
Satu bulan kemudian...
Sherin benar-benar tidak menyangka bila akhirnya rumah serta perusahaan dan aset mendiang Papanya bisa kembali ia miliki, ia sungguh tidak menduga jika satu Minggu yang lalu asisten Aditya dan menemuinya dengan membawa semua surat-surat berharga yang sekarang sudah di atas namakan menjadi namanya, itu artinya dirinyalah yang menjadi pemilik tunggal semua aset-aset berharga itu.
Wanita itu menatap haru pada rumah besar yang kini akan kembali ia tempati.
"Semuanya benar-benar kembali Bi," kata Sherin dengan suara yang terdengar serak dan bergetar.
Wanita yang selama ini setia menemaninya pun ikut menitikkan air mata karena ia tau benar bagaimana perjuangan gadis berusia 20 tahun itu untuk menjalani hidup yang sesungguhnya sangat keras bagi gadis seusianya tanpa dampingan orang tua terutama Mamanya yang kini berada di penjara.
Namun sepertinya itu jauh lebih baik, sebab dengan dampingan Melly malah makin membuat anaknya ikut terjerumus dalam dendam yang tak berkesudahan.
Entah apa yang ada di dalam kepala seorang Melly karena sebegitu gilanya menanamkan kebencian pada anaknya sendiri untuk ikut membenci orang yang tidak dia sukai.
Sang Bibi mengelus punggung gadis yang setiap harinya selalu pulang dalam keadaan lelah karena semua aktifitas yang sungguh menguras tenaganya serta pikiran karena setelah bekerja gadis itu masih harus mengikuti pelajaran di kampusnya, tidak mau melewatkan sedikitpun karena ia mempunyai cita-cita yang sangat besar dan ingin bisa ia wujudkan.
"Siap untuk memulai hidup baru di rumah lama?" tanya Permana yang muncul dengan membawa dua koper besar milik Sherin.
Sherin tersenyum dengan mata yang berbinar, pria ini benar-benar membuktikan perkataannya yang akan selalu menemaninya dan juga ada di saat hari-hari terberatnya.
Pria ini juga yang akhirnya membuat Sherin mengerti bahwa di cintai itu jauh lebih baik ketimbang mencintai dan yang lebih membahagiakan lagi adalah bahwa ia juga mencintai pria jangkung berambut hitam yang meskipun jarang bicara dan menunjukkan kasih sayangnya namun Sherin tau bahwa pria itu sangat mencintai dirinya.
Tentu setelah semua pengorbanan yang Permana lakukan untuknya, saat Sherin membutuhkan bantuan pria itulah yang akan menjadi orang pertama datang, selalu siap membantu apapun yang Sherin butuhkan meski hanya sekedar menjadi pendengar di setiap keluh kesah yang ia curahkan.
Sikap serta perhatian yang pria ini tunjukkan pun yang akhirnya mampu untuk meyakinkan hati kecil Sherin untuk menjalani semua ini bersamanya.
Keduanya sudah berjanji untuk saling setia dan sudah mulai memikirkan rencana paling besar dalam hidup mereka.
Rencana yang seorang Sherin pun tidak menyangka kalau akhirnya pria bernama Permana lah yang akan menjadi tujuannya meraih kebahagiaan sempurna dalam hidup dan juga masa depan.
Sherin mengangguk lalu memperhatikan Permana yang langsung melangkah menuju pintu rumah besar yang terkunci.
Sang Bibi yang sejak tadi tersenyum penuh keharuan pun memberikan kunci rumah yang sejak tadi ia pegang, rupanya ia terlalu serius menyaksikan dua orang sejoli yang tengah saling memandang hingga ia lupa apa yang harus ia lakukan.
Sherin menahan nafas ketika kunci mulai di masukkan ke lubangnya, terdengar bunyi kunci yang di putar pertanda pintu itu segera akan terbuka.
Permana mendorong dua pintu besar hingga kini mereka bisa langsung melihat seperti apa dalamnya.
