
"Darren jalan duluan Yah," kata Darren pada sang Ayah yang baru akan masuk ke dalam mobilnya.
Mata Aditya terfokus pada motor besar yang memang selalu menjadi andalan anaknya itu, meskipun sudah ada mobil namun masih saja sangat setia dengan motor yang kadang membuat Rianti kesal karena Darren yang setiap pagi selalu menggeber-geber motor itu jika sedang dipanaskan, membuat seisi rumah harus menutup telinga.
"Kenapa tidak memakai mobilmu saja, sudah di beli untuk apa hanya di jadikan pajangan. lagi pula sekarang kamu sudah memiliki istri akan jauh lebih baik bila memakai mobil, terhindar dari panas apalagi dari hujan," ujar Aditya pada sang anak yang sudah naik di atas motor meskipun belum memakai helm.
"Nanti aja naik mobilnya kalau sudah punya Dede bayi, sekarang lebih enak naik motor, duduknya bisa mepet terus di peluk dari belakang, lagian Rona juga suka, emangnya Ayah dari dulu sampai sekarang naik mobil terus nggak bisa cubit-cubitan," sahut Darren memanasi Ayahnya yang matanya dalam sekejap membulat lebar.
"Di mobil bukan cuma bisa main cubit-cubitan, tapi juga bisa main tindih-tindihan," celetuk Aditya tak terima dengan pernyataan anaknya itu.
Anak yang baru menikah itu sejak beberapa hari yang lalu sudah membuatnya jengkel, dari mulai meminta pengaman malam-malam yang sebenarnya bisa di beli di toko, lalu sekarang malah asik mengejeknya, sungguh anak gak berbudi.
"Oh kalau gitu nanti kapan-kapan Darren pinjam mobil Ayah." dengan wajah konyolnya Darren berkata.
"Pakai mobilmu sendiri!" Aditya menjawab ketus.
Seenaknya saja anaknya itu ingin memakai mobilnya untuk mempraktekkan apa yang tadi dia katakan. Aditya membatin kesal menghadapi tingkah laku anaknya yang benar-benar menjiplak dirinya.
"Oh ya ampun, bisakah kita berangkat sekarang Pak?!" Johan yang sejak tadi berdiri memegangi pintu mobil mulai melerai dua orang berbeda usia itu yang sepertinya masih akan terus berseteru jika tidak segera dia tengahi.
"Hehe, Darren berangkat Ayah," seru Darren langsung memakai helmnya dan segera tancap gas dengan motor kesayangannya.
Tanpa berkata Aditya pun masuk ke dalam mobil dengan perasan yang sangat gemas pada kelakuan anaknya.
****
Langit sudah berubah gelap saat Darren sampai di kampusnya, dia masih harus mengikuti satu mata kuliah sebelum bertemu dengan teman-temannya yang akan membahas tentang penerimaan mahasiswa-mahasiswi baru di tahun ini.
Turun dari motornya pria itu langsung bergegas menuju kelasnya yang pasti sudah ada temannya yang datang, belum terlambat untuknya mengikuti pelajaran dari dosen yang untungnya belum datang ke kelas, mungkin masih berada di ruangannya.
Penampilan Darren yang berbeda dari biasanya sudah langsung menjadi perhatian teman-teman kampusnya, sejak kemarin mereka cukup terkejut dengan perbedaan karena biasanya Darren datang ke kampus dengan celana robek andalannya juga Hoodie yang tidak akan pernah ketinggalan.
Baru saja akan masuk ke dalam kelas handphone miliknya bergetar di dalam kantong celana membuatnya berhenti untuk memeriksa siapa yang menghubunginya.
Darren langsung menjawab panggilan itu begitu di layar tertera nama sang istri.
"Aku baru sampai Na," kata Darren ketika suara sang istri terdengar di telinganya.
"Sampai mana?" suara Rona terdengar sedikit panik membuat Darren mengernyit curiga.
