
Setelah kepulangan Rona dari rumahnya, Sherin duduk di dekat jendela kamarnya menatap langit malam dengan angin sejuk yang berhembus menerpa serta menggoyangkan rambutnya, langit malam yang terlihat begitu gelap karena tidak ada bintang dan juga bulan yang menghiasinya, pertanda akan ada hujan yang turun malam ini membasahi tanah serta dedaunan.
"Ini susunya Non." sang Bibi muncul dengan segelas susu putih yang masih panas untuk wanita muda yang mulai sekarang lebih terlihat sabar, tidak mudah emosi apalagi meledak-ledak jika keinginannya tidak terpenuhi.
"Simpan di meja saja Bi," Tukas Sherin dengan kedua matanya yang tetap menatap langit gelap di atas sana.
"Bukankah seperti ini jauh lebih baik," imbuh Sherin membuat wanita yang sangat menyayanginya itu melangkah mendekati dirinya.
Sang Bibi mengelus rambut panjang Sherin yang dibiarkan tergerai di terpa angin malam.
"Benar," sahut wanita yang berdiri di samping Sherin.
Entah kebaikan macam apa yang sempat Sherin lakukan sehingga masih ada orang yang begitu baik terhadapnya setelah semua yang ia lakukan, setelah keangkuhan serta keegoisan yang selalu ia tampilkan saat masih menjadi seorang Nona besar dulu.
Di saat yang lain menjauhinya, pelayan yang sudah mengasuhnya sedari kecil ini malah terus bertahan mendampinginya, menemani dirinya di rumah kecil yang bahkan ia sewa, memberikannya semangat untuk tetap bertahan di tengah keterpurukan.
Sungguh Sherina berterimakasih pada wanita di sampingnya ini, wanita itu seolah menjadi pengganti sang Mama yang berada di penjara karena harus menebus semua kesalahan yang dilakukan.
"Bi," panggil Sherin lalu menatap sang Bibi yang juga menatapnya.
"Sherin ingin meminta maaf pada Ayah dan Ibunya Darren, minta maaf atas kesalahan yang Mama perbuat, waktu di rumah sakit asisten Ayahnya Darren datang menemui Sherin," adu Sherin membuat Bibi menatap tak percaya.
Sherin mengangguk, "pria itu menceritakan semua yang sebenarnya terjadi, Ibunya Darren tidak bersalah, dia tidak melakukan apapun terhadap Mama. bahkan Mama lah yang sudah menjebaknya, agar Mama bisa kembali bersama Ayahnya Darren," jelas Sherin.
"Astaga, bagaimana bisa Mama mu melakukan perbuatan itu!" geram sang Bibi mengetahui betapa jahatnya orang yang selama ini mempekerjakan dirinya.
Tanpa di duga Sherin memeluk sang Bibi dengan sangat erat, sebelum akhirnya tangis wanita itu pecah.
"Bahkan Mama juga yang sudah membunuh Papa," suara Sherin terdengar begitu bergetar saat mengatakan semua itu.
Wanita itu sungguh terkejut mendengar apa yang dibicarakan oleh wanita muda yang tengah menangis ini, sungguh ia tidak percaya bahwa Melly wanita yang benar-benar jahat dan tidak mempunyai hati.
"Ba.. bagaimana bisa? Non tidak sedang asal bicara bukan?" tanyanya dengan mata yang melebar dan mulai berkaca-kaca.
Sherin menghapus air matanya lalu berjalan menuju laci meja yang ada di dekat tempat tidur, mengambil sesuatu di dalamnya lalu menunjukkannya pada wanita yang sedang menghapus air matanya.
"Asisten itu memberikan rekaman CCTV yang menunjukkan Mama sedang menaruh racun di minuman Papa, ini adalah bukti kejahatan yang Mama lakukan pada Papa Bi," Sherin merasakan dadanya sangat sesak hingga untuk bernafas pun terasa benar-benar sulit.
__ADS_1
"Pria itu menyerahkan bukti ini pada Sherin, dia membiarkan Sherin untuk memilih, mau menyerahkan bukti ini pada polisi atau tidak, Sherin bingung Bi! Sangat bingung, apa yang harus Sherin lakukan? Sherin ingin menyerahkan bukti ini pada polisi, tapi sebagai seorang anak Sherin juga merasa sedih jika Mama sampai di tahan dalam waktu yang lama," ungkap Sherin dengan linangan yang semakin membasahi wajahnya yang sudah terlihat begitu pucat memikirkan semua yang akan terjadi pada sang Mama.
