Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 6


__ADS_3

Motor yang di bawa oleh Darren pun terus berjalan dengan santai, membuat Darren kesal karena terasa sangat lama untuk bisa sampai di rumah Sherin.


Darren ingin sekali membawa motornya itu dengan kencang namun dia juga tidak mau sampai Sherin kembali berpegangan pada pinggangnya hingga membuat tubuh mereka saling berdekatan.


Akhirnya sekarang mau tak mau Darren bertahan pada gerak motornya yang seperti seekor siput di tengah jalan yang dihiasi oleh lampu-lampu di sepanjang jalan untuk memberi penerangan di jalanan yang gelap karena memang sudah malam.


Saat di persimpangan jalan Kening Darren tampak mengernyit saat dari arah berlawanan tampak Rona tengah berboncengan dengan Tyo.


"Ck." Darren berdecak kesal kala memastikan bahwa yang dia lihat benar Rona.


Darren tampak melihat jam di pergelangan tangannya lalu tanpa bicara apapun pada Sherin lelaki itu malah memutarkan motornya untuk mengikuti Rona.


"Udah malam masih aja kelayapan." gerutunya pelan yang tentu saja tak bisa di dengar jelas oleh Sherin.


Sherin terlihat kebingungan ketika motor Darren malah mengarah ke jalan lain, bukan menuju rumahnya.


"Kita mau kemana Ren?" tanya Sherin.


Tapi pertanyaan Sherin itu malah di abaikan oleh Darren, pemuda itu terus saja melaju dengan tatapan mata yang tajam dan laju motornya semakin kencang hingga membuat Sherin kembali memegang pinggang Darren dan anehnya Darren seolah tidak merasakan tangan Sherin yang sudah melingkar di pinggangnya.


Motornya terus melaju bahkan semakin kencang saja ketika motor yang tengah dia kejar semakin menarik gas hingga habis.


"Kayaknya ada yang ngikutin kita Na." seru Tyo pada Rona yang ter sontak kaget, gadis itu ingin menoleh ke belakang namun Tyo melarang.


"Nggak usah di tengok." Tyo memperingatkan.


"Jangan-Jangan begal Yo." kata Rona.


"Gue denger-denger di daerah sini banyak bengalnya, udah banyak kejadian." kata Rona yang memang sering mendengar cerita dari temannya yang rumahnya berada di daerah yang tengah mereka lewati.


"Lu bukannya ngomong dari tadi." seru Tyo yang sewot karena Rona baru memberitahunya.


"Gue lupa, lagian lu ngapain juga lewat sini, bukan lewat jalan yang biasanya aja." sahut Rona dan sekarang menyalahkan Tyo.


"Biar cepet sampai rumah Rona, lu kan udah di teleponin terus sama Papah lu." jawab Tyo dengan semakin melajukan motornya secepat mungkin sebab motor di belakangnya masih terus mengejar mereka.


"Gimana nih, mana jalannya sepi banget lagi." kata Rona yang sudah mulai panas dingin ketakutan.


Tiiiin.

__ADS_1


Tiiiin.


Malah terdengar suara klakson yang semakin membuat Tyo ngebut agar tidak terkejar.


"Tuh bocah kenapa malah ngebut." rutuk Darren dalam hatinya ketika melihat motor yang di bawa oleh Tyo malah semakin kencang.


Dengan kekesalan yang membumbung di puncak kepalanya Darren pun semakin tancap gas, agar motor besarnya bisa mendahului motor milik Tyo yang padahal hanya sebuah motor matic.


Dan benar saja ketika Darren ngebut tidak perlu waktu lama, akhirnya motornya sudah berjalan men sejajari motor Tyo.


Tiin..


Tiin..


Darren kembali membunyikan klakson motornya.


"Minggir." seru Darren.


"Kak Darren." pekik Rona kaget.


"Tyo berhenti Yo." pinta Rona.


"Itu Kak Darren." kata Rona.


"Yang tadi pagi?" ucap Tyo.


