
"Sudah siap?" tanya Darren dengan kedipan dari sebelah matanya.
"Siap apa?" balas Rona tak bisa menyembunyikan wajahnya yang menegang.
Bagaimana bisa keturunan Aditya ini terlihat begitu menyeramkan jika sedang bersama istri kecilnya.
Darren mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri lalu berbisik dengan suaranya yang sangat beratnya yang sangat khas, "pembalasan yang lebih banyak dari yang kamu lakukan barusan," jawab Darren dengan senyuman yang akan selalu terlihat luar biasa mengesankan bagi siapapun yang melihat dan mendapatkannya.
Senyuman yang menyembunyikan maksud serta tujuan di dalam hatinya sontak membuat Rona menggerak-gerakkan bibirnya membuang serta menarik nafas bagaikan seorang wanita yang hendak melahirkan.
"Ha ha ha, masa sama istri sendiri mau balas dendam," cetus Rona dengan suara tawa yang terdengar di paksakan.
"Apa ada larangannya?" tanya Darren, suara dan raut wajahnya tampak mengejek perpaduan yang sangat sempurna untuk membuat lawan bicaranya semakin tak percaya diri.
Rona tampak menunjukkan wajah polos yang di campur dengan wajah bodohnya berpikir untuk memberikan jawaban pada pertanyaan yang diajukan oleh pria yang kini secara perlahan menyelinap kan tangannya di balik selimut yang sekarang berbalik menutupi tubuhnya.
Merasa tak menemukan jawaban wanita yang masih sangat muda itupun serentak menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan menggeleng.
Mata Rona membeliak lebar seraya mengangkat pinggangnya ke atas kala merasakan ada telapak tangan yang dengan kurang ajarnya menyelinap ke celah pinggang celana tidurnya.
Mulut Rona juga tak kalah lebarnya ketika mengekspresikan keterkejutannya itu.
Jika mau membalas perbuatan yang tadi Rona lakukan bukankah seharusnya tangan Darren ada di pinggangnya? tapi kenapa sekarang malah melenceng ke bagian lain?
Darren mengulas senyum seraya melirik ke arah tangannya berada saat ini, meski tertutup selimut namun dia tahu dengan jelas tengah mendarat dimana sang telapak tangan.
"Kak," panggil Rona dengan posisi pinggang yang masih terangkat.
Darren menoleh pada wanita yang tampak kaku dan hanya mulut serta matanya saja yang bergerak.
"Apa sayang?" tanya Darren dengan wajah yang sangat tengil.
"Kamar ini kedap suara kan?"
"Benar, kamu bebas mengeluarkan suara apapun yang kamu mau," tukas Darren diakhiri dengan kedipan mata.
Rona menarik tubuh Darren hingga jatuh menimpanya lalu berteriak di telinga pria itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh." teriakan yang sangat kencang membuat Darren memberontak lalu membungkam mulut istrinya.
"Kamu mau bikin aku tuli?!" omel Darren dengan mata yang mendelik.
"Tadi katanya aku bebas mengeluarkan suara apapun," sahut Rona tak mau di salahkan.
Kan suaminya sendiri yang barusan berkata seperti itu, lalu kenapa sekarang malah marah ketika ia berteriak di dalam kamar yang kedap suara hingga tidak akan ada orang yang mendengar suara apapun dari dalam kamar mereka.
"Bukan suara itu maksudnya!" dengus Darren seraya menepuk-nepuk telinganya yang masih berdengung karena perbuatan Rona.
Sepertinya Istrinya itu benar-benar ingin menjadikannya pria tuli dengan teriakan yang sangat merusak gendang telinganya.
__ADS_1
"Hahaha." tanpa rasa bersalah Rona malah tertawa kegirangan melihat tingkah Darren sekarang, daun telinga pria itu bahkan sudah berwarna merah.
"Malah tertawa lagi," desis Darren dengan pandangan mata dipenuhi ancaman, sudah jelas Rona tidak akan bisa selamat darinya malam ini.
