
"Mas kamu darimana?" kepulangan Aditya malah disambut oleh pertanyaan yang meluncur dari bibir istrinya yang memang sudah menunggunya sejak semalam bahkan sampai ia ketiduran dan ketika bangun ia tak juga melihat wajah sang suami yang artinya tadi malam suaminya itu tidak pulang.
"Temenin Roman di rumah sakit yank." jawab Aditya seraya mencoba masuk kedalam rumah namun Rianti malah menghalangi.
"Ih aku mau mandi ini, mesti kerja." sengaja berkata tentang kerja agar bisa terhindar dari berbagai pertanyaan yang pastinya masih akan terus ditanyakan oleh Rianti.
"Ngapain pake kerja,udah telat juga." ucap Rianti karena memang jarum jam sudah menunjuk ke angka 9 lewat 45 menit.
"Lebih baik telat dari pada tidak sama sekali,bukan begitu?"
"Bukan." kali ini tidak menyetujui pada peribahasa yang dituturkan sang suami.
"Nggak usah banyak berdalih deh mas." wajahnya sudah mulai terlihat tidak enak,yah tentunya sejak semalam raut wajahnya memang berubah masam ketika sang suami tidak kunjung pulang setelah meminta ijin keluar untuk bertemu dengan Roman.
"Lagian kenapa sih mas tuh kalau alasan apapun selalu bawa-bawa Roman." jengkel karena di setiap apapun yang dilakukan Aditya selalu saja melibatkan seorang Roman.
"Ya emang cuma dia temen aku yang paling nyusahin,ada aja masalahnya." berkata seperti itu seperti tidak sadar dengan dirinya sendiri yang kerap kali menyusahkan Roman.
"Kamu nggak percaya banget sama suami sendiri,telepon Roman aja deh sana,tanya sendiri sama dia." mengeluhkan sikap istrinya yang memang tidak percaya pada pengakuannya.
"Bosen." cetus Rianti yang memang kenyataannya dirinya sudah jenuh harus selalu menghubungi Roman jika suaminya mendadak pergi bahkan sampai tidak pulang.
Yah mungkin memang kenyataannya sang suami seperti ini,karena biar bagaimanapun dirinya tidak bisa melarang pergaulan Aditya dengan Roman,apalagi ia tahu betul bagaimana dekatnya sang suami dengan temannya itu sejak dulu jauh sebelum Aditya mengenal dirinya bahkan menikah dengannya.
"Ini aku kerja apa nggak usah?" tanyanya pada sang istri yang terus menghalau jalannya.
Tatapan mata istrinya seperti tidak puas dengan segala jawaban yang terlontar dari bibir sang suami.
"Masih cemberut aja sih." ucapnya begitu melihat wajah istrinya sekarang.
" Kamu tuh nyebelin tahu nggak mas." sungut Rianti.
"Lebih nyebelin Roman yank." malah membawa-bawa Roman kembali seraya masuk kedalam rumah langsung berlari menuju kamarnya untuk mandi.
Aditya terlihat melakukan itu agar tidak keburu bertemu dengan anak gadisnya yang tentu saja juga akan memberikan respon yang sama dengan ibunya.
"Bahaya kalau ketemu Riana." membatin seraya menutup pintu kamar dengan rapat lalu menuju kamar mandi.
Aditya menyelesaikan mandinya dengan cepat lalu berjalan menuju lemari hanya dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.
Baru saja membuka lemari dan tangannya pun belum menyentuh pakaian,telinga Aditya sudah terganggu dengan berisiknya suara ponsel dari saku celana tadi ia pakai.
Aditya terlihat begitu enggan untuk menjawab telepon saat melihat nama siapa yang terpampang dilayar ponselnya.
Ia mencoba untuk mengabaikan nya namun suara ponselnya tak juga mau berhenti malah makin berbunyi berulang kali membangkitkan emosinya.
"Sekarang apa lagi Man?!" langsung melabrak Roman padahal temannya itu belum membuka mulutnya.
"Lu harus ikut gua sekarang." ucap Roman tanpa perlu melontarkan basa-basi nya.