"Iya." sahut Rona.


Segera Tyo pun menepikan motornya menuruti permintaan Rona.


Motor Darren pun berhenti di samping mereka.


"Kak Darren." Seru Rona dan tatapannya menjadi sinis ketika melihat ada seorang wanita yang tengah dengan santainya memeluk pinggang lelaki yang ia sukai.


Melihat tatapan Rona barulah Darren tersadar dengan tangan Sherin yang tengah nangkring di pinggangnya memeluk dengan sangat erat.


"Kan tadi udah di bilang nggak usah pegangan." kata Darren seraya menjauhkan tangan Sherin dari pinggangnya.


"Kamu nya bawa motor kenceng banget kalau nggak pegangan aku takut jatuh." ungkap Sherin yang padahal tadi merasakan senang tak terhingga kala Darren tidak memintanya untuk melepas kedua tangannya dari pinggang lelaki kecintaannya itu.

__ADS_1


Darren mendengus kesal seraya membuka helmnya.


"Om ngapain sih pake ngejar-ngejar segala udah kayak begal aja." omel Tyo.


Mata Darren membelalak mendengar Tyo memanggilnya Om, gila memang gila bahkan setelah Darren membuka helm dan menampakkan wajahnya yang masih sangat muda teman dari Rona itu dengan ringannya memanggil dirinya Om.


"Heh bocah, seenaknya manggil gue Om!" bentak Darren dengan kedua matanya yang terbuka lebar.


"Terus mau panggil apa?" Tyo dengan konyolnya malah bertanya.


"Umur lu berapa emang?" tanya Darren justru menimpali Tyo.


"18 tahun sama kayak Rona." sahut Tyo tanpa ekspresi.


Mendengar nama Rona membuat perhatian Darren kini tertuju pada Rona yang masih saja menatapnya dengan tatapan sinis entah apa yang sekarang yang ada di dalam hati gadis itu melihat ada wanita yang duduk di boncengan.


"Ngapain kamu malam-malam begini masih di jalanan, sama bocah tengil ini lagi!?" omel Darren pada Rona yang membuat Tyo mendelik sebab Darren menyebutnya bocah.


Rona mendengus kesal mendengar Omelan Darren, padahal dia dan Tyo baru pulang dari menjenguk teman mereka yang sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena sakit, sebenarnya mereka tidak hanya berdua saja sebab teman sekelas mereka juga hampir semuanya ikut menjenguk tapi ketika pulang mereka semua berpencar karena rumah mereka yang berlainan arah.


"Ngapain urusin Rona terus sih, urusin aja tub cewek Kakak." sahut Rona.


"Ayo Yo kita pulang." ajak Rona.


"Kamu pulang sama Kakak, jangan sama dia." ujar Darren yang sepertinya sangat tidak suka dengan kedekatan Rona dan Tyo.


"Dih, tuh ceweknya mau di gimanain Om?" tanya Tyo seraya menunjuk Sherin yang malah terlihat senang karena sejak tadi di sebut kekasih Darren oleh Rona dan Tyo.


"Sembarangan lu kalau ngomong." sengit Darren mendengar ucapan Tyo.


Dan Darren pun langsung berbicara pada Sherin untuk turun dan dia akan mencarikan taksi.


"Ini udah malam banget Darren." ucap Sherin yang enggan untuk turun dari motor Darren, tidak mungkin ia turun begitu saja setelah mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan lelaki pujaan hatinya itu.


"Jalan Tyo, ngapain masih di sini." ujar Rona yang matanya mulai panas melihat pemandangan di depannya itu.


Tyo pun kembali menyalakan mesin motornya dan berlalu saja bahkan tidak berhenti kala mendengar suara Darren yang memintanya untuk berhenti.


Dengan wajah tak bersahabat akhirnya Darren memutuskan untuk kembali mengantar Sherin sampai ke rumahnya meski dengan hati yang terus mengumpat apa saja tentang kejadian hari ini.

__ADS_1


****


__ADS_2