
Selfi terus berjalan mengikuti langkah kakinya yang tak tahu akan menuju kemana, sebab yang ia rasakan sekarang ini adalah kekecewaan yang teramat mendalam hingga menusuk relung hati paling dalam.
Ia tak tahu harus berbuat apalagi sekarang ini, menyesal?
tentunya saat ini ia amat menyesal kenapa ia begitu mudahnya termakan oleh bujuk rayuan lelaki bernama Imran hingga membuatnya dengan begitu sukarela menyerahkan kehormatannya sebagai seorang wanita.
Kehormatan yang seharusnya ia jaga dan ia berikan hanya kepada lelaki yang menikahi nya kelak.
Jika sudah begini hanyalah penyesalan yang tersisa yang harus ia tanggung seorang diri.
"Aku nggak mungkin hamil tanpa seorang suami." membatin sendiri seraya mencoba untuk berpikir langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.
Wanita itu kembali melangkahkan kakinya tak tentu arah, bahkan kini ia terlihat melamun memikirkan cara agar bisa menyelesaikan masalah rumit yang kini ia derita.
"Aaahhh." Selfi berterima histeris ketika melihat cahaya lampu mobil yang berjalan kearahnya.
Ia tersentak kaget seraya menutupi wajahnya karena takut mobil akan menghantam tubuhnya yang kini diisi oleh janin milik Imran.
Sekian detik menutup mata, namun Selfi tak merasakan apapun ditubuhnya, seperti layaknya orang yang ditabrak mobil.
Wanita itu hanya merasakan hembusan angin yang cukup kencang menerpa seluruh bagian tubuhnya hingga pakaian serta rambutnya bergoyang terhempas.
Memang mobil berhasil berhenti karena snag sopir menginjak rem tepat waktu, jika tidak mungkin saat ini Selfi sudah tergeletak ditengah jalan dengan kondisi mengenaskan karena kamu mobil yang tadi cukup kencang.
Meski tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya, namun Selfi yang merasa kaget, sekejap kakinya lemas hingga tak mampu menopang tubuhnya dengan benar sampai membuat ia jatuh duduk keatas aspal.
Sang pengendara mobil tergesa turun dan berlari menghampiri Selfi.
"Hei, kamu nggak apa-apa kan?" tanya lelaki bernama Rama, Ya Rama lelaki yang pernah begitu menyukai Rianti dan hingga saat ini pun belum menikah sedangkan wanita yang dulu ia sukai sudah hidup bahagia dengan suaminya dan memiliki dua orang anak.
Bukannya menjawab pertanyaan dari lelaki yang kini menopang tubuhnya itu, Selfi malah pingsan tak sadarkan diri, membuat Rama jadi panik dibuatnya.
Karena tidak tahu siapa gerangan wanita yang tadi hampir saja tertabrak olehnya itu dan harus mengantarnya kemana, Rama pun akhirnya memilih untuk membawa Selfi ke rumah sakit saja, takut wanita itu ternyata mengalami luka, sekalipun rasanya itu tidak mungkin karena mobilnya memang tidak menyentuh Selfi sedikitpun.
Rama memasukkan Selfi ke kursi penumpang dan memasang kan sabuk pengaman padanya, dan untuk selanjutnya ia sendiri masuk mobil langsung menyalakan mobil dan mengarahkannya menuju rumah sakit terdekat agar wanita disampingnya bisa segera ditangani.
__ADS_1
Benar saja tanpa memakan waktu lama Rama sudah berada di rumah sakit dan kini tengah menunggu dokter yang sedang memeriksa Selfi.
Saat dokter keluar dari ruang UGD Rama langsung menghampiri nya sama seperti apa yang dilakukan sang dokter, karena dokter itu juga tengah mengarah padanya terlibat dari tatapan mata yang terus melihat Rama.
"Bagaimana dok?" tanya Rama.
"Istri bapak tidak apa-apa,dia hanya shock." sahut dokter dengan nada bijak seperti tengah berusaha untuk membuat lelaki didepannya tidak khawatir.
Rama terlihat bingung karena dokter menyangka wanita yang tadi ia bawa adalah istrinya padahal mereka tidak saling mengenal sebelumnya dan mereka dipertemukan oleh sebuah kejadian yang cukup mengagetkan dirinya sekaligus menakutkan.
Yah bagaimana tidak kaget dan takut, seandainya saja ia tidak menginjak rem dengan cepat bisa dipastikan malam ini ia akan menabrak seorang wanita dan untuk selanjutnya tentu ia akan berurusan dengan polisi karena insiden itu.
Hal yang tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
Bukankah itu akan menjadi sebuah sambutan menakutkan baginya yang baru saja pulang tiba di jakarta setelah hampir satu bulan berada di Singapura untuk urusan pekerjaan.
"Syukurlah." sahut Rama tanpa memikirkan panggilan dokter terhadapnya barusan.
