benar akan se panik apa sang istri saat diberitahu bahwa Rona sakit, sudah pasti akan terus menangis sepanjang jalan nantinya.


"Nona Rona Aliza langsung pulang setelah di periksa karena Nona Rona memaksa untuk pulang saja." tutur sang suster.


Memang setelah di periksa oleh dokter dan mendapatkan resep obat Rona pun langsung meminta Darren untuk pulang saja karena ia tidak betah dengan bau obat yang ada di klinik itu, membuat gadis itu malah semakin mual dan ingin muntah.


Roman membuang napasnya dengan sangat kasar lalu mengucapkan terimakasih dan gegas kembali ke dalam mobilnya untuk pulang ke rumah.


"Nih anak sebenarnya niat nggak kasih tau gue kalau Rona sakit?!" desis Roman seraya melajukan mobilnya ke jalan raya.


Sepertinya Darren lah yang akan menjadi tempat Roman melampiaskan kekesalannya padahal anaknya sendirilah yang terus merengek pada Darren meminta untuk pulang saja.


Ketika tengah menggerutu tak jelas HP di atas kursi sebelahnya tiba-tiba berbunyi membuat mata Roman langsung mengarah pada benda itu, ketika melihat siapa yang kini meneleponnya tangannya pun langsung menyambar benda pipih itu dengan segera.


"Kalian ini gimana?" langsung saja melabrak Darren yang langsung menjauhkan HP dari telinganya.


"Maaf Om." kata Darren cepat agar calon mertuanya itu tidak mengoceh panjang lebar, tapi kenyatannya tidak seperti yang Darren harapkan mulut Roman masih terus berkicau mengomel padanya.


Mengetahui Papahnya tengah memarahi lelaki yang ia cintai Rona pun segera merampas HP itu dari tangan Darren.

__ADS_1


"Papah, jangan omelin sayangnya Rona." ucap Rona yang membuat mata Darren membelalak tajam mendengar panggilan sayang Rona ketika berbicara dengan lelaki yang akan menjadi mertuanya itu.


Kepala Darren menggeleng seperti memberi kode agar Rona tidak perlu memanggilnya seperti itu saat berbicara pada orang tuanya, tapi sepertinya Rona tidak mau mengerti malah terus berceloteh pada sang Papah yang sekarang mengerutkan keningnya.


"Sayangnya aku? siapa sayangnya kamu memang? Darren? Anak kecil nggak usah pakai sayang-sayangan segala sekolah aja urusin biar lulus." tutur Roman seraya menahan gelak tawanya ketika mendengar teriakan Rona yang marah karena masih di anggap anak kecil oleh Papahnya.


"Ngeselin." sungut Rona lalu tanpa berkata apapun langsung saja mematikan HP itu membuat sang Papah merutuk kesal.


Roman kembali fokus pada kemudi mobilnya seraya menyunggingkan senyum kecil di bibirnya mengingat bahwa ternyata dia sudah semakin tua dan sebentar lagi mungkin akan mendapat panggilan Kakek jika Rona memiliki anak.


Tania yang mendengar suara mobil di halaman rumahnya pun berjalan keluar, begitu sampai di depan pintu matanya tampak memicing melihat anak gadisnya yang katanya camping selama 4 hari tengah turun dari dalam mobil di bantu oleh Darren, mata Tania mempertegas pandangannya lalu segera berlari cepat ketika mendapat wajah anaknya terlihat sangat pucat.


"Kamu kenapa Na?" tanya Tania cemas seraya menuntun Rona yang masih sangat lemas.


"Rona di dorong ke sungai Mah." adu Rona membuat Tania tersentak kaget.


"Hah? siapa yang dorong?" pekik Tania berhenti melangkah.


Tania pun mengangguk dengan raut wajah yang kini terlihat marah tentang siapa yang sudah berani mendorong anaknya itu ke sungai hingga jadi seperti ini.


Baru saja Darren selesai bercerita apa yang terjadi dengan tubuh Rona yang terbaring di atas ranjang, dari luar terdengar suara mobil milik Roman yang bergegas masuk ketika melihat mobil Anak temannya sudah terparkir di halaman rumah.


Langkahnya terdengar sangat kencang dan cepat seolah menandakan bahwa sang pemilik langkah itu sangat khawatir terhadap anak satu-satunya itu.


"Pah." Tania memanggil Roman yang baru saja muncul di balik pintu.


"Rona di dorong ke sungai." lapor Tania tentang apa yang tadi sempat di katakan oleh sang anak.


Mendengar itu mata tajam Roman langsung mengarah pada Darren yang kini melirik ke sana sini salah tingkah dengan tatapan sang calon mertua yang bisa di pastikan itu adalah tatapan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Bukan." kata Tania seraya menggeleng.


"Papaah." rajuk Rona manja karena tidak terima lelaki yang ia cintai mendapatkan pandangan marah dari sang Papah.


"Biar Mamah aja yang bicara sama Papah." ujar Tania beranjak dari duduknya dan membawa Roman ke ruang tengah guna menjelaskan apa dan siapa yang sudah begitu jahat mencelakai anak mereka.


Sampai saat Tania selesai berbicara tatapan Roman malah semakin tajam dan kemarahan tampak jelas dari matanya itu, tentu saja dia tidak terima anaknya di perlakukan jahat seperti yang Tania ceritakan.


Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti anaknya apalagi sampai membuatnya celaka.


"Darren." panggil Roman pada pemuda yang tengah menyuapi Rona.


"Ya Om." sahut Darren seraya bangun dari duduknya dan menyerahkan semangkuk bubur pada Mamah sang gadis.


"Darren juga akan lakukan itu Om." sahut Darren ketika mendengar apa yang Roman bicarakan.


"Ada saksi kan?" tanya Roman serius.


"Ada Om, sebentar Darren coba telepon, takut nggak ada sinyal." kata Darren yang mengira kalau teman-temannya masih melanjutkan camping.


"Tersambung Om." beritahu Darren kala terdengar nada sambung.


Roman tampak menunggu dengan raut wajah tak sabar ketika Darren berbicara pada temannya yang Roman tak salah dengan bernama Rendi.


"Lu bisa ke sini kan?" tanya Darren kemudian, ya mau tidak mau dia harus meminta bantuan Rendi saat ini mengesampingkan ego dan rasa cemburunya terhadap lelaki yang mendapat julukan playboy kampus itu.


Darren menyelesaikan pembicaraannya saat Rendi menyetujui untuk datang ke rumah Rona.


Rendi tampak menunjukkan senyuman yang sangat sumringah karena sekarang dia sudah mengetahui dimana rumah Rona.

__ADS_1


****


__ADS_2