
Rona tetap bersembunyi di balik punggung sang Mama yang tengah berdiri berhadapan dengan Papanya, Rona bahkan mendengar dengan jelas ketika Papanya itu mengomeli sang Mama yang tengah di jadikan tersangka oleh sang Papa karena sengaja mengunci pintu.
"Bukan Mama yang kunci Pa, Papa kok jadi nyalahin Mama terus," sungut Tania yang sejak tadi disalahkan oleh suaminya.
"Kalau bukan kamu yang kunci kenapa nggak kamu buka!" omel Roman.
"Tau ah, di jelasin malah nggak ngerti juga!" kata Tania mulai gemas dengan suaminya yang kalau sudah marah tidak mau mendengarkan penjelasan apapun.
"Nggak usah ngumpet Na!" Tania berusaha untuk mengeluarkan Rona yang berada di balik tubuhnya.
"Rona!" bentak Roman kala melihat anaknya malah tidak mau muncul sama sekali dari balik tubuh istrinya.
"Keluar cepat! percuma ngumpet disitu!" sepertinya Roman mulai kehilangan kesabaran.
Perlahan-lahan Rona memunculkan wajahnya yang sudah menjadi tegang dengan mata yang memerah, sejak dulu ia pasti akan sangat takut jika Papanya sudah marah apalagi ketika ia sendiri sudah melakukan kesalahan seperti sekarang ini.
"Siapa yang ngajarin kamu bohong-bohong kayak gitu? siapa yang ngajarin kamu pergi dari rumah nggak izin!" sentak Roman sangat gemas dengan anaknya itu.
Dan di tengah kegemasannya dia terhadap sang anak, istrinya malah dengan santainya nyeletuk, "belajar dari Papanya, Papanya dulu juga suka bohong," ekspresi Tania terlihat sangat biasa ketika mengatakan hal itu dan melirik tajam pada Roman yang langsung membungkam mulutnya tak lagi bersuara.
Kalau untuk masalah seperti ini dialah orang yang patut di salahkan, karena sifat Rona dengannya tidak ada yang berbeda semuanya sama! entah kenapa Rona malah menuruni Papanya ketimbang sifat Mamanya yang bahkan sangat kalem serta pendiam.
"Cepat turun," kata Roman pada sang anak, dia tidak mau istrinya malah kembali melanjutkan segala perkataan berbalik menyudutkan dirinya.
"Sama Mama," tukas Rona memegangi bagian baju yang dikenakan oleh sang Mama.
Tania menarik nafas panjang, "ya udah ayo Mama temenin," kata Tania lalu berjalan lebih dulu sedangkan anaknya tetap berada di belakang.
Roman berjalan lebih dulu dan sudah mencapai ujung tangga terbawah menunggu istrinya yang sedang berusaha berjalan dengan cepat namun anaknya malah sangat lambat hingga Tania juga ikut melambatkan gerakannya.
Setelah mencapai bawah Rona mengintip mencari-cari suaminya namun kedua matanya tidak melihat wajah pria itu.
"Darren nya mana?" tanya Tania yang juga heran karena tak melihat sang menantu.
"Masih di jalan barangkali." dengan tenangnya Roman menjawab membuat kedua wanita yang mengikutinya ke ruang tengah mendelik bersamaan.
"Papa bohongin Rona?!" sengit Rona berani keluar dari balik tubuh Mamanya.
"Lah memangnya tadi Papa bilang apa?" tanya Roman seraya duduk di sofa mengangkat menaikkan kaki kanannya ke atas paha sebelah kirinya.
"Papa bilang minta maaf sama suami kamu! gitu!" Rona kembali mengulangi apa yang tadi Papanya katakan.
"Cuma bilang itu doang kan? nggak bilang kalau ada Darren!" wajah Roman luar biasa tenang bagaikan aliran air yang mengalir membuat Rona dan Mamanya jadi saling pandang karena perbuatannya itu.
