
"Kenapa lu marah, emang kenyataannya kan tuh cewek doyan tidur sama cowok! apa salahnya gue minta dia buat tidur juga sama gue?! apa cuma lu doang yang boleh ngerasain dia? gila lu cewek murahan kayak gitu gue bayar juga mau!" Bimo semakin kurang ajar mengeluarkan semua pernyataannya yang tanpa pernah memikirkan orang lain.
Mata Darren makin terlihat memerah layaknya ada api yang berkobar makin besar mendengar pernyataan gila yang dilontarkan oleh Bimo, pemuda yang sudah tidak dia anggap sebagai teman lagi itu memang sangat memancing emosinya dengan segala omongan sialan dan brengsek yang ditujukan untuk istrinya.
Darren memberontak dengan sangat kuat hingga Tyo yang di bantu oleh Permana memegangi Darren pun tak sanggup lagi menahan berontakan dari pria yang sudah sangat marah mendengar sejak tadi istrinya terus saja dihina dengan berbagai perkataan yang tidak benar.
Darren menggeram lalu berlari dan langsung melayangkan pukulannya pada wajah Bimo meninju berulang kali.
"Dia istri gua!!!" teriak Darren marah dengan tangan yang tak juga mau berhenti bergerak.
"Lu hina istri gua itu artinya lu berurusan sama gua!" peringat Darren dengan nafas yang memburu, emosinya sudah naik sampai puncak kepala membuat darahnya terasa mendidih dan makin membuatnya panas.
Pengakuan Darren barusan sontak membuat semua yang ada di tempat itupun terpaku tak percaya mendengarnya, Tyo yang tadi memegangi Darren mendadak merasakan seluruh persendiannya lemas, teramat lemas hingga bergoyang ke samping beruntung ada satu meja yang masih berdiri membuat dia bisa berpegangan pada tepiannya.
Rona memejamkan kedua matanya mendengar suara sang suami yang begitu keras dan lantang, sedang teman-temannya malah bagaikan patung dengan mulut dan juga mata yang membuka lebar.
"Luar biasa, ini lelaki jantan yang gue cari-cari dan idamkan selama ini," gumam Kila yang langsung mendapatkan pukulan di kepalanya oleh Desi dan juga dua temannya yang lain.
"Laki temen lu sendiri jangan lu pengenin!" peringat Desi tajam dan penuh tekanan.
"Nanti kalau gue ileran gimana?" tanya Kila dengan pertanyaan tak jelasnya yang membuat Desi mendengus.
"Lu pikir elu itu emak-emak hamil pake ileran segala!" Desi berusaha menyadarkan pemikiran konyol milik temannya yang memang kadang tak masuk akal sangat di luar logika orang waras.
"Udah Darren! lu bisa bikin dia mati!" Permana mencoba untuk menghentikan Darren namun tak dihiraukan, Darren masih saja dengan buasnya membuat wajah Bimo makin babak belur.
"Na, laki lu bisa bunuh orang itu!" pekik Desi yang kengerian melihat adegan perkelahian tak jauh dari tempatnya berdiri, orang-orang yang lewat pun mulai berhenti guna bisa melihat apa yang terjadi.
Rona yang seolah baru sadar dari lamunannya pun segera berlari ke arah suaminya, ia harus menghentikan apa yang tengah dilakukan suaminya sebelum Bimo benar-benar menjadi mayat.
"Kak!" Rona memegangi tangan kanan Darren yang sudah sangat siap untuk kembali melayangkan pukulannya, namun sepertinya Darren masih tetap ingin menghajar Bimo karena emosinya yang tidak akan pernah bisa luntur dengan cepat.
Mantan temannya itu duluan yang sudah mencari masalah dengannya, sampai kapanpun dia tidak akan terima istrinya dianggap wanita gampangan padahal dia suaminya dan dia yang lebih tahu tentang istrinya itu.
__ADS_1
Tidak ada yang berhak mengatakan hal yang tidak benar apalagi sampai merendahkannya seperti yang sudah Bimo lakukan, mantan teman sialannya itu memang patut di beri pelajaran agar tidak sembarangan dalam berkata, dan lebih menggunakan otaknya sebelum berbicara.
Darren menepis tangan Rona lalu kembali melakukan ancang-ancang untuk memukul wajah Bimo yang bahkan dari hidung serta mulutnya yang mengeluarkan darah.
Wajah pemuda itu benar-benar di buat hampir tak berbentuk oleh Darren.
"UDAH!" bentak Rona pada suaminya, mengeluarkan suaranya yang keras agar sang suami mau mendengarkannya.
Darren melihat pada Rona lalu dengan sangat kencang mendorong tubuh Bimo hingga terpelanting ke belakang menabrak meja yang sudah terbalik.
"Sekali lagi lu ngomong macam-macam tentang istri gua! habis lu!" Darren memberi peringatan dengan ancaman yang sangat tajam dan tegas.
Semua yang ada di tempat itu kembali mendengar pengakuan Darren yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya, Darren benar-benar dengan sadar mengakui bahwa Rona adalah istrinya membuat teman-temannya berpikir kapan mereka itu menikah.
Darren langsung berbicara pada penjaga bakso yang tampak sangat pusing melihat kondisi warungnya yang tidak ada bedanya dengan tempat pembuangan sampah, semuanya berserakan tak jelas.
Tentu pria itu berniat untuk mengganti segala kerugian yang sebenarnya bukan hanya dialah yang telah menghancurkannya.
"Kak." Rona berusaha untuk berbicara dengan suaminya yang malah acuh padanya, seolah tidak mendengar dan melihat dirinya.
"Antar Rona pulang," kata Darren pada Tyo yang tengah berdiam diri bersama dua orang temannya, sepertinya pria itu masih memikirkan tentang apa yang tadi Darren katakan.
Tyo diam tak tahu harus berkata apa, bibirnya seperti tidak mau terbuka untuk mengucapkan satu kalimat pun.
Rona yang mendengar perkataan Darren pun panik lalu mengikuti pria itu yang berjalan menuju kampusnya.
"Kak," panggil Rona ketika Darren melewati gerbang lalu mengarah pada parkiran dimana dia memarkirkan motornya.
"Kan aku bisa pulang bareng Kakak, kenapa malah minta Tyo buat anterin," Tukas Rona memegangi ujung jaket yang tengah Darren pakai.
__ADS_1
"Kamu Dateng sama dia, pulang juga sama dia!" tegas Darren, dia sangat marah kali ini pada istrinya.
Rona menggeleng menolak apa yang Darren katakan, ia memang merasa bersalah tapi bukankah mereka bisa pulang bersama?
Darren yang tidak peduli pun memilih untuk memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya lalu menjalankannya meninggalkan Rona yang terdiam tak bisa berbuat apa-apa.
Suaminya marah dan itu semua karena kesalahan yang ia buat, ia pun menyesal kenapa selalu saja bertindak ceroboh, seandainya saja tadi ia langsung pergi begitu mengetahui dimana warung bakso itu berada mungkin kejadiannya tidak akan panjang seperti ini.
Wanita itu hanya bisa melihat saja ketika motor suaminya mulai menjauh keluar dari lingkungan kampus dan menghilang di pandangannya.
"Lu nggak apa-apa Na?" Kila dan kedua temannya menghampiri Rona, sedangkan Desi tampak sedang berbicara dengan Angga.
"Laki gue marah," Adu Rona dengan wajah melas.
Rona merutuki kebodohannya, kenapa dia selalu saja mencari masalah meskipun dia melakukan itu tidak sengaja namun tetap saja karena hal itu membuat pernikahannya yang masih sangat baru terlihat selalu dipenuhi dengan kemarahan.
"Paling juga sebentar Na, nanti juga baik lagi," ucap Kila pada Rona agar temannya itu tenang.
"Mending lu pulang sekarang Na," kata salah satu temannya yang sejak tadi tidak bisa berkata-kata saking syok nya dengan kejadian yang tidak mereka duga sebelumnya.
Rona mengangguk lalu keluar dari area kampus dan berpapasan dengan satpam kampus yang baru saja selesai membantu merapikan warung bakso yang tadi menjadi tempat adu jotos.
Rona menghampiri Tyo meminta untuk diantarkan pulang.
__ADS_1
\*\*\*\*