Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 100


__ADS_3

Rona tengah sibuk memijiti kepala Darren yang bersandar di bahunya, pria itu terlihat sangat kasihan karena sejak tadi terus-menerus mual dengan kepala nya yang serasa berputar.


Rianti memandang kasihan semenjak mengetahui apa yang terjadi pada sang anak, sungguh sampai saat ini ia baru mengalami jika ada seorang suami yang malah merasakan semua gejala kehamilan ketika istrinya mengandung, benar-benar membuatnya terbelalak kala Roman menerangkan padanya apa yang terjadi pada sang anak.


Di satu sisi ia sangat senang mendengar menantunya itu hamil ketika pernikahan keduanya bahkan belum genap sebulan, namun di satu sisi ia malah jadi kasihan pada sang anak karena harus menanggung ngidam yang bahkan dirinya pun dulu sempat sangat kerepotan menghadapinya.


"Sampai kapan Darren kayak gini?" tanya Rianti kepada Roman yang duduk di samping istrinya.


"Sewajarnya orang hamil muda saja, tapi kalau dia bisa menanganinya ya perlahan-lahan juga akan terbiasa," sahut Roman.


"Berapa lama Pah? yang jelas aja kalau ngomong Darren kan nggak pernah hamil muda." Darren malah ikut nimbrung pada pembicaraan orang tua itu.


Roman menggaruk pelipisnya karena sejak tadi dia terus saja di protes oleh menantunya itu, nyatanya Darren yang terlihat pendiam menjadi lebih bawel dalam keadaan seperti ini.


"Dua atau tiga bulan, bahkan bisa lebih," jawab Roman akhirnya yang membuat Darren bergerak cepat untuk menegakkan duduknya.


Rona bahkan di buat kaget dengan tingkah suaminya itu, apalagi ketika suaminya menghela nafas dengan sangat kasar.


"Kenapa mesti selama itu sih Pah, Darren Kan mesti kerja sama kuliah, gimana bisa Darren ngejalaninnya kalau kayak gini," keluh Darren lalu menatap Rona yang tidak tahu harus bagaimana.


Wanita itu juga tidak mau seperti ini namun Tuhan seolah mempunyai rencana untuk membiarkan Darren menanggung apa yang semestinya ia tanggung sebagai wanita hamil.


"Ya kan makanya tadi Papa bilang tergantung kamunya juga Darren, sebisa mungkin kamu kendalikan."


"Ngendaliin nya bagaimana Paaaaah? kalau nonjok orang Darren sanggupin deh, babak beluk babak belur sekalian," celoteh Darren yang mendapatkan pelototan dari Ibunya yang tak terima dengan mulutnya yang dengan seenaknya berucap.


"Itu muka kamu aja masih pada biru begitu, enak banget kalau ngomong, nggak mikirin perasaan istri yang khawatir terus tiap lihat kamu pulang dengan wajah biru-biru begitu!" Rianti mengomel pada sang anak.


"Ibu mah malah salahin Darren terus," kata Darren tak terima dengan Omelan dari sang Ibu yang jelas akan marah dengan segala tingkah lakunya yang membahayakan diri sendiri.


"Ya kamu salah Darren, masa mau Ibu belain gitu, mau Ibu banggain gitu kamu berantem-berantem terus, udah punya istri harusnya kamu ngerti, di pikir dulu kalau mau bertindak jangan selalu gunain otot otak juga di pakai!" cerocos Rianti malah semakin panjang lebar karena anaknya itu tidak terima dengan perkataannya tadi.


"Riantiii." suara keras dari arah pintu masuk membuat semua mata mengarah kesana.

__ADS_1


"Kenapa sih Mas harus teriak-teriak begitu," ketus Rianti melihat suaminya yang masuk bersama dengan si asisten tak jelasnya.


"Lu kalau ngomong sama istri gue jangan ngasal Man."


Begitu melihat Roman Aditya langsung saja menyerang temannya itu dan menyalahkannya.


"Lah lu kenapa?" bingung Roman tak mengerti ada apa dengan temannya itu yang tiba-tiba saja mengomel padanya.


"Lu bilang Darren ngidam, ngaco lu!" sentak Aditya sengit.


"Lah emang ngidam, terus salahnya dimana?" tutur Roman menaikkan kedua bahunya.


"Darren tuh laki, nggak mungkin dia hamil!" seru Aditya semakin bersemangat untuk mengomeli temanya itu.


