Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 70


__ADS_3

Aditya sudah mondar-mandir saking kesalnya menunggu Roman yang pagi hari baru bisa ia hubungi, padahal sejak semalam ia sudah menyuruh Roman untuk segera kembali ke rumah sakit setelah menjemput Tania.


Tapi memang dasar teman tidak beretika ditunggu hingga tengah malam dan terus dihubungi namun ponselnya tidak juga aktif entah dimatikan atau memang habis baterai yang jelas pagi ini raut wajah Aditya sudah sebegitu asemnya bahkan tidak enak sekali untuk dilihat.


Ia dongkol bukan main pada Roman yang jam 8pagi baru bisa dihubungi dan jawaban manusia itu amat sangat membuat Aditya keki sekaligus murka.


"Gua lupa Dit sorry, waktu liat HP juga taunya low yaudah gua cas sekalian terus gua ketiduran padahal." begitulah jawaban yang Roman berikan saat dihubungi Aditya.


Alasan menjengkelkan yang rasanya sulit untuk dipercaya oleh manusia macam Aditya yang sering bohong hingga ia tidak percaya pada omongan orang lain apalagi temannya sendiri.


"Nih." Rama yang juga belum pergi memberikan segelas kopi yang baru ia beli kepada Aditya.


Sebenarnya dari semalam Rama terus memaksa untuk pergi dari rumah sakit tapi Aditya melarangnya pergi kemanapun, sepertinya masih terus terbayang dengan gerakan bibir Roman tadi malam, jadi dia tidak sekalipun membiarkan Rama lepas dari pandangannya bahkan saat Rama ingin pergi ke toilet pun lelaki bernama Aditya itu terlihat mengikutinya.


Sebenarnya Rama tidak merasa terganggu dengan tingkah Aditya yang seperti itu, hanya saja ia merasa aneh seorang pemilik perusahaan dan sudah memiliki dua orang anak itu masih saja menaruh cemburu serta curiga padanya.


Yah meskipun ia juga senang melihat sikap Aditya karena itu artinya Rianti benar-benar berarti dan begitu dicintai oleh Aditya saingannya dulu.


"Thanks." ucap Aditya seraya menerima pemberian Rama.


"Kapan nikah?" Aditya mulai berbasa-basi sambil menyelidiki kehidupan Rama.


Rama mengedikkan bahunya. "Entahlah." jawab Rama singkat.


Aditya menghembuskan napasnya.


"Belum ketemu yang cocok." ucap Rama lagi.


"Gimana mau ketemu kalau nggak dicari." kata Aditya seolah dirinya paling tahu bahwa selama ini Rama tidak pernah berusaha untuk mencari pasangan hidup.


"Yang cocoknya udah nikah sama orang lain soalnya, jadi kayaknya susah." Rama berkata dengan sangat tenang terlihat dari raut wajahnya yang begitu santai, sangat berbeda dengan lelaki disebelahnya yang ekspresinya berubah dengan cepat mendengar pernyataan Rama.


Pikiran Aditya langsung menebak bahwa wanita yang tengah dibicarakan Rama adalah Rianti, ibu dari kedua anaknya.


"Lu macem-macem abis ya Ram!!" ancam Aditya pada Rama dengan sorotan mata membunuh.


Rama menanggapi ancaman Aditya dengan senyuman tipis, hatinya merasakan kelegaan saat bisa mengobrol lagi dengan Aditya seperti dulu.


Saat-saat dimana mereka berdua masih sangat akrab bahkan tidak jarang minum kopi bersama saat berada di kantor.


Tapi semua berubah ketika Melly berselingkuh dari Aditya dan pergi dengan lelaki lain, disaat itulah hubungan mereka menjadi selalu tegang jika bertemu.


Rama kembali menyadarkan dirinya untuk tidak lagi memikirkan masa lalu yang pernah terjadi, biarlah itu semua menjadi bagian cerita yang tak semestinya diingat lagi sebab Aditya sudah hidup bahagia dengan wanita yang dulu sangat ia cintai.


Melihat Rianti bahagia pun sudah sepatutnya ia ikut merasakan hal yang sama.


"Bercanda Dit." ucap Rama.


"Bercanda lu ngajak ribut, udah tahu gua lagi kesel sama Roman, elu malah nambah-nambahin emosi."


"Hahaha." melihat Aditya yang memang sudah kesal sedari malam karena ulah Roman, membuat Rama hanya bisa tertawa.


Kedua lelaki yang sepertinya tidak tidur semalaman itu langsung berbarengan melihat Roman yang datang dengan begitu tergesa bersama istrinya dengan wajah cemas.


"Nah ini dia manusia lawak yang ditungguin dari semalam malah muncul jam segini." ujar Aditya pada Rama yang sebenarnya juga kesal dengan Roman namun tidak menunjukkan nya sangat berbeda jauh dengan Aditya yang langsung saja mengeluarkan makian pada Roman dengan suara pelan karena sadar sedang berada dimana dirinya ini sekarang.


"Kamu langsung masuk aja." kata Roman pada Tania yang gegas membuka pintu dan masuk kedalam kamar rawat Selfi.