Dokter lelaki bernama Waluyo itu mengangguk seraya memberikan senyum yang begitu sumringah untuk Rama.
"Ada apa dok?" tanya Rama dengan raut penasaran.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat pada bapak." dokter mengulurkan tangannya memberi selamat pada Rama.
Meski bingung dengan maksud sang dokter mengucapkan selamat padanya Rama tetap menerima uluran tangan dokter Waluyo yang langsung menjabat nya erat diiringi dengan senyuman yang memamerkan deretan gigi putih nan rapi.
"Selamat istri bapak saat ini sedang hamil satu bulan." kata sang dokter dengan ekspresi tak berubah sejak tadi, tetap memamerkan senyuman indahnya.
Sedang Rama yang tak tahu apa-apa juga tak mengenal siapa wanita yang ia bawa itu tampak begitu terkejut hingga membuat ia hanya diam mematung.
"Pak." dokter menegur Rama yang diam saja dengan raut wajah seolah tidak percaya apa yang baru saja ia katakan.
Rama mengedip-ngedipkan matanya berulang kali mencoba untuk kembali sadar dari keterkejutannya.
"I iya dok." Rama tergagap sebab ia bukanlah suami dari wanita yang ia bawa itu, tapi dokter malah salah sangka padanya dan mengira ia seorang suami.
__ADS_1
Setelah selesai berbicara, sang dokter langsung pergi dan menyarankan untuk Rama segera mengurus masalah administrasi dan meminta untuk Selfi dirawat dulu di rumah sakit sampai pulih.
Setelah Selfi dipindahkan ke ruang rawat inap Rama pun masuk kedalam dan berdiri di samping wanita yang sudah menjadikan nya seorang suami dihadapan dokter.
Rama memperhatikan wajah Selfi yang masih juga belum sadarkan diri, mungkin efek obat atau kelelahan karena berjalan kaki cukup lama, entahlah Rama tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada wanita didepannya ini.
Rama menatap Selfi dengan dalam lalu matanya terpejam mengingat kejadian serupa yang beberapa tahun lalu juga pernah ia alami.
Ya kejadian dimana Rianti pingsan dan ia bawa ke rumah sakit dan dimana sang dokter juga mengira bahwa ia adalah suami Rianti, bahkan ekspresi yang ditunjukkan dokter saat itu sama persis dengan ekspresi yang diberikan dokter barusan ketika memberitahukan wanita yang ia bawa hamil.
Sungguh semua kejadian dulu seolah terulang kembali malam ini, kejadian dimana membuat hatinya hancur karena mengetahui wanita yang ia cintai tengah hamil dengan lelaki lain.
Saat itu ia kecewa bahkan tidak rela menerima kenyataan sekalipun ia sangat sadar bahwa Rianti sudah memiliki suami dan wajar jika Rianti hamil dengan suaminya, tetapi kecewa tetaplah kecewa yang sampai saat ini perlahan ia coba lupakan.
Tapi nyatanya takdir membuat kejadian yang hampir ia lupakan kembali muncul dengan hadirnya Selfi, wanita yang tidak ia kenal dan tengah hamil.
Rama menarik napas dan membuangnya dengan kasar, mencoba untuk membuang semua ingatan tentang Rianti yang ia tahu saat ini sudah teramat bahagia menjadi istri dari seorang Aditya Erlangga.
Rasanya tak mungkin lagi dia mengharapkan wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak itu.
Rama duduk di sofa dan mulai berpikir bagaimana caranya untuk menghubungi suami dari wanita yang berada di ranjang rumah sakit itu.
"Suaminya pasti lagi nyariin." gumam Rama mencoba menerka-nerka, mengetahui wanita yang tadi hampir tertabrak olehnya sedang hamil, Rama menduga Selfi mempunyai suami.
Rama tidak tahu dan tidak sadar bahwa wanita yang ia bawa ke rumah sakit itu adalah adik dari temannya kerjanya dulu, yaitu Tania dan belum menikah.
Rama bangkit dari sofa dan berjalan keluar dari rumah sakit menuju mobilnya lalu membuka pintu penumpang.
Rama merasa tadi melihat Selfi membawa tas di bahunya jadi ia mencoba untuk mencari tahu siapa Selfi dan mencari ponselnya agar bisa menghubungi suami atau kerabat dari Selfi.
Rama mengernyitkan kening saat tidak mendapatkan apapun didalam tas milik Selfi, tak ada ponsel ataupun tanda pengenal lainnya,yang ada didalam tas hanyalah dompet dengan selembar uang kertas berwarna biru.
Rama mengurut keningnya merasa pusing, jika sudah begini ia hanya bisa menunggu sampai Selfi sadar untuk kemudian akan ia tanyakan dimana tempat tinggalnya agar ia bisa mengantarnya pulang.
**************
__ADS_1