"Tadi Mama yang bilang katanya ada suami kamu," tukas Rona lugu memberitahu pada Papanya.
"Nah berarti Mama kamu yang bohongin kamu, bukan cuma Papa yang tukang bohong ternyata," cibir Roman mengejek sang istri yang tadi sempat mengatainya tukang bohong hingga menurunkannya pada sang anak.
Mulut Tania bersungut-sungut mendengar perkataan dari suaminya, wanita itu benar-benar tidak akan pernah bisa mengalahkan suaminya.
"Mamaaaa!" teriak Rona dengan suara yang melengking membuat kedua orang tuanya itu serentak menutup telinga tidak mau pendengarannya mereka rusak.
__ADS_1
Tepat setelah teriakan Rona berhenti terdengar suara motor yang baru saja masuk ke halaman rumah mereka, sudah sangat jelas siapa yang baru saja sampai.
Wajah Rona menjadi kembali pucat pasi karena ia tahu sebentar lagi ia akan terkena omelan dari Papa Mama sekaligus suaminya, namun Rona tetap berharap Mamanya mau melindungi dirinya.
Rona memperhatikan Papanya yang keluar untuk menemui Darren, wanita itu lalu melirik pada sang Mama yang tampak tidak memperhatikan dirinya, merasa ada kesempatan iapun diam-diam memutar tubuhnya untuk kembali naik ke tangga, namun sial malah tubuhnya tak bisa bergerak karena Mamanya yang memegangi tali tas yang ada di bahunya.
"Mau kemana kamu?!" tanya Tania dengan matanya yang melebar.
"Hehehe," Rona tersenyum canggung karena usahanya untuk kabur malah ketahuan oleh sang Mama, dalam benaknya Rona berpikir apakah mungkin Mamanya itu mempunyai mata di belakang kepalanya sehingga bisa tahu apa yang akan ia lakukan.
Rona pun dengan bodohnya malah terus meneliti bagian kepala belakang Tania mencari-cari sepasang mata yang kemungkinan tersembunyi.
Ketika tidak menemukan apa yang ia cari wanita itupun menggeleng-geleng tak jelas sampai tidak kemudian Papanya masuk ke dalam bersama dengan suaminya yang langsung melihat padanya.
Darren mendesah berat sebelum duduk di sofa, pemuda itu tampak sangat lelah harus bolak-balik tak di jalanan padahal dia baru pulang bekerja lalu langsung ke kampus dan pulang ke apartemen tapi harus pergi lagi untuk menjemput istrinya yang kabur.
"Rona," panggil Roman yang itu artinya ia harus menghampiri suaminya.
Tania memberikan kode pada sang anak untuk mendatangi Darren dengan menaikkan dagunya.
"Tapi nanti Kak Darren marahin Rona," ucap Rona ketakutan sendiri karena memang ia menyadari bahwa dirinya bersalah apalagi setelah sejak tadi Papa dan Mamanya menyalahkan dirinya.
"Kapan sih Na Kakak marahin kamu? emang Kakak pernah marahin kamu yang marah semarah-marahnya?!" Darren mulai angkat suara dengan sikap istrinya yang menganggap dirinya orang yang sangat pemarah.
"Orang salah ya pantas di marahin Na," sambar sang Papa yang tak sabar dengan sikap anaknya.
"Tapi Kak Darren diemin Rona, Rona udah buatin teh sama sediain baju tapi nggak Kakak sentuh," ucap Rona mengingat bagaimana sikap suaminya.
"Ya udah Kakak minta maaf." dengan luar biasanya Darren meminta maaf atas sikapnya pada sang istri.
"Kenapa sih Na? kamu deketin aku aja nggak mau," tukas Darren melihat pada istrinya.
"Kamu mau disini aja?" Darren menatap tajam pada wanita yang baru beberapa hari dia nikahi.
