
Keesokan harinya Roman langsung mencarikan tempat kost untuk adik iparnya
sebelumnya Tania sudah menyarankan untuk suaminya coba pergi ke tempat kost yang dulu di tempati Tania sebelum menikah dan kost itu cukup sesuai dengan yang di minta oleh Tania
kost itu hanya diperuntukkan wanita dan jam malam hanya sampai pukul 21:30 dan kalau sampai pulang kemalaman sudah pasti akan diinterogasi oleh pemilik langsung
tidak boleh menerima tamu pria terlalu lama apalagi sampai menyelundupkan nya kedalam kamar, aturan yang tepat untuk gadis seperti Selfi namun sayangnya saat Roman ke sana seluruh kamar sudah terisi penuh termasuk kamar yang dulu di tempati oleh Tania
Di dalam mobil Roman menghubungi sang istri
"penuh yank" memberitahu perihal kamar kost yang tak lagi kosong
"yaah" Tania terlihat kecewa , karena dia menginginkan adik nya tinggal di tempat yang menurutnya aman apalagi ia sudah begitu kenal dengan si pemilik kost
"udah kamu tenang aja, ini aku lagi mau ketempat temen aku yang bapaknya punya kost-kost'an , Mudah-mudahan aja masih ada kamar kosong" menenangkan sang istri agar tidak khawatir
"tapi aman nggak? " tanya Tania memastikan keamanan tempat yang akan di tinggali oleh adiknya
"aman lah beb, kalo nggak aman tinggal samperin aja bapaknya temen aku" tukas Roman
"yaudah aku ikut kamu aja" Tania menyerahkan urusan tempat tinggal untuk Selfi pada sang suami
"tapi nanti siang kamu ada jadwal kan? " mengingatkan Roman bahwa hari ini ia giliran ke rumah sakit melayani para pasien
"iya nanti aku langsung pulang kalo udah selesai, paling juga bentaran doang" tukas Roman santai
"iya deh, aa hati-hati ya"
"iya sayank, yaudah aku langsung ke tempat temen aku sekarang, ada yang kamu mau beli nggak? nanti biar sekalian aku beliin " tanya Roman ,mungkin saja sang istri sekarang ini tengah menginginkan sesuatu
"nggak usah nanti kalo ada yang aku mau tinggal tlp kamu " menggeleng meski Roman tak kan melihat apa yang ia lakukan sekarang
"oke deh, aku jalan sekarang" Roman langsung mematikan tlp setelah sang istri mengiyakan
lalu gegas menjalankan mobil menuju rumah seorang teman kuliahnya dulu yang masih berhubungan sangat baik hingga sekarang..
Aditya yang sudah terlihat sibuk dengan pekerjaannya di kantor mulai merasa terusik dengan Johan yang sejak tadi mondar-mandir tak jelas di dalam ruangan tepat di depan meja kerja Aditya
nih si Johan jadi asisten emang nggak ada takut-takut nya sama bos , bos lagi sibuk kerja dia malah asik seliberan bae ngeganggu pemandangan
"bisa duduk nggak Han?! " Aditya mulai gerah melihat kelakuan sang asisten yang malah bergerilya di depan matanya
"memang kenapa pak? " dengan polos nya malah tanya kenapa, tidak sadar kelakuannya itu membuat konsentrasi bosnya terpecah
"pusing saya ngeliatin kamu" Aditya melemparkan pulpen yang tengah di pegang nya keatas meja
__ADS_1
'bapak nggak usah lihat saya, fokus aja sama pekerjaan " perkataannya malah seperti sedang menggurui
ini kalo bukan udah kerja lama bahkan jika saja aditya tak mengenal baik keluarga Johan sudah dapat di pastikan tamat riwayat Johan sejak lama
"gimana saya nggak liat , kamu seliweran di depan meja saya otomatis pergerakan kamu menjadi magnet bagi mata saya untuk melihat kelakuan aneh kamu!! " Aditya berkata geram sambil memijit pangkal hidung mancungnya
Johan menarik napas ketika melihat wajah bos nya begitu dongkol padanya
"pake narik napas lagi" gerutu Aditya menyadari apa yang dilakukan Johan
Johan kembali duduk di kursi kerja nya dengan wajah yang masih terlihat tengah berpikir
"gimana sekretaris buat saya, sudah ada belum calon nya" bertanya ketika Johan sudah duduk rapi
"kan itu yang dari tadi saya pikirkan pak" sahut Johan mengatakan penyebab kenapa ia mondar-mandir di dalam ruangan , rupanya memikirkan sekretaris untuk Aditya
Mata Aditya memicing mulai curiga, jika Johan begitu gelisah bisa di pastikan sekretaris pengganti Tania belum ia dapatkan
"belum ada? "
Johan menggeleng yang berarti pertanyaan Aditya salah
bukan belum ada, melainkan sudah ada hanya saja ia tidak berani mengajukannya takut bos nya akan menolak
"jangan teka-teki silang lah Han, kesel gue lama-lama" Aditya mulai kesal terlihat bicaranya yang sudah pakai kata gue untuk menyebut dirinya
"terserah lu lah, yang jelas selama belum ada sekretaris , elu yang harus handle semua! " kata Aditya sinis dan penuh ancaman
"ya jangan gitu lah pak" Johan panik mendengar ancaman Aditya, bagaimana seorang Johan tidak panik. semua pekerjaan yang berhubungan dengan kantor sudah ia pegang jika harus di tambah lagi sudah pasti ia tak kan bisa istirahat, apalagi minggu besok ia harus pergi ke Jerman menemani bos nya memeriksa perusahaan yang Aditya miliki juga
"terus gue harus apa? kan lu yang bikin pusing diri lu sendiri " malah memarahi Johan
"kan saya nggak enak, masa adik bapak jadi sekretaris di perusahaan milik kakaknya sendiri" Johan tanpa sengaja mengatakan siapa orang yang dia maksud
ternyata sejak kemarin ia di buat pusing dengan sebuah surat lamaran yang ia Terima, Johan sangat mengenal siapa yang sedang melamar pekerjaan sebagai sekretaris bagi Aditya
ya Eva Anggita adik tiri dari Aditya yang sudah mengirimkan surat lamaran pekerjaan kekantor milik kakaknya .
