Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 80


__ADS_3

Sepasang suami istri itu menuruni tangga dengan langkah santai,raut wajah Aditya juga terlihat lebih tenang tidak seperti saat pertama melihat Rama duduk diruang keluarga orang tuannya.


Semua mata pun melihat kearah mereka berdua,bagaikan tamu yang sedang menantikan kedatangan sepasang pengantin.


Ekspresi mereka ada yang biasa saja juga ada yang terlihat tegang,yang wajah biasa siapa lagi kalau bukan Dani yang sudah bisa menduga apa yang akan terjadi setelah diskusi antar anak dan menantunya tadi.


Lelaki tua itu tak tahu rasanya menjadi Rianti yang harus berdebat dengan seorang Aditya yang terkenal dengan keras kepala serta tak mau mengalah itu.


Cukup sulit jika yang membujuk Aditya bukanlah orang yang ia cintai,sudah dipastikan tidak akan mudah menembus benteng pertahanan Aditya yang tentunya akan tetap tidak setuju dengan pernikahan antara Rama dan Eva.


Maka dari itu Dani merasa beruntung Aditya menikah dengan Rianti,beruntung karena akhirnya ada yang bisa mengendalikan anaknya itu,seorang anak yang dulu menjadikannya musuh karena perbuatannya sendiri.


Dan akhirnya mereka bisa bermain berkat sang menantu,meski pada awalnya ia sangat ingin memisahkan Aditya dan Rianti hanya karena tidak ingin harta Aditya dikuasai oleh sang menantu.


Namun seiiring berjalannya waktu dan kebaikan Rianti meskipun ia pernah melakukan kesalahan dengan menculik menantunya itu,ia sadar bahwa tidak ada yang sebaik Rianti yang bisa dijadikan sebagai menantu.


"Sekarang kamu sudah setuju kan?!"Dani langsung bertanya pada Aditya yang padahal baru saja menjatuhkan tubuhnya di sofa,menarik napas pun sepertinya belum dilakukan oleh Aditya.


"Adit juga baru duduk pah."memprotes sang papah dengan lirikan matanya.


Serentak Dani membungkam mulutnya sedangkan Anita yang duduk di sampingnya terlihat menahan senyum mendengar suaminya langsung disemprot oleh sang anak tiri saat mengajukan pertanyaan.


Rianti mengelus lengan Aditya untuk menenangkan nya.


"Mas."kata Rianti mengingatkan sang suami.


"Papah ngeselin."ucap Aditya seraya melihat Rianti.


"Iya berarti kamu nurunin papah."


Aditya menautkan kedua alisnya.


Rianti mengedikkan bahunya dan mengalihkan pandangannya kearah Eva yang saat ini terus saja menundukkan wajahnya.


"Adit mau ngomong berdua sama Rama." perkataan Aditya membangkitkan cengkeraman ditangannya.


"Mas tinggal bilang setuju aja susah banget siih." Rianti mengoceh pelan didekat sang suami.


"Lah kalau mau disetujui harus ada tahapan nya,enak aja main setuju-setuju aja."sahut Aditya seraya melihat wajah istrinya.


Sejenak Rianti merasakan kejengkelan yang luar biasa dengan kelakuan suaminya itu.


"Tadi dikamar mas ngomong apa?"


bertanya karena merasa Aditya akan melupakan janji yang sudah ia katakan saat dikamar tadi.


"Setuju."menyahut singkat.


"Tapi kok sekarang gini,maksudnya apa mau ngomong berdua sama Rama?"sepertinya Rianti takut suaminya itu akan melakukan tindak kekerasan terhadap Rama,karena ia tahu sendiri bagaimana suaminya itu.


"Udah kamu tenang aja,yang pentingkan setelah ini mas setuju."kata Aditya pada sang istri.


"Terserah mas deh."Rianti akhirnya menyerah pada apa yang akan dilakukan oleh Aditya.


Sungguh sepertinya Rianti lupa akan sifat suaminya yang tidak akan memberikan persetujuan dengan mudah sebelum memberikan drama panjang terlebih dulu.


Dan kali ini sepertinya suaminya itu akan memberikan Rama ujian yang tidak diketahui dalam bentuk apa.


