
Dua hari kemudian Roman datang menemui Aditya yang sudah masuk kantor.
Roman langsung nyelonong masuk tanpa permisi padahal sudah di peringatkan oleh Eva yang kini menjadi sekretaris Aditya untuk tidak masuk karena Aditya sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun dengan alasan sibuk.
"Eva adikku sayang, kakak Roman mu ini ingin bertemu dengan kakak mu yang bernama Aditya Erlangga kusuma yang hanya berpura-pura sibuk untuk menghindari semua orang tapi dia tidak bisa menghindar dari seorang Roman." ucap Roman saat Eva berusaha untuk mencegahnya masuk, dengan perkataan yang di buat semanis mungkin padahal hatinya sudah dongkol sejak kemarin-kemarin karena Aditya tak mau menjawab telepon juga membalas pesan darinya.
Tindakan Aditya sungguh membuat Roman kesal sendiri.
Aditya yang entah sedang apa di meja kerjanya sedikit tersentak sekaligus memamerkan senyum yang di paksakan melihat orang yang dari kemarin ia hindari muncul di dalam ruangannya dengan sorotan mata yang terus terarah padanya.
"Gue sibuk banget Man." langsung berpura-pura mencari kesibukan di laci mejanya tak tahu apa yang ia cari, karena Aditya hanya membuka tutup saja laci itu.
Sedang Roman hanya menatap tajam seraya duduk di depan meja Aditya menyilangkan kedua tangannya.
Cukup lama Aditya melakukan gerakan yang sama hingga akhirnya ia bosan sendiri lalu diam dan bertanya pada Roman.
"Lu ada perlu apa?" tanyanya kemudian.
"Nggak penting, lu selesaikan aja dulu kerjaan lu, gue bisa nunggu." sahut Roman dengan tatapan dingin.
"Kerjaan gue udah selesai kok." kata Aditya seraya merapikan pulpen yang berserak di atas meja.
"Udah selesai apa emang sebenernya nggak punya kerjaan?" bertanya menyindir.
"Dua-duanya siih." malah menyahut dengan enteng, seperti sengaja memancing kemurkaan lelaki di depannya yang bisa berubah menjadi hewan liar jika sudah kesal.
Dan benar saja jawaban Aditya sudah cukup menjadi alasan untuk Roman menggebrak meja kerjanya dengan sangat kencang.
BRAAAAAAKK..
Aditya sampai hampir terjungkal ke belakang saking kencangnya suara yang di hasilkan bahkan tempat pulpen saja sampai terbalik dan isinya keluar semua.
"Kaget gue monyet!!" gebrakan Roman membuat mulut Aditya kembali berbunyi liar padahal sejak tadi ia sedang berusaha untuk kalem.
"Lu cuma kaget kan? nah gue lu buat kesel dari kemarin, kemana aja lu?" kata Roman sembari membungkukkan tubuh dengan kedua tangannya menopang di atas meja, tatapannya kini malah lebih tajam dari pada awal masuk tadi.
"Telepon sama pesan gue nggak ada satupun yang lu tanggepin." lanjut Roman berapi-api.
"Lah aneh, lu kan tau rumah gue, ya lu tinggal dateng aja kerumah malah di bikin repot macam cewek di tinggal kabur aja ama cowoknya." menjawab seraya merapikan isi mejanya yang berantakan.
"Hahaha." Roman tertawa mengejek.
"Lu udah tahu gue kerumah lu semalem Dit, jadi nggak usah kebanyakan sandiwara, tingkah lu udah kebaca sama gue." ucap Roman yang memang pada kenyataannya semalam ia datangi rumah Aditya karena temannya ktu tak juga merespon saat di hubungi via telepon, namun pada kenyataannya saat ia datang malah di suruh pulang oleh Aji yang mengatakan bahwa bos nya sedang pergi makan malam dengan anak dan istrinya.
"Peak elu mah Dit, sampai penjaga lu di ajak sekongkol."
"Sekongkol apaan dah?" bertanya dengan wajah sok polosnya.
"Dia bilang lu lagi makan malam di luar."
bentak Roman.
"Lah lu dateng jam berapa emang?"
"Setengah delapan!" membentak lagi.
"Ya emang gue lagi makan jam segitu mah."
"Tapi gue intip mobil lu ada!"
"Itu mobil Rianti kali yang lu liat Man." masih berusaha untuk menang.
"Mobil lu kan lu taro di bengkel bego, lu pikir gue lupa, nggak mungkin langsung lu ambil tuh mobil." berkata sinis, sekarang urusan mobil yang menjadi keributan.
Mendengar jawaban Roman, Aditya langsung diam karena memang mobilnya masih ada di bengkel dan belum dia ambil.
"Mau ngeles apa lagi lu sekarang?" melihat Aditya.
"Ngapain ngeles, orang gue bener makan malam kok, di ruang makan rumah gue." menyahut dengan santainya.ya begitulah Aditya yang akan selalu membenarkan setiap perkataannya.
"Nah kan, kebangetan nih orang." gerutu Roman.