Perlahan Sherin melangkah masuk dengan mata yang terus melihat pada benda-benda yang di tutupi oleh kain berwarna putih, tentunya agar terhindar dari debu karena nyatanya rumah itu di beli oleh Johan, yang lagi-lagi menjadi orang paling banyak bekerja dalam kisah ini.
Dan untuk sekian kali air mata Sherin kembali tumpah seraya memegang tangan Permana yang berdiri tak jauh darinya.
Seolah mengerti, Permana pun mendekat lalu memberikan pelukan hangat sebagai penenang untuk wanita yang menjadi kekasihnya itu.
"Aku harap ini adalah tangis kebahagiaan," ucap Permana.
Sherin menganggukkan kepala di dalam pelukan sang pria terbaik dalam hidupnya sekarang.
"Dari pada berpelukan seperti itu, apa tidak sebaiknya kalian membantu Bibi?" seru wanita yang kini mulai sibuk membuka kain yang menutupi barang-barang.
Suara wanita itu benar-benar menginterupsi adegan romantis yang sedang dilakoni oleh Sherin dan juga Permana.
__ADS_1
Sherin pun menjauhkan diri sedangkan Permana mengulas senyum malu-malu.
*****
Beberapa bulan kemudian..
Rona sedang berjalan di lorong kampus menuju kelasnya hingga seseorang yang sangat tidak diinginkan malah muncul dan menghadang langkah kakinya.
Rona mendesah ketika melihat wajah menyebalkan dari Rendi yang sejak pertama kali ia mulai mengikuti kuliah selalu saja mengganggunya.
Rendi baru saja akan membuka mulut namun dari arah belakangnya malah muncul Tyo dan salah seorang teman kuliahnya membuat Rendi tidak bisa berkutik.
Bagaimana dia bisa berkutik jika Tyo ini tidak ragu untuk melayangkan pukulan pada wajah tampannya setiap kali kedapatan mengganggu Rona.
"Mau sampai kapan sih lu, gangguin hidup gue!" ketus Rendi ketika Tyo melewatinya.
Tyo menghentikan langkah tepat di depan Rendi lalu menoleh dengan tatapan yang memicing.
"Sampai elu nggak lagi gangguin Rona! katanya lu ini playboy kampus tapi kenapa selera lu istri orang, nggak laku apa sama perawan?" desis Tyo yang memang akan selalu kurang ajar pada seniornya yang satu ini.
Bagi Tyo tidak perlu bersikap sopan dengan orang yang bahkan tidak mau sopan dengan orang lain.
Mendengar pernyataan Tyo Rendi pun menggaruk tengkuknya salah tingkah, merasa ucapan Tyo ada benarnya.
Bukankah dia ini playboy yang tidak perlu di ragukan lagi sepak terjangnya? lalu kenapa malah begitu sibuk mengejar istri dari seorang Darren? seharusnya dia patut senang karena sudah tidak ada lagi pria tampan yang menjadi saingannya di kampus ini.
Tyo dan temannya menatap aneh ketika Rendi malah tersenyum tak jelas padahal saat itu tidak ada satu orang pun yang mengajaknya tersenyum.
"Selain playboy ternyata dia juga gila," bisik Tyo pada temannya lalu mengajak Rona untuk pergi menjauhi pria yang sepertinya sudah sedikit miring.
Wanita yang perutnya sudah mulai terlihat itu tertawa sepanjang lorong menuju kelasnya dengan Tyo yang menggeleng melihat tingkahnya.
****
Rona menunjukkan wajah yang bingung ketika keluar dari kampus sudah mendapati mobil suaminya terparkir di depan gerbang kampus itu.
Wanita itupun berjalan cepat untuk memastikan apakah benar itu mobil suaminya.
"Beneran mobil Kak Darren," gumamnya setelah melihat plat nomor mobil yang tengah terparkir itu.
Wanita itupun melihat jam tangannya lalu kembali berucap, "baru jam 14:30," katanya seraya mendekati pada pintu mobil lalu dengan bodohnya malah mengintip berusaha melihat apakah suaminya itu ada di dalam mobil atau tidak.