"Kemana lagi?gua baru pulang Man,baru selesai mandi pakai baju juga belum." membentak kesal pada kelakuan Roman.
"Rianti juga lagi marah sekarang,bisa-bisa makin marah dia kalau gua pergi lagi padahal baru pulang."
"Ya udah gua yang ke rumah lu aja biar sekalian ngomong sama Rianti."mencoba memberikan solusi pada Aditya agar Rianti tidak marah dan diijinkan untuk pergi dengannya.
"Haduh Man Man." sepertinya sudah sangat frustasi dengan kemauan temannya itu yang harus dituruti.
"Lagian mau ngapain lagi siih?!" tanya Aditya akhirnya.
__ADS_1
"Temuin Imran." cetus Roman.
"Mau ngapain?"
"Suruh dia tanggung jawablah,itu si Selfi hamil.emangnya lu pikir mau bersenda gurau sama tuh cunguk!" kesal Roman pada Aditya yang masih saja bertanya padahal semalam dia sudah memberitahukan Aditya tentang keadaan Selfi.
"Ya mana gua tahu kalau tuh orang yang ngehamilin adek ipar lu." ucap Aditya yang tidak tahu bahwa Imran lah yang sudah menanam saham pada Selfi.
"Ya udahlah intinya begitu,sekarang gua ke rumah lu,lu mesti ikut sama gua."
"Kalau gua nggak mau gimana? gua masih empet sama tuh orang." ujar Aditya mengingat kelakuan Imran padanya belum lama ini.
"Yaelah kan lumayan Dit,lu bisa nampolin dia lagi kalau waktu itu lu masih belum puas." malah mengompori temannya.
"Ah terserah lah."
"Ya udah gua jemput sekarang."
"Udah kayak cewek aja gua pake dijemput segala." gerutu Aditya.
"Daripada lu tidur diluar entar malem." ucapan Roman ada benarnya juga,lebih baik mencari aman dengan Roman yang menjemput nya daripada pergi sendiri diiringi dengan kecurigaan sang istri yang akan terus mengusik kedamaian pikirannya.
Aditya gegas mengambil pakaian dan memakainya dengan cepat lalu turun kebawah berniat untuk mengisi perutnya lebih dulu sambil menunggu kedatangan Roman.
"Ayah semalam kemana? Ana tungguin kok nggak pulang-pulang." Aditya berdiri kaku saat berpapasan dengan Riana diruang keluarga.
"Ada urusan sama om Roman." memamerkan senyum polosnya agar sang anak tidak marah.
"Riana udah buka oleh-oleh yang dibawa sama om Johan dari Jerman belum?" mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Udah." menjawab singkat.
Riana malah menggelengkan kepala membuat Aditya menautkan alisnya.
"Ana nggak suka." sahut Riana.
"Loh emangnya kenapa?itu kan pesanan Riana sendiri." ucap Aditya yang terlebih dulu sudah memastikan bahwa yang dibawa oleh Johan dari Jerman sudah benar dan sesuai apa yang diminta oleh Riana.
"Sini ayah ikut Ana." ujar Riana menarik tangan ayahnya dan membawanya ke ruang bermainnya didekat kamar tamu lantai bawah.
Aditya pasrah mengikuti sang anak padahal perutnya berulang kali berbunyi meminta untuk segera diisi.
"Ini ayah lihat." menunjukkan sebuah robot-robotan berwarna merah muda.
Aditya menelisik robot yang ditunjukkan sang anak mencoba untuk mencari apa yang salah pada robot itu hingga anaknya menjadi kesal padanya.
"Ayah rasa nggak ada yang salah sama bentuk robot ini,warna nya juga sesuai sama yang kamu minta." tukas Aditya seraya melirik Rianti yang hanya mengintip saja didepan pintu lalu pergi lagi karena tidak mau ikut campur dengan urusan antara ayah dan anak itu.
"Tapi kan Ana bukan pesen robot ayah." kata Riana gemas pada ayahnya.
"Loh emang kamu pesan apa?"
"Aku pesen boneka pakai baju pink ayah,bukan robot warna pink." sahut Riana dengan wajah cemberutnya.
"Hah?" membulatkan mulutnya mendengar penuturan sang anak.
