
Lima hari kemudian saat Aditya baru saja pulang dari kantor dan sedang duduk merilekskan tubuhnya di sofa ruang keluarga dari arah luar rumah terdengar suara berisik yang sangat di kenali oleh lelaki itu.
Aditya langsung menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Ayaaah." seru sebuah suara yang langsung berlari memeluknya dengan sangat erat, menandakan betapa ia sangat rindu dengan lelaki yang selalu berdebat dengannya itu.
"Kamu kok pulang? kuliahnya udah selesai?" tanda tanya kebingungan tanpa jelas di gurat wajah dan pertanyaan yang Aditya lontarkan.
"Belum?" sahutnya seraya menggeleng.
Ya wanita yang sekarang tengah memeluknya itu adalah anaknya yang sudah semakin tumbuh menjadi gadis dewasa di usianya yang memang sudah 23 tahun berbeda 3 tahun dengan sang adik yang sekarang menginjak usia 20tahun.
"Terus kenapa pulang? kamu pulang sama siapa? kok nggak kasih kabar sama Ayah? ibu tahu nggak kamu pulang?" rentetan pertanyaan langsung mengisi telinga wanita bernama Riana itu hingga seperti tengah menggelitik telinganya.
"Kan di suruh pulang, aku di jemput Ayah. ibu juga belum tahu kalau aku pulang hari ini." sahut Riana seraya melepaskan pelukannya pada sang Ayah tercintanya itu.
"Siapa yang suruh pulang kamu?" tanya Aditya bingung karena dia memang tidak merasa meminta anaknya yang sedang melanjutkan kuliah demi mengejar S2 nya itu untuk pulang, istrinya juga rasanya tidak mungkin melakukannya tanpa memberitahukan dirinya, mengingat istrinya itu tidak mengatakan apapun terhadapnya.
"Anak Ayah tuh yang suruh Ana pulang." jawab Riana menyalahkan Adiknya yang sekarang sudah pasti sedang berada di kampusnya.
"Darren?" kerutan di dahinya terlihat jelas tanda bahwa dia tengah bertanya bingung.
"Memangnya selain Ana anak Ayah siapa lagi?" Riana memutar bola matanya jengkel mendengar pertanyaan sang Ayah.
"Ibu mana?" menanyakan sang Ibu yang belum muncul juga padahal sejak tadi suaranya sudah sangat berisik.
"Lagi mandi kayaknya, Ayah juga belum lihat." jawab Aditya.
__ADS_1
"Siapa yang jemput kamu?!" Aditya mengulangi pertanyaan yang sengaja tidak di jawab oleh Riana.
Bukannya menjawab sang anak malah melenggang masuk menaiki tangga seraya menyunggingkan senyuman penuh rahasia.
"Nggak usah pamer rahasia segala, Ayah udah tahu siapa yang mau repot-repot jemput anak Ayah yang bawel macam kamu." sepertinya seorang Aditya memang akan sulit untuk di bohongi oleh siapapun.
"Pasti Om Johan." tutur Riana seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ya siapa lagi, kamu deketin anaknya yang Bapaknya Deket sama Ayah." oceh Aditya mengikuti sang anak menuju dapur dan duduk di meja makan.
Mendengar ocehan sang Ayah, Riana yang tengah membuka kulkas untuk mengambil minum itu jadi melirik sang Ayah dengan kesal.
"Fariz yang deketin Ana Ayah." berusaha membela diri, padahal jelas-jelas sejak kecil memang dirinyalah yang selalu menempel pada Anak pertama dari Johan itu yang jarak usianya berbeda 4 tahun.
"Nanti Ayah bilangin Fariz deh biar nggak deketin kamu, suruh cari wanita lain aja, kasihan telinganya bisa jadi tuli dengar suara kamu terus." kata Aditya dengan wajah yang terlihat sangat meledek anaknya itu.
Dalam sekejap mata Riana membulat sempurna mendengar omongan sang Ayah barusan.
"Ayah nggak kasih uang jajan." ancam Aditya.
"Dih, emangnya Ayah pernah kasih uang jajan Ana?" tanya Riana yang membuat Aditya menggeleng santai.
