
Darren sangat terkejut ketika mengetahui siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Saya bukan hantu, tidak perlu terkejut seperti itu," celetuk Johan seraya berjalan tegap menuju seorang mahasiswa yang menjabat sebagai direktur.
"Baju kamu bagus, rasanya Ayah kamu tidak punya baju dengan warna seperti itu," ucap Johan melihat warna baju yang kini di pakai oleh Darren.
Darren tau benar bahwa itu bukanlah sebuah pujian melainkan ejekan yang sengaja dilontarkan oleh asisten menyebalkan sang Ayah.
"Om ngapain kesini?!" ketus Darren mengabaikan ejekan dari pria yang mulai duduk di depan meja kerjanya.
"Kamu ada pertemuan dengan perusahaan Argana Group bukan?" tanya Johan dengan wajah sangat datar, seperti biasanya memang seperti itulah tampilan dari seorang asisten yang sudah mengabdi sekian puluh tahun lamanya.
"Terus kenapa? Om mau bantuin?"
Johan menggeleng ,"tidak!" jawab Johan tegas.
Mata Darren memicing penuh kecurigaan, "terus mau ngapain kesini?" mengusut sampai mendapatkan jawaban yang membuatnya puas tentang kenapa asisten kepercayaan Ayahnya itu tiba-tiba muncul di kantornya.
"Ayah kamu suruh Om temenin kamu, memantau kamu agar tidak melakukan kekacauan," celetuk sang asisten dengan sangat tenang.
Darren menjengkit kan sedikit tubuhnya ke belakang mendengar jawaban yang diberikan oleh pria di depannya.
Kekacauan? pernyataan itu seolah Darren ini adalah anak berandalan yang tidak tau aturan selalu membuat kekacauan padahal kekacauan yang paling parah yang pernah dia buat adalah ketika tidur satu tenda dengan Rona saat kemah dulu.
Itulah kekacauan yang akhirnya membuat dia rela bekerja sambil kuliah karena harus menafkahi wanita yang dia nikahi.
"Darren tidak akan melakukan kekacauan apapun lagi Om," sanggah Darren.
"Baguslah kalau begitu, Om juga masih banyak urusan," kata Johan lalu beranjak dari duduknya.
"Lah Om mau kemana?" bingung Darren melihat Johan yang berdiri.
"Kembali melanjutkan pekerjaan, kamu kan sudah bilang tidak akan membuat kacau pertemuan dengan Argana Group," terang Johan mengingat apa yang tadi Darren katakan.
"Sudah terlanjur Om, sudah jauh-jauh datang kesini sebaiknya selesaikan saja tugas yang Ayah berikan pada Om," kata Darren dengan wajah yang mengesalkan.
__ADS_1
Johan mendesah panjang lalu kembali duduk, sudahlah lebih baik menemani anak atasannya itu ketimbang harus mendengar atasannya mengomel jika dia membiarkan Darren sendiri dan melakukan kesalahan yang tidak disengaja, tentu akhirnya dialah yang nantinya akan dijadikan tertuduh oleh sang atasan karena tidak menjalankan perintah yang sudah diberikan padanya.
"Segera pelajari apa yang nanti akan kamu bicarakan dengan pimpinan Argana Group," desak Johan membuka lembaran map yang sejak tadi ada di atas meja Darren.
Sungguh tanpa di duga Darren dengan cepat melakukan permintaan dari sang asisten kawakan yang pengalamannya sudah tidak perlu diragukan lagi.
Johan terus memberikan pengarahan pada anak muda di depannya itu yang tampak serius mempelajari apa yang dia tugaskan dan sarankan di simak dengan sangat baik.
Di tengah keseriusan dan keheningan ruangan kerja itu, mendadak Darren mengangkat wajahnya dari tumpukan berkas yang sejak tadi tengah dia pelajari.
Menatap wajah pria serius di depannya yang jadi balas menatap dirinya hingga kini mereka malah saling menatap tak jelas.
Mata Johan akhirnya melirik-lirik pada berkas di atas meja memberi kode agar Darren kembali fokus pada kertas-kertas itu, pelajaran yang tengah dia berikan harus dengan baik Darren pelajari.
