
Tania dan sang suami sudah sibuk berkeliling di dalam mall sejak matahari tepat di atas kepala sampai matahari hampir bersembunyi pun wanita yang tengah hamil muda itu seakan tak bosan untuk memutari mall bahkan sampai ada yang mereka lewati beberapa kali membuat suami yang menemani memijit\-mijit kepala yang pening karena menuruti keinginan sang istri,.
"udah sore beb, nggak mau pulang? " Roman yang dari tadi terus melihat jam tangannya mulai berani angkat bicara untuk mengajak Tania pulang
"sebentar lagi ya.. " memamerkan segaris senyum di bibir seraya menggandeng lengan suaminya
"mau beli apa sii? dari tadi kita cuma muter-muter aja loh, lagian kamu kan nggak boleh terlalu capek " mulai melancarkan protes karena memang sejak tadi mereka hanya berkeliaran di mall bahkan keluar masuk toko tanpa membeli apapun
"aku kan cuma mau ngajak ke mall bukan mau belanja, lagian aku kuat kok,, anak kita kan jagoan kayak papahnya " sahut Tania seraya memuji sang suami
"ya kalo anak kita laki nggak apa-apa jagoan kayak aku, Lah kalo perempuan bukan jadi jagoan lagi namanya, belum ketahuan jenis kelaminnya apaan maen jagoan-jagoan aja" Roman malah ngomel mendengar pernyataan sang istri
Tania berhenti melangkah lalu melihat sang suami yang juga menghentikan laju kakinya karena perbuatan sang istri yang tiba-tiba ngerem mendadak
"emang kalo perempuan jadi jagoan nggak boleh? " bertanya sewot tak setuju dengan perkataan sang suami barusan
Roman melihat kiri kanan memperhatikan orang yang sedang lalu-lalang di dekat mereka .
Tak mau jadi bahan perhatian apa lagi tontonan Roman berkata pelan nan lembut pada Tania "nggak ada yang salah kok perempuan jadi jagoan " ucapnya seraya mengajak Tania kembali melanjutkan kegiatan yang tengah di senangi sang istri saat ini
Tania memajukan bibir lalu mengikuti suaminya yang berjalan lunglai merasa kaki nya yang mulai lemas serta kepala yang pusing
Saat mereka melewati sebuah toko mainan anak Tania langsung melepas pegangannya di lengan Roman lalu bejalan cepat masuk kedalam toko
Roman berdiri memperhatikan sang istri dengan mulut yang komat-kamit melebihi seorang dukun yang sedang baca mantra
"kalo bukan bini udah gue tinggal dah " sungut Roman
"tapi kalo bukan bini ngapain juga gue ngikutin keliling mall nggak jelas begini" meralat perkataannya sendiri
Memang dulu saat memiliki kekasih ia tak pernah mau jika di ajak untuk pergi ke mall jika tak ada keperluan apapun apalagi sampai melakukan hal tak jelas seperti sekarang ini , lebih baik ia memutuskan kekasihnya dari pada harus pusing melihat toko-toko berjejer serta kerumunan orang,.
Baginya bertemu orang banyak sudah cukup di rumah sakit saja atau di club malam yang cahaya nya seperti orang yang lupa bayar tagihan listrik
Dan sekarang ia melakukan kegiatan yang tidak disukainya, mau tak mau ia harus menuruti sang istri ,daripada jabatannya sebagai suami di anulir oleh istrinya
"Aku tunggu sini aja yank" teriak Roman lalu menyender di tiang besar di dekat pintu toko
Tania yang tak mendengar malah terus masuk bahkan kini seolah lupa dengan sang suami
Wanita hamil itu kini di sibukkan dengan melihat-lihat mainan yang terpajang rapi di rak-rak dalam toko, tangan lentiknya sibuk memegang dan bahkan menatapnya sambil sesekali tersenyum senang.
