
Melly seolah sudah menjadi sangat gila dengan keadaan yang sungguh akan membuatnya jatuh ke dalam lubang kemiskinan.
Bayangan tentang dia yang akan hidup susah terus saja mengintai setiap kali dia memejamkan matanya, hingga akhirnya membuat wanita itu harus kembali bangun dan kemudian tidak bisa tidur semalaman.
Semua yang terjadi beberapa hari lalu benar-benar menguras energinya juga segala pikirannya, memikirkan bagaimana caranya untuk bisa membuat para pemegang saham di perusahaannya kembali seperti semula, karena memang tanpa mereka perusahaannya itu tidak akan pernah berjalan karena ia yang tidak pernah tahu menahu tentang perbisnisan.
Melly sangat tertekan hingga kadang berteriak histeris seraya membenturkan kepalanya pada tembok kamarnya.
"Mama!" seru Sherin masuk ke dalam kamar sang Mama ketika mendengar suara gaduh di kamar itu.
"Mama kenapa?" tanya Sherin mendekat.
"Kita miskin Sherin! kita miskin!" teriak Melly pada sang anak.
Sherin terhenyak, ia tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh wanita yang telah melahirkannya itu, wanita yang ia tau penuh dengan ambisi meski kadang ambisinya itu tidak sesuai dengan kemampuannya dan sifat itupun menurun padanya.
"Ma..maksud Mama apa? miskin? kita miskin? bagaimana bisa?" tanya Sherin dengan wajah yang terlihat begitu tegang bercampur dengan kekhawatiran yang mendalam akan nasib yang terjadi padanya.
Ia jelas tidak akan bisa menjalani hidup dengan kemiskinan sebab kemewahan sudah menjadi kebiasaannya sedari kecil.
"Perusahaan bangkrut, cafe serta restoran kita pun habis terbakar tanpa sisa!" seru Melly kepada sang anak yang menatapnya tak percaya.
"Kamu dengar apa yang Mama katakan? kamu dengar bukan? kita bangkrut! sudah tidak ada lagi yang tersisa, semua peninggalan Papamu sudah tidak ada yang bisa diselamatkan!" pekik Melly dengan mata serta kulit wajah yang merah layaknya ada api yang berkobar dari dalam tubuhnya.
Sherin jatuh terduduk di lantai mendengar ucapan sang Mama, dalam benaknya mempertanyakan bagaimana bisa mereka jatuh miskin dalam waktu yang begitu singkat.
"Kita harus bersiap karena rumah inipun akan segera Mama jual," terang Melly.
"Jual? kenapa harus di jual?" Sherin tampak tidak mengerti, kenapa rumah tempat mereka tinggal selama ini pun harus di jual.
"Mama harus membayar semua gaji karyawan!" teriak Melly tersulut dengan sikap anaknya yang selalu saja bertanya.
Dirinya sudah cukup pusing dengan semua yang terjadi lalu masih harus di tambah dengan kebodohan anaknya yang kuliah namun selalu saja bertanya seolah tidak punya otak!
"Sherin nggak setuju, kenapa harus menjual rumah, kalau rumah ini di jual kita mau tinggal di mana Mama!!"
"Kita bisa sewa rumah, lebih baik menjual rumah ini daripada Mama di tuntut oleh para pekerja yang tidak terima! kamu mau Mama masuk penjara!?" sentak Melly emosi karena di saat seperti ini sang anak masih saja memikirkan dirinya sendiri.
Sherin menggelengkan kepalanya tidak terima dan tidak mau mengerti dengan yang Melly katakan, sungguh ia tidak akan pernah siap untuk menjalani hidup sebagai orang miskin.
__ADS_1
"Enggak! Sherin nggak mau!" kata Sherin lalu berlari keluar dari kamar sang Mama.
Gadis itu mengambil kunci mobilnya dan pergi dari rumah mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, ia yang seharusnya pergi ke kampus malah berkeliling tak tentu arah, mengendarai mobil sambil menangis meratapi nasib yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Mobil itu berpacu dengan sangat kencang melewati jalanan yang diterangi oleh lampu-lampu di kiri kanannya.
Hingga dari arah depan muncul sebuah mobil yang berhadapan langsung dengannya.
Ciiiiiitttttt!
Sherin menginjak rem dengan sangat dalam sama seperti yang di lakukan oleh mobil di depannya hingga tabrakan mengerikan pun tidak sampai terjadi, hanya dari kejadian itu menyisakan bekas ban di jalanan beraspal akibat rem yang diinjak secara mendadak.
