
Kepala Darren berputar cepat kala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, senyumnya serta alis yang bergerak naik turun membuat Rona lantas menatap ke arah tempat tidur yang penampakannya berbeda dari yang tadi, bantal hanya ada satu serta guling yang menghilang entah kemana lalu gorden kamar yang tertutup juga lampu utama yang tidak dia nyalakan sudah bisa membuat Rona mengerti bahwa suaminya itu sangat siap untuk melakukan yang semalam tertunda.
"Aku mau mandi dulu." ucap Darren kala Rona melangkah perlahan dengan handuk yang menutupi rambut basahnya.
"Emm." Rona tampak ingin mengeluarkan perkataan namun ketika mata Darren menatapnya membuat bibirnya menjadi sulit terbuka.
"Apa? mau menunggu aku dengan sukarela atau aku paksa kamu untuk menunggu?!" dan akhirnya memberikan pilihan pada sang istri yang sepertinya masih ingin mengelak dari kewajibannya sebagai seorang istri.
Rona tampak ragu di berikan pilihan seperti itu namun ketika ia mengingat bahwa mereka belum makan siang membuat ia mempunyai sedikit alasan untuk menunda sedikit lagi sebelum ia benar-benar pasrah pada suaminya itu. "Tadi Ibu sama Mamah bawain makan buat kita, aku siapin dulu ya. nanti habis Kakak mandi kita makan dulu." terang Rona dan bersiap hendak menuju pintu, namun sebelum sampai di pintu Darren sudah menangkap pinggangnya dan membawa tubuhnya menuju tempat tidur.
"Oke, perkataan kamu artinya jawaban bahwa kamu harus aku paksa untuk menunggu!" Darren membuka Hoodie hitam yang dia pakai lalu mengikat kedua tangan istrinya di sandaran ranjang agar wanita itu tidak bisa kemana-mana, meskipun pintu sudah dia kunci dan kuncinya pun dia sembunyikan tapi bisa saja ketika dia mandi istrinya itu mencari kunci itu agar bisa kabur darinya.
Mata Rona membelalak tak percaya dengan perbuatan suaminya, lelaki yang dari luar terlihat begitu kalem dan tak pernah berbuat aneh sebelumnya kini malah mengikat dirinya di atas tempat tidur, sungguh mengingatkan dia pada film berjudul 365 days yang tak sengaja Rona tonton bersama teman-temannya dulu.
"Jangan lihatin aku kayak gitu." Darren yang tengah mengikat tangan istrinya menjadi jengah sendiri dengan kedua mata Rona yang terus melihat padanya.
Rona pun berkedip. "Aku nggak bakal kabur Kak." akhirnya bisa berucap di tengah keterkejutan yang ia rasakan.
"Tapi aku nggak percaya sama istri nakal ku ini." sahut Darren menyelesaikan apa yang sejak tadi dia lakukan.
Bibir Rona mengerucut mendengar jawaban dari sang suami yang kini tengah berdiri menatap dirinya.
__ADS_1
"Kasihan istri aku." ucap Darren lalu menunduk dan mengecup kening istrinya begitu lama.
"Kalau kasihan di bukain makanya." tukas Rona menggerakkan tangannya.
"Jangan digerakkin Na, Nanti tangan kamu lecet." Darren memegang tangan Rona agar tidak lagi bergerak.
"Abis Kakak jahat, masa akunya diiket kayak gini, udah kayak film 36.." Rona tak melanjutkan perkataannya.
Mata Darren memicing mendengar perkataan Rona yang hanya sepotong. "Kayak film apa?" tanyanya.
Rona menggeleng seraya menahan senyumnya tidak mau menjawab pertanyaan sang suami.
"Sama temen." suara Rona sangat pelan dan tak berani menatap suaminya yang kini persis seorang polisi yang tengah menginterogasi penjahat, wajahnya terlihat sangat menakutkan.
__ADS_1
"Iya temennya siapa? cewek apa cowok?!" dari intonasi suaranya sepertinya Darren mulai terlihat kesal.
"Cewek semua." jawab Rona, karena memang waktu itu hanya ada 3 teman cewek yang menonton bersamanya.
"Nggak ada si bocah songong kan?" usut Darren, siapa lagi yang dia maksud sekarang kalau bukan Tyo, teman istrinya yang kerap kali memanggilnya dengan sebutan Om.
Rona yang tau siapa bocah songong yang di maksud oleh suaminya itu pun sontak menggeleng dengan cepat.
Darren pun mengumbar senyum kembali merubah raut wajah yang tadi tegang menjadi begitu hangat. "Aku mandi dulu." berjalan menuju kamar mandi namun baru setengah perjalanan lelaki itu pun kembali lagi pada istrinya membuat Rona bingung.
Tubuh Darren membungkuk hingga kini wajah mereka berhadapan, hembusan napas mereka pun saling bertemu. "Pemanasan sebentar." bisiknya lalu tanpa terduga menyatukan bibirnya pada bibir istrinya membuat Rona memejamkan kedua matanya dan ikut menikmati apa yang tengah diberikan oleh sang suami mesumnya itu.
Setelah merasa sudah cukup dengan pemanasan yang dia maksud Darren pun melepas tautan mereka lalu mengusap bibir istrinya yang terlihat basah, tersenyum puas dan kembali mencium kening wanita yang kedua pipinya kini berubah menjadi sangat merah.
****
__ADS_1
NUNGGUIN SORE PERTAMA YA? BENTAR YA AKU MAU NGINTIP DULU...