Kepala Rona menjengkit mundur ketika mendadak kaca mobil bergerak turun.
"Masuk Na!" seru suaminya yang sejak tadi melihat tingkah konyol dari sang istri.
"Tumben Kakak jemput, memangnya sudah pulang kerja?" tanya Rona sambil masuk ke dalam mobil.
Wajahnya sangat kebingungan karena biasanya sang suami baru pulang bekerja ketika jam 4 sore hingga tidak sempat untuk menjemputnya pulang kuliah.
"Selesai rapat di luar, aku malas balik lagi ke kantor," sahut Darren dengan enteng.
__ADS_1
"Ooh," bibir Rona terlihat begitu maju membuat Darren menepuknya pelan.
Wanita itupun mulai membongkar isi dashboard mobil mencari permen jahe dan juga permen yang memiliki rasa asam yang biasa ia siapkan untuk suaminya.
"Permennya sudah habis Kak?" tanya Rona ketika tidak mendapati satu butir permen pun di tempat itu.
"Ya abis lah Na, kepala aku pusing terus mual terus tiap hari," jawab Darren seraya menyalakan mobilnya lalu melaju menjauhi kampus.
"Ya udah abis ini kita ke minimarket dulu," tukas Rona dengan tangannya yang memukul-mukul bahunya sendiri.
"Kenapa? bahunya sakit?" tanya Darren perhatian.
"Nggak sakit, cuma kayak pegal-pegal aja, terus kayaknya aku juga capek banget," Adu Rona.
"Oh gitu? capek banget?" tanya Darren dengan wajah yang menyimpan sesuatu.
Rona mengangguk cepat tanpa menyadari apa yang akan terjadi dengan perkataan yang baru saja dia katakan, "sakit semua badan aku, terus juga nafasnya ngos-ngosan terus kalau naik turun tangga," katanya lagi.
"Eemmm capek yaa?" wajah Darren tampak begitu serius saat mengatakan hal itu.
Memang inilah yang sedang di nanti-nantikan oleh seorang Darrendra, menanti saat istrinya mengeluh dan akan dia jadikan senjata pamungkas untuk bisa membuat istrinya untuk cuti kuliah.
Dan akhirnya setelah menunggu beberapa bulan, saat inipun tiba juga sehingga membuatnya diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
"Iya," dan dengan polosnya Rona malah menjawab.
"Oke kalau begitu besok aku akan mengurus cuti kuliah kamu!" tegas Darren membuat Rona membelalak tak percaya.
Tubuh wanita itu bahkan kian condong ke arah sang suami.
"Kakak ngomong apa barusan?" tanya Rona dengan raut wajah panik.
"CU TI, kamu CU TI!" tekan Darren.
"Loh kok aku cuti kuliah?" sepertinya Rona lupa pada perjanjian mereka dulu.
Darren menunjukkan senyum miringnya lalu berkata, "mau aku ingatkan apa tentang perjanjian kita beberapa bulan lalu saat aku kasih ijin kamu untuk kuliah?" tanya Darren dengan ekspresi serius.
Rona memutar bola matanya berusaha untuk mengingat-ingat dan sekejap kemudian tubuhnya merosot di kursi mobil dengan bibirnya yang mengerucut.
"Apa Kakak.."
"Nggak ada tawar-menawar! aku sudah memberi ijin dan kamu juga sudah berjanji! tidak ada toleransi untuk hal yang sudah kita sepakati!" tegas Darren dengan mata yang tetap fokus pada jalanan di depannya.
Rona mengusap wajahnya lalu menatap sang suami dengan memelas berharap suaminya itu mau berubah pikiran.
"Aku tidak akan terbujuk dengan wajah melas mu itu," seru Darren membuat Rona sudah tidak bisa berkutik lagi.
Darren melihat pada sang istri yang juga melihat padanya, pria itu menaik turunkan kedua alisnya menggoda sang istri yang langsung melengos dengan ekspresi ketus.
__ADS_1
TAMAT
Terimakasih semuanya, kisah Darren dan Rona akhirnya selesai.