Rona menutup mulutnya namun dari kerutan di matanya tergambar jelas bahwa wanita itu tengah membentuk senyuman di bibirnya.
Darren menarik selimut yang sejak tadi membatasi tubuhnya dengan sang istri dengan gerakan cepat sampai Rona pun terkesiap kaget hingga tidak sempat memegang selimut sampai akhirnya kain putih itupun melayang dan jatuh ke atas karpet di bawah kaki tempat tidur.
Pria itu sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi apa yang sejak tadi dia rasakan, wanita di bawahnya sudah memancingnya lebih dulu membuat dia yang tadi sebenarnya ingin tidur cepat karena Ayahnya meminta dia datang lebih pagi ke kantor pusat, tapi sepertinya dia lebih memilih untuk begadang malam ini masa bodo jika besok akan bangun siang lalu datang terlambat.
Darren menurunkan wajahnya mendekat pada sang istri yang masih menutup mulutnya seraya mengerjapkan kelopak matanya.
Darren menyingkirkan tangan Rona dari bibir sang wanita lalu tanpa meminta izin dia menyerang bibir Rona yang langsung memejamkan mata, tidak memberikan perlawanan karena Darren memiliki hak atas dirinya.
Kepala Darren bergerak seirama dengan apa yang dia lakukan terlebih lagi ketika Rona tidak tinggal diam, wanita itu memberikan balasan membuat Darren semakin bersemangat.
Setelah merasakan apa yang dinamakan hubungan ranjang membuat Darren benar-benar ingin merasakannya lagi dan lagi, dia menjadi kecanduan pada istrinya yang selalu membuatnya naik darah itu.
Istrinya yang mengesalkan dan menguras emosi tapi nyatanya dia begitu mencintainya dan sangat menginginkannya.
Kedua insan itu sudah semakin panas dengan permainan yang mereka ciptakan sendiri, pakaian mereka sudah tak lagi komplit seperti tadi, hanya menyisakan bagian-bagian kecil saja yang meskipun tidak di lepas tetap tidak akan menghalangi mereka untuk menyatu.
Raut wajah Rona terlihat sangat lucu kala melihat ekspresi liar yang Darren tunjukkan ketika tangannya menyingkirkan kain kecil yang menutupi bagian bawahnya, hanya disingkirkan kesamping saja tanpa mau untuk membukanya.
Suaminya itu sungguh sangat nakal, membuat dirinya bahkan sulit untuk percaya bahwa Darren yang dulu dia kenal cuek kini bisa melakukan hal-hal liar yang tidak ia pikirkan sebelumnya.
Rona merasakan seluruh tubuhnya merinding dengan sentuhan tangan dari suami tampannya yang mulai memberikan sentuhan-sentuhan guna semakin memancing tubuhnya untuk bergerak ke tak terkendali.
"Kamu membuatku gila," tukas Darren lalu bersiap pada permainan yang terakhir, dia sudah tidak kuat untuk menahan lagi, pesona yang dimiliki Rona benar-benar membangkitkan gairahnya.
Tangannya kembali menepikan kain kecil yang tadi kembali ke tempat semula, lalu mulai menyatukan diri dengan sang istri yang mendongak merasakan ada yang menyelinap.
****
"Tuh kan kesiangan," teriak Rona ketika melihat jam di atas meja sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
Mereka benar-benar tidak bisa bangun pagi setelah apa yang mereka lakukan semalam, lebih tepatnya Darren yang terus membuatnya begadang guna memenuhi pembalasan yang dikatakan oleh Darren sebelumnya.
Pembalasan yang lebih banyak dari apa yang sudah Rona lakukan sungguh dibuktikan oleh suaminya itu, tadi malam Darren terus mengerjainya dengan berbagai macam keinginannya, membuat Rona harus berganti-ganti posisi berulang kali, sangat membuat tubuh Rona bagaikan dilindas oleh truk pengangkut batu.
Darren menggeliat dari tidurnya kala mendengar suara nyaring sang istri, pria itu masih sangat enggan untuk membuka kedua matanya yang baru dia pejamkan beberapa jam yang lalu.