Di luar toko Roman malah sibuk memainkan ponsel nya guna mengurangi kejenuhan yang tengah ia rasakan, namun saat melihat ponsel bukannya terhibur ia malah kesal karena mendapat pesan dari Johan asisten temannya
"ngapain ni orang? " ujarnya ketika melihat nama Johan menghiasi layar ponselnya
jarinya langsung menekan guna membaca isi pesan yang di kirim Johan
"ketemu di tempat biasa jam 20.00 " mulut Roman bergumam membaca ketikan yang tertera di layar
"dih songong ni orang" gerutu Roman namun tetap membalas pesan dari Johan
karena ia tahu pasti Aditya lah yang meminta Johan untuk mengiriminya pesan
Baru saja ia selesai mengetik dan mengirimkan pesan balasan ke Johan, dari belakang ada sebuah tangan yang menepuk bahunya ,lantas membuat Roman menoleh seraya berkata " udah selesai yank, mau kemana lagi? " ucapnya karena mengira sang istri lah orang yang tadi menyentuh bahunya
namun ketika melihat bukan wajah Tania yang kini ada di hadapannya membuat ia segera mengatupkan bibirnya
Wanita yang ternyata adalah Ninda hanya bisa memamerkan senyumnya melihat lelaki yang pernah menjadi kekasihnya dulu kini berdiri salah tingkah, sifat nya sudah jauh berbeda dari Roman yang ia kenal dulu.
Dulu setiap kali bertemu Roman akan langsung berlari lalu memeluknya mirip seperti adegan ayang ada di film-film percintaan, dimana kedua orang yang saling mencintai bertemu dan akan melakukan pelukan tak peduli dimana tempatnya, yang penting pelukan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton
Namun sekarang lelaki di hadapannya hanya diam bahkan berkata sorry entah untuk apa, yang ia tahu tadi ia sempat mendengar kata YANK terucap dari bibir Roman,
menandakan lelaki itu sudah memiliki wanita lain.
Sekian tahun mereka berpisah sudah pasti Roman telah bersama wanita lain saat ini, seperti dirinya yang juga sudah bersama lelaki lain
"lagi ngapain? " Ninda mencoba lebih dulu mengajak bicara Roman yang kini malah berpura-pura sibuk dengan ponselnya
__ADS_1
"nge mall lah, masa mau berenang" seloroh Roman membuat Ninda tak kuasa tertawa mendengar jawaban Roman
"ya kali aja mau mandi" membalas dengan bercanda
"ngarang" sahut Roman seraya memasukkan ponsel ke saku
"sama siapa? " bertanya sebab ia penasaran siapa orang yang tadi di panggil yank oleh sang mantan kekasih
"istri" Roman menjawab singkat padat dan jelas
"oooh" Ninda membulatkan bibir menanggapi jawaban Roman
entah kenapa hatinya seolah ada yang menusuk dan membuat luka saat mendengar lelaki di depannya ini benar sudah memiliki wanita lain bahkan mereka sudah menikah
"mana istrinya? nggak mau kenalin ke aku nih? " tanya Ninda seraya matanya mencari wanita yang menjadi istri Roman
sungguh ia merasa penasaran dengan wanita yang sudah di nikahi oleh Roman, lelaki yang dulu tak pernah serius jika berhubungan dengan wanita.
Ninda tak tahu dulu Roman pernah berniat untuk menikahinya karena merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah mereka lakukan, namun ternyata Ninda malah memutuskan Roman dan berhubungan dengan lelaki yang lebih tua, entah apa yang di cari oleh Ninda kala itu, yang jelas karena itu sekarang ia harus kehilangan Roman..