"Sorry." kata sorry langsung meluncur dari mulut Roman begitu berhadapan dengan Aditya yang murkanya sudah di ujung kepala.


"Bacot banget, dari tadi sarra sorry sarra sorry mulu." sudah terdengar mulut Aditya mengomel dan tentunya akan panjang jika diladeni.


Roman yang memang merasa bersalah langsung beralih pada Rama dan mengucapkan kata yang sama.


Rama menaikkan alisnya.


"Ya udah gua pulang sekarang nggak apa kan?" ujar Rama.


"Kita ngopi dulu lah." Roman berniat mentraktir dua orang lelaki yang sudah ia repotkan untuk menjaga adik iparnya.


"Nggak usah terimakasih, nih juga barusan ngopi." Rama menunjuk gelas kopi bekas dirinya dan Aditya.


"Dit." Roman melihat Aditya.


"Nggak!" Aditya juga menolah ajakan Roman malah dengan sangat ketus nya.


"Mungkin lain kali." kata Rama yang diberi anggukan oleh Roman.

__ADS_1


Rama kemudian pamit pada kedua lelaki itu.


"Gua nggak mau tahu, pokoknya lu yang jelasin sama Rianti nanti." Aditya memberi peringatan pada Roman.


"Iya Dit iya, lu tenang ajalah." kata Roman.


"Tenang-tenang aja mulut lu tuh kalau ngomong,nggak tahu apa lu kalau Rianti udah ngomel apalagi gua nggak pulang semalaman." sentak Aditya dengan delikan matanya.


"Ya lagian kenapa lu nggak telepon Rianti, kasih tahu dia lu kemana." kata Roman sambil duduk.


"Eh monyet, gua bilang sama dia mau nemuin elu sebentar, ini malah lu bikin gua nggak pulang!" Aditya berucap tajam.


"Telepon Dit telepon." Roman mengulang perkataannya yang tadi.


"Tinggal kasih tahu lu nemenin Selfi apa susahnya."


"Sialan malah ngegampangin lagi lu, dia tahu gua nemenin Selfi ya makin ngamuk lah,apalagi ngomong ditelepon,gua belum selesai jelasin juga udah dimatiin duluan tuh HP." ucap Aditya yang sudah sangat hafal betul bagaimana istrinya jika sang mendengar suaminya menyebut nama wanita lain yang tidak begitu ia kenal.


"Ah yaudah lah Nanti gua ngomong sama Rianti." katanya agar Aditya tenang.


"Yaudah gua pulang sekarang." tukas Aditya.


"Nggak jadi ngopi?" masih saja mengajak temannya untuk ngopi.


"Bodo amat Man, masih aja ngopi dipikirin." maki Aditya seraya melenggang pergi meninggalkan Roman seorang diri.


Sepeninggalnya Aditya, Roman masih duduk di kursi dekat pintu, sepertinya membiarkan kedua adik kakak didalam ruangan berbicara.


Namun setelah cukup lama,akhirnya Roman pun masuk kedalam menemui kedua wanita itu.


"Dia udah ngomong?" tanya Roman pada Tania.


"Ngomong apa?" Tania malah terlihat bingung.


"Lu belum ngasih tahu kakak lu?" mulut Roman sudah ceplas-ceplos saja pada adik iparnya yang sudah memupuk emosinya selama ini.


Selfi menunduk dengan kedua tangannya meremas selimut dengan kencang.


"Kamu kenapa Sel?" Tania langsung bertanya pada Selfi yang dahinya sudah mengeluarkan keringat dingin.


"Mbak." Selfi mulai berbicara dengan dahinya yang sudah dipenuhi oleh buliran keringat.


"Apa? kamu kenapa?" Roman melihat Tania dengan serius, ia masih tidak menyangka istrinya itu masih bisa bersikap lembut pada adiknya yang sudah jelas-jelas sering melawan padanya bahkan tak pernah mau sekalipun mendengarkan nasihat yang diberikan oleh Tania.


Ia tak menyangka bisa mendapatkan istri yang begitu baik meski akhir-akhir ini sikapnya sering membuatnya jengkel, tapi Roman memaklumi nya mengingat istrinya itu sedang mengandung anaknya, yah meski terkadang mulut Roman suka kebablasan ngomel seperti tadi malam saat ia mengancam sang istri karena tidak mau pulang bersamanya.


"Sel." menyentuh bahu sang adik yang malah membisu cukup lama.


"Mbak."


"Apa?" sahut Tania masih dengan nada yang lemah lembut.


"A aku." kegugupan begitu dirasakan oleh Selfi.


Selfi menarik napasnya dengan dalam melonggarkan paru-parunya juga berusaha menetralkan debaran jantungnya yang bekerja dengan cepat.


"Aku hamil." ucap Selfi dengan tangis yang pecah.


Roman mengurut dahinya, meskipun ia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Selfi namun rasa pusing di kepalanya yang sudah ia rasakan semalam seolah kembali menyergapnya dengan cepat.


Mata Tania membulat dengan sangat sempurna, saking tidak percaya atau malah sepertinya ia tidak ingin percaya dengan yang diucapkan adiknya barusan.