Sebuah pertanyaan yang tentu saja membuat mata Roman dan Tania membelalak lebar.
"Darren, udah jangan ngomong apa-apa lagi," Roman mengingatkan menantunya itu untuk tidak berkata macam-macam.
Pria itu takut jika pasangan muda itu malah berpisah hanya karena keegoisan mereka masing-masing yang lebih mendominasi, usia keduanya yang masih sama-sama muda tentu akan sangat sulit jika tidak ada yang menasehati atau membimbing mereka.
"Suami kamu panggil kamu Na, kamu mau berantem terus?" Tania berkata pada sang anak yang menggelengkan kepala.
"Ya sudah sana," perintah Tania sambil menuntun Rona menuju menantunya, mendudukkannya di samping Darren yang sedang menghela nafas.
"Jelaskan sama Papa dan Mama kenapa kalian bisa bertengkar seperti ini?" tanya Roman yang memang belum mengetahui apa yang terjadi antara anak dan menantunya.
Darren pun menjelaskan apa yang terjadi sama seperti apa yang tadi sudah Rona ceritakan pada Mamanya.
Roman menghela nafasnya lalu menatap tajam pada putrinya yang menunduk karena kesalahan yang ia buat.
"Tapi Kak Darren malah diemin Rona, harusnya Kak Darren kasih tahu kesalahan yang Rona buat," tutur Rona seraya meremas tangannya.
__ADS_1
"Kakak udah ingetin kamu, Kakak nggak suka kamu pergi-pergi sama cowok, kamu udah nikah Ma harusnya tahu batasan," ucap Darren.
"Okelah Kakak berusaha ngertiin, tapi setelah rapat selesai kenapa nggak langsung pulang, kenapa malah nongkrong sama mereka padahal kamu tahu itu sudah malam!" tegas Darren benar-benar mengatakan apa yang dia rasakan.
Rona menangis mendengar semua perkataan dari suaminya bahkan sampai mengeluarkan suara isakan yang menyesakkan dada.
"Ya udah Kakak minta maaf, Kakak salah karena diemin kamu," kata Darren akhirnya sambil menarik kepala istrinya untuk bersandar di bahunya lalu mengelus rambutnya yang hitam.
"Kalian itu kalau ada masalah dibicarakan baik-baik berdua jangan malah yang satu diem yang satu ngambek terus kabur," nasihat Roman pada pasangan muda yang masih sangat labil itu.
"Iya Pah, Darren minta maaf sama Papa juga Mama, Darren salah."
"Kamu yang sabar ya Darren, sejak dulu kamu kan tahu bagaimana sifat Rona, manja tidak bisa diam, selalu mau menang sendiri," ucap Tania.
"Iya Mah," sahut Darren.
"Lihat Rona wajah suami kamu saja masih luka begitu, bukannya kamu obatin malah ditinggal kabur!" seru Roman kala melihat ada bekas memar di bagian atas alis dan sudut bibir bagian kiri.
"Semalam mau Rona obatin tapi Kak Darren nya malah pergi mandi." Rona membela diri.
"Iya maaf." untuk sekian kalinya Darren meminta maaf pada sang istri.
"Jadi sekarang teman-teman kalian sudah kalau kalian sudah menikah?" tanya Tania membuat Darren dan Rona mengangguk bersamaan.
"Ya sudah tidak apa-apa lebih bagus seperti itu biar tidak ada yang mendekati kalian yang nantinya malah bikin kalian saling cemburu," kata Roman kemudian.
"Sudah malah lebih baik kalian pulang," sambung Roman.
Darren pun menatap Rona seolah bertanya apakah wanita itu mau ikut pulang dengannya atau tidak, anggukan yang Rona tunjukkan membuat Darren tersenyum.
__ADS_1
Keduanya berpamitan pada orang tuanya yang mengantar mereka sampai keluar dan naik ke motor besar yang kemudian membawa keduanya kembali ke apartemen.
****