"aku tungguin kok nggak masuk-masuk " Tania berjalan menuju suaminya yang tengah berdiri berhadapan dengan seorang wanita dengan pakaian modis, bahkan tinggi wanita itu tidak tarlalu jauh dari tinggi sang suami
tak seperti tingginya yang mungil bahkan untuk melihat suaminya saja ia harus mendongak dan bisa di bayangkan jika ia mendongak terlalu lama saat berbicara dengan Roman tentu lehernya akan sakit, sungguh membuat susah memiliki tinggi sepertinya dan memiliki suami yang menjulang bak tiang tower
iri rasanya melihat wanita yang kini ada di depan sang suami, sambil Melangkah Tania menatap ingin tahu siapa kiranya wanita yang bersama suaminya kini
"tadi kan aku udah bilang , aku tunggu di luar" sahut Roman seraya menunggu sang istri sambil merentangkan tangan kanannya dan berharap sang istri meraih nya namun Tania justru melewati tangan sang suami membuat Roman memicing lalu memasukkan tangan kedalam saku celana
mulai merasakan akan terjadinya adu senjata antara dia dan sang istri
Ninda hanya memperhatikan saja adegan yang terjadi di depan matanya
"nggak di kenalin? " sindir Tania seraya melirik kearah Ninda yang langsung menyodorkan tangan mengajak berkenalan
"Tania " menyambut uluran tangan dari Ninda, sedang Ninda juga menyebutkan namanya
lalu memilih untuk pergi setelah rasa penasaran kan wanita yang di nikahi oleh Roman terjawab sudah, dengan mata yang melihat langsung istri dari mantan kekasihnya
Sepertinya Ninda dari hadapan mereka, mata Tania terus menatap sang suami dengan tajam bahkan terkesan curiga
"siapa? " bertanya ketus dan penuh selidik
"pasien" menjawab tenang seraya mengajak istrinya untuk duduk
"bohong! " tak mau percaya begitu saja dengan perkataan Roman
"serius beb, masa bohong" menunjukkan ekspresi meyakinkan untuk membuat sang istri percaya, sebab Ninda memang pasiennya meski berusaha menyembunyikan fakta lainnya
ia tak tahu jika feeling wanita sangat lah kuat, jika belum mendapatkan jawaban yang dicurigai wanita tak akan berhenti untuk menekan sang pria untuk menjawab jujur,
padahal Roman sudah berkata jujur meski ada yang di tutupi
Tania mendelik sebab suaminya masih saja kekeh dengan perkataannya yang tadi
"aku pulang sendiri aja" Tania yang kesal lalu meninggalkan Roman yang gegas mengejar
"iya, iya itu mantan aku" kata Roman seraya memegang tangan Tania menahannya untuk terus melangkah
"tadi bilang pasien, sekarang ketauan kan itu tadi mantan kamu!! dasar tukang bohong" Tania melotot dengan sengit kepada sang suami
" aku nggak bohong , dia emang pasien aku" perkataan Roman malah makin membuat tania kesal
"wah enak dong bisa ketemu sama mantan terus" cibir Tania mengetahui wanita tadi pasien sekaligus mantan kekasih dari suaminya
"pulang yuk yank" apa yang ia takutkan tadi akhirnya terjadi, kini banyak mata tengah melihat kearah dirinya dan sang istri
Tania melangkah cepat tak peduli suaminya yang melangkah canggung karena merasa jadi tontonan di dalam mall
Di dalam mobil Tania enggan mengeluarkan suaranya, melirik pada suaminya saja rasanya ia malas, mengingat tadi matanya melihat sang suami berdiri berhadapan dengan mantan kekasihnya yang jauh lebih cantik juga seksi di bandingkan dia.