"Kampus, kamu kenapa panik banget?" tanya Darren dengan ketidakwajaran yang diperdengarkan oleh wanita di seberang telepon.
"Em, anu," saat di tanya Rona malah bingung harus menjawab apa.
"Kamu belum pulang?!" Darren sudah bisa menebak apa yang membuat istrinya itu tak bisa menjawab ketika dia bertanya.
"Iya, aku masih di sekolah." Rona menjawab dengan sangat hati-hati meskipun ia tahu, sehati-hatinya ia dalam berbicara tetap saja suaminya itu tidak akan suka jika istrinya masih berada di luar rumah ketika langit sudah menggelap.
"Ini sudah jam berapa Na! bahas apaan sih sampai jam segini belum juga selesai!" omel Darren sesuai dengan dugaan Rona, suaminya itu akan marah dan itu terbukti memang karena kesalahannya yang tadi datang hampir jam 4 sore, membuat teman-temannya yang sudah datang dari siang jadi menunggu bahkan sampai menunda pembahasan untuk acar perpisahan sekolah hanya karena ia yang belum juga datang.
__ADS_1
Semestinya tanpa kehadiran dirinya mereka bisa kapan saja membahas acara itu meskipun ia telah ditetapkan sebagai salah satu panitia tapi bukankah masih ada panitia yang lain yang bisa mewakili dirinya.
Ah teman-temannya itu memang selalu ingin menyusahkan dirinya.
"Aku datang telat tadi," sahut Rona menerangkan kenapa sampai jam segini dirinya belum juga berada di apartemen.
"Ya lagian siapa suruh Dateng telat!" omel Darren tak senang dan malah menyalahkan istrinya yang memang selalu saja ceroboh dalam segala hal.
"Tadi Mama minta aku buat ke rumah dulu soalnya, di suruh ambil bed cover, aku sampai bolak-balik ke apartemen untuk nganterin itu dulu, untungnya aku di anterin sama Ty.." Rona berhenti berkata, menutup mulutnya yang malah keceplosan bicara.
"Di anterin siapa?" suara Darren terdengar begitu memaksa dengan kedua mata yang memicing.
"Dianterin Tyo," jawab Rona.
"Maaf," sambungnya karena tahu suaminya tidak akan senang mengetahui apa yang dia katakan barusan.
Suaminya itu bahkan bagaikan kucing dan anjing jika sudah bertemu dengan Tyo, selalu saja berdebat dengan Tyo yang dia panggil bocah tengil.
"Jadi dia udah tahu dong kalau kamu ini istri aku?" Darren bertanya dengan wajah yang sedikit tenang karena yakin Rona pasti sudah memberitahu bocah tengil itu jika mereka sudah menikah.
Darren mengulas senyum saat memikirkan bagaimana kecewanya si bocah tengil karena wanita yang dia sukai malah sudah menjadi istri pria yang selalu dia panggil Om, si bocah tengil itu memang sialan! wajah yang masih sangat kencang tanpa kerutan itu dengan seenaknya di panggil Om. batin Darren terus berbicara tak jelas.
"Nggak tahu," sahut Rona seraya menggelengkan kepalanya.
Wajah Darren pun menjadi kaku dengan gigi yang bergemerutuk gemas serta kesal dengan jawaban yang barusan dia dengar.
"Terus dia percaya?" Darren menahan gemas yang benar-benar sangat gemas dengan istri kecilnya itu.
"Percaya kok, Kakak tenang aja," tukas Rona karena merasa Darren mungkin akan marah jika ia memberitahukan kepada orang lain tentang pernikahan mereka, padahal yang terjadi adalah sebaliknya, Darren sangat berharap semua orang mengetahui kalau mereka ini sudah menikah agar tidak ada pria-pria gila yang mendekati istrinya itu.
"Sudahlah! aku males ngomong sama kamu!" bentak Darren lalu mematikan sambungan telepon dengan sangat kesal, menekan layar handphonenya dengan kencang lalu memasukkannya ke dalam kantong celana dan bergegas masuk kelas dengan wajah yang terlihat menakutkan.
"Marah lagi?" gumam Rona seraya menatap layar handphonenya yang sudah tidak ada lagi suara suaminya terdengar.
Darren masuk menghempaskan tubuhnya dengan sangat kasar di atas bangku paling belakang, pikirannya lagi mumet membuatnya tidak berminat untuk duduk di barisan depan.
Lihatlah siapa yang sejak tadi sudah begitu mengincar kedatangan Darren? ya siapa lagi jika bukan Sherin, wanita dengan penampilan yang selalu kekurangan bahan itu langsung dengan cepat menduduki bangku kosong yang ada di sebelah Darren.
Darren melirik sadis pada wanita yang tidak pernah ia sukai itu, malah semakin tidak ia sukai ketika wanita itu dengan sengaja mencelakakan Rona saat mereka berkemah dulu.
Kehadiran Sherin membuat mood Darren yang tidak baik malah semakin anjlok berantakan, terlebih ketika wanita itu dengan centilnya menunjukkan senyuman menggoda dengan mata yang berbinar menatapnya, bagaikan seekor kucing yang melihat tikus, sangat menggiurkan untuk segera menyicipi sang tikus.
Sherin terus melihat Darren dengan kekaguman yang berlebih bahkan wanita itu pun sampai tidak menyadari kalau dosen mereka sudah menginjakkan kaki di dalam kelas, bersiap untuk memberikan pelajaran yang harus mereka pahami.
\*\*\*\*
"Sudah selesai kan?" tanya Rona pada teman-temannya, pembahasan mereka untuk semua acara perpisahan memang sudah selesai beberapa menit yang lalu dan ia ingin segera pulang.
__ADS_1
"Sudah, kita makan-makan dulu lah," seru salah satu teman Rona yang juga panitia.
"Udah malem begini, gue nggak ikutan," kata Rona ketika melihat jam dari handphonenya, meskipun ia memakai jam tangan namun sepertinya jam itu hanya ia jadikan hiasan tangannya saja.
"Sebentar aja Na, Kita makan bakso, lu kan hobi banget sama bakso tuh." Kila masih memaksa Rona untuk ikut.
"Ayo Na, gue tahu warung bakso yang enak dimana, gue sama doi suka makan di situ soalnya." sambar Desi salah satu teman Rona yang tahu benar bagaimana gilanya Rona dengan makanan bernama bakso itu.
Sepertinya Rona mulai tergiur dengan tawaran dari teman-temannya itu sehingga hanya perlu berpikir sebentar saja lalu kemudian anggukan kepalanya terlihat jelas.
Wanita itu menyetujui ajakan dari para wanita yang sebenarnya juga penggemar bakso sama seperti dirinya, hingga tak jarang kadang mereka sering hunting bakso guna mencari rasa yang paling enak.
"Gue sama siapa?" tanya Rona bingung melihat teman-temannya yang sudah siap duduk di atas motor dan saling berboncengan.
"Tuh sama penggemar lu lah, kan tadi juga lu datangnya sama dia," Kila menunjuk Tyo dengan mulutnya, Tyo yang sedari tadi memang sedang menunggu Rona mengumbar cengirannya.
Rona mendengus namun kakinya ia gerakkan menuju Tyo yang sudah menunggu di atas motornya.
Empat motor dengan masing-masing dinaiki dia orang sudah melaju di jalanan dengan satu motor yang berjalan lebih dulu guna menjadi penunjuk jalan kemana mereka harus pergi.
"Nah udah sampai kita," kata Desi dengan wajah yang ceria.
Rona melihat sekeliling dengan raut wajah yang seperti orang bingung, sampai kedua matanya melihat gedung besar tepat berada di depan warung bakso pinggir jalan itu.
"Cowok gue kuliah di situ tuh," terang Desi menunjuk kampus dimana kekasihnya itu berkuliah.
"Mampus gue!" celetuk Rona.
\*\*\*\*
__ADS_1