
Motor Darren sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolah istrinya banyak sekali siswa maupun siswi yang baru saja berdatangan dan mulai memasuki gedung sekolahan.
"Ciee Rona libur sekolah di jadiin kesempatan buat nyari gebetan rupanya." terdengar ledekan dari teman-teman perempuan Rona yang penampilannya aduhai sungguh membuat Darren menggelengkan kepala.
Dan godaan-godaan lainnya pun mulai meluncur disertai dengan tatapan centil dari teman sekelasnya yang dengan sengaja mendekati Rona dan Darren yang masih belum beranjak.
"Apaan sih lu!" omel Rona tak senang ada temannya yang terkenal lenjeh di kelasnya itu malah dengan tak sopan nya mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Darren yang hanya terlihat setengahnya saja, hanya bagian mata karena helm fullface yang selalu setia menemaninya kemanapun pria itu pergi.
Tingkah konyol perempuan yang pakaiannya yang tak beda jauh dengan pakaian yang Rona pakai sebelum dia eksekusi tadi, itupun sontak membuat Darren menjengkit kaget.
"Yee, belagu banget lu!" kesal perempuan itu ketika tak hanya mulut Rona yang bergerak namun juga tangan Rona yang ikut mendorong tubuhnya agar menjauh dari sang suami.
"Nah lu gila, ngapain ngeliatin suami gue katak gitu." mulut Rona yang berkata tanpa rem itu justru membuat perempuan pemilik nama Berliana itu pun mencebikkan bibirnya.
"Baru pacaran aja udah ngaku-ngaku suami, dasar bocah pikirin dulu tuh sekolah bakalan lulus apa nggak!" cerocos Berliana sengit.
"Dih, elu tuh bocah menor, umur 18 tahun tapi muka macem tembok yang di cat berkali-kali." balas Rona dengan Darren di sampingnya yang mengurut pangkal hidungnya, pusing pagi-pagi sudah di suguhkan celotehan anak remaja berpakaian putih abu-abu.
"Aku berangkat Na, pusing dengerin suara cempreng." tukas Darren lalu pergi begitu saja meninggalkan Rona yang padahal sudah memasang wajahnya berharap Darren akan mencium kening atau puncak kepalanya, namun kenyataannya pria itu malah dengan kurang ajarnya langsung ngebut begitu saja bahkan tanpa menoleh juga menunggu ia menjawab.
"Dih, parah banget." gerutu Rona yang malah di tertawakan oleh Berliana.
Rona mendengus lalu menunjuk tak jelas pada Berliana ketika melewati perempuan itu.
"Sukurin di cuekin." ejek Berliana senang.
"Bodo, yang penting gue punya suami ganteng." sahut Rona yang makin membuat Berliana tertawa kencang.
"Ngayal aja lu situ yang tinggi, nanti jatuh gue ketawain paling kenceng." suara Berliana mengudara di telinga Rona.
__ADS_1
"Alah ngapain pake nungguin gue jatuh, dari tadi juga elu udah ngakak, dasar bluun." ketus Rona yang berjalan cepat menjauhi si perempuan muda namun tampilannya bagaikan Tante-tante mau arisan.
"Hahahaha." terdengar suara dari para siswa yang mentertawakan Berliana, perempuan berseragam itu berteriak kencang. "Diem lu semua!" seraya menghentakkan kaki.
"Dasar Rona sialan, dari dulu emang nyebelin." maki Berliana mengingat sejak awal bertemu di kelas satu memang mereka tidak pernah akur, apalagi jika bukan karena Berliana yang mengakui kecantikan wajah Rona, meskipun ia merasa tetap dirinyalah yang paling cantik di sekolah itu.
"Ronaaaa." satu teriakan membuat Rona tak meneruskan langkahnya, jelas suara pria yang tadi pagi mendatangi rumahnya tanpa tanpa tau bahwa Rona sudah tinggal bersama suaminya.
