
Setelah seminggu koma di rumah sakit akhirnya Imran sadar juga, Selfie yang terus menemaninya tampak terlihat sumringah ketika perlahan mata lelaki yang ia cinta perlahan terbuka.
"Berapa lama aku tidur?" tanya Imran setelah dokter serta suster yang baru saja keluar setelah memeriksa keadaanya yang cukup stabil setelah koma satu minggu lebih satu hari.
"8 hari." jawab Selfi seraya sibuk membetulkan selimut yang menutupi tubuh Imran.
Imran memalingkan wajahnya dengan wajah kesal "bisa-bisanya gue di bikin nggak sadar segitu lamanya,si Adit emang nggak pernah mau ngalah sama gue." membatin sendiri, pemikiran yang aneh, jelas saja Aditya tidak akan mau mengalah jika sudah menyangkut urusan keluarganya apalagi Imran dengan beraninya menyumpahi Aditya cepat mati.
"Kamu haus?" tanya Selfi seraya memegang tangan Imran.
Imran menggeleng lalu menyingkirkan tangan Selfi membuat gadis itu diam terpaku menatap lelaki yang tengah memegangi dadanya kembali merasakan sakit akibat pukulan yang Aditya layangkan.
"Kamu nggak mau lapor polisi?" tanya Selfi berusaha tak memikirkan perlakuan Imran padanya.
Imran lantas melihat Selfi dengan cepat "Buat apaan?" tanyanya kemudian.
"Biar orang yang udah bikin kamu kayak gini tanggung jawab." kata Selfi yang tidak tahu bahwa teman kakak iparnya lah yang sudah membuat Imran tidur lama.
"Jangan.nggak usah." kata Imran tegas.
"Kenapa? biar ada yang tanggung jawab bayar biaya perawatan kamu." ujar Selfi yang membuat Imran membelalak kaget, serta buru-buru menegakkan tubuhnya dan duduk menyender di ranjang.
Mata Imran menyorot pada Selfi seolah minta penjelasan.
Selfi menarik napas sejenak sebelum memberitahukan Imran masalah mereka sekarang ini.
"Tagihan rumah sakit belum aku bayar, aku udah nggak pegang uang sama sekali." kata Selfi setengah menunduk.
"Sialan si Adit, masukin gue ke rumah sakit tapi nggak mau nanggung biaya perawatan gue." Imran gerasak-gerusuk sendiri di dalam hati memaki Aditya.
"Kamu minta dong sama kakak kamu." perintah Imran.
"Aku udah minta bantuan mbak Tania sama suaminya, tapi mereka malah memblokir nomor ponsel aku sehingga aku nggak bisa menghubungi mereka sama sekali." ucap Selfi kecewa.
Imran hampir saja meledak mendengar pernyataan Selfi ingin rasanya sekarang ini ia mengamuk menghancurkan isi rumah sakit tapi setelah memikirkan resiko ganti rugi yang akan semakin memberatkan dirinya, akhirnya Imran hanya mampu mengeratkan rahangnya hingga mengeluarkan suara tampak sekali ia sudah begitu kesal.
"Kamu nggak datengin rumah mereka?" masih saja berharap bantuan dari musuh nya yang sudah sangat kesal dengan segala tindak tanduknya.
"Sudah." sahut Selfi.
"Tapi mbak nggak keluar sama sekali, penjaganya juga nggak bolehin aku masuk." lanjut Selfi.
"Sialan." memaki seraya mengepalkan tangan.
"Motor aku dimana?" menanyakan keberadaan motor nya yang ia kendarai saat menemui Aditya.
"Ada di parkiran rumah sakit, waktu itu di antar sama orang." sahut Selfi.
Imran menarik napas dalam-dalam.
"HP aku mana?" meminta ponselnya yang tak tahu di mana.
"Ada di tas aku, sebentar aku ambil." beranjak mencari tasnya yang ada di dalam lemari kecil dekat ranjang.
"Ini." menyodorkan ponsel berwarna hitam milik Imran.
Imran lantas mengambil ponsel dari tangan Selfi lalu menyalakannya.
"Baterainya kamu isi kan?" tanyanya sesaat ketika ponselnya tak juga mau menyala.
"Udah kok." jawab Selfi seraya memperhatikan Imran.
"Itu kamu kurang teken." memberitahu Imran agar lebih menekan saat menekan tombol power.
"Ck." berdecak tak senang mendengar Selfi mengajarinya.
Tampak Imran menghubungi seorang laki-laki.
"Hallo bro, lu di mana sekarang?" Selfi bisa mendengar apa yang di bicarakan oleh Imran.
