
Acara ospek hari terakhir pun kembali di mulai dengan sebuah instruksi untuk meminta foto serta tanda tangan para senior.
Semua mahasiswa baru pun langsung berpencar untuk mencari senior mereka sedangkan Rona malah terlihat kebingungan.
"Kak Darren kemana sih?" tanya Rona dengan kedua matanya yang bekerja kesana kemari guna mencari sang suami yang juga seniornya di kampus itu.
"Apa foto sama temannya aja ya?" Rona bertanya pada dirinya sendiri.
Namun sekejap kemudian kepalanya bergerak menggeleng-geleng cepat karena baru ingat bahwa suaminya itu seorang yang pencemburu, "jangan deh mendingan dari pada didiemin lagi gue," kata Rona lalu melangkahkan kakinya melewati lorong untuk mencari suaminya.
Darren yang ternyata sedang berada di balik pintu sebuah ruangan malah tersenyum mengintip sang istri, rupanya dia sudah tahu bahwa akan ada kegiatan yang seperti ini.
Rona yang tak sadar terus berjalan ketika di depan pintu tangannya langsung di tarik ke dalam ruang kelas yang sangat kosong.
Wanita itu sudah hampir berteriak kencang jika saja dia tidak melihat wajah suaminya yang tengah memberi kode untuk diam.
"Ngapain sih Kakak di sini?! aku cariin dari tadi juga!" sentak Rona memukul lengan pria yang tengah merangkul pinggangnya.
"Nungguin kamu, kamu lama banget. sampai pegal kaki aku diri di belakang pintu," jawab Darren memainkan ikatan rambut sang istri.
"Ngapain Kakak tungguin aku?" sepertinya Rona yang malah lupa tujuannya mencari sang suami itu untuk apa.
Darren menunjukkan wajah yang sangat menggoda seraya mendekatkan bibirnya ke telinga Rona lalu berbisik, "jadi nggak mau foto sama tanda tangan aku? mau di hukum aja?" kata Darren lalu tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.
Rona yang sadar apa yang harus ia lakukan pun terlihat gelagapan, "mau-mau, mau foto sama tanda tangan ayo cepet," kata Rona dengan suara yang terdengar panik.
Wanita itupun segera mencari keberadaan handphonenya di dalam saku kemeja putih yang ia pakai, namun raut wajahnya mendadak berubah kala handphone yang sangat ia ingat sudah membawanya tak ada.
"Cari ini?" Darren dengan santainya menunjukkan benda yang sedari tadi di cari oleh sang istri.
Menunjukkan dengan gaya mengejek terpampang jelas dari wajahnya, berulang kali menunjukkan senyuman yang membuat sang istri merajuk.
"Iiiihhhh, kok bisa ada sama Kakak?" protes Rona merasa heran kenapa benda itu bisa ada di tangan suaminya padahal ia sangat ingat bahwa tidak pernah memberikannya pada sang suami.
Sepertinya selain menjadi mahasiswa sekaligus seorang direktur kerjaan sampingan Darren adalah pencopet, lihat saja bagaimana Rona bisa sampai tidak sadar kalau handphonenya sudah berpindah tangan.
"Gerakan tangan aku kan lincah, kamu aja sering kualahan," sahut Darren konyol.
Jawaban ambigu yang membuat mata Rona membelalak sengit, tak menyangka seorang Darren yang pendiam bisa dengan entengnya melontarkan pernyataan seperti itu dan dengan ekspresi wajah yang luar biasa santai.
"Malah diem aja, mau foto nggak?" pertanyaan namun raut wajahnya menunjukkan ada sesuatu yang tersembunyi.
"Ya udah cepetan, siniin handphonenya." Rona berusaha untuk menggapai benda di tangan sang suami yang malah dengan sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Kakak iiih," sungut Rona sebal.
"Nanti dulu, enak aja kamu gampang banget dapetinnya teman kamu yang lain juga pasti di kasih syarat dulu biar bisa foto bareng teman-teman aku," tukas Darren.
__ADS_1
Dan sudah jelas bahwa Darren akan mengerjainya sebelum mau berfoto dengannya.