"Tapi mas nggak akan pukulin dia kan?"Rianti bertanya lagi karena ia khawatir dengan apa yang akan dialami oleh Rama nanti jika suaminya itu sudah main tangan.


"Tergantung."Aditya berkata ringan.


Dani menarik napas melihat tingkah sang anak seraya menggelengkan kepalanya berulang kali lalu membiarkan Aditya pergi dengan Rama mengikuti anaknya dari belakang.


Aditya menuju halaman depan rumah,entah kenapa lelaki itu justru memilih tempat yang sepi dan hanya terdapat pohon besar di sana dengan cahaya dari lampu yang ada ditengah-tengah halaman sana.


Padahal jika hanya ingin berbicara biasa saja,masih ada ruang tamu atau teras rumah misalnya,bukannya dihalaman dan dibawah pohon yang cukup besar dan terlihat sedikit menyeramkan karena daunnya yang teramat rimbun.


Kedua lelaki dewasa itu berdiri berhadapan seolah saling menantang,apalagi wajah Aditya yang terlihat sangat kaku dengan rahangnya yang mengeras juga kepalan dikedua tangannya,sungguh seperti orang yang sudah siap untuk bertempur guna menghajar musuhnya di medan perang.


Sedangkan Rama yang juga terlihat waspada pada setiap gerakan yang akan dilakukan oleh sang calon kakak iparnya itu,matanya sesekali melirik kepalan tangan Aditya.

__ADS_1


"Udah dari kapan lu hubungan sama Eva?!"Aditya mulai menginterogasi Rama dengan tatapan menyeramkan apalagi ditengah gelapnya malam seperti ini.


"Kurang lebih 7 atau 8 bulan yang lalu."sahut Rama dengan suara yang terdengar tenang namun tetap tegas.


Mata Aditya dibuat membuka sangat lebar mendengar pengakuan Rama. "Udah hampir setahun lu hubungan sama adek gue,tapi lu nggak ada ngomong apa-apa bahkan saat kita ketemu di rumah sakit pun mulut lu itu nggak lu pergunakan dengan baik untuk bicara tentang hubungan lu sama Eva!!" Aditya melampiaskan emosinya kepada Rama.


"Gila-gila."Aditya berkata tak percaya seraya menggelengkan kepalanya terus menerus.


"Gua bukan nggak mau ngomong sama elu tentang hubungan gua sama Eva,hanya saja.." Rama menghentikan perkataannya sambil melihat sang calon kakak ipar yang terkenal akan sifat emosional yang cukup tinggi itu.


"Hanya apa?!nggak usah bilang kalau lu takut gua hajar."Aditya makin nyolot saja rupanya.


"Salah satunya itu." sahut Rama.


"Salah satunya?berarti masih ada hanya-hanya yang lainnya?!"Aditya kini malah mendelikkan matanya.


"Jangan bilang lu deketin Eva karena masih penasaran sama Rianti?!" mulai melancarkan tuduhan yang sejak tadi sangat mengganjal perasaannya.


Rama menarik napas panjang dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan oleh Aditya.


"Gua boleh ngomong jujur sama elu?" tanya Rama dengan wajah serius yang malah membuat hati Aditya sekarang menjadi ketar-ketir,ia takut Rama akan mengiyakan tuduhannya barusan.


Meskipun hatinya mulai bergetar untuk mendengar apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Rama,namun kepalan tangan Aditya tetap tak luntur juga malah tangannya makin terkepal erat seiring menunggu mulut Rama berucap.


"Boleh nggak?" Rama bertanya lagi karena Aditya bukannya menjawab pertanyaan malah terus menatap dirinya dengan teramat buas,disertai dengan urat tangan yang semakin menonjol.


"Ngomong macem-macem gua hajar disini juga."Aditya malah mengutarakan ancaman pada Rama yang benar-benar terlihat santai seperti tidak terpancing sedikitpun dengan apa yang dilakukan oleh seorang Aditya.


"Sebenarnya gua dan Ri."


Belum selesai Rama berbicara,tangan Aditya sudah terangkat tinggi agar Rama tidak melanjutkan perkataannya.


