Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 102


__ADS_3

Seminggu setelah kedatangan Melly ke kantor Aditya, kini di perusahaan wanita itu terjadi kegaduhan yang luar biasa membuat pusing.


Ruangannya bolak-balik didatangi oleh orang-orang penting terdiri dari rekan bisnis dari perusahaannya yang dengan bersamaan mengajukan pembatalan kerjasama.


Semuanya bertambah semakin kacau hingga akhirnya harus mengadakan rapat darurat para pemegang saham di perusahaan itu.


Rapat berjalan sangat alot dengan Melly yang sebenarnya tak pernah tau apapun tentang perusahaan, karena selama ini ia hanya duduk manis menerima semua keuntungan perusahaan tanpa pernah sekalipun memeriksanya atau menjalankan perusahaan sebagai mana mestinya.


Hingga saat salah satu pemegang saham itu menyatakan untuk mundur dan bahkan menjual sahamnya membuat Melly terbelalak tak percaya, makin tak percaya kala satu persatu mengikuti pria tua gemuk itu.


Itu artinya perusahaan dalam keadaan darurat, kulit wajah Melly sudah benar-benar menjadi sangat pucat kala asistennya menerangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Perusahaan milik mendiang suaminya akan menjadi bangkrut jika ia tidak segera mengambil tindakan, saat tengah di pusingkan dengan kondisi perusahaan handphone miliknya berdering dengan sangat nyaring memaksanya untuk segera menjawab.


Dan entah untuk yang keberapa kalinya mata Melly membelalak dengan sangat lebar hingga hampir saja bola matanya melompat keluar karena perkataan dari orang yang menghubunginya.


"Apa yang terjadi?" tanya Dirsya turut cemas melihat ekspresi wajah yang Melly tunjukkan, meski tidak diberitahu ia bisa melihat dengan jelas ada sesuatu yang lagi-lagi sedang terjadi.


"Restoran serta cafe terbakar, semua habis tak bersisa," jawab Melly seraya memejamkan kedua belah matanya.


"Sialan! brengsek!" makinya seraya menggebrak-gebrak meja kerja sehingga menjatuhkan semua yang ada di atasnya.


Brak! brak! brak!


****


Johan masuk ke dalam ruangan Aditya dengan tumpukan berkas yang dia bawa.


"Semua sudah di kerjakan sesuai dengan yang anda minta," kata Johan meletakkan berkas itu tepat di depan mata Aditya.


Aditya tersenyum puas lalu memeriksa satu persatu berkas yang di bawa oleh asistennya, memeriksa apakah ada nama pemegang saham yang terlewat olehnya.


Aditya menyandarkan tubuhnya di kursi yang selalu membuatnya nyaman sekalipun ada banyak pekerjaan yang harus dia lakukan, tarikan nafasnya terdengar sangat puas dengan kinerja sang asisten.


"Kamu memang asisten yang bisa diandalkan," tukas Aditya.

__ADS_1


Johan menggerakkan kepalanya kesamping mendengar perkataan sang atasan.


"Bagaimana dengan bisnisnya yang lain?" tanya Aditya.


"Suryo sudah melakukan semuanya dengan baik sesuai dengan yang anda perintahkan," jawab Johan membuat Aditya benar-benar tersenyum semakin lebar.


Aditya mengambil salah satu berkas lalu kembali melihatnya sebelum akhirnya melemparkannya ke atas meja lalu berkata, "pastikan tidak ada yang tersisa, saya ingin dia membayar semua yang sudah dia lakukan terhadap Rianti dulu, jika dia melawan segera serahkan bukti-bukti yang kita punya ke kantor polisi, biarkan dia membusuk di dalam penjara!" tekan Aditya.


"Sejak dulu bukankah saya sudah pernah memperingati anda untuk langsung memasukkannya ke dalam penjara, tapi anda malah bertindak di luar logika, meminta Suryo untuk merusak mobil yang dia kendarai yang nyatanya setelah bertahun-tahun wanita itu bahkan tidak merasa jera sama sekali, lihat bukan sekarang dia malah berani bermain-main dengan anda bahkan anak anda."


Penjelasan Johan sudah sangat jelas sekali bahwa dulu dia sudah pernah memberitahu Aditya untuk memasukkan Melly ke dalam penjara namun anehnya Aditya malah bertindak sendiri tanpa meminta pendapatnya malah memberikan tugas pada seorang Suryo yang memang akan selalu senantiasa melaksanakan apa yang dia inginkan.


"Pintu di sebelah sana." Aditya menunjuk pada pintu.


