Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 54


__ADS_3

"Tuh kenapa mukanya di tekuk begitu?" tanya Roman pada anaknya ketika melihat raut wajah sang menantu begitu tak sedap di pandang di pagi hari ini, ruangannya yang tadi bau obat dalam sekejap menjadi bau perseteruan yang tak jelas antara anak dan menantunya.


Ya tanpa perlu di jelaskan dengan detail oleh anaknya, seorang Roman sudah cukup pengalaman dengan gejolak pengantin baru yang masih harus menyesuaikan diri satu sama lain.


"Nggak tau, tiba-tiba begitu." sahut Rona acuh, sepertinya ia lupa alasan suaminya itu menjadi ngambek padanya saat ini karena apa.


Roman mendesah panjang seraya mengalihkan pandangannya ke arah Suster yang selalu berdiri tak jauh darinya.


"Bisa mulai sekarang nggak Pah? Darren harus ke kampus soalnya." permintaan Darren yang terdengar bagaikan sebuah perintah itu sontak saja membuat kedua mata mertuanya membelalak lebar, bagusnya tidak sampai meloncat keluar.


Roman benar-benar bagaikan tengah menghadapi Aditya yang kembali berusia muda, jiwa boss serta tak sabaran dari temannya itu sungguh melekat erat pada diri sang anak, membuat Roman memijit pelipisnya takjub pada kenyataan bahwa sampai sekarang dia masih harus menghadapi menantu yang sifat dan kelakuannya lebih-lebih luar biasa di banding Aditya, Aditya sudah sangat menyebalkan baginya namun kenyataannya menantunya itu jauh lebih menyebalkan untuknya.


Roman menatap menantu dengan begitu tajam menyiratkan kekesalannya pada keturunan Aditya yang nyatanya kelakuannya lebih mengesalkan lagi ketimbang temannya itu.


"Ada tugas yang mesti Darren serahkan soalnya Pah." tutur Darren dengan wajah yang memelas takut begitu mendapat sorot mata membunuh dari sang mertua.


"Rasain." bisik Rona senang melihat suaminya yang ciut di hadapan sang Papah.


Kali ini pandangan mata Roman beralih pada sang anak yang tengah meledek suaminya sendiri, istri macam apa yang malah meledek suaminya ketika suaminya tengah mendengus tak terima oleh ucapannya.


Rona yang sadar dalam sekejap langsung membungkam mulutnya sendiri tidak mau kali ini dirinya yang menjadi sasaran sang Papah yang tengah menjadi seorang Dokter untuknya hari ini.


Detik demi detik sudah berlalu ketika Rona dan Darren menjelaskan apa yang mereka inginkan.


Mereka bertiga diam dengan Darren dan Rona yang menunduk akibat tatapan terkejut yang luar biasa dari Dokter Roman Dwi Putra yang terlihat begitu gagah dengan jubah berwarna putihnya.


Tatapan terkejut yang sekaligus kesal karena semalam Darren tidak mengatakan bahwa pasangan suami istri di depannya itu sudah sempat melakukan sore pertama mereka begitu dirinya dan sang besan pulang ke rumah setelah mengantar sepasang suami istri ke apartemen yang mereka tinggali itu.


"Kenapa semalam nggak bilang kalau itu yang kedua!?" seru Roman gemas, jika saja Darren mengatakan bahwa mereka sudah jebol gawang tentu Roman akan memberikan pil saja ketimbang benda yang mirip dengan balon namun licin itu.


"Darren lupa Pah." sahut Darren tegang namun tetap berani menatap sang mertua, sebab Ayahnya mengajarkannya untuk selalu melihat pada orang yang sedang berbicara dengannya apalagi dalam hal ini dia melakukan kesalahan karena lupa mengatakan tentang sore pertamanya dengan Rona yang sudah dia dapatkan sebelum meminta pengaman pada sang Papah.

__ADS_1


Itu kesalahannya jadi dia sebagai lelaki sudah sepatutnya untuk menerima konsekuensi terkena Omelan dari sang mertua.


"Percuma pakai pengaman! kalau yang pertama jadi gimana?!" raut wajah Roman terlihat mengesalkan seperti tengah menakuti dua orang anak muda yang baru menikah itu, tentu saja niatnya memang untuk membuat panik anak-anaknya yang katanya belum siap jika harus mempunya anak untuk sekarang ini.


