Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 75


__ADS_3

Pagi hari Sherin bangun dengan kelopak matanya yang bengkak semua itu terjadi karena menangis semalaman memikirkan tentang Darren yang sudah menikah, lalu membayangkan bagaimana pria yang ia cintai itu malah tidur dengan istrinya membuat Sherin tidak terima, baginya hanya dirinyalah yang berhak atas diri Darren tidak menyadari bahwa ia bukanlah siapa-siapa untuk pria itu.


"Sher," panggil Mamanya yang datang membawa nampan berisi sarapan, wanita itu sangat tahu bagaimana kondisi anaknya saat ini setelah semalaman mencurahkan segala apa yang ia rasakan, bahkan ia turut menemaninya begadang walaupun hanya dapat memeluknya saja guna memberikan support yang bisa sedikit memberikan ketenangan meski akhirnya yang ia lakukan tetaplah sia-sia sebab putrinya tidak juga membendung tangisannya.


Sherin yang sudah duduk dan bersandar di tempat tidur itupun menoleh pada Mamanya yang senantiasa selalu saja sibuk mengurus dirinya dan juga sibuk mengelola bisnis yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya.


Sebenarnya cukup menyenangkan karena ia merasa tidak salah memilih suami, dulu ia memang sengaja menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya dan berharap pria itu akan cepat mati lalu mewariskan semua harta yang pria itu miliki padanya, dan itu menjadi kenyataan suaminya meninggal terkena serangan jantung saat dengan sengaja ia menunjukkan fotonya yang sedang bermesraan dengan seorang pria yang masih muda.


Hari kematian itu bahkan malah membuat Melly sesekali tersenyum meski sembunyi-sembunyi memikirkan semua harta yang jatuh ke tangannya tentu sangat cukup untuk dirinya dan juga sang anak.


"Sarapan dulu, dari semalam kamu belum makan apapun," katanya seraya duduk di tepi tempat tidur samping anaknya.


"Sherin nggak mau makan Mama, Sherin nggak butuh makan yang Sherin mau itu Darren!" seru gadis yang rambutnya tak kalah acak-acakan dengan wajahnya.


"Memangnya setampan apa sih Darren itu sampai bikin kamu kayak gini!" Melly mulai penasaran karena selama ini ia hanya mendengar nama Darren saja dari sang anak tanpa pernah melihat seperti apa wajahnya.


"Yang jelas jauh lebih tampan dari pada Papa!" sengit Sherin karena pertanyaan Mamanya terkesan meragukan pria yang ia sukai.


"Tentu saja berbeda, Papamu kan sudah sangat tua," timpal Melly memutar bola matanya kesal dengan ungkapan jujur dari sang anak.


Memang pada kenyataannya mendiang suaminya sudah tua dan wajahnya pun tidak bisa dikatakan tampan, Melly menikah dengannya saja juga karena terpaksa dan tergiur dengan kekayaan yang pria tua itu punya, jika saja pria itu tidak punya apa-apa sudah jelas Melly tidak akan pernah meliriknya sedikit pun.


"Maka dari itu Mami tidak usah meragukan pria yang Sherin sukai, jelas mata Sherin jauh lebih normal ketimbang mata Mami," celetuk gadis yang memang terkesan sangat kurang ajar pada Papanya dan juga Mamanya sendiri, sepertinya Melly benar-benar sudah salah dalam mengasuh sang anak.

__ADS_1


"Tunjukkan pada Mami bagaimana wajah pria yang kamu sukai," pinta Melly makin penasaran dengan segala ocehan dari mulut anaknya itu.


Sherin pun mengambil handphonenya yang tertindih di bawah bantal lalu membuka galeri foto dan mulai mencari foto Darren yang pernah diam-diam ia ambil, karena jika terang-terangan ia mengambil foto Darren tentunya pria itu tidak akan pernah mau, entah apa penyebabnya namun Darren memang sangat tidak suka berfoto jika tidak ada kepentingan atau suatu momen apapun yang harus di simpan untuk kenang-kenangan.


