
"Apaan?" Riana terpekik kaget dengan apa yang baru saja di tuturkan oleh Adiknya yang duduk di sebelahnya.
Ya setelah makan malam tadi mereka langsung di kumpulkan oleh Darren di ruang keluarga tentunya karena memang dia akan mengatakan keinginannya pada sang Kakak yang baru saja kembali seperti yang sudah di minta oleh Ayah juga Ibunya.
"Nggak lucu banget kamu." kata Riana yang sejak tadi memegangi toples berisi cemilan yang isinya nyaris hanya tinggal setengahnya saja.
"Lah kan emang Darren lagi nggak ngelucu Kak." sahut Darren yang memang sejak tadi wajahnya menunjukkan betapa seriusnya dia dan sangat bersungguh-sungguh dengan yang dia utarakan saat ini.
"Ibu." Ana melihat ke arah sang Ibu yang duduk berdampingan dengan Ayahnya.
"Ibu juga bingung." ucap Rianti yang tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini.
"Masa Darren udah ngebet aja mau nikah, Rona nya aja belum tentu mau." kata Ana menatap sang Ibu.
"Rona udah pasti mau Kak." sahut Darren.
"Ayah itu anaknya bilangin ih." kali ini berbicara pada sang Ayah.
"Ya kamu maunya gimana? setuju apa nggak? Ayah sama Ibu sih tergantung kamu." jawab Aditya yang tidak mau memihak siapapun diantara anaknya itu.
Dia hanya mengikuti saja jika Riana memperbolehkan Adiknya untuk menikah lebih dulu atau tidak semua ada di tangan Riana sendiri.
"Ana.."
__ADS_1
"Kak, please." belum juga Riana menyelesaikan perkataannya sang Adik sudah menunjukkan wajah memelas yang sangat patut untuk dikasihani.
"Kamu kenapa sih? tumben banget deh yang di minta itu nikah. perasaan Kakak dulu nggak kayak gini." mata Riana sudah sangat memicing melihat Adiknya yang sepertinya memang sudah sangat ingin menikah dengan Rona.
"Dulu nggak pernah loh kamu bahas-bahas kayak gini, malah setiap Ayah dan Om Roman ngomongin soal kamu dan Rona kamu tau-tau kabur nggak ketahuan kemana." sambung Riana yang mengetahui bagaimana betapa tidak antusiasnya Adiknya itu dulu.
Tapi sekarang ini omongan sang Adik membuatnya geleng kepala tak habis pikir.
"Dulu aku belum dewasa Kak." sahut Darren enteng.
"Memangnya sekarang kamu sudah dewasa?" tanya Riana aneh dengan jawaban yang diberikan oleh Adiknya itu.
"Sekarang aja kamu masih kuliah, semua masih di tanggung sama Ayah." ucap Rona lagi memberi pengertian pada sang Adik, sebenarnya dia bukan tidak mau jika sang Adik menikah lebih dulu darinya, ia tidak keberatan jika saja Adiknya itu sudah memiliki penghasilan sendiri yang tentunya untuk membiayai rumah tangganya dengan Rona.
"Jadi kalau Darren punya penghasilan sendiri dan sudah tidak bergantung sama Ayah Kakak akan kasih ijin Darren buat nikah?" tanya Darren penuh harap.
Riana mengangguk mantap, karena ia juga tidak ingin jika dirinya melarang sang Adik akan melakukan hal yang tidak-tidak mengingat Adiknya itu juga seorang lelaki yang sudah mempunyai hawa napsu apalagi setahu Riana pergaulan Adiknya juga tidak bisa di bilang aman jika setiap saat pasti ada saja temannya yang tiba-tiba tak sengaja berciuman di depan matanya.
Aditya dan Rianti menarik napas lega mendengar akhirnya kedua anaknya itu bisa menyelesaikan perbincangan serius dengan sebuah kesepakatan.
"Jadi sudah sepakat?" tanya Rianti seraya melihat kedua anaknya bergantian.
Darren dan Riana mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Hari Sabtu Ana balik lagi ke Singapura." pemberitahuan Riana membuat Rianti merasa sedih padahal semestinya ia sudah terbiasa dengan hal yang dikatakan oleh anak perempuannya, namun tetap saja sebagai seorang Ibu rasanya ia tidak sanggup harus berjauhan dengan anaknya itu.
"Kenapa cepat banget sih Na." ucap Rianti dengan suara yang terdengar merajuk kepada sang anak yang beranjak duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat.
"Ana kan belum ada libur kuliah Bu, gara-gara si Darren aja tuh Ana jadi pulang." menatap kesal pada sang Adik yang sudah kebelet nikah itu.
"Emang nih anak nggak jelas." omel Aditya pada anak lelaki yang biasa dia dukung itu, namun beberapa hari ini tingkah dan keinginannya sungguh membuat dia gemas bukan main.
"Kan kaya Ayah Darren suruh ngomong sama Kakak." membela diri karena memang Ayahnya itulah yang memintanya untuk berbicara pada sang Kakak mengenai keinginannya untuk menikah.
"Kan bisa telepon." sahut Aditya dan Riana bersamaan.
"Harusnya Ayah itu lebih spesifik kalau ngomong, bilang kamu telepon Kakak gitu." dan jawaban Darren sukses membuat Aditya menggeleng kepalanya.
Memang kemarin Aditya meminta Darren untuk ngomong terlebih dulu pada sang Kakak, dalam artian menelepon saja bukan malah meminta Riana untuk pulang ke Indonesia di tengah kesibukan anaknya itu dengan kuliahnya.
"Nggak usah marah sama Darren, dia itu nurunin semua sifat dan kelakuan kamu." tutur Rianti seraya mengajak Riana masuk ke dalam kamar untuk melepas rindu sebelum anaknya itu pergi lagi.
Aditya memajukan bibirnya merengut, setelah sebelumnya mendapatkan ceramah dari istrinya karena meminta untuk memberikan Darren Adik di usianya yang sudah 20 tahun.
sambil memasak wanita itu berceloteh tak henti yang di tujukan padanya sungguh saat itu bahkan Aditya hanya duduk lesu di kursi makan tak berani beranjak sedikitpun untuk menghindari suara istrinya, sebab jika itu dilakukan olehnya sudah pasti Rianti akan membuatnya tidur di kamar Darren yang kalau tidur tidak bisa tenang sama sekali.
Darren hanya menyimpulkan senyum melihat ekspresi kesal yang ditampilkan oleh sang Ayah.
__ADS_1
****