"Lu nyebut-nyebut nama istri gue,abis lu!"ancaman sadis yang dilontarkan oleh Aditya kepada Rama justru tidak membuat Rama takut sedikitpun,lelaki yang kini berhadapan dengan Aditya itu malah tersenyum miring seakan memberikan ejekan.


"Susah berhadapan dengan laki-laki kayak elu."kata Rama yang santai namun malah membuat Aditya emosi.


"Maksudnya apa?!"


Bagaimana tidak,karena dulu pun ia menikah dengan Rianti bukan berdasarkan cinta tapi terlebih karena ia hanya ingin melampiaskan amarahnya pada Melly sang mantan kekasih yang sudah meninggalkan dirinya dengan lelaki lain.


Dan perkataan Rama itu membuat Aditya maju perlahan kearah Rama dengan tangan yang masih terkepal,melihat itu Rama pun bergerak mundur karena ia tidak mau merasakan hantaman dari tangan Aditya lagi,ia sudah pernah merasakan tangan itu dan sungguh rasanya sangat sakit,meskipun ia memiliki postur tubuh yang tidak jauh berbeda dengan Aditya,tetapi kekuatan Aditya lebih jauh diatasnya.


Dan tidak mungkin juga kan dirinya malah saling memukul dengan calon kakak iparnya itu,sebab jika dilakukan bisa-bisa ia malah semakin di tentang oleh Aditya untuk menikahi Eva.


Aditya terus melangkah maju membuat Rama semakin waspada dengan mata yang terus mengawasi pergerakan yang bisa dilakukan oleh Aditya secara mendadak.


Tiba saat Aditya mengangkat kedua tangannya,Rama memalingkan wajahnya untuk menghindar,tapi pada kenyataannya ia tidak merasakan apapun karena tangan Aditya bukan melayangkan pukulan tapi malah dengan tenangnya nangkring di bahu kiri kanan Rama.


Rama melihat wajah Aditya yang tengah mengerutkan dahinya.


"Lu kenapa?"mulut Aditya dengan enaknya bertanya setelah sebelumnya membuat jantung Rama ber dagdigdug ria dibuatnya.


Kedua mata Rama melirik bergantian tangan Aditya yang meremas bahunya.


"Menurut lu dulu gue jahat nggak?"sepertinya mulai mengadakan sesi tanya jawab tentang dirinya dimasa lalu.


"Apa harus dijawab?"ucap Rama.


"Kalau mau nikah sama adiknya,bukankah elu harus mulai mendekati kakaknya lebih dulu dan mengakrabkan diri?" tanya Aditya dengan wajah ngeselinnya.


"Jahat,elu jahat sekaligus lelaki brengsek yang pernah gue kenal."sahut Rama dengan tajamnya.


"Tapi setidaknya sekarang elu jauh lebih baik daripada dulu."


Aditya menunjukkan senyum mendapat pujian dari Rama tentang dirinya yang sudah sangat berubah setelah menikah dengan Rianti dan dikaruniai dua orang anak.


"Tapi.."Rama akan melanjutkan perkataannya tapi Aditya malah menghentikan.


"Gue udah nggak mau bahas masalah yang lalu." jawabannya tetap saja membuat orang kesal,padahal tadi dirinyalah sendiri yang mengajukan pertanyaan tentang kelakuannya dulu,tapi sekarang dia sendiri juga yang tidak mau melanjutkan pembicaraan itu.


Rama mendengus kesal pada calon kakak iparnya yang kini dengan santainya duduk di bangku besi yang sejak tadi menyaksikan dan juga mendengar apa yang mereka lakukan dan katakan.

__ADS_1


"Kapan?"Aditya bertanya.


"Apanya?"Rama terlihat tak mengerti dengan maksud pertanyaan Aditya dan tentang apa.


"Ck."Aditya berdecak mendengar Rama yang tidak mengerti dia tengah menanyakan apa sekarang ini.


"Kapan lu mau nikahin Eva?" sudah menerima nasib bahwa ia akan menjadi kakak ipar Rama,lelaki yang dulu menyukai istrinya.


"Entahlah."jawaban yang diberikan Rama membuat Aditya menatap lelaki yang berdiri didekat bangku dengan kilatan amarah.