"Anak kamu itu minta dibawain boneka mas,kenapa malah robot yang sampai." Rianti masuk.
"Bukannya robot?" masih saja mengira robot yang diminta oleh Riana.
__ADS_1
"Ya mikir ajalah mas,masa Riana minta robot mana warna nya pink lagi, Daren juga semalam malah nangis waktu ngeliat ini." mengambil robot dari tangan suaminya.
"Johan yang salah baca atau aku yang salah?" tanya Aditya pada sang istri.
"Entahlah yang jelas kalian berdua itu menag tak jelas." Rianti mengedikkan bajunya.
"Ya udah nanti ayah beliin lagi ya sayang." mendekati Riana untuk membujuk nya.
"Udah nggak mau." sahut Riana cepat menolak penawaran ayahnya.
"Terus maunya apa?"
"Nggak mau apa-apa." ucap Riana seraya menggeleng.
"Ya udah kalau gitu temenin ayah makan yuk,ayah udah lapar banget." ajaknya pada sang anak yang lantas menuntun tangannya menuju ruang makan.
"Kamu mau kemana mas?rapi amat,kan nggak kerja." tanya Rianti ketika menyendokkan makanan kedalam piring Aditya yang menggunakan kemeja serta celana panjang, tidak seperti biasanya yang hanya memakai kaos dan celana pendek jika hanya di rumah saja.
"Hehe." malah cengengesan dengan wajah seolah tanpa dosa padahal istrinya tengah memandangnya penuh curiga.
Melihat suaminya malah cengengesan tak jelas Rianti malah memicingkan mata.
"Jangan bilang kalau kamu mau pergi lagi?" sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
Aditya menggaruk tengkuknya sekilas lalu menyuapkan makanan kedalam mulutnya dan mengunyah dengan cepat dengan tatapan Rianti yang terus memantaunya sedangkan Riana sudah pergi entah kemana setelah mengantar ayahnya ke ruang makan.
Tepat saat Aditya menyelesaikan makannya suara klakson mobil Roman berbunyi diluar rumah.
"Aku ada urusan sama Roman yank."
Rianti menarik napas panjang mendengar pernyataan sang suami begitu Roman tiba.
Dari awal ia memang sudah curiga dengan penampilan suaminya itu yang begitu rapi padahal tidak pergi kekantor.
Roman masuk dan langsung menemui Aditya dan Rianti yang masih berada diruang makan.
Roman pun berbicara pada Rianti sedang Aditya hanya mendengarkan saja apa yang di perbincangkan kedua orang terdekatnya itu.
"Hamil?" Rianti tampak begitu terkejut mendengar pengakuan Roman.
"Iya makanya gua sekarang perlu Aditya buat ngomong sama Imran."sahut Roman.
" Emangnya apa urusannya sama mas Adit?" tanya Rianti yang tidak mengerti kenapa suaminya itu harus terlibat dengan urusan Selfi yang hamil.
"Gua juga bingung jelasinnya,intinya suami lu itu bisa diandalkan untuk sekarang ini." tak lagi bisa menjelaskan lebih jauh karena ia sendiri pun sudah terlihat pusing.
"Nggak apa kan gua pinjem Aditya sebentar?aman kok dia nggak bakal jelalatan."
"Ya gimana mau jelalatan, orang yang ditemuin aja si Imran." gerutu Aditya menanggapi ocehan Roman.
Rianti akhirnya mengangguk membiarkan Aditya pergi bersama Roman.
"Ya udah nggak apa-apa tapi jangan lama-lama,itu anaknya Daren udah lama nggak digendong sama ayahnya soalnya." ujar Rianti memberi peringatan pada Roman juga Aditya.
"Wah parah." Roman melirik Aditya.
"Nggak usah parah-parah segala,kan lu yang ngerusuhin gua mulu." sahut Aditya ketus.
Setelah mendapat ijin dari Rianti,kedua lelaki itu pun segera pergi menuju kosan Imran yang jaraknya lumayan cukup jauh dari rumah Aditya hingga mereka memakan waktu yang lama untuk sampai ditempat Imran.
__ADS_1
*********************