"Nggak." jawabnya.
"Terus kenapa ngancemnya gitu?" sungut Riana.
"Ya biar kayak orang tua lain aja, kalau anaknya ngeselin di ancam nggak di kasih uang jajan, lagian kamu ngapain sih pake kerja segala di sana? kayak kekurangan uang aja." omel Aditya yang mulai membahas masalah Riana yang kuliah sambil bekerja dan menolak setiap kali dirinya akan mengirim uang untuknya.
__ADS_1
Bahkan tak jarang Aditya mentransfer uang tanpa memberitahu anaknya itu, tapi kemudian saat mengetahui ada transferan dari sang Ayah, Riana akan langsung mentransfer balik uang itu dan langsung menghubunginya lalu mengoceh panjang lebar, selalu menekankan kata bahwa Ana ingin mandiri, hal itu membuat Aditya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menarik napas panjang.
"Anaaa." terdengar suara khas Rianti yang baru saja turun dari tangga menghentikan perdebatan antara Ayah dan anak itu.
Riana langsung menghambur ke pelukan wanita yang semakin hari malah semakin mirip dengannya itu, semua yang ada pada Rianti seolah menurun pada Riana termasuk mulut bawelnya yang selalu dengan senang hati akan meladeni tingkah keras kepala dan ngeselin lelaki bernama Aditya Erlangga yang sekarang tengah meminum teh yang memang sudah di siapkan oleh istrinya ketika sudah mendekati waktunya sampai di rumah, seolah Rianti seorang cenayang yang bisa mengetahui kapan dirinya sampai di rumah, terbukti dari teh yang masih terasa lumayan panas padahal sejak pulang dia belum bertemu dengan sang istri.
Rianti mengajukan pertanyaan yang sama dengan suaminya ketika melihat sang anak wanitanya yang mendadak pulang tanpa mengatakan apapun pada mereka dan Riana pun memberikan jawaban yang sama pula, Darren, Darren dan Darren.
"Ngapain Darren suruh kamu pulang? tumben banget." kali ini kernyitan kening Rianti yang terlihat setelah sebelumnya Aditya lah yang memperlihatkannya.
"Katanya ada yang mau dia omongin, Ana suruh ngomong aja di telepon dia nggak mau, katanya penting harus ngomong langsung. sekarang Darren nya mana?" mencari sang Adik yang memang belum pulang.
"Belum pulang kuliah." sahut Rianti.
Dan obrolan ketiganya pun mengalir dengan sangat lancar bercerita apa saja tentang yang mereka alami, lebih tepatnya Riana lah yang tengah bercerita tentang kuliahnya dan kehidupannya selama berada di Singapura.
"Ayah." seru Riana memanggil sang Ayah yang baru keluar dari dalam kamar setelah menyegarkan tubuhnya dengan cara mandi.
"Apa?" sahut Aditya.
"Tante Eva kan lagi hamil lagi." ucap Riana dengan mulutnya yang menyunggingkan senyuman lebar, sudah jelas maksudnya berkata seperti itu kepada Ayahnya adalah untuk membuat sang Ayah kesal mengetahui Rama akan memiliki anak lebih banyak dari dirinya.
Dan lihatlah lelaki itu sekarang. wajahnya sudah terlihat merengut dengan laporan dari sang anak, Rama akan lebih unggul darinya sekarang ini dengan memiliki tiga orang anak.
"Sayaaaang." sekejap kemudian lelaki itu berteriakan memanggil istrinya yang sedang memasak untuk makan malam mereka.
Riana tertawa lepas menyaksikan tingkah laku dari Ayahnya yang sungguh tidak pernah menganggap bahwa lelaki itu sudah semakin menua.
__ADS_1
Bagi Riana Ayahnya itu tetaplah lelaki muda yang gagah tidak ada perubahan apapun pada diri sang Ayah yang mencolok, kerutan di wajahnya juga masih sangat jarang rambut berwarna putih di kepalanya pun masih belum terlihat terlihat ajaib ketika usia anak-anaknya sudah semakin dewasa.
****