
Sabtu pagi para mahasiswa baru dan juga senior sudah berkumpul di aula kampus, pagi ini mereka akan pergi menuju puncak untuk menginap satu malam guna melakukan malam keakraban sekaligus berakhirnya masa ospek yang sudah mereka lalui selama beberapa hari ini.
Setelah melalui perjalanan yang cukup membuat bokong pegal karena harus terus duduk di bangku mobil akhirnya mereka pun sampai juga di sebuah villa yang nantinya akan di jadikan tempat untuk melaksanakan malam keakraban sekaligus tempat untuk beristirahat setelah semua rangkaian acara terakhir selesai.
Beruntung Rendi absen dari acara itu, karena jika tidak sudah bisa dipastikan pria itu akan selalu mencari ribut dengan Darren, dan Bimo juga Dini pun mengundurkan diri dari keanggotaannya sebagai panitia ospek.
"Kamu jangan jauh-jauh dari aku," kata Darren menghampiri Rona yang sedang berdiri mendengarkan seorang senior berbicara memberi penjelasan, tentang rangkaian acara yang akan dilaksanakan.
"Iya," jawab Rona seraya mengangguk.
Tapi setelah mendengar jawaban yang Rona berikan Darren malah di panggil oleh Angga yang langsung meminta bantuannya untuk mengumpulkan semua data para mahasiswa baru.
Darren melakukan tugasnya dengan baik lalu membantu Angga memeriksa semu data itu sambil matanya terus melihat kepada Rona.
"Lu nggak sakit hati?" bisik Nella kepada Sherin yang berusaha untuk sibuk mengerjakan apa yang temannya tugaskan padanya.
Sherin menghentikan apa yang ia kerjakan lalu menatap pada sang teman.
"Tuh, gue lihatin dari berangkat tadi sampai disini pun mereka asik aja saling bisik sama saling lihat," kata Nella dengan gerakan bibirnya menunjuk pada Darren yang tidak pernah berpaling dari Rona.
"Lu sangat tau apa yang gue rasakan saat ini, gue sakit hati Nell! sakit banget!" tegas Sherin sambil memejamkan matanya seolah menahan rasa sakit yang ia terima bertubi-tubi.
"Terus lu diam aja gitu? nggak mau ngelakuin apa-apa?" tanya Nella seperti sangat menantang temannya untuk melakukan tindakan yang menurutnya wajar guna membalas sakit hati yang sang teman rasakan.
"Menurut lu gue harus apa? gue mesti gimana? maksa Darren buat suka sama gue? nggak mungkin Nell, nggak mungkin bisa!"
Sherin meletakkan buku yang sejak tadi berada di tangannya.
"Itu jelas nggak mungkin Sher, gue juga tau itu. Darren nggak mungkin pernah bisa suka sama elu, tapi setidaknya lu harus balas sakit hati lu itu biar lu puas, sama seperti yang gue lakukan sama si bajingan Bimo dan juga cewek murahan kayak si Dini itu, setidaknya gue merasakan kepuasan dan hati gue lega!" papar Nella dengan senyum kepuasan karena sudah melampiaskan sakit hatinya dengan memberikan pelajaran pada dua manusia yang sudah berkhianat di belakangnya.
"Terus menurut lu gue harus apa?" tanya Sherin menatap pada temannya.
"Kan tadi gue bilang, minimal lu itu apain kek tuh cewek, biar ada rasa puas juga," jelas Nella.
Sherin terdiam mendengar semua pernyataan dari temannya yang memang selalu akan membuat suasana berubah menjadi panas, namun entah kenapa ia masih saja betah berteman dengannya.
Sore hari ketika para mahasiswa tengah beristirahat setelah mengadakan satu permainan terakhir, Rona dan Kyla sedang mengobrol di samping villa.
"Desi kemana?" tanya Tyo yang baru saja datang.
__ADS_1
"Noh sama cowoknya lagi mojok," seru Kyla menunjuk tempat dimana Desi dan Angga berada.
Padahal temannya itu bertiga dengan salah satu teman baru mereka namun Kyla yang kesal karena tak juga kunjung di kenalkan oleh seorang senior kampus membuatnya sedikit nyolot, padahal dia sudah sangat berharap pulang dari acara ini sudah bisa menggandeng kekasih.
Tapi nyatanya semua nihil! sangat mengecewakan.
"Kenapa lu, kesel banget kayaknya?!" celetuk Tyo.
"Pusing dia, nyari gebetan nggak dapat-dapat," timpal Rona.
"Lu bawel sih mulut lu, jadi cowok juga ngeri telinganya rusak kalau punya cewek macam elu!" Tyo malah dengan lancarnya melontarkan pernyataan yang sukses membuat Kyla menginjak kakinya.
