
Setelah mengantarkan Rona pulang ke rumahnya Darren pun menuju rumahnya sendiri, tentunya dengan senyuman kecil yang terus mengembang di bibirnya, sepertinya pikirannya saat ini tengah dirasuki sebuah kegilaan yang membuatnya jadi seperti sekarang.
"Bu, Ayah mana?" tanya Darren ketika baru saja masuk ke dalam rumah dan mendapati sang Ibu yang membukakan pintu untuknya.
"Kenapa baru pulang jam segini?" Rianti malah balik bertanya pada anaknya yang baru pulang setelah hampir tengah malam.
"Nonton Bu, tadi kan Darren sudah WA." sahut Darren.
"Rona nya udah di anterin pulang?" tanya Rianti lagi.
"Udah Ibuu." jawab Darren dengan nada gemas.
"Kalau belum Darren antar pulang kan udah pasti sekarang ada Rona di sini Bu, nggak mungkin Darren tinggal di jalanan." ucap Darren seraya masuk ke dalam rumah dan matanya mencari seseorang yang tadi dia tanyakan pada sang Ibu namun tidak mendapatkan jawaban malah dirinya yang di serbu dengan pertanyaan.
"Tuh Ayah kamu di ruang kerja." tutur Rianti yang memperhatikan gerak-gerik anaknya itu.
Mendengar ucapan Ibunya dengan serentak Darren pun menuju ke ruang kerja sang Ayah, namun lebih mengintip memastikan Ayahnya benar-benar ada di ruangan itu baru setelahnya melangkah masuk dengan langkah lambat.
"Baru pulang?" kata Aditya yang hanya melirik sekilas lalu matanya kembali terpaku pada layar laptop di depannya.
Yah apalagi yang akan di kerjakan oleh lelaki yang sudah berumur itu jika bukan tentang pekerjaan dan perusahaan yang sebentar lagi akan dia wariskan pada kedua anaknya yang sudah semakin beranjak dewasa.
"Iya." Darren menjawab pelan seraya duduk di depan meja kerja sang Ayah berhadapan dengan lelaki yang selama ini menghidupinya dengan sangat baik.
Di hadapan sang Ayah lelaki yang baru pulang dari kencan pertamanya yang sungguh-sungguh mempunyai kesan tersendiri dengan sang calon istri itupun hanya duduk diam dengan matanya yang terus memperhatikan lelaki lelaki yang wajah tampannya menurun pada dirinya.
Sekian menit Darren menatap wajah sang Ayah hingga akhirnya yang di tatap pun mulai merasakan jengah yang luar biasa.
"Ngapain ngelihatin Ayah terus?!" tanya Aditya sambil menatap curiga sang Anak.
"Kalau mau ngomong, ngomong sekarang." dalam hatinya Aditya sudah sangat yakin bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh anaknya itu.
Merasa sang Ayah sudah bisa tahu bahwa dia akan mengatakan sesuatu, Darren pun menyunggingkan senyum lebarnya seraya merapikan rambutnya yang terlihat berantakan setelah memakai helm.
"Cepat Darren, Ayah banyak kerjaan." mulai tak sabar dan kesal dengan sikap sang anak.
"Tapi Ayah setuju nggak?"
"Belum ngomong udah tanya setuju atau nggak. aneh kamu itu." protes Aditya sambil menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya itu.
"Ya biar pasti dulu, di setujuin apa nggak nya." sahut Darren dengan wajah yang terlihat tidak tenang.
__ADS_1
"Kalau kayak gitu berarti bukan pertanyaan tapi sebuah tekanan dan intimidasi untuk menyetujui permintaan terselubung yang Ayah tidak tahu." sahut Aditya, seperti biasa akan menerangkan dengan jelas apa yang tidak sesuai dengan yang di bicarakan orang lain terhadapnya.
"Kalian ngapain sih?" Rianti yang mendadak muncul membuat Darren menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Ibu jangan masuk sini, Darren lagi ngomong sama Ayah." kata Darren yang membuat kening Ibunya mengernyit bingung.
Rianti menatap ke arah suaminya seperti tengah bertanya namun sang suami malah mencebikkan bibirnya sekilas.
"Ayah." seru Rianti akhirnya.
"Kamu keluar dulu, ini urusan antar lelaki." ucap Aditya kemudian.
Wajah Rianti lantas cemberut mendengarnya namun kemudian wanita itu tetap menurut pada perkataan sang suami untuk tidak ikut serta dalam pembicaraan dua orang lelaki yang katanya dewasa itu.
Lihatlah sekarang mulut Rianti yang terus bersungut-sungut sewot berada diantara dua orang lelaki yang selalu bekerja sama untuk membuatnya kesal.