"Ini, Mama lihat saja sendiri." setelah menemukan foto Darren di dalam galeri handphonenya iapun memberikan benda itu pada sang Mama memintanya untuk melihat sendiri pria yang sejak tadi Mamanya remehkan.


Melly mengambil benda yang di sodorkan oleh sang anak lalu mulai memusatkan kedua matanya pada satu foto yang muncul.


Kening Melly dalam sekejap dipenuhi dengan kerutan kala melihat sebuah wajah yang tampak tidak asing baginya, di bagian wajah pria itu tampak membuat ia tidak asing serasa ia pernah melihatnya sebelum ini.


"Mami seperti pernah mengenal wajah ini," cetus Melly bimbang dengan otak yang mulai bekerja guna mengingat-ingat dimana ia pernah melihatnya.


"Mami saja jarang ada di Jakarta, bagaimana mungkin Mami mengenal Darren!" celetuk Sherin.


Melly mengangguk mendengar pernyataan dari anaknya, memang ia tidak pernah bertemu dengan pria yang membuat anaknya tergila-gila karena selama ini ia tidak pernah mendatangi kampus sang anak karena segala urusan anaknya itu ia serahkan pada bawahannya.


"Kamu berpenampilan menggoda saja dia tidak mau, lalu bagaimana jika dia melihat wajahmu yang seperti ini?!" kata Melly seraya menunjuk foto Darren yang sudut pengambilannya dari arah depan namun lumayan jauh, untuk melihatnya bahkan ia harus memperbesar foto itu dulu.


Sherin mendengus lalu merampas handphone miliknya dari sang Mama dan menggenggamnya erat.


****


Rona yang baru bangun tampak terkejut ketika menyadari ia ada di atas tempat tidur, mengerjap bingung karena semalam ia merasa tidur di sofa ruang tamu karena Darren yang tak juga mau berbicara dengannya bahkan ketika Rona melihat teh yang ia buat untuk suaminya itu masih utuh belum diminum sedikitpun hatinya merasa sangat kecewa dan memilih untuk diam saja di ruang tamu sampai akhirnya ia malah ketiduran.

__ADS_1


Wanita itu terlihat menoleh ke arah kamar mandi mencari suaminya karena ia yakin suaminya itulah yang memindahkannya ke kamar, tidak ada suara air atau apapun dari dalam kamar mandi bahkan pintu kamar mandi pun terbuka yang itu artinya tidak ada orang di dalamnya.


Iapun bergegas turun lalu keluar dari kamar hendak menuju dapur dan ketika melangkahkan kaki telinganya menangkap suara sendok yang beradu dengan piring dan ia sudah bisa menebak ada orang yang sedang makan, siapa lagi jika bukan suaminya.


Rona memperlambat langkahnya hingga ia melihat punggung suaminya yang tengah duduk membelakangi.


"Kenapa Kakak nggak bangunin Rona?" tanya Rona membuat Darren menghentikan tangannya yang akan menyuapkan sendok ke dalam mulut, pria itu hanya mendengar saja tidak berniat untuk menjawab pertanyaan wanita di belakangnya.



"Kak, kenapa Kakak nggak bangunin Rona, kalau cuma buat nasi goreng Rona bisa!" Rona mulai gemas dengan sikap suaminya yang mengabaikan pertanyaan darinya.



Darren tidak juga merespon istrinya malah meletakkan sendok lalu mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya hingga tinggal setengah setelah itu malah mengambil tas kerjanya berniat untuk berangkat bekerja.



"Egois!" seru Rona kala Darren malah melewati dirinya.


Telinga Darren berkedut mendengar kata egois yang dilontarkan oleh wanita yang sejak semalam dia diamkan, tidak dia ajak bicara bahkan apa yang istrinya sediakan untuknya tidak dia sentuh sama sekali.


Darren hanya berhenti sejenak lalu malah melenggang pergi meninggalkan istrinya yang menghentak-hentakkan kakinya di lantai karena diabaikan.

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2