"Bangun Kak, nanti Ayah marah-marah nungguin Kakak nggak datang-datang," kata Rona cemas seraya menggoyang lengan suaminya yang saat ini sangat susah sekali di bangunkan.
"Lima menit lagi Na," Sahut Darren dengan suara seraknya.
"Aku teriak lagi nih!" ancam Rona lalu mulai menarik nafasnya bersiap untuk mengeluarkan suaranya sama seperti yang ia lakukan semalam.
"Iya, iya jangan, aku bangun sekarang," seru Darren tidak mau telinganya benar-benar jadi rusak karena perbuatan istrinya itu.
__ADS_1
Dengan mata yang masih sangat mengantuk Darren pun bergerak turun dari tempat tidur, memaksakan kedua matanya untuk terbuka sungguh sangatlah sulit, berulang kali dia mengucek matanya itu lalu mengedip-ngedipkannya namun tetap saja rasa kantuk masih dia rasakan, sepertinya dia memang harus segera menyiram kepalanya itu dengan air dingin.
"Kamu belum mandi kan?" tanya Darren ketika dia mencapai pintu kamar mandi.
"Belum," sahut Rona yang kini tengah memakai pakaiannya yang semalam dengan mulut yang masih menguap.
"Mandi bareng yuk?!" tawar Darren, pria ini sudah tahu sedang kesiangan tapi malah saja dengan ringannya mengajak istrinya untuk mandi bersama dengan yang pasti ada tujuan lain di dalam hatinya.
"Sudah siang Kakaaaaak." tenggorokan Rona sampai terasa sakit karena berteriak di saat baru bangun tidur.
Mendapat tanggapan seperti itu membuat Darren gegas berlari masuk ke dalam kamar mandi tanpa berkata apapun lagi, menutup pintunya lalu mulai menyalakan shower yang dalam sekejap membasahi kepala serta tubuhnya.
Sedangkan di dalam kamar Rona mengatur nafasnya yang tersengal karena ulah sang suami, wanita itupun memilih untuk mandi di kamar mandi yang ada di dekat dapur dengan lebih dulu menyiapkan pakaian untuk suami menyebalkan nya itu.
Selesai mandi Rona pun segera menyiapkan roti serta teh hangat untuk suaminya sarapan, tepat setelah ia selesai meletakkan roti di piring, Darren keluar dari kamar, sudah rapi dengan pakaian kantornya yang meskipun tidak memakai jas namun pria itu terlihat sangat gagah dengan setelan kemeja dan celana bahannya.
"Nanti langsung ke kampus?" tanya Rona ketika Darren mulai menikmati rotinya.
Darren masih saja bisa tetap santai padahal ini sudah lebih dari Jam 8 dan di kantor pun Ayahnya sudah mengomel karena anaknya yang tak juga muncul.
"Iya, pulang mau rapat juga soalnya, kan sebentar lagi penerimaan mahasiswa baru," jawab Darren.
"Kenapa?" tanyanya kemudian seraya mengunyah potongan roti yang terakhir.
"Aku boleh ya keluar, soalnya anak-anak mau bicarain soal persiapan perpisahan nanti, mau bikin acara juga," terang Rona.
"Ya sudah, tapi harus sudah pulang sebelum aku," kata Darren dengan mudahnya memberi izin, sepertinya efek permainan mereka tadi malam yang masih tersisa sehingga membuatnya bermurah hati pada sang istri.
Rona mengangguk dengan sangat semangat atas jawaban yang diberikan oleh suaminya itu, ia senang karena Darren masih membiarkannya berhubungan dengan teman-temannya, tidak benar-benar mengekangnya.
"Aku berangkat," tukas Darren seraya menghabiskan teh buatan wanita yang semalam sangat membuatnya makin tergila-gila lalu memakai jaket hitamnya.
Rona ikut berdiri mengantarkan suaminya sampai ke pintu apartemen, masih terus melihat sampai Darren masuk ke dalam lift.
__ADS_1
****