"Kalau masih nggak yakin,jangan banyak omong!bikin gue kesel aja lu!"mulut Aditya memaki Rama yang malah menahan senyumnya melihat kelakuan teman sekaligus kakak dari calon istrinya itu.


Aditya berjalan masuk kedalam rumah dengan langkah kaki yang berderap kencang,mengisyaratkan bahwa ia sedang dalam tahap emosi.


Sedang Rama berjalan santai mengikuti Aditya yang menuju ruang keluarga tempat yang lain berkumpul dan sepertinya sudah sangat menanti mereka dengan wajah terlihat cemas apalagi Rianti yang ketakutan sang suami akan melakukan tindakan kekerasan terhadap Rama.


Namun ketika dua orang itu masuk dengan wajah yang sama saat ketika keluar tadi,terdengar tarikan napas yang begitu lega dari orang-orang itu.


Aditya duduk di samping istrinya yang langsung memegangi lengan sang suami.


"Jadi gimana sekarang?"Dani bertanya pada Aditya.


"Adit nggak setuju."kata Aditya lantang dan membuat seluruh mata tertuju padanya.


"Mas."Rianti menatap sang suami.


"Dia nggak jelas yank." kata Aditya pada sang istri.


"Nggak jelas gimana maksudnya?" kini Anita yang bertanya pada anak tirinya itu.


"Ditanya kapan nikah dia malah jawab "entahlah" kan nggak jelas cowok kayak gitu."Aditya menirukan apa yang diucapkan oleh Rama.


Rama menahan tawanya.


"Ngapain lu malah ketawa?!" Aditya berkata sinis saat memergoki Rama malah tengah menahan tawanya.


Dani menoleh pada Rama.


"Benar kamu mengatakan itu Ram?"


Semua orang langsung melihat Rama termasuk Eva yang sangat menanti jawaban yang akan dikatakan oleh Rama.


Rama mengangguk.


"Memang Rama mengatakan itu pada Aditya."


"Tuh denger kan dia ngaku sendiri."kata Aditya tajam.


"Tapi tadi Rama belum menyelesaikan seluruh perkataan Rama,Aditya malah langsung marah dan pergi begitu saja." ucap Rama.


"Kenapa malah jadi nyalahin gue?!" tanya Aditya sengit,tidak Terima dengan pernyataan Rama.


"Mas bisa diem dulu nggak?"kata Rianti agar sang suami tutup mulut.


Aditya langsung terdiam namun matanya tetap melihat sinis pada Rama.


"Terus kan apa yang tadi mau kamu katakan."Dani meminta Rama untuk melanjutkan perkataan yang tadi belum sempat keluar karena Aditya yang keburu emosi.


"Tadi Rama jawab entahlah itu masih ada lanjutannya."Rama melihat Eva yang sepertinya begitu menanti perkataan selanjutnya.


"Entahlah mungkin secepatnya,karena Rama harus segera kembali ke Singapura,dan Rama ingin sudah menikah dengan Eva sebelum kembali ke sana,karena Rama ingin membawa serta Eva."kata Rama yang membuat Eva tersenyum simpul mendengar perkataannya.


"Komponen katanya nggak pas." Aditya sepertinya masih tidak Terima dan merasa dipermainkan oleh Rama.


"Komponen apaan siih maaas." Rianti sudah sebegitu gemasnya dengan kelakuan sang suami seraya mencubit lengannya.


"Males aku nerangin sama kamu,kamu nggak bakal ngerti."ujar Aditya,yang memang manusia biasa tidak akan mudah mengerti dengan perkataan aneh yang sering kali keluar dari mulutnya itu.


Disaat Aditya masih terlihat kesal,wajah-wajah lain yang ada disitu malah menampakkan senyuman yang begitu sumringahnya.


Dan mereka langsung saja mulai melakukan pembicaraan yang sangat serius tentang kapan tepatnya sepasang kekasih itu akan mengadakan pernikahan,tentunya dengan wajah Aditya yang masih tampak kesal pada sang calon adik iparnya yang sudah berani mempermainkan dirinya.

__ADS_1


***************************


__ADS_2