"Gue mau jual motor nih, buat bayar rumah sakit, lagi dapet musibah gue. yaudah lu kesini aja nanti gue kirim alamatnya." kata Imran sebelum memutus telepon.
"Kamu mau jual motor?" Selfi bertanya saat Imran tengah mengirimkan alamat rumah sakit pada pria yang tadi ia telepon.
"Kenapa emangnya?" bertanya tanpa menoleh karena matanya sibuk membaca ketikan di ponsel.
"Kenapa harus jual motor?" mencoba mencegah Imran menjual motornya sebab ia tahu hanya motor itulah kendaraan yang Imran miliki, dan setelah motor di jual tentunya mereka akan lebih sering menaiki kendaraan umum atau lebih parahnya berjalan kaki.
"Kamu kan nggak bisa bantu aku! jadi kamu nggak usah ribet mempermasalahkan motor mau aku jual atau nggak. lagian motor juga motor aku." Imran membentak Selfi yang mencoba mencegahnya untuk menjual motornya sendiri.
"Nggak usah ikut campur!" bentak Imran yang makin membuat Selfi menunduk lemas, seperti inilah sifat lelaki yang ia sayangi, kasar dan tak pernah mau mengalah.
*****
__ADS_1
Aditya tengah berdiri di dekat jendela kantornya dengan ponsel yang menempel di telinga kanan, terlihat sekali ia tengah menunggu seseorang menjawab panggilan darinya.
"Kebiasaan dah ni orang kalo di cari susah banget, giliran nggak di cari malah nongol mulu." menggumam kesal sebab Roman belum juga mau menjawab panggilannya padahal ia sudah berulang kali menghubungi.
Saat Aditya sudah kesal karena Roman yang tak juga menjawab panggilannya dan kini Aditya kembali melanjutkan pekerjaannya, ponsel yang tadi ia campakkan di atas sofa pun berdering mengganggu konsentrasi si pemilik ponsel.
Dengan langkah kesal Aditya beranjak mengambil ponsel seraya duduk menyilangkan kaki.
"Apaan?" bertanya malas saat tahu orang yang sejak tadi ia telepon lah yang menghubungi nya.
"Kenapa?" tanya Roman.
"Nggak jadi."
"Lah ngambek." ledek Roman saat mendengar jawaban dari Aditya.
"Jangan kayak Riana lu lama-lama, pake acara ngambek segala." mengomel menyamakan Aditya dengan anak gadisnya.
"Bawel ah." tak senang dianggap seperti Riana padahal sifatnya memang sama persis.
"Ngapain lu tadi telepon gue?" tanya Roman yang saat kembali keruangan nya dan mengecek ponsel sudah banyak sekali panggilan tak terjawab dari sang teman.
"Lu nya kemana aja?" Aditya masih kesal.
"Ada pasien gue yang lahiran." sahut Roman menjelaskan kenapa ia tidak menjawab panggilan telepon dari temannya itu.
"Oh." kata oh saja yang keluar dari mulut Aditya.
"Ada kabar nggak? ini udah mau seminggu dah." tanya Roman.
"Ya ini gue makanya telepon elu, kalau nggak ada kabar juga gue mah ogah denger suara lu yang merusak pendengaran." kata Aditya mengejek suara Roman yang jika bersuara sudah tidak bisa di hentikan.
"Songong lu lama-lama." tukas Roman.
"Cepetan kasih tahu gue." sudah tidak sabar menunggu.
"Eeemmm." Aditya malah sengaja memperlama info yang akan ia katakan pada Roman, ia tahu rasa penasaran Roman sungguh sudah mencapai di ujung ubun-ubunnya, akan lebih seru lagi bagi Aditya jika melihat langsung wajah Roman yang sudah kesal menunggu.
"Dit, gue kekantor lu sekarang ya?" kata Roman akhirnya.
"Mau ngapain?"
"Mau nyekek elu, gedeg gua lama-lama." maki Roman emosi.
"Sialan malah ketawa lagi." ketus Roman.
"Yaudah lu kesini aja." Aditya langsung mematikan teleponnya begitu saja.
Sumpah serapah lantas meluncur bebas dari mulut Roman, mengutuk kelakuan sang teman yang rupanya begitu sengaja mengerjai dirinya, buat apa sejak tadi ia menunggu dengan gemas jika akhirnya dirinya pulalah yang harus datang menemui temannya itu.
"Niat banget emang nih orang kalo mancing emosi gua, nggak pernah tanggung-tanggung." gerutu Roman sambil melepas jubah putih dan menyangkutkan nya di tempat yang tersedia.
Dengan langkah penuh emosi Roman berjalan di Koridor rumah sakit menuju tempat ia memarkirkan mobilnya.