"Apa sih Tyo, pagi-pagi udah teriakan kayak Tarzan kurang makan." kata Rona sengit karena akibat perbuatan temannya itu hampir seluruh siswa yang ada di sekitar mereka menoleh kompak padanya.
"Gue ke rumah lu, tapi lu nggak ada. ngeselin banget lu Na!" omel Tyo meskipun jarak mereka belum begitu dekat, bagi Tyo untuk mengomel tidak perlu menunggu sampai berhadapan dengan sasaran omelan nya, yang penting orang itu memiliki pendengaran cukup baik itu sudah cukup.
"Cowok mana lagi yang deketin elu sekarang Na?!" Tyo yang sejak tadi pikirannya sangat terganggu dengan pria yang bernama Rendi itupun dengan segera mencecar Rona.
Jika kalian merasa Tyo menaruh hati pada Rona, itu memang benar, sudah lama bahkan saat mereka duduk di kelas satu SMA, selalu disatukan dalam kelas yang sama membuat Tyo makin hari makin menyematkan nama Rona dalam hatinya. namun karena dia tidak mau pertemanannya dengan Rona jadi hancur hanya karena perasaan yang dia miliki, hingga akhirnya Tyo memilih diam saja tak mau mengatakan itu kepada Rona, namun ketika dia kerap kali melihat Rona dengan pria lain membuat dua mulai kelabakan sendiri, bahkan dengan tak jelasnya malah selalu memancing emosi pria yang sedang dekat dengan Rona, dalam hal ini Darren. tapi sepertinya pekerjaan Tyo untuk memancing emosi pria lain akan bertambah dengan hadirnya seorang Rendi.
Rona mengerutkan kening tak mengerti. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Tadi di rumah lu ada cowok, bukan Om-om yang biasa jalan sama elu." terang pria yang tidak bisa di bilang jelek itu.
Tyo bisa di bilang cukup tampan, meski sikap dan kelakuannya agak nyeleneh namun tetap saja dia menjadi kejaran banyak perempuan di sekolah itu yang setiap kali akan dengan senang hati menyatakan perasaannya pada Tyo meski akhirnya harus mendapatkan penolakan.
Rona mengacungkan kepalan tangannya. "Sekali lagi manggil Om-om sama Kak Darren, gue tampil lu!" ancam Rona kesal.
"Ya elah sewot amat." celetuk Tyo seraya mundur selangkah karena kini mereka sudah berhadapan.
"Rok lu belum selesai di permak?" kini perhatian Tyo beralih pada tepian rok temannya yang terlihat begitu aneh, bekas jahitan serta benang yang masih menempel dan lipatan sungguh membuat penampilan Rona bagaikan anak yang tak di urus oleh orang tuanya.
"Iya, tukang permak magang." cetus Rona lalu beranjak pergi menuju kantin, tentunya ia berniat untuk mengisi perut sebab tadi memang tak sempat untuk sarapan, tidak lupa Rona juga mengirim pesan pada suaminya untuk tidak lupa sarapan sebelum bekerja, karena tadi ia bangun kesiangan.
Para siswa mulai bersorak kegirangan kala mengetahui bahwa mereka lulus, namun ada seorang siswi yang terpaksa harus mengulang.
"Makanya kalau sekolah itu buku pelajaran yang di buka, bukannya alat make up." cibir Rona ketika melewati Berliana, dialah siswi yang tak lulus itu, nyatanya tudingan Rona bahwa Berliana itu bodoh memang benar adanya.
Dan sekarang di saat semua siswa kelas tiga merayakan kelulusan, Berliana hanya menangis tak jelas di kelas sambil menunggu orang tuanya datang, tentu saja untuk protes kenapa anak mereka sampai tidak lulus, apalagi hanya Berliana sajalah yang tidak lulus, sungguh sangat memalukan dna mencoreng nama keluarganya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*