Nafas Sherin tersengal dengan jantungnya yang berdebar sangat kencang dengan kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu.
Sungguh kecerobohannya yang mengambil jalur kendaraan lain hampir saja menerbangkan nyawanya.
Darren tergesa turun dari dalam mobil, benar mulai hari ini dia di suruh oleh Ayahnya untuk membawa mobil karena meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan sebenarnya Aditya juga memintanya untuk memakai supir, namun di tolak mentah-mentah oleh Darren sehingga Aditya pun tidak bisa memaksa sudah sangat bagus anaknya itu mau membawa mobil ketimbang terus memakai motor.
Pria itu menghampiri mobil yang dari perubahan wajahnya terlihat jelas bahwa dia mengenali siapa pemilik mobil yang hampir saja mengantarkan nyawanya ke alam lain.
Demi kemanusiaan sekalipun sebenarnya dia sangat malas jika harus berurusan dengan Sherin, Darren tetap menghampiri mobil wanita itu.
"Sher! Sherin!" Darren mengetuk kaca mobil sambil memanggil wanita yang sedang mendaratkan kepalanya di atas kemudi mobil.
Wanita di dalam mobil itupun mengangkat wajahnya dan menatap pria yang sangat ia kenali, dan tanpa berpikir langsung membuka pintu mobil lalu dengan gerakan cepat memeluk tubuh Darren dengan sangat erat.
"Jangan begini Sher, gue udah punya istri," ujar Darren menjauhkan Sherin dari tubuhnya.
"Kenapa nasib aku harus kayak gini? kenapa orang yang aku cintai malah memilih wanita lain, dan sekarang perusahaan milik Papa ku bangkrut, aku sudah tidak punya apa-apa lagi," keluh Sherin pada pria yang hanya menatapnya saja.
Ada sedikit rasa simpati namun selebihnya malah kekesalan karena perlakukan Sherin terhadap Rona dulu.
Sherin terus berbicara tentang kemalangan yang tengah menimpanya, berharap Darren menjadi iba padanya dan akhirnya mau menerima dirinya tidak mengapa di jadikan selingkuhan asalkan ia bisa mendapatkan pria yang ia cintai.
__ADS_1
"Gue telepon Permana dulu," kata Darren bahkan sedikitpun tidak tertarik dengan pembicaraan Sherin yang jelas tengah berusaha untuk mengambil simpatinya.
"Nggak usah, aku cuma ingin berdua sama kamu, cuma kamu yang bisa bikin aku tenang saat ini," tolak Sherin mencoba untuk menghentikan Darren menghubungi Permana.
"Gue mesti kuliah, abis kuliah gue harus pulang, istri gue lagi hamil nggak bisa gue bikin dia kecewa dengan ngeladenin elu, meskipun dia nggak tahu apa yang gue lakukan di luar rumah, tapi gue akan tetap merasa bersalah!" tegas Darren.
Pengakuan Darren tentang kehamilan Rona membuat Sherin tak bisa lagi berdiri dengan benar, wanita itu terduduk di bangku mobilnya dengan tatapan yang dipenuhi dengan luka mendalam.
Hatinya bagaikan diiris oleh belati tumpul yang hanya membuatnya sakit sedikit demi sedikit.
"Kamu bohong kan? nggak mungkin dia hamil?" lontaran pertanyaan tak percaya pun muncul dari bibirnya.
"Bohong gimana? gue sama dia dia suami istri wajar kalau dia hamil!" dengus Darren jengah dengan sikap wanita yang sedari dulu memang selalu mengejar dirinya.
Sungguh pernyataan Darren makin menambah luka yang di dalam diri Sherin, wanita itu merasa bahwa hari ini adalah hari yang benar-benar membuatnya hancur, kenyataan bahwa keluarganya sudah tidak memiliki apapun lagi sudah sebegitu menyakitkan lalu sekarang masih harus di tambah dengan kenyataan bahwa pria yang ia cintai akan memiliki anak dari wanita lain.
"Tuh Permana udah sampai, lu sama dia aja gue harus kuliah terus pulang!" kata Darren dengan tegas lalu dengan menahan mual dia segera menghampiri Permana yang baru saja turun dari ojek online.
Kedua pria itu berbicara sejenak sebelum akhirnya Darren masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari tempat itu.
__ADS_1
\*\*\*\*\*