"Jika itu bisa membuat Mama Non berubah, lebih baik serahkan bukti ini pada polisi, biarkan dia membayar semua yang sudah dia perbuat," jelas sang Bibi membantu Sherin untuk bisa mengambil keputusan.
Mau tidak mau Melly harus menerima semua akibat dari kejahatan yang sudah dia lakukan, biarkan wanita itu mengerti bahwa kejatahan yang sudah dilakukan suatu saat harus dimintai pertanggung jawaban jika tidak di dunia tentu saja di akhirat nanti.
Sherin terdiam merenungi setiap pernyataan yang sang Bibi lontarkan, membenarkan semua itu hingga akhirnya dia pun menarik nafas lalu mengambil keputusan yang terasa berat namun harus tetap ia lakukan, karena demi kebaikan Mamanya sendiri agar bisa menjadi lebih baik kedepannya.
"Sherin akan menghubungi teman Sherin untuk menemani Sherin ke kantor polisi," ucap Sherin kemudian mengambil benda persegi yang sekarang menjadi satu-satunya barang mewah yang ia miliki.
Sherin kembali ke tepi jendela dengan handphone yang ia dekatkan pada telinganya, sang Bibi pun menjauh keluar dari dalam kamar kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah sebelum mengistirahatkan tubuhnya di malam yang sebentar lagi akan di guyur oleh hujan karena petir yang sudah mulai bergemuruh serta menyala di langit yang berwarna hitam.
Sherin tampak menunggu sampai panggilannya di jawab oleh seseorang yang ia tuju, seseorang yang beberapa hari ini selalu memberikan perhatian padanya, seseorang yang selama ini tidak pernah ia hiraukan dan seseorang yang seolah tak pernah terlihat oleh matanya karena selalu sibuk mencari perhatian dari pria yang tidak menyukainya sama sekali.
Permana tampak sangat sumringah melihat layar handphonenya yang menampilkan nama seorang wanita yang sedari dulu dia sukai hanya saja dia tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya karena dia tahu benar siapa pria yang wanita itu suka.
Bukan dirinya! dan sebisa mungkin dia sadar diri untuk tidak terus mendekat karena nantinya hanya membuat wanita itu risih lalu menjadi benci padanya.
"Halo."
"Iya Sher, bagaimana keadaanmu? bagaimana luka di kepalamu?" tanya Permana membuat wanita di balik telepon tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan olehnya.
"Baik, lukanya juga mulai mengering," sahut Sherin pelan.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Permana.
Dua orang itu terdengar begitu kaku dan canggung saat harus saling berbicara tanpa ada orang lain, sebab selama ini selalu ada teman-teman ditengah-tengah keduanya.
Sherin terdiam sejenak, memikirkan kata yang pas untuk meminta pria itu menemaninya.
"Sher?"
__ADS_1
"Oh iya," sahut Sherin dengan suara yang gugup.
"Kenapa diam?" tanya Permana tak sabar apa yang ingin disampaikan oleh wanita di seberang sana.
"Aku ingin minta tolong di antar ke kantor polisi," kata Sherin akhirnya lalu menghembuskan nafas lega karena berhasil mengeluarkan kata yang cukup panjang di tengah jantung yang berdebar.
"Kantor polisi?"
"Iya, kantor polisi ada sesuatu yang harus aku lakukan."
"Baiklah, aku akan mengantarkan mu," jawab Permana.
"Terimakasih, kalau begitu aku tunggu besok jam 10."
"Aku akan menjemput kamu," kata Permana menampilkan senyuman yang sangat manis.
Sherin mengakhiri pembicaraannya dengan Permana, temannya yang entah kenapa hari ini saat mereka berbicara ia merasakan jantung yang sangat berdebar, sangat aneh karena dulu ia tidak merasakan hal seperti ini bahkan saat mereka bertukar pandangan.
Wanita itu memeluk handphone di dadanya lalu mengembangkan senyuman, mendalami debaran jantung yang semakin cepat.
****
__ADS_1