"Udahlah gue nggak peduli lu mau makan kek nggak kek, bodo amat!" kata Roman akhirnya seraya menghempaskan tubuhnya ke kursi.
Aditya menarik napas dalam.
"Nggak usah pake narik napas lu, gue nih yang harusnya narik napas ngeliat tingkah polah lu tiap saat." mengomel menatap sang teman.
"ck, lu ngapain sibuk banget nyariin gue?" tanya Aditya pada Roman.
__ADS_1
Mata Roman mendelik mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Aditya, begitu entengnya sang teman bertanya seperti dirinya tak pernah melakukan apa-apa.
"Dompet lu mana?" malah menanyakan dompet milik aditya.
Aditya sudah mau mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya, tapi seketika terhenti "Nggak." menggeleng menolak permintaan Roman.
"Wah ngajak ribut nih orang." kesal Aditya tak jadi memberikan dompet nya.
"Nanti lu ngambil duit gue lagi." sudah curiga apa yang akan di lakukan oleh Roman ketika ia memberikan dompet nya.
"Nggak gue nggak bakal ngambil duit lu." sahut Roman serius.
"Yakin?" tanya Aditya seraya tangannya bersiap merogoh saku.
"Yakin, karena gue mau ambil kartu debit lu!!!" sontak pernyataan Roman membuat Aditya menarik kembali dompet yang baru saja akan ia serahkan pada Roman.
"Udah ke abisan duit lu, sampe mesti ngutang sama gue?!" tanya Aditya menautkan kedua alisnya.
"Ngarang, lu yang punya utang sama gue."
sahut Roman.
Kening Aditya berkerut mendengar pernyataan Roman yang mengatakan bahwa dirinya mempunyai utang dengan lelaki di depannya sekarang.
"Gara-gara elu gue berantem sama Tania."
Aditya makin di buat tak mengerti dengan perkataan Roman sekarang yang malah membawa-bawa dirinya dalam pertengkaran antar suami istri.
Roman memutar kedua bola matanya melihat temannya malah memandangnya dengan tatapan terbodoh yang pernah di miliki sang teman.
"Lu bawa si Imran ke rumah sakit tapi lu nggak bayar biaya tagihan perharinya ,lu cuma bayar administrasi doang dan sekarang adiknya si Tania malah minta gue buat bayar semua biaya pengobatan Imran."
"Wow mantab." malah mengacungkan kedua jempolnya mendengar omelan Roman.
Roman meninju bahu Aditya dengan cukup keras melihat kelakuan temannya itu.
"Gue minta ganti pokoknya nggak mau tau." kata Roman tak peduli Aditya tengah meringis merasakan sakit di bahunya akibat pukulan yang ia layangkan tadi.
Aditya menggeleng cepat menolak permintaan Roman "Nggak bakal gue ganti, bodo amat emang gue pikirin, kalo akhirnya gue harus keluarin biaya buat rumah sakit si Imran ngapain tuh orang gue pukulin ,rugi banyak gue, tenaga gue keluar duit gue juga keluar." sahut Aditya cepat.
"Lah terus itu orang gimana?" tanya Roman yang juga belum membayar tagihan Imran secara penuh.
"Lu gampang kalo ngomong, nah ini gue berharap sama Tania." ujar Roman di sertai emosi ketika mengingat dirinya harus bertengkar dengan sang istri karena masalah biaya Imran yang di minta oleh Selfi adik iparnya.
Aditya memandang wajah temannya dengan serius. "Ngapain Tania minta lu buat bayarin rumah sakit si imran?" tanya Aditya yang memang tidak tahu bahwa Selfi berpacaran dengan Imran.
"Kan cuma mantan." lanjut Aditya.
Roman mendengus mengeluarkan udara panas dari dalam mulutnya.
"Selfi pacaran sama Imran." sahut Roman terlihat jengkel.
Mata Aditya membulat ketika mendengar Roman berucap "Ade ipar lu bego apa gimana?"
"Bago kayaknya mah." timpal Roman yang memang sudah sangat kesal dengan kelakuan sang adik ipar satu-satunya itu.
"Pantes." Aditya mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui omongan Roman.
"Yaudah ganti duit gue kalo gitu." masih melanjutkan permasalahan ganti rugi dengan Aditya.
"Dih ogah, kerajinan amat, gue yang gebukin gue juga yang harus biayain." tetap menolak permintaan Roman.
"Seharusnya lu kasih tau Tania kelakuannya si Imran biar dia bisa nasehatin adek nya buat jauhin tuh manusia benalu."
"Susah Dit, Tania terlalu ngalah sama adeknya pusing gue juga."
"Ya elu komporin terus lah istri lu, buat kebaikan adek juga kok." malah meminta temannya menjadi kompor penghasut demi kebaikan.
"Gue sih cuma bilang buat kebaikan elu juga sama Tania, mending lu suruh si Selfi jauhin sekarang juga sebelum terjadi hal yang nggak-nggak." Aditya berkata serius dengan Roman sebab ia sudah tau semua tingkah laku Imran yang tidak diketahui oleh Roman juga Tania.
Roman menarik napas, dengan pikiran yang membenarkan perkataan sang teman.