Sesekali makian masih tetap keluar dari mulutnya meski terdengar samar karena banyak orang yang berlalu lalang dan ia tak mau ada yang mendengar nya apalagi dirinya seorang dokter di rumah sakit ini, bisa menjadi bahan gunjingan seluruh isi rumah sakit nantinya.
Roman sampai di kantor Aditya dan langsung berjalan cepat menuju ruangan temannya itu, kakinya bergerak tak sabar ketika lift yang ia naiki belum juga berhenti bergerak.
"Si Adit ruangannya di ujung mancanegara kali ya, perasaan gua nggak sampai-sampai." mulai kesal merasakan kenapa hari ini lift seakan bergerak sangat lambat.
Begitu lift terbuka pria dengan senyum manis itu keluar terburu bahkan berlari menuju ruangan Aditya berada.
"Adit ada kan?" tanyanya pada Eva sang sekretaris.
"Nggak ada ka." menggeleng menjawab pertanyaan teman kakaknya.
Mata Roman memicing tak percaya.
"Bener kak, barusan aja keluar." lanjut Eva.
"Kan ngeselin nih orang satu." mengomel sendiri.
"Kak Roman tunggu di dalam aja, paling sebentar lagi juga dateng, orang nggak ada jadwal rapat kok." beritahu Eva yang sudah dapat melihat adanya hawa tak enak dari wajah Roman.
Tanpa bicara Roman langsung mengikuti saran dari Eva, ia masuk dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa menunggu kedatangan temannya yang kampret itu.
"Sialan lu emang!" langsung memaki begitu Aditya nongol dari balik pintu dengan wajah tanpa berdosa.
"Sorry gue ada urusan bentar." kata Aditya sambil melangkah ringan.
"Nggak peduli gua. cepat lu punya info apaan?" benar-benar tak sabar lagi.
"Eeits tenang dulu dong." ujar Aditya.
__ADS_1
"Tarik napas dulu gue."
Mendengar itu Roman hanya bisa mengeluarkan gumaman-gumaman tak jelas dengan tatapan mata dongkol.
"Nah sekarang udah siap belum?" malah bertanya pada Roman.
Roman langsung melempar Aditya dengan bantal sofa yang ada di sebelah nya dan sukses mendarat di wajah sang teman.
"Dari tadi juga gue udah nungguin elu ngomong, dari tadi gue udah siap elu mau ngomong apa juga gue dengerin, kan elunya yang kurang ajar ngeledek banget gua." maki Roman panjang tak senang dengan Aditya yang kini malah terkekeh sendiri mirip orang tak waras.
"Yaudah diem sekarang, nih gue mau ngomong." menghentikan Roman yang sepertinya masih belum puas berceloteh memarahi dirinya.
Roman berusaha menahan emosinya dan berusaha mendengarkan Aditya yang duduk di seberang nya dengan seksama.
"Suryo udah tahu tempat tinggal Karza."
"Dimana?" memotong perkataan Aditya.
Aditya melotot kesal.
"Lu bisa diem dulu nggak?" omel Aditya.
"Oke, silahkan di lanjutkan." Roman mengangkat kedua tangannya mempersilahkan Aditya menyelesaikan apa yang mau ia katakan.
"Lu tau kan si Suryo kayak gimana?" bertanya pada Roman.
"Kok lu diem aja?" kesal Roman hanya diam padahal dirinya sedang bertanya.
"Oh jadi gua harus jawab?" malah balik bertanya.
"Nggak , nggak usah." ujar Aditya yang sudah kadung kesal pada Roman.
"Suryo minta sisa bayarannya di transfer dulu, baru dia mau kasih alamat nya Karza." kata Aditya kemudian.
Roman membuka matanya lebar.
"Lah emangnya belum lu bayar?" menatap tajam Aditya yang salah tingkah menggaruk tengkuknya.
"Udah gue bayar, tapi setengah doang kan elu yang punya urusan ngapain juga gue mesti keluarain duit." kata Aditya nyolot.
"Apa? bener kan?" ucap Aditya saat melihat Roman sudah memasang mulut hendak memotong perkataan Aditya.
"Iye Dit elu bener, BENER banget, nggak ada yang salah dari elu, elu emang manusia luar biasa." mengeluarkan pujian sekaligus sindiran untuk Aditya.
"Nah itu lu sendiri tahu, yaudah sekarang lu transfer dulu si Suryo." pinta Aditya seraya memasang senyum ngeselin.
"Ada nggak nomor rekening nya?"
"Berisik ah." omel Roman yang tengah sibuk mentransfer uang pada rekening