
"Wow, pengantin baru itu mengalahkan kita Dit." seru Roman ketika melihat Rona yang meletakkan secangkir teh di atas meja depan Darren.
"Ya ,bahkan kita hanya bisa menikmati teh buatan pelayan." timpal Aditya, karena memang teh miliknya dan Roman hasil racikan pelayan di rumah temannya itu sedangkan istri-istri mereka tadi malah sibuk melakukan entah apa itu sebab Aditya dan Roman tidak memperhatikannya.
Mendengar pernyataan Ayah dan Papah mertuanya sejenak membuat kekesalannya terhadap sang istri pun berkurang sedikit, berganti dengan bibir yang merekahkan senyumnya dan wajah yang menunjukkan betapa bangganya dia dengan pelayan dari sang istri di pagi pertamanya sebagai seorang suami, yah meskipun dia belum bisa menyentuh tubuh sang istri tapi itu urusan gampang sebab setelah di apartemen dia sudah mengancam istrinya itu atas malam pertama yang terlewat karena kelakuan tak jelas sang istri yang malah memilih tidur dengan Mamahnya.
Rona duduk di samping Darren dan menatap wajah suaminya yang mengulas senyum.
"Darren ngamuk nggak Ri?" sepertinya Tania mulai cemas takut anaknya mendapat amukan dari sang menantu.
"Mungkin marah saja, tapi tidak sampai mengamuk, dia memang anak Aditya tapi aku sangat tau sifatnya berbeda jauh dari sang Ayah jika tentang emosi." sahut Rianti menenangkan Tania yang sudah menjadi besannya itu.
Ya memang sebagai Ibu Rianti jelas sangat tau dan mengerti tentang apa dan bagaimana sifat anak-anaknya, Darren memang selama ini sangat dekat dengan sang Ayah tapi itu sungguh Darren lebih bisa mengontrol emosinya jika sedang menghadapi wanita, apalagi seorang yang dia cintai, anaknya itu tidak akan tega menyakiti wanita yang sudah menjadi istrinya, berbeda dengan sang Ayah yang Roman dan Johan pun tau apa saja yang dulu sempat Aditya lakukan kepadanya, menyakiti hati juga fisiknya hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Tania mengangguk mengerti, karena beberapa hari yang lalu pun ia sempat melihat Darren yang bahkan tidak tega ketika menyaksikan Rona do tampar oleh suaminya, mata Darren terlihat sangat khawatir dan cemas hanya bisa mencegah Roman semakin menyakiti Rona tanpa bisa melawan, jika saja orang lain yang melakukan hal itu terhadap Rona Tania pastikan Darren akan langsung menghajarnya tanpa ampun, seperti yang sudah di rasakan oleh Bimo ketika lelaki itu menghina Rona.
"Minum Kak mumpung masih hangat." ucap Rona mengambil teh dan memberikannya pada sang suami, dan hal itu terang saja membuat berisik Papah dan Ayah mertuanya yang tampak tidak terima dengan kemesraan pengantin baru di depan mereka.
"Minum Dit, Nanti keburu dingin." lihatlah betapa menyebalkan kedua orang lelaki yang sudah tidak muda di depan sana, sengaja mengulangi perkataan Rona sudah jelas berniat meledek.
Darren mengabaikan tingkah tak jelas dua orang di depannya, menerima dengan senang hati teh yang di berikan oleh sang istri.
Teh di dalam cangkir itu memang terlihat masih hangat dan tentu akan terasa sangat nikmat jika mengalir ke dalam tenggorokannya yang sehabis mandi tadi belum memasukkan apapun ke dalam mulutnya, dengan gaya elegan Darren mulai mendekatkan bibirnya ke pinggiran cangkir diiringi dengan dua orang wanita di belakangnya yang tengah menahan napas, menunggu detik yang mereka nantikan segera tiba.
Bibir Darren menempel pada cangkir dan sebagian banyak air teh sudah masuk ke dalam mulutnya, tapi tunggu dulu, Darren sepertinya tidak menelan teh itu terlihat dari kedua pipinya yang menggembung tanda dia menahannya di rongga mulutnya.
__ADS_1
Matanya melirik ke segala arah dan berhenti pada istirnya yang menatap bingung. "Kenapa Kak?" tanya Rona cemas, namun pertanyaannya tidak terjawab karena Darren yang berlari dengan cepat menuju wastafel dapur guna kembali mengeluarkan apa yang ada di dalam mulutnya.
Rona menatap tak mengerti kala Mamah dan Ibu mertuanya tengah menahan tawa di dekat pintu tengah, makin heran kala mendengar suaminya yang kembali dengan mulut yang bersungut-sungut tak jelas.
"Kamu mau bikin aku darah tinggi Na? semalam meninggalkan aku saja sudah cukup membuat tensi ku naik, kenapa pagi ini malah di tambah lagi dengan teh tak jelas mu itu." omel Darren seraya menunjuk teh buatan istrinya yang sudah tinggal setengah, begitu bersemangatnya dia meminum teh buatan istrinya hingga langsung saja menenggak minuman itu tanpa memikirkan apapun.
"Sepertinya teh buatan pelayan lebih baik daripada teh asin." gumam Aditya yang membuat mata anaknya melirik kesal padanya.
Setelah Ayah dan Papahnya keluar Darren menoleh pada dua wanita di ambang pintu yang tengah berbisik dan terdengar di telinga Darren.
"Ibu sama Mamah sudah tau kenapa nggak bilangin Rona." kini mengomel pada Ibu dan Mamah mertuanya yang kompak mengangkat tangan.
"Silahkan nikmati nikah muda yang kamu inginkan anak muda." seru suara Ayahnya dari luar ruangan.
__ADS_1
Darren mendengus kesal hingga telinga dan hidungnya berkedut dan memerah, emosi sudah terlihat jelas di wajahnya, setelah semalam di paksa bermain catur sampai pagi hingga kurang tidur dan sekarang istrinya pun melakukan kesalahan dalam membedakan gula dan garam.
"Maaf Kak." suara Rona terdengar sangat lirih, menyesal kenapa ia begitu bodoh hingga tidak bisa membedakan antara gula dan garam.
"Kamu nih bener-bener deh." Darren tampak gemas sendiri mengacak rambutnya, mau marah terus memarahi Rona juga tidak mungkin, ini pilihannya menikahi gadis yang bahkan lulus sekolah pun belum.
"Awas ya kamu Darren kalau marahnya berlebihan." peringatan dari sang Ibu tentu tidak bisa membuat Darren melanjutkan kekesalannya pada sang istri yang tampak menunduk karena takut dan merasa bersalah.
"Selama ini memang Rona tidak pernah melakukan pekerjaan rumah." aku Rona membuat Darren membuang napas panjang, sepertinya setelah ini kesabarannya masih harus berlanjut ketika mereka tinggal di apartemen nanti.
"Sayang ke sini, biarin sepasang suami istri yang saling mencintai itu urus rumah tangga mereka sendiri." terdengar teriakan Aditya memanggil sang istri yang langsung beranjak meninggalkan anak serta menantunya menyelesaikan masalah teh berasa garam, tak lupa mengajak Tania serta.
****
__ADS_1