"kamu mau makan apa? nanti aku masakin lagi" Roman mencoba membujuk istrinya
"masakan kamu nggak enak" Tania menyahut asal
__ADS_1
"tadi katanya enak" ucap Roman bingung
"sekarang nggak enak" tukas Tania tajam
Roman menarik napas seraya mengendalikan kemudi dengan ujung mata yang terkadang melirik kearah sang istri
"kalo aku pukulin mantan kamu seru kayaknya " Tiba-tiba Tania berkata pelan namun tetap terdengar ditelinga Roman
"Loh jangan dong" larang Roman seraya menginjak rem dan berhenti di pinggir jalan yang terlihat ramai di lewati kendaraan
"kenapa? takut mantan kamu yang seksi semok itu babak belur " sindir Tania, entah kenapa sekarang ia gampang sekali emosi
"bukan gitu sayank, kamu kan lagi hamil, jangan macem-macem deh" mulai khawatir dengan perkataan Tania
"berarti kalo nggak lagi hamil boleh? " melihat suaminya
"ya nggak juga, enak aja kamu tuh kalo ngomong" tukas Roman
"kamu aja boleh mukulin Imran, masa aku nggak boleh mukulin mantan kamu, apalagi aku liat dia masih ngarep sama kamu"
mendengar istrinya menyebut nama Imran sontak Roman di buat kaget dan bertanya-tanya dalam hati bagaimana istrinya bisa tahu dengan apa yang ia lakukan terhadap Imran tempo hari
"kata siapa aku mukulin Imran? " mencoba mengelak meski nada suaranya yang berusaha tenang namu wajahnya terlihat panik
"Imran yang bilang sendiri" sahut Tania memberitahu siapa yang sudah mengatakan apa yang telah ia perbuat terhadap Imran, dan rupanya si korban nya sendiri lah yang melapor pada sang istri
"setan ember banget jadi laki" memaki sangat pelan agar tak terdengar oleh Tania
"kamu ketemu sama dia? " tanya Roman
"dia hubungin aku" jawab Tania
"kok dia tahu nomor kamu?! " malah mempermasalahkan hal lain
"ya mana aku tahu"
"siniin HP kamu? " meminta ponsel Tania dengan tatapan tegas
"mau ngapain? " Tania melihat tangan Roman yang sudah tertadah meminta ponsel
"siniin cepet! " mulai tak sabar
Tania memandang penuh rasa bingung serta heran, bukankah tadi dirinya yang sedang marah dengan sang suami, tapi karena nama Imran keadaan malah jadi berbalik , sekarang malah suaminya yang emosi mengetahui Imran mengirim pesan pada sang istri
"kamu kenapa? " bukannya memberikan ponselnya Tania malah bertanya
"marah, HP kamu cepet!! " masih meminta dengan wajah kesal
"kok malah kamu yang marah? kan harusnya aku " ucap Tania pelan seraya mengambil ponsel dalam tasnya lalu menyerahkan pada Roman
"kamu kalo mau marah, marah aja" sahut Roman ringan seraya membuka ponsel milik Tania yang memang ia tahu kata sandi yang di gunakan sang istri
Matanya begitu fokus memeriksa nomor yang ada di pesan masuk, lalu membelalak marah saat membaca isi pesan yang dikirim Imran
"kamu kenapa nggak kasih tahu aku, nih cunguk sering kirim pesan ke kamu?! " bertanya sengit seraya menunjukkan pesan dari Imran ke depan mata Tania
"ngapain kasih tahu kamu, pesan nya juga nggak penting, lagian aku nggak baca pesan dari dia kok" Tania membela diri
"Loh aku kan suami kamu, aku berhak tahu sama siapa aja istri aku berhubungan " malah Roman yang kini marah-marah seolah lupa bahwa dulu ia memarahi Selfi karena selalu membuat emosi Tania, tapi kini justru dialah yang melakukannya terhadap istrinya sendiri
"kok kamu jadi marah-marah sama aku" berkata lirih tak Terima suaminya terus saja mengomel karena Imran yang sudah tak ada hubungan apapun dengannya
"marah lah, liat ini tiap hari dia kirim pesan ke kamu, bahkan kemarin malam pun ada pesan dari tu orang" Roman menunjukkan pesan yang memang tak pernah di lihat oleh Tania, terakhir ia membaca pesan dari Imran saat Imran memberitahu tentang ia yang dipukuli oleh Roman, dan sejak itu Tania tak pernah lagi membaca pesan apapun yang Imran kirim
"tapi kan aku nggak pernah bales pesan dia" Tania mulai kehilangan kontrol melihat suaminya terus saja marah
tanpa menghiraukan Tania , Roman langsung memblokir nomor ponsel Imran dan melemparkan ponsel milik Tania ke kursi belakang,.
Roman lalu menyalakan mobil dan menginjak gas dengan dalam membuat mobil melaju kencang di jalanan yang sudah gelap dan di terangi cahaya bulan serta lampu di sepanjang jalan..
pak dokter kalo marah serem juga ternyata...
maafkan telat up yaaa,,.
__ADS_1
😥😥😥😥🙏🙏🙏