
Keesokan harinya..
Eva sudah ada di kantor Aditya kakak tirinya
ia datang lumayan pagi bahkan si pemilik perusahaan pun belum juga kelihatan batang hidungnya karyawan pun baru sebagian yang datang..
beberapa karyawan ada yang tersenyum menyapa Eva karena mengetahui Eva adik dari atasan mereka meski adik tiri dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja namun tetap saja mereka harus menghormatinya juga
Seraya berbisik satu sama lain m mempertanyakan ada maksud apa kiranya hingga Eva datang ke kantor kakak nya bahkan dengan pakaian yang begitu rapi sangat tak biasanya..
Eva akhirnya memilih duduk di ruang tunggu karena orang yang di tunggu nya belum juga datang padahal waktu terus berjalan
ia menarik napas dalam-dalam seraya membetulkan pakaiannya "ini kalo bukan demi kak Rianti , rasanya aku males banget dah jadi sekretaris nya kak Adit " gumam Eva
ya ternyata papah Aditya sendiri lah yang sudah meminta Eva untuk menjadi sekretaris dari Aditya, sebab Rianti sempat menghubunginya untuk di carikan sekretaris tentunya tanpa sepengetahuan Aditya apalagi si asistennya itu bisa gagal urusan kalo sampai Johan tahu, ini saya berkas Eva sempat ia tahan di tangannya sebelum mengatakan pada Aditya.
namun Rianti juga tak tahu kalo papah Dani malah meminta Eva untuk menjadi sekretaris kakaknya, sebab Saat itu Dani hanya mengatakan pada Rianti untuk tak usah khawatir sebab ia sudah ada orang yang bisa di percaya untuk menjadi sekretaris sekaligus pengawas bagi seorang Aditya.
makanya saat Aditya menelepon dan mengatakan bahwa Eva melamar pekerjaan di perusahaannya Rianti sedikit terkejut karena ia memang tak menduga bahwa orang yang di maksud oleh mertuanya adalah Eva, setelah mendengar nama Eva di dalam hatinya Rianti berseru senang karena sudah pasti Eva akan bisa diandalkan untuk mengawasi Aditya yang masih sangat suka dengan wanita bening meski telah memiliki dua orang anak
bukan berlebihan tapi Rianti hanya berusaha untuk menjaga ayah dari anak-anaknya.
Aditya sudah terlihat memasuki gedung kantor tentu saja dengan sang asisten setia nya ,Johan .
melihat kakak yang akan menjadi atasannya itu datang lalu dengan segera Eva berdiri dan bersiap.
Aditya pun langsung meminta Eva untuk mengikutinya, tidak perlu melakukan wawancara yang berbelit karena percuma bertanya panjang lebar kalau akhirnya ia akan tetap mempekerjakan Eva sesuai dengan apa yang di mau oleh sang istri
wawancara hanya sebagai formalitas saja
"bukannya kamu udah kerja Va? " tanya Aditya kemudian ketika mereka sudah ada di dalam ruangan nya
Johan berdiri di samping Aditya dengan sigap seperti biasa yang ia lakukan jika ada tamu yang tengah datang menemui bos nya
"sudah kak, tapi aku keluar" Eva menjawab pelan dengan wajah berhias senyum
"kenapa keluar? " bertanya penasaran kenapa adiknya keluar dari pekerjaan padahal setahu ia waktu itu Eva menjabat posisi yang cukup lumayan di tempat nya bekerja dulu, kenapa sekarang malah harus bekerja sebagai sekretarisnya
"ya nggak cocok aja , lagian Eva mau cari suasana baru" ucap Eva dengan kata tak cocok sebagai alasan ia keluar dari pekerjaan lamanya
tatapan Johan melihat lurus ke depan seperti sedang menguliti orang, otak seorang Johan ternyata jauh lebih pintar dari pada otak bos nya
karena baru melihat serta mendengar jawaban dari Eva saja ia sudah mulai menaruh curiga, namun ia diam kan saja bertekad untuk tidak mau memberitahukan pada bos nya itu.
Eva yang sadar tengah di tatap Johan sedari tadi , hanya mengulas senyum penuh arti untuk asisten kakaknya itu
"yasudah kamu mulai kerja hari ini, sudah tahu kan apa yang harus kamu kerjakan?! " bertanya memastikan Eva mengerti apa yang menjadi tugas sekretaris dan harus ia kerjakan
Eva mengangguk cepat "iya "
"kalo ada yang nggak tahu kamu tinggal tanya Johan, jangan tanya saya, karena saya pasti sibuk" ujar Aditya tegas
Johan memutar bola mata mendengar pernyataan Aditya, bukan sibuk lebih tepatnya Aditya sangat enggan mengajari adiknya itu
Johan membukakan pintu untuk Eva dan menunjukkan meja kerja yang dulu di tempati oleh Tania dimana Eva harus bekerja sekarang ini .