Darren lantas kembali duduk setelah menutup pintu yang dibiarkan terbuka oleh Ibunya ketika pergi menunjukkan bahwa wanita itu tengah tidak terima dengan sikap kedua lelaki di dalam rumah saat ini.
"Apa?" usut Aditya dengan mata yang menyelidik sangat tahu dengan sifat anaknya jika sedang menginginkan sesuatu akan seperti ini tingkahnya.
Darren menarik napas sebelum menghembuskan nya, wajah Darren yang sehari-hari sudah sangat serius semakin serius saja pada malam ini.
"Darren mau nikah." ungkap Darren dengan sekali tarikan napas, dan tentu saja pernyataannya barusan membuat mata Aditya membelalak lebar dengan mulut yang menganga.
"Ngomong apa barusan." setelah sadar dari kekagetannya itu lelaki yang sekarang sudah menutup laptopnya itu kembali bertanya guna memastikan kebenaran yang baru saja di katakan oleh sang anak.
"Darren mau nikah." kembali mengulangi pernyataannya yang tadi sesuai dengan permintaan Ayahnya.
"Kamu mau nikah sama siapa?!" tanya Aditya tegas.
"Sama Rona lah Ayah, emangnya sama siapa lagi." jawab Darren dengan ekspresi yang memang bukan bergurau lagi, sebab Darren memang sangat jarang sekalo bergurau apalagi berkata ngelantur, sudah jelas perkataannya saat ini adalah sebuah hal yang sangat serius.
"Kamu masih kuliah Darren, Rona juga masih sekolah."
"Sebentar lagi Rona lulus Ayah." sahut Darren tenang.
"Iya lulus tapi kan dia pasti mau kuliah." ujar Aditya tegas.
"Kan bisa tetap kuliah, kalau Rona mau, Darren juga bakal kasih ijin kok." lagi-lagi menjawab dengan sangat tenang, setenang air sungai yang mengalir saat tidak ada banjir yang menerpa.
"Kamu mau biayain pakai apa? kuliah kamu juga belum selesai, karena setelah menikah sepenuhnya Rona akan jadi tanggung jawab kamu Darren."
__ADS_1
"Darren bisa cari kerja kok." dan betapa ngeyelnya keturunan seorang Aditya Erlangga ini jika sudah mempunyai keinginan.
Mendengar betapa ngototnya Darren ingin menikahi Rona membuat kecurigaan di dalam kepala Aditya bermunculan.
Lelaki yang sudah sangat matang itu memajukan tubuhnya dan menatap lekat sang anak yang duduk tenang di depannya.
"Sudah kamu apain Rona?!" tanya Aditya dengan mata yang luar biasa tajam.
Darren sempat terjengkit kaget mendapat pertanyaan yang di lontarkan oleh Ayahnya itu, namun kemudian dia kembali bersikap tenang karena memang tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan juga Rona, hanya sekedar berciuman tentunya itu hal yang biasa bagi anak muda sepertinya.
"Jawab Darren!" sentak Aditya ketika melihat anaknya tidak menjawab pertanyaannya itu.
"Nggak Darren apa-apain." sahut Darren namun jawabannya itu tidak membuatnya puas sama sekali.
"Gimana Yah? Ayah setuju?" tanya Darren.
"Kamu tanya Ibu kamu sana." seru Aditya.
"Ayah aja yang ngomong, Darren takut." jawab Darren.
"Ngomong sama Ibu sendiri aja nggak berani, pakai acara mau nikahin anak orang lagi." sungut Aditya.
"Loh kan kalian emang udah jodohin Darren sama Rona, itu artinya Darren harus nikah sama Rona Kan?"
"Iya tapi Nanti. selesaikan kuliah kamu dulu, lalu kerja baru nikah." sahut Aditya.
"Nanti atau sekarang kan sama aja Ayah." dengan keras kepalanya menjawab yang makin membuat kecurigaan Aditya semakin besar.
Darren yang dulu tidak pernah sekalipun membicarakan pernikahan namun malam ini sikapnya sangat aneh, begitu memaksa untuk menikah bahkan di saat pulang larut malam setelah pergi berduaan dengan Rona.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi." begitulah yang ada di dalam pikiran Aditya saat ini.
"Ayah pikirkan dulu." sahut Aditya kemudian.
"Tapi Yah." Darren mencoba protes.
"Keluar Darren." tegas Aditya dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Iya." Darren akhirnya bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang kerja sang Ayah meninggalkan jutaan kecurigaan yang menghinggapi kepala serta pikiran Ayahnya itu.
****