Bukannya mengikuti kode dari Johan Darren malah menunjukkan wajah yang cukup misterius dengan senyuman yang mendadak dia munculkan.
"Apa yang sedang kamu tertawakan?" tanya Johan selalu saja dengan wajah seriusnya.
Darren makin melebarkan senyuman di bibirnya mendengar pertanyaan dari pria di depannya, pria yang tengah membantunya malah dia buat kesal karena kelakuannya yang tak jelas.
Sudah berulang kali Johan menarik nafas lalu menghembuskan nya berusaha mengendalikan dirinya, karena dia tahu keturunan siapa yang sekarang ada di depannya.
Darren terlihat menggoda seorang asisten yang sekarang membenarkan posisi duduknya kala menangkap apa yang barusan dia katakan.
Johan mengatupkan bibirnya tidak memberikan suara karena dia memang tidak mengetahui anak pertamanya itu pergi kemana, sebab anaknya pergi pagi-pagi sekali dan hanya mengatakan ada urusan sangat penting yang harus segera di selesaikan.
Profesi anaknya yang sebagai seorang pengacara tentunya membuat Johan mengira bahwa urusan penting yang di maksud oleh sang anak adalah tentang klien baru yang meminta pembelaan darinya di persidangan.
Yah seperti itulah yang ada di kepala Johan ketika anaknya berpamitan hari ini, tidak berpikiran yang lain.
"Ekspresi yang Om tunjukkan menandakan kalau memang benar Om tidak tahu pergi kemana Kak Fariz dan sedang apa sekarang," seloroh Darren makin menjadi menggoda asisten kebanggaan Ayahnya.
Johan mengangkat wajahnya bersikap tenang meskipun dalam hatinya dia merasa sangat penasaran apa yang ingin disampaikan oleh putra dari atasannya yang terkenal sangat usil dan menyebalkan sama seperti sang Ayah.
Darren sudah tak tahan melihat raut wajah Johan yang padahal sudah sangat penasaran namun masih saja bisa mengendalikan dirinya agar tetap bersikap tenang.
__ADS_1
"Kak Fariz lagi sama Kak Ana," seru Darren membuat pria dewasa di depannya tersentak kaget.
"Ini kalau Om nggak percaya." Darren mendorong handphonennya ke arah Johan.
Kedua mata Johan langsung membelalak tak percaya melihat foto yang tadi di kirimkan oleh Riana kepada sang Adik.
Johan sontak mengambil handphone itu agar bisa melihat dengan jelas gambar yang ada di layarnya.
Benar itu adalah anaknya yang tadi pamitan padanya dengan mengatakan ada urusan penting yang harus diselesaikan, nyatanya urusan penting anaknya itu adalah menemui putri dari atasannya.
Johan kembali meletakkan handphone milik Darren ke atas meja lalu mendorongnya dengan satu jari ke arah Darren.
"Lanjutkan apa yang tadi sedang kamu kerjakan." dengan tenangnya kembali meminta Darren untuk kembali melanjutkan yang tadi tengah dia lakukan.
Darren menganga menatap betapa tenang serta datarnya wajah asisten Ayahnya itu, padahal dengan apa yang dia tunjukkan barusan Darren berharap ada sesuatu hal yang terjadi, minimal merubah raut wajah pria di depannya menjadi berbeda dari biasanya, atau minimal membuka mulutnya dengan lebar bukan hanya kedua matanya saja yang membuka dan itupun hanya beberapa detik saja.
Mau tidak mau Darren pun kembali memfokuskan diri pada berkas-berkas itu.
Johan benar-benar memberikan pelajaran pada Darren tentang bagaimana caranya menjalin kerjasama dengan para pengusaha untuk memajukan perusahaan yang sekarang dia pegang.
__ADS_1
Semua pengetahuan yang Johan miliki pun dengan senang hati akan dia bagikan pada putra atasannya itu, agar perusahaan yang sekarang menjadi miliknya semakin maju dan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya.
\*\*\*\*