"Jadi lu nggak mau ganti duit gue nih?"
"Sialan masih aja mikirin duit, nanti gue transfer duit lu, tapi gue nggak mau biayain noh cunguks yang lagi tepar di rumah sakit.!"
"Iyeeee, gue juga nggak bakal ngeluarin duit lagi buat tuh orang." kata Roman kemudian.
Akhirnya permasalahan selesai tanpa ada satupun dari kedua lelaki ini yang mau menanggung biaya rumah sakit Imran. .
__ADS_1
"Tapi gue masih butuh bantuan lu." kata Roman membuat Aditya yang sudah tenang kembali tersentak.
"APALAGI?" bertanya dengan suara kencang.
"Bantu gue cari orang." jawab Roman.
"Siapa siih Maaaan." Aditya berkata dengan nada malas.
"Karza, lu kenal Karza kan?"
"Karza siapa lagi? masalah lu banyak amat si Man?" mulai pusing.
"Karza temen kuliah gue dulu."
"Tau ah gue lupa." Aditya tampak tak mau mengingat yang mengakibatkan kepalanya bertambah pusing jika harus dipaksa untuk mengingat sesuatu yang ia lupa.
"Ya lagian kan temen kuliah lu pasti nya jurusan ke dokteran lah, mana gue kenal."
"Masa lu nggak kenal? kan kita sering nongkrong bareng." memaksa Aditya untuk mengingat.
"Bodo pokoknya gue nggak inget." menyentak kesal.
"Yaudah lah terserah, yang penting lu bantuin gue."
"Ngapain?" tanya Aditya.
"Cari dimana Karza tinggal."
"Gimana carinya, orangnya aja gue lupa." kata Aditya dengan muka sebal.
Roman lantas mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri serta langsung menunjukkan poto milik Karza yang masih ia simpan.
"Lah kalo ini mah gue kenal, Karza Sebastian." penuturan Aditya sungguh membuat Roman emosi bukan kepalang, sekarang dia bilang kenal padahal sejak tadi ia bilang lupa bahkan malah tak kenal sama sekali dengan Karza.
"Emang kurang ajar lu Dit jadi manusia, heran gue Rianti mau aja lagi sama laki kayak lu begini."
"Karena gue tampan." manyahut dengan begitu narsis nya.
Roman menepuk keningnya berulang kali ketika telinganya menangkap perkataan narsis dari sang teman.
"Dia punya utang sama elu?" menatap Roman.
"Pikiran lu duit mulu Dit."
"Ya kali gitu, ini aja lu nyariin gue sampe setengah mati gara-gara urusan duit kan?" mengejek Roman.
Tak mau Aditya bicara panjang lebar dan semakin ngelantur akhirnya Roman menceritakan tujuan dirinya mencari Karza saat ini.
"Hah, serius?" Aditya seolah tak percaya begitu selesai mendengar cerita dari Roman.
Roman mengangguk cepat.
"Kok orang-orang bisa ya nabur benih di mana aja." padahal Aditya berkata sendiri tapi Roman merasa tersinggung.
"Nggak usah nyindir Dit." ucap Roman dengan tatapan mata sinis.
"Hehehe." malah terkekeh ketika tahu ada orang yang tersindir karena omongannya.
"Yaudah lah gampang, nggak sampe seminggu juga udah ketemu ini mah."
"Apaan Dit? seminggu?" tanya Roman terkejut.
"Kenapa? takjub ya, gue bisa nemuin orang dalam waktu cepat." malah terlihat membanggakan diri.
"Kelamaan Dit, dulu-dulu juga sehari dua hari udah ketemu kalo lu nyari orang." Roman mengomel.
"Lah suka-suka gue dong." menyahut sambil menyeruput teh nya.
"Suka-suka lu, tapi kan yang nyari juga bukan elu." omel Roman.
"Ya emang bukan gue yang nyari, tapi kan nyari orang harus pake duit, dan udah pasti lu nggak bakal ngeluarin duit kan buat bayar orang gue."
"Ya inisiatif lu aja Dit kalo itu mah, lu tau sendiri kan istri gue lagi hamil, gue butuh banyak biaya." mulai mengatakan alasan yang sebenarnya di ada-adakan.
"Ngomong ama meja lu mendingan." Aditya lantas bangkit dari duduk nya menuju sofa dan duduk di sana.
Aditya lantas menghubungi orang kepercayaannya untuk di tugaskan mencari Karza yang entah bekerja di rumah sakit mana sekarang ini karena dirinya juga sudah lama tidak berjumpa dengan lelaki itu.
Sebenarnya urusan uang yang sejak tadi mereka bicarakan hanyalah sekedar obrolan biasa antar teman dekat yang sebenarnya dirinya maupun Roman tak pernah mau perhitungan untuk masalah itu, hanya saja pertemanan antar dua lelaki ini memang seperti ini, dan itulah yang membuat mereka semakin dekat satu sama lain, karena setelah ini pasti Roman akan langsung mentransfer uang untuk bayaran orang yang mencari Karza.
__ADS_1
**********