"Elu itu sebenarnya Dokter bukan sih? hal kayak gini aja masa nggak ngerti," sambung Aditya.


"Sepertinya anda mulai meragukan kinerja Dokter kandungan yang sudah sangat terkenal ini Pak," seloroh Johan yang berdiri di samping Aditya.


"Memang dari dulu kinerjanya dia ini meragukan, heran kenapa bisa dapat gelar Dokter!" desis Aditya menimpali asisten kurang ajarnya itu.


"Gue nggak pernah bilang kalau Darren hamil wahai Aditya Erlangga yang terkadang otot dan uratnya lebih sering di gunakan ketimbang otaknya yang katanya cerdas itu hingga memiliki banyak perusahaan sukses dan terkenal," cibir Roman.


"Nggak ada pernah gue bilang anak lu itu hamil!" tekan Roman dengan tegas mengulangi perkataannya barusan.


"Jadi Darren nggak hamil?" tanya Aditya kemudian.


"Nggak! dia nggak hamil! lu pikiran lu di pakai dong jelas-jelas dulu waktu sekolah juga udah ada pelajaran tentang siapa yang hamil dan siapa yang membuahi!" terang Roman menghadapai betapa ngaconya pikiran sang teman.


Aditya pun sontak melihat pada istrinya yang berwajah panik jelas saat ini dirinya lah yang akan di salahkan oleh suaminya.


"Aku juga nggak bilang kalau Darren hamil," jelas Rianti sebelum suaminya membuka mulut.


"Kamu kalau ngomong itu yang jelas," ketus Aditya.

__ADS_1


"Ya aku udah ngomong jelas, tapi kamu nya aja yang malah mikir lain, omongan orang kadang di potong-potong terus bukan dengerin sampai selesai," protes Rianti karena ia tak merasa salah.


"Anda memang kebiasaan Pak, hampir saja kita menginap di rumah sakit karena perbuatan anda," Johan ikut berbicara dan menyudutkan Aditya karena dia tau dengan jelas siapa penguasa sebenarnya seluruh harta dan aset Aditya Erlangga sekarang.


"Kamu hanya mencari aman!" ketus Aditya pada sang asisten yang herannya menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang dia lontarkan barusan.


"Ri," panggil Tania pada besannya.


"Apa tidak sebaiknya kita menjauh saja dari ruangan ini? aku mulai merasa sangat tertekan," tukas Tania yang sepertinya mulai tidak sanggup untuk terus berada satu ruangan dengan orang-orang yang bahkan dari mudanya saja sudah sangat menyebalkan.


"Itu yang harus kita lakukan saat ini," jawab Rianti lalu segera beranjak dari duduknya diikuti oleh Tania yang langsung menggandeng tangannya.


Kedua wanita itu mencari tempat yang nyaman untuk telinga mereka agar tidak terus terkontaminasi dengan segala perdebatan dari suami mereka.


"Rona hamil, tapi yang bakalan ngerasain mual muntah pusing itu Darren, kehamilan simpatik, lebih jelasnya Darren yang akan ngidam selama kehamilan Rona," jelas Roman ketika mendapati Aditya memicingkan mata.


"Mana ada Be.."


"Ada! gue Dokter dan gue lebih tau tentang itu!" seru Roman menyela perkataan Aditya yang sepertinya masih akan menyangkal dan tidak terima apa yang dia jelaskan.


"Papa sama Ayah nggak usah berisik deh, kepala Darren pusing ini," rengek Darren membuat ketiga pasang mata orang dewasa itu mengarah padanya.


"Perasaan Ayah dulu nggak gitu," kata Aditya melihat sang anak yang wajahnya memang terlihat sangat pucat.


"Ya karena ini bukan penyakit turunan Aditya Erlangga! astaga harus berapa kali gue tarik urat gue hari ini untuk bikin elu ngerti, please banget ini mah Dit, Lu udah mau punya cucu bisa nggak rubah sifat ngeselin lu itu," cetus Roman dengan penuh kegeraman yang mendalam.


Dan Aditya terbengong kala melihat anaknya yang tiba-tiba berlari dengan kencang menuju kamar mandi.


"See," kata Roman seraya mengangkat tangannya menunjuk pada sang menantu.


"Luar biasa."


Terdengar suara Johan yang begitu takjub dengan apa yang dia saksikan saat ini sedangkan Aditya meraup wajahnya dengan kasar begitu mendengar suara sang anak yang tengah muntah-muntah di dalam kamar mandi.

__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2