
Langit terlihat sudah menggelap ketika dua orang di atas motor itu dalam perjalanan pulang ke apartemen yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka, segala semua hal tentang rumah tangga hanya akan mereka hadapi berdua saja.
Setelah memarkirkan motor di baseman keduanya pun melenggang beriringan menuju lift dengan Rona yang begitu posesif memeluk lengan sang suami yang sejak tadi acuh terhadapnya.
"Besok aku udah mulai kerja." suara macho Darren mengisi ruangan persegi yang tengah membawa mereka ke lantai tempat unit mereka berada.
"Hah?" Rona yang sejak tadi tengah asik menikmati wangi tubuh suaminya lantas mendongak terkejut, bukankah mereka baru berapa hari menikah? tapi besok suaminya itu malah sudah harus mulai bekerja.
Darren menurunkan wajahnya membalas tatapan wanita yang terkadang polos namun kadang juga sangat menyebalkan hingga mampu menguras emosinya, seperti yang beberapa jam lalu terjadi, dari mulai Tyo si bocah tengil sampai dengan Rendi playboy kampus, sudah sangat melebihi cukup untuk membuatnya gondok sepanjang perjalanan dan sampai detik inipun dia masih terlihat kesal. tapi sebagai seorang suami sudah seharusnya dia memberitahukan hal penting itu pada istrinya.
"Besok pagi aku sudah mulai kerja, pulang kerja aku langsung lanjut kuliah." ucap Darren mengulang pernyataannya.
Rona mengernyit dengan tetap pada posisinya yang mendongak sebab tingginya tak sebanding dengan tinggi suaminya itu. "Tapi kan besok aku harus ke sekolah, siapa yang antar?" seru Rona yang terdengar bagaikan sebuah protesan.
"Kan di jemput Tyo." sindir Darren seraya mengedikkan bahunya, dari raut wajahnya sepertinya pria itu tak mendengar perkataan Rendi saat di kampus tadi.
"Dih, kenapa jadi Tyo?" iya Rona mengerti Darren mendengar perkataan Tyo tadi, tapi kan ia sekarang ini tinggal bersama Darren dan statusnya juga sebagai istri bukankah sudah jadi tanggung jawab Darren untuk mengantarnya selama pria itu ada?.
"Ya iya Tyo, tungguin aja dia jemput." kata Darren kemudian lalu melenggang keluar dari lift.
"Ish, apaan sih ni orang." gerutu Rona sambil berlari mengejar pria ber Hoodie gelap itu.
Rona semakin cepat berlari kala di ujung sana ada seorang wanita bertubuh sempurna tengah melayangkan senyum ke arah depannya, tanpa perlu menegaskan pun Rona paham siapa yang sedang di ajak bersenyum ria oleh wanita seksi itu.
__ADS_1
"Ayo masuk." katanya cepat seraya menggandeng lengan Darren dan tangannya bergerak cepat menekan password agar pintu terbuka.
Wajah wanita itu terlihat canggung lalu mengatupkan bibirnya seraya menatap kedua anak manusia itu menghilang di balik pintu yang tertutup.
"Kakak nggak yakin nggak mau antar aku?" tanya Rona yang sudah mendorong tubuh Darren untuk duduk di sofa ruang tamu apartemen mereka.
"Nggak, nanti aku telat." katanya seolah tak peduli jika istrinya itu pergi dengan Tyo.
"Ya udah kalau gitu sekarang aku pulang ke rumah Papah." ketus Rona.
"Yaiyalah ke rumah Papah, Tyo sama Kak Rendi kan nggak tau kalau aku tinggal di sini, mereka juga nggak tau kalau aku udah nikah sama Kakak." terang Rona dengan wajah yang seperti tengah sengaja memanasi pria yang duduk di depannya berdiri.
Mata Darren mendelik lebar kala mendengar nama playboy di sebut. "Ngapain nyebut si Rendi juga?!" tak senang dengan ucapan Rona, karena yang dia tahu hanya Tyo lah yang akan menjemput sang istri.
"Kak Rendi juga mau jemput aku!" ketus Rona tanpa rasa bersalah lalu menuju ke arah pintu. aku ke rumah Papah sekarang, nggak usah di antar! aku bisa pesen taksi." dengan enteng Rona berkata.
__ADS_1
"Kamu kok ngeselin Na!?" seru Darren marah.
"Terserah Kakak, mau sempetin untuk antar aku, atau emang sengaja biarin aku pergi sama si bocah tengil apa si playboy kampus!" memberi pilihan pada pria yang memasang ekspresi nyalang.
"IYA AKU ANTAR!" suara Darren begitu kerasnya hingga menggema di dalam apartemen yang kedap suara itu, tidak akan ada yang bisa mendengar percakapan mereka dari luar sana.
Rona memasang wajah senang seraya memperdengarkan cekikikan nya yang mengesalkan.
Darren beranjak dari duduknya seraya membuka Hoodie yang sejak tadi terasa sangat gerah, entah kenapa hari itu dia merasa begitu panas padahal dia sudah sangat terbiasa memakai Hoodie dalam kondisi cuaca seperti apapun, bahkan tadi siang pun langit terlihat mendung meski tidak sampai turun hujan, bukankah seharusnya pria itu tidak akan merasa kegerahan seperti biasanya? atau mungkin rasa panas itu berasal dari dalam tubuhnya hingga dia pun terlihat selalu emosi sepanjang hari.
Rona mengikuti saja langkah Darren seraya mengagumi bentuk punggung sempurna yang di miliki oleh sang suami. "Kenapa jadi ikutan panas sih?" keluh Rona yang menggigit bibirnya sendiri dan tak sengaja wanita itu malah mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Darren mengernyit bingung namun sejurus kemudian malah menyunggingkan senyum tersembunyi.
"Udah masuk nggak bakal bisa keluar." imbuh Darren seraya mengunci pintu kamar mandi.
Rona yang baru sadar dengan kelakuan konyolnya malah melirik tak jelas, dengan tawa yang terdengar penuh paksaan. "Ha ha ha."
Sungguh pasangan muda yang masih sama-sama labil, terkadang bisa adu mulut hanya karena hal sepele, namun tak lama kemudian malah terlihat saling menggoda, bukankah sungguh membuat orang akan sangat gemas dengan tingkah keduanya? dan kini mereka malah sedang asik saling membasahi tubuh mereka sesekali dengan cumbuan yang tidak berlebihan agar tidak ada sesuatu yang membuat mereka sampai melakukan penyatuan di tengah peringatan sang Dokter kebanggaan untuk tidak dulu berhubungan suami istri.
\*\*\*\*
__ADS_1
\*\*\*\*\*