"Kamu jangan bercanda,nggak lucu." ucap Tania seolah semua hanya sekedar candaan.


Roman hanya menghembuskan napas seraya menggeleng-geleng kepalanya melihat respon sang istri.


"Aku serius mbak." bibir Selfi bergetar karena berusaha menahan tangisannya yang sedari tadi sudah memenuhi ruangan.


Ketika sadar bahwa yang dikatakan adiknya adalah kenyataan telapak tangan Tania terangkat dan reflek menampar pipi Selfi dengan sangat kencangnya.


PLAK


PLAK


Bukan hanya sekali tapi dua kali dikedua pipi sang adik hingga membuat Roman bangun dari duduknya dengan cepat dan berusaha menahan sang istri untuk tidak melanjutkan memukuli adiknya.


Jika saja Roman tidak segera menghentikan tindakan sang istri, sudah pasti pipi Selfi akan terus menjadi sasaran pelampiasan amarah Tania.

__ADS_1


"Udah yank!"


"Lepas, aku harus kasih pelajaran sama dia!!" Tania mencoba berontak untuk bisa kembali memukul adiknya yang selama ini begitu ia sayang tapi ternyata malah mengecewakan dirinya, tentu saja mengecewakan ibu mereka di kampung.


"Pelajaran apalagi? semuanya udah terlanjur terjadi!" memegangi bahu Tania.


"Apa yang harus aku katakan sama ibu nanti? ibu menitipkan dia sama aku, ibu pasti marah dan menganggap aku nggak becus jagain adik sendiri." kini malah Tania yang menangis mengingat ibunya yang pasti kecewa padanya karena tidak mampu menjaga sang adik.


"Siapa yang menghamili kamu?!" menghentikan tangisnya dan kembali bertanya pada Selfi seraya memberikan tatapan tajam.


Roman melihat Selfi yang terus saja menangis, memintanya untuk menjawab pertanyaan Tania.


"Imran." Selfi bersuara pelan namun efeknya sungguh besar bagi Tania, karena ia sungguh tidak menyangka Adiknya berhubungan dengan Imran sampai melewati batas.


"Selfiii." suara Tania makin terdengar serak mendengar Selfi menyebut nama lelaki pernah menjadi kekasihnya dan ia tahu sangat tidak baik.


Roman menggeleng ketika melihat Tania sudah ingin berteriak kembali.


"Kontrol emosi kamu." ucap Roman seraya mengelus perut buncit sang istri.


Tania menuruti keinginan suaminya untuk menahan emosi, dan kini ia hanya berdiri di samping Roman yang tengah memeluk bahunya.


"Suruh dia tanggung jawab."


ujar Tania.


"Aku udah minta dia buat tanggung jawab mbak tapi.." tak melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa?!" bentak Tania.


"Dia nggak mau, dia bilang ini bukan anaknya."


"Gila tuh orang." gantian Roman yang bersuara.


Tania sudah bingung harus berbuat apa, marah-marah pun rasanya tidaklah berguna karena hanya akan menguras energinya saja, apalagi sekarang ia sedang hamil.


Untuk saat ini yang Tania bisa hanya menangis di pelukan sang suami.


Roman mendudukkan Tania di sofa sambil terus memeluknya.


"Udah ,kamu ngapain nangis." Roman menghapus air mata yang membasahi pipi sang istri.


"Kita nggak bisa biarin dia hamil tanpa seorang suami." mengeluh pada Roman.


Lagi-lagi Roman menarik napasnya dan membuang dengan kasar.


"Imran tinggal dimana?" Roman bertanya pada Selfi.


"Di kos." sahut Selfi ragu.


"Alamatnya mana?" meminta diberitahu alamat kos Imran.


"Dia tinggal di kos'an aku." menundukkan kepalanya semakin dalam.


Tania melotot mendengar penuturan sang adik.


"Jelas aja hamil, tinggal berdua." gerutu Roman dengan menggelengkan kepala seakan tidak percaya dengan kelakuan dari sang adik ipar.


Tania mengurut kepalanya,rasanya ia ingin pingsan saja karena tidak sanggup menghadapi kelakuan adik kandungnya itu yang pergaulannya sudah sangat melampaui batas.


"Kamu mau kemana?" tanyanya ketika melihat Roman beranjak dari duduk.


"Nemuin tuh orang." ucap Roman.


"Dia mesti tanggung jawab." kata Roman lagi.


"Kamu jangan pergi sendiri." khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan jika sang suami pergi sendirian.


"Iya, kamu tenang aja." katanya seraya mengelus kepala Tania perlahan.


"Kamu disini jangan marah-marah." pintanya dengan tatapan lembut yang di angguki oleh sang istri.


Roman melangkah tegap keluar rumah sakit dan saat berada didalam mobilnya ia menghubungi Aditya dan memintanya untuk ikut bersamanya menemui Imran.


Karena sepertinya Aditya bisa diandalkan untuk hal memojokkan seseorang, apalagi roman tahu Aditya punya catatan kejahatan yang dilakukan oleh Imran.


***************

__ADS_1


__ADS_2