Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 5


__ADS_3

Setengah 8 malam Daren pergi dari rumah dengan menaiki motor besarnya, motor besar yang selama ini jadi kendaraannya ketika pergi ke kampus, sebenarnya sang Ayah sudah membelikan mobil untuknya tapi pemuda itu lebih menyukai naik motor karena kecil kemungkinan terjebak macet saat kendaraan saling berebut untuk mendapatkan jalan.


"Daren pergi kemana Mas?" tanya Rianti yang mendengar suara motor anaknya.


"Kerjain tugas di rumah temannya." sahut Aditya sambil dia sendiri juga sibuk dengan laptop di ruang kerjanya.


"Aku tidur duluan ya Mas." ucap Rianti Karen ia merasakan tubuhnya pegal-pegal semua.


"Kenapa? tumben?" tanya Aditya dan kini melihat sang istri yang memukul-mukul pundaknya sendiri.


"Badan aku pegel semua ini." adu Rianti.


"Mau aku pijitin." tawar Aditya dengan sorot mata yang sudah bisa di tebak oleh Rianti maksud terselubung dari suaminya itu.


"Nggak usah, nggak usah." kata Rianti cepat dengan gelengan kepala.


"Udah aku pijitin aja, ini kerjaan aku juga sudah selesai." mematikan laptop dan bangkit dari duduknya lalu mengejar Rianti yang berjalan cepat.


"Nggak usah Maaas, kamu bukan kurangin pegel di badan aku justru malah nambahin bikin pegel." seru Rianti melihat Aditya mengejarnya.


"Nggak kok sayang, beneran deh malah enak nantinya." sahut Aditya terus mengikuti istrinya hingga masuk kamar lalu mengunci pintu.


Sudah di dalam kamar Rianti tidak bisa melakukan apapun lagi, yang ia bisa pasrah saja dengan kelakuan suaminya yang selalu bisa melakukan apa yang suaminya itu mau, termasuk sekarang, benar suaminya itu memijit tapi gerakannya malah sangat aneh apalagi tempat yang di pijat oleh sang suami malah tempat tak biasa.

__ADS_1


Hingga akhirnya Rianti berpasrah ketika sang suami membuka pakaian tidur yang ia kenakan dan melemparnya ke sembarang tempat, sudah bisa di tebak kegiatan apa yang akan terjadi selanjutnya antara sepasang suami istri itu.


****


"Gue pulang ya." seru Daren pada teman-temannya setelah menyelesaikan tugas dari kampus pada jam 22:05.


"Daren, aku numpang sama kamu boleh nggak?" tanya teman wanita Daren yang sejak lama memang menaruh hati pada Daren namun Daren tidak pernah sekalipun memperdulikannya karena Ayah dan Ibunya sudah mengatakan padanya jika memang menyukai Rona jangan pernah sekalipun memberikan harapan pada wanita lain.


Dan itu hal itupun di lakukan oleh Daren karena seperti yang di katakan oleh Rianti bahwa sebenarnya Daren pun menyukai Rona bahkan saat mereka masih sama-sama kecil.


"Jalan rumah kita kan beda jauh." kata Daren berusaha menolak sehalus mungkin.


Namun sepertinya wanita bernama Sherin itu tidak cukup mudah menyerah terbukti malah semakin memaksa dengan berbagai macam alasan.


"Antar dulu lah Ren, kasihan cewek nanti kalau kenapa-kenapa kita juga yang kena disalahin sama orang tuanya." salah satu teman Daren yang juga akan pulang ikut meminta Daren agar mau mengantar Sherin pulang.


"Ya gue nggak bisa Daren, gue kan sama cewek gue." ucap Bimo seraya melihat Nela kekasihnya yang sudah akan masuk ke dalam mobil.


"Lu kan bawa mobil, bisa kali Sherin ikut." kata Daren lagi.


"Gue mau jalan dulu sama cewek gue Ren, takut kemalaman." jawab Bimo.


"Ya udah nggak apa-apa kalau kamu nggak mau kasih tumpangan, biar aku naik taksi aja." kata Sherin akhirnya dengan wajah sedikit cemas takut kalau Daren mengiyakan ucapannya.

__ADS_1


"Ya udah pesen taksi aja, gue nggak bisa antar." dan benar saja dugaan Sherin, bahwa Daren malah menyuruhnya naik taksi.


"Irish si Daren parah banget nih, tega banget lu Ren sama cewek." kata Nela dari dalam mobil.


Daren mendengus dengan perkataan Nela barusan, dan sekarang mau tidak mau dengan terpaksa dia harus mengantarkan Sherin pulang ke rumahnya.


"Ya udah gue antar, ayo naik." ucap Daren pada Sherin yang langsung menunjukkan wajah sumringah seraya gegas naik.


"Nah gitu dong." tutur Nela yang memang membantu Sherin untuk bisa terus mendekati Daren.


"Kita duluan ya." seru Bimo pada Permana yang kali ini rumahnya menjadi tempat mereka untuk mengerjakan tugas kampus.


"Ok." sahut Permana sambil mengangkat tangan.


Setelah Bimo dan Nela pergi, Daren dengan Sherin di boncengannya pun juga turut pergi.


Daren membawa motornya dengan kecepatan sedang dan dengan perasaan tak enak ketika tangan Sherin malah melingkar di pinggangnya.


"Sher." panggil Daren seraya melambatkan laju motornya.


"Ya." Sherin mendekatkan kepalanya pada kepala Daren yang memakai helm.


"Nggak usah pegangan, gue bawa motornya pelan kok." pinta Daren.

__ADS_1


"Oh iya." dengan wajah cemberut Sherin melepaskan tangannya dari pinggang Daren.


****


__ADS_2