"Mau cepat selesai nggak?" benar-benar si Darren ini kalau sudah mengerjai istrinya sungguh sangat totalitas tanpa batas.
"Ya udah syaratnya apa?!" tanya Rona ketus dengan bibirnya yang mengerucut membuat Darren gemas lalu mengecupnya.
Cup!
Kecupan singkat namun membuat Rona membelalak kaget.
"Ini di kampus Kak, nanti ada yang lihat," tutur Rona panik dan dengan bodohnya malah berusaha membuka pintu yang tadi di tutup oleh Darren.
"Ya kalau pintunya di buka pasti ada yang lihat Rona!" tekan Darren seraya menahan pintu dengan kakinya agar tidak terbuka.
"Udah kan?" tanya Rona mengira kalau kecupan tadi lah syarat yang di maksud oleh suaminya.
"Udah apanya?" tanya pria yang menunduk di depannya karena tinggi mereka yang lumayan berbeda jauh.
"Syaratnya."
"Kakak jangan main-main sama aku deh, cepetan ih nanti yang lain sudah selesai aku malah belum," celetuk Rona mulai kesal dengan suaminya yang seakan mengerjainya dengan mengulur-ulur waktu, padahal seharusnya tugas Rona sudah selesai seandainya Darren mau diajak kerja sama.
"Aku nggak main-main loh sama kamu Na, buktinya aku nikahin kamu."
"Bukan itu maksudnya iiisshh, ngeselin banget," sungut wanita yang di buat pusing dengan tingkah pria tampan di depannya ini.
"Ya udah diem! kamu diem sekarang!" tegas Darren seraya memegang kedua bahu Rona agar tidak bergerak kemanapun.
Wanita di depannya pun diam menunggu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu, ekspresi Rona menjadi tidak biasa kala semakin lama Darren malah memajukan wajahnya.
__ADS_1
Rona sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh sang suami, wanita itupun mengerti lalu menutup kedua matanya bersiap menerima apa yang akan suaminya itu lakukan.
Satu menit sudah berlalu namun Rona tidak merasakan apapun, keningnya mengerut menunjukkan keheranan, pikirannya pun mencoba menebak hingga akhirnya ia tak menemukan jawaban apapun membuat Rona membuka kedua matanya.
Di depannya kini ia mendapati suaminya tengah menutupi mulutnya dengan ekspresi menahan mual.
Rona menarik nafas, "Mual lagi?" entah kenapa ada rasa kecewa karena gagal berciuman dengan sang suami.
Darren mengangguk seraya memukul-mukul daun pintu, kesal karena mual yang mendadak muncul membuat ia gagal mencium istrinya.
"Ya udah sana ke kamar mandi, tapi tanda tangan sama foto dulu," pinta Rona seraya mengambil handphone dari tangan suaminya.
Dengan wajah lesu Darren berfoto dengan sang istri lalu memberikan tanda tangan di kertas yang istrinya bawa.
"Sana Kakak ke kamar mandi, aku mau serahin ini," ucap Rona seraya membuka pintu.
Namun langkah wanita itu terhenti dan mengambil sesuatu dari saku rok yang ia pakai.
"Ini, Kakak cium ini biar nggak terlalu mual." Rona memberikan minyak angin ke tangan Darren yang mengangguk lalu mengelus kepala istrinya yang langsung berlari.
"Jangan lariiiii," seru Darren memperingatkan wanita yang langsung menghentikan larinya namun kini malah melangkah dengan gerakan cepat yang terlihat sangat lucu.
Darren tersenyum seraya berjalan menuju kamar mandi karena mual yang masih saja dia rasakan.
Sepanjang jalan mulutnya terus berceloteh kesal karena mual yang datang tanpa mengenal waktu, tapi herannya saat sedang berhubungan badan dengan sang istri mual itu seakan tidak pernah ada, rasa mual ingin muntah itu tidak muncul sama sekali sepanjang mereka bermain, baru setelah selesai mual itu lantas datang dan membuatnya segera berlarian menuju kamar mandi.
__ADS_1
\*\*\*\*\*