"Cari tau semua tentang bisnis apa saja yang masih dia miliki, semuanya harus benar-benar bersih," sambung Aditya.


Sepertinya pria itu sudah tidak mau mendengarkan ceramah dari asistennya itu yang terkesan menyalahkan dirinya karena sempat bertindak konyol dengan mencelakai Melly dan juga pria bernama Arey yang bekerja sama dengannya.


Dengan wajah datarnya Johan pun segera keluar, pria itu akan kembali menjalankan semua yang di perintahkan Aditya kepadanya.


****


Mual Darren kembali muncul ketika dia sedang berada di kantor, mual yang sebenarnya sudah dia atasi dengan selalu mengendus minyak angin namun nyatanya itu tidak bertahan lama.


Hal itu membuat Desi mengendus ketiaknya sendiri memastikan apakah ia bau badan sehingga membuat direktur mudanya itu sangat mual.


"Perasaan gue udah pakai deodorant sama minyak wangi," gumamnya ketika Darren sedang sibuk menahan mualnya.


Hari ini Darren benar-benar merasa sangat lelah karena harus keluar masuk toilet hanya untuk menuruti rasa mual nya itu.


"Apa mau saya buatkan teh panas?" Desi mencoba menawarkan siapa tau teh panas bisa sedikit mengurangi rasa mual serta pahit di mulutnya.


"Tidak usah," Darren menggeleng karena memang dia tidak menginginkan itu.


"Baiklah kalau begitu saya permisi," kata Desi kemudian beranjak.

__ADS_1


"Tunggu dulu."


Suara Darren menghentikan langkah Desi yang baru akan berjalan ke arah pintu, wanita itu pun menengok pada sang atasan yang tengah menatapnya dengan ragu, terlihat jelas ada yang ingin pria itu sampaikan padanya.


"Apa direktur memerlukan sesuatu?" tanya Desi karena Darren yang tak juga membuka mulutnya.


Mata Darren melirik ke kiri serta kanan lalu mengusap tengkuknya bibir pria itu terasa sangat sukar untuk di buka guna mengeluarkan kalimat yang dia ingin sampaikan.


"Kesini." Darren melambaikan tangannya, sungguh apa yang dia lakukan kali ini membuat sekretarisnya itu mengerjap lalu mengernyitkan dahinya bingung.


"Sini sebentar," panggil Darren lagi ketika Desi malah mendadak berubah menjadi batu bernyawa namun diam tak bergerak.


"Saya sudah punya istri, tidak mungkin saya berbuat macam-macam." akhirnya Darren malah jengkel dengan sang sekretaris yang sepertinya menaruh curiga padanya.


Desi pun terkesiap lalu berjalan mengarah pada meja kerja sang atasan dan berdiri di depannya menanti apa yang ingin pria itu katakan.


Darren mencondongkan sebagian tubuhnya membuat Desi menjengkit mundur.


"Tolong belikan saya rujak," bisik Darren sangat pelan seolah tidak ingin ada yang mendengar ucapannya itu tidak sadar bahwa di ruangan itu hanya ada mereka berdua saja.


"Hah?" mulut Desi terbuka lebar tak mengira seorang direktur meminta untuk dibelikan rujak, selama ia menjadi seorang sekretaris rasanya baru kali ini ia mendapatkan atasan aneh seperti ini.


"Kenapa malah bengong, apa tidak takut ada lalat yang akan masuk!?" Darren memberikan cibiran pada sang sekretaris.


Dengan gelagapan Desi segera merapatkan bibirnya lalu mengerjap seakan berusaha untuk mengembalikan kesadarannya atas keterkejutan yang luar biasa.


"Bisa tidak?" Darren kembali bertanya.


"Bisa, bisa, saya akan Carikan rujak untuk anda," sahut Desi menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah sana cepat beli, saya sudah tidak sabar ingin memakannya," sahut Darren yang makin membuat Desi mengerutkan alisnya.


Wanita itupun melangkah terburu sambil sesekali menoleh pada sang atasan yang tengah memijit pangkal hidungnya.


Desi segera mencari rujak yang diinginkan oleh atasannya dengan mulut yang terus bergerak mengucapkan serangkaian pertanyaan tentang kenapa atasannya yang dari wajahnya saja terlihat pendiam malah meminta rujak, hal yang terasa sangat aneh baginya apalagi sejak tadi ia juga mendapati direkturnya itu mual serta muntah yang sangat sering, bahkan membuat telinganya sangat ngilu mendengar seorang pria muntah-muntah layaknya wanita hamil.

__ADS_1


*****


__ADS_2