Rona dan Darren mengangkat kepala bersamaan namun dengan ekspresi yang berbeda, Rona dengan kecemasan yang terlihat jelas sedang Darren yang diam-diam melengkungkan bibirnya.


Tersenyum? iya, Darren malah tersenyum senang dengan ucapan sang mertua, bukankah yang niat menunda anak itu adalah Rona? Darren setengah hati menyetujuinya meskipun kemarin malam dia yang begitu repot untuk mencari pengaman tentunya apalagi jika bukan karena ingin kembali mengulangi kegiatan yang kadung membuatnya selalu mengingat kenikmatan itu.


Seandainya dia tidak menyiapkan pengaman bukankah Rona akan mencari alasan untuk menolak memberikan haknya sebagai suami. itulah yang ada di dalam pikiran Darren kala itu.


Rona beranjak dari duduknya lalu memijit-mijit bahu sang Papah, mulai melancarkan aksinya untuk membujuk Papahnya agar memberikan solusi padanya.


"Rona kan masih belum lulus Pah, Lagian juga Rona mau kuliah biar pintar." suara Rona terdengar halus dan manja di telinga Roman gerakan tangan anaknya itu sungguh membuat Roman keenakan, meski tidak seenak pijatan istrinya namun setidaknya pijatan dari sang anak membuat pegalnya yang sedari tadi mendapatkan pasien sedikit teratasi.


"Tapi kelihatannya anak muda di depan Papah malah ingin punya anak tuh." ungkap Roman seraya menunjuk Darren dengan bibirnya, yang di tunjuk pun langsung mengatupkan bibirnya menghentikan senyuman yang tadi diam-diam dia munculkan.




Darren mengedikkan bahunya berusaha acuh namun wajah Rona malah terlihat ingin menangis, bibirnya sudah tertarik ke bawah bersiap mengeluarkan isakannya.



Suster yang sejak tadi berdiri menatap heran pada drama keluarga yang tengah ia saksikan secara tak sengaja ini, entah berkisah tentang apa karena Dokter yang memang terkenal humoris itu memiliki seorang anak dan menantu yang kelakuannya sama random nya dengan sang Dokter.



"Papah sama Kak Darren jahat Sus." Rona mengadu pada Suster yang jadi gelagapan ketika anak dari Dokternya malah beralih memeluk dirimu nya.


__ADS_1


"Waduh, malah ikut drama keluarga gue." batin sang Suster bingung dan hanya bisa menepuk-nepuk punggung wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.



Roman memutar bola matanya lalu mengangkat Telepon di atas meja dan terlihat berbicara dengan seseorang di seberang sana.



"Kamu nggak apa-apa kalau di tunda dulu?" tanya Roman pada Darren setelah selesai berbicara di telepon.


Darren menatap Rona yang diam-diam memasang telinganya guna mendengar apa yang dia katakan.


"Kalau Rona maunya kayak gitu Darren bisa apa Pah? Nggak mungkin Darren paksa buat nurutin Darren, yang ada malah Darren yang nggak dapat jatah nantinya." jawab Darren dan tentunya jawabannya itu membuat Suster yang mendengar menahan tawa.



Rona gegas meninggalkan sang Suster lalu beralih pada suaminya dan kini bergelayut manja di lengan sang suami. "Kamu memang suami aku." kata Rona senang.



"Ya emang aku suami kamu!" sentak Darren merasa pernyataan Rona sungguh ngaco.


"Hehe." malah terkekeh melihat suaminya kesal.


"Nggak usah ketawa! aku masih kesel sama kamu!" desis Darren tajam.


Rona yang tidak peka pun mengernyitkan keningnya pasalnya ia bingung suaminya kesal karena apa?.


Sedangkan Darren dalam hatinya terus mengomel. "Enak banget bonceng-boncengan sama si bocah tengil." sungut Darren, sepertinya ketidak sukaan nya pada Tyo akan makin bertambah setelah hari ini.


"Sifat sama, kelakuan sama, galaknya sama, nggak jelasnya juga sama, sampai mesumnya juga sama." Roman menggeleng-geleng kepalanya seraya menarik napas panjang mengingat Aditya yang seperti ada di dalam diri Darren.

__ADS_1


****


__ADS_2