"Eva? " memastikan bahwa benar Eva lah orangnya
Johan mengangguk membenarkan pertanyaan Aditya
"kok lu nggak bilang dari kemarin" Aditya terdengar sewot karena Johan diam saja satu tahu adik tirinya yang melamar pekerjaan
"mau bilang takut bapak nolak terus marahin adik bapak" tukas Johan mengatakan alasan kenapa ia tak mengatakan nya dari awal sejak ia menerima surat lamaran milik Eva
__ADS_1
Aditya tak menyahut hanya kini sibuk berpikir mau menolak atau mempekerjakan sang adik menjadi sekretarisnya
"bukannya Eva udah kerja ya? " malah bertanya pada Johan yang tidak tahu tentang bagaimana Eva dengan detail
"ya mana saya tahu" Johan terlihat kesal dengan pertanyaan Aditya
"bentar saya tlp Rianti dulu" setelah berkata Aditya menekan nomor sang istri
"tanya pendapat yang punya perusahaan ya pak " ujar Johan terdengar meledek bahkan di akhiri dengan kekehan yang lumayan lama
Aditya melotot lalu menunjuk kedua matanya sendiri seperti mengatakan bahwa ia melihat dan mendengar apa yang tengah di perbuat oleh sang asisten
Johan langsung terdiam mengatupkan bibir dan berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya
"kenapa mas" Rianti bertanya kenapa sang suami menelepon
"Eva kirim lamaran buat jadi sekretaris aku, menurut kamu gimana? " meminta pendapat istrinya sebab ia sendiri bingung harus mengambil keputusan apa
"Eva? " bertanya dengan tangannya sibuk menyuapi Riana sedang kan Daren sedang tidur
"iya Eva adik ipar kamu" tukas Aditya menekankan takut sang istri malah menyangka wanita lain
Rianti berpikir sejenak sebelum menjawab yang di tanyakan suaminya tadi
"gimana menurut kamu" bertanya lagi dari pada dia salah mengambil keputusan
setelah melewati pertimbangan di dalam kepala Rianti akhirnya Rianti meminta sang suami untuk menerima Eva menjadi sekretaris
"yaudah nggak apa Eva jadi sekretaris kamu mas dari pada aku was was terus " ucap Rianti
"was-was gimana maksudnya ? " mata Aditya terus mengawasi Johan yang sibuk membolak-balik berkas , ia curiga Johan akan menguping pembicaraan yang sebenarnya bukan pembicaraan rahasia , tapi tetap saja ia merasa tak senang jika sampai Johan mendengar karena kalau sampai Johan mendengarnya pasti nantinya akan di jadikan bahan lelucon saat ada Roman
" ya was-was lah apalagi kalo sampe si Selfi yang jadi sekretaris kamu bisa mati berdiri kamu aku buat mas" cerocos Rianti pada sang suami
"jangan marah terus sayank nanti aku makin lama puasanya" malah mencoba merayu sang istri untuk tak menambah marahnya dengan urusan sekretaris yang tak mungkin ia mempekerjakan Selfi,
baru melirik saja ia sudah di hukum bagaimana jika sampai dirinya menjadikan Selfi sekretaris , bisa di sunat sampai habis mungkin dirinya
Mendengar kata puasa mata Johan melirik Aditya yang ternyata juga sedang melirik nya bahkan begitu tajam seolah sebilah samurai
Rianti terkikik mendengar ucapan sang suami yang begitu takut "kalo takut sama istri jangan macem-macem makanya" tukas Rianti mencibir betapa pengecutnya sang suami sekarang padanya
"udah aah aku mau kerja lagi" merasa kesal dengan sang istri yang malah meledek nya
Setelah perbincangan dengan sang istri Aditya langsung meminta Johan untuk memanggil Eva kekantor besok, meskipun Eva adik tirinya tetap saja ia harus meng interview lebih dulu sebelum menerimanya untuk bekerja
__ADS_1
Johan mengangguk lega karena pekerjaannya akan kembali normal jika Eva menjadi sekretaris Aditya..
*****