"Emang temen kurang ajar lu! seenaknya aja kalau nyeplos," sengit Kyla tak terima.
"Aduh pusing deh gue ngeliat lu berdua, apa nggak sebaiknya lu ini jadian aja? sebenarnya lu berdua ini cocok, sama-sama ngeselin!" seru Rona yang pusing melihat tingkah dua orang temannya yang jika sudah bertemu akan selalu perang mulut, saling beradu argumen tak mau ada yang mengalah membuat pusing orang yang melihat dan mendengar ocehan mereka.
"Rona mana?" tanya Darren pada Tyo dan Kyla.
"Tadi ke sana kayaknya." tangan Kyla menunjuk tempat Rona pergi tadi.
Darren pun bergegas menyusul istrinya.
Setelah mengatakan itu Rona pun menjauh dari kedua temannya bergerak ke arah bagian belakang villa yang ada sebuah balkon di lantai atasnya.
Wanita itu memandang penuh kagum setiap hembusan angin yang membuat daun-daun bergoyang.
"Rona awas!"
Hingga suara teriakan membuat Rona tersentak kaget di tambah dengan dorongan pada tubuhnya membuat terjatuh.
Lalu di susul dengan sebuah pot besar yang jatuh dari atas dan menimpa wanita yang menolong Rona.
"Sherin.." mata Rona melihat panik pada keadaan Sherin yang kini tergeletak di atas tanah dengan kepala yang mengeluarkan banyak darah akibat tertimpa oleh pot besar yang terbuat dari semen.
"Toloooooong," teriak Rona seraya menghampiri Sherin yang tak berdaya.
Darren yang memang mencari Rona pun segera berlari begitu mendengar teriakan dari sang istri.
"Kenapa? kamu kenapa?" tanya Darren panik.
__ADS_1
"Sherin tolongin aku, Sherin tolongin aku!" kata Rona terbata-bata.
"Ada yang jatuhin pot besar ini dari atas." Rona menunjuk ke arah balkon dan di sana Nella berdiri dengan tatapan tak percaya.
Semua yang tadi mendengar teriakan minta tolong dari Rona pun juga ikut berkumpul dan menatap tak percaya ketika mereka sadar ini adalah perbuatan Nella.
Permana segera masuk ke dalam villa untuk membawa Nella turun.
Nella langsung berlari ke arah tubuh Sherin lalu menangis.
"Sher gue nggak sengaja Sher, gue cuma mau bantuin elu buat balas sakit hati lu sama Rona, tapi kenapa lu dengan bodohnya malah nolongin dia," lirih Nella menangis mengatakan semua yang sudah ia perbuat.
Darren memeluk Rona berusaha untuk menenangkannya sedangkan yang lain mengangkat tubuh Sherin untuk membawanya ke rumah sakit.
"Lu gila! jadi selama ini lu yang selalu hasut Sherin buat ngelakuin hal-hal jahat!? benar-benar sakit lu!" maki Permana.
Dia yang sejak dulu menaruh hati pada Sherin sungguh tidak menyangka bahwa di balik sifat jahat wanita itu ada seorang Nella yang terus menghasut dan membisikinya untuk berbuat jahat.
"Sherin baik Kak, dia tolongin aku, dia udah korbanin nyawanya buat aku," kata Rona dengan tangis yang terdengar sangat lirih.
Sungguh ia tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengannya jika Sherin tidak datang menolongnya.
Darren mengangguk seraya mengecupi puncak kepala sang istri.
"Aku takut Sherin kenapa-napa Kak, aku takut." Rona sangat mengkhawatirkan wanita yang baru saja di bawa ke rumah sakit.
"Lu nggak apa-apa kan Na?" tanya Desi dan Kyla bersamaan, cemas dengan keadaan temannya yang hampir saja terluka.
Rona menggeleng sambil terus menangis di pelukan sang suami.
Permana dan teman yang lainnya tengah mengelilingi Nella, menyalahkan wanita itu atas apa yang sudah dia perbuat.
"Gue nggak sengaja!" seru Nella kala seorang temannya mengusulkan untuk melaporkannya pada polisi.
"Lu sengaja!" bentak Permana.
"Please gue mohon jangan bawa gue ke kantor polisi," pinta Nella dengan wajah memelas.
Permana dan yang lainnya tidak perduli, karena apa yang sudah Nella lakukan benar-benar sangat berbahaya, tidak bisa didiamkan begitu saja.
__ADS_1
Acara makrab pun akhirnya di hentikan karena mereka harus di buat repot dengan ulah Nella, ada yang mendampingi Sherin di rumah sakit dan ada juga yang membuat laporan pada polisi tentang perbuatan Nella.
\*\*\*\*