*****
Roman sudah merasa begitu tenang dan damainya setelah kemarin sore Selfi akhirnya tinggal di kost'an milik temannya
"huek huek " dari dalam kamar mandi terdengar suara Tania yang membuyarkan lamunan paginya
untuk sejenak Roman hanya menoleh namun ketika suara istrinya makin kencang ia lantas ambil langkah seribu menuju kamar mandi
__ADS_1
"pusing nggak? " tangannya membantu memijit tengkuk Tania yang sedang tertunduk di depan wastafel
"nggak cuma mual aja, tapi aku nggak tahan banget tiap pagi gini terus " mulai mengeluhkan kegiatan rutin yang ia alami setiap paginya
"nanti juga hilang kok, sabar ya " berkata dengan lembut memberi pengertian sang istri bahwa yang di rasakan nya saat ini nantinya juga akan hilang dengan sendiri nya
Tania membasuh bibir dan mukanya dengan air keran yang mengalir
"yaudah sana keluar, aku mau mandi" Tania meminta sang suami keluar dari kamar mandi
"hah, kamu belum mandi? " Roman berkata dengan wajah terkejut
"iya, emang kenapa? "sudah menatap Roman dengan tajam karena tidak ingin mendengar sang suami mengatainya karena belum mandi
" kok cantik" Roman berkata gombal seraya tertawa lebar ketika tangan sang istri melayang ke pinggang dan mencubitnya
Tania mendorong suaminya keluar dari kamar mandi "aku mau mandi" mengulang perkataannya yang tadi
Roman berjalan keluar dengan tubuh yang di dorong pasrah
" A " Tania melongok dari balik pintu yang akan di tutup
"hhmm" langkah kaki Roman terhenti mendengar suara sang istri "kenapa? "
"temenin aku ke mall yah nanti" tukas Tania dengan ekspresi imut agar suaminya tak mampu menolak permintaannya
"iyaaaaaaaaa" Roman menjawab dengan sangat panjang permintaan sang istri, padahal sebenarnya ia begitu malas keluar rumah hari ini, hari pertama rumahnya terasa amat tentram karena tak ada lagi suara musik yang terdengar membuat telinga berdengung saking kencangnya, atau suara teriakkan si adik ipar yang membuatnya jengkel bukan kepalang
sebetulnya hari ini ia hanya ingin di rumah berdua saja dengan sang istri sebab ART yang ia pesan dari yayasan belum juga datang meski ia sudah berulang kali menghubungi si pengelola yayasan
tapi tak apa baginya itu suatu keuntungan tersendiri sebab ia bisa melewati hari hanya berdua dengan Tania, tapi pagi ini impiannya harus buyar karena ajakan sang istri yang ingin di antar ke mall entah mau apa ia menurut saja daripada memancing kemarahan pada wanita yang sedang hamil muda itu.
Tak lama Tania keluar dari kamar mandi dengan rambut yang di tutupi dengan handuk
Roman bergerak dengan malas tapi menuruti apa yang di katakan sang istri, ia berlalu masuk kamar mandi .
Setelah berpakaian Tania keluar kamar menuju dapur , rupanya ia memaksakan diri untuk memasak meski suaminya sudah melarang untuk tak melakukan nya, sebab Roman tahu istrinya kerap kali mual saat mencium bau-bauan yang menyengat, hal wajar yang dialami wanita hamil
saat mengiris sayuran Tania masih bersikap wajar dan biasa saja tak merasakan apapun, namun tiba saat ia mengupas bawang perutnya mulai terasa mual bahkan membuat ia tak tahan dan beralih ke wastafel guna memuntahkan isi perutnya tapi ternyata yang hanyalah air saja tidak ada lagi selain itu tapi rasa mualnya sungguh tak dapat di tahan..
"nah kan"gumam Roman yang baru keluar kamar setelah selesai mandi segera bergerak menuju dapur begitu mendengar suara sang istri
" kan udah berapa kali aku bilang, nggak usah masak dulu" omel Roman seraya mendekati istrinya lalu mengambilkan segelas air putih dan meminta Tania untuk meminumnya
Tania hanya diam mendengar omelan dari mulut Roman lalu melirik sekilas melihat sang suami
yang tengah menyodorkan air
Tania mengambil gelas dari tangan Roman lalu meneguknya tanpa mau melihat ke arah mata tajam Roman yang terus saja melihatnya
ia meminum air hingga habis tak bersisa lalu meletakkan gelas
"terusin masaknya" ucap Roman meminta sang istri untuk melanjutkan kembali kegiatan yang membuatnya mual tadi
Tania menggeleng karena ia tahu maksud perkataan sang suami barusan hanya kebalikan dari keinginannya yang tak pernah membiarkan sang istri untuk masak ketika masih merasakan mual
"yaudah kamu duduk sana " perintah Roman pada Tania dan dia yang mengambil alih untuk melanjutkan pekerjaan Tania
istrinya menuruti perkataan Roman, Tania gegas menuju meja makan yang tak jauh dari dapur
sambil tangannya tetap menutupi mulut serta hidung
"masuk kamar kalo masih ngerasa mual" tukas Roman kemudian fokus dengan bahan masakan yang ada di meja dapur
__ADS_1
Tania tak mendengarkan sang suami ia tetap duduk di kursi meja makan memperhatikan apa yang tengah di lakukan Roman sekarang
Melihat istrinya tak juga pergi akhirnya Roman menarik napas lalu segera mengeksekusi sayuran di atas meja, terserah mau ia buat apa asalkan masih bisa untuk di masukkan kedalam perut pikir Roman yang entah sekarang tengah memasak apa yang jelas sayuran dan udang yang tadi sudah dibersihkan oleh Tania ia gabungkan menjadi satu
sungguh koki amatir sang penemu menu baru batin Roman menyombongkan diri padahal ia tidak tahu rasa makanan yang di masaknya seperti apa sebab ia tidak mencicipinya lebih dulu
saat masakannya sudah matang ia langsung tuang keatas piring saji dan meletakkannya di atas meja
Tania menautkan alisnya melihat hasil karya sang suami melihat tampilannya saja sudah membuat tania ragu untuk memakannya namun melihat Roman yang begitu semangat menyendokan nasi kedalam piring Tania memutuskan untuk mencicipinya lebih dulu
"makan yang banyak" kata Roman seraya mengambil sayur berisi udang yang tadi ia masak
sebenarnya tadi Tania berniat membuat sambal udang den menumis kangkung tapi oleh sang suami kedua bahan masakan itu di gabungkan jadi satu meski memang ada yang memasak udang dengan kangkung , tapi entah kenapa ia meragukan masakan suaminya sendiri
Tania melipat kedua bibirnya memperhatikan Roman yang sibuk dengan piring yang terlihat sangat penuh dengan nasi dan lauk
mereka duduk berdampingan di meja makan
"itu kebanyakan " Tania mulai protes karena Roman yang tak kira-kira memenuhi piringnya
"dikit kok ini" kilah Roman enteng
lalu menyuapkan sesendok nasi dengan udang ke depan mulut Tania
Tania membuka mulut dengan ragu mau tak mau ia harus makan apa yang sudah susah payah di buat oleh sang suami
suapan pertama yang masuk di mulut Tania terasa begitu aneh namun entah kenapa Tania malah merasa ingin lagi dan lagi bahkan raut wajah yang tadi tampak meragukan sang suami malah berubah berbinar senang seperti baru saja mendapat kejutan spesial
"enak? " Roman bertanya ragu karena ia yang memasak belum mencoba masakannya sendiri
dengan cepat Tania mengangguk menjawab pertanyaan Roman bahkan kini mulutnya sudah kembali dibuka meminta Roman kembali menyuapinya
Roman kembali menyodorkan sendok dengan ekspresi aneh, curiga dengan perkataan sang istri
"cobain aja" ucap Tania ketika melihat Roman seperti tak percaya dengan kata-katanya
Ayah dari bayi yang tengah di kandungnya itupun melakukan apa yang di minta sang istri
ia mengambil sendok berisi lauk lalu menyuapkan ke mulut nya sendiri , begitu masuk lidahnya langsung disuguhi sebuah rasa aneh yang begitu sulit di gambarkan
bahkan Roman sampai tersedak merasakan hasil masakannya, ..
"enak kan? " tanya Tania dengan mulut penuh nya
Roman tak mengangguk ataupun menggeleng, ia hanya berusaha untuk menutup mulutnya
"kunyah dong" ucap Tania ketika melihat suaminya hanya diam saja merasakan keanehan di dalam mulut
Roman mengunyah ragu seraya berpikir apakah istrinya tengah mengerjainya sekarang ini, tapi jika memang mengerjai kenapa Sang istri makan begitu lahapnya bahkan sampai menambahkan kembali lauk yang habis di atas piring nya
"serius enak" tanya Roman ketika menelan paksa makanan di mulutnya
Tania mengangguk pasti lalu mengangkat kedua jempolnya
Roman terbengong melihat Tania kini sudah menghabiskan semua lauk yang rasanya aneh tadi
"besok masakin lagi ya" pinta Tania sambil bangkit dari kursi setelah meminum air
Roman menatap kepergian sang istri yang masuk ke ruang tamu meninggalkan dirinya sendiri yang kini sedang mencolek sisa sayur dengan tangannya lalu kembali mencicipi mencari dimana letak enaknya makanan yang ia buat
tapi bukan enak yang ia dapat malah rasa aneh yang kembali menyergap masuk memenuhi dinding mulutnya
"makanan begini di bilang enak, dasar orang hamil" gumam Roman meminum air lalu berkumur mencoba menghilangkan rasa yang mengganggu mulutnya dan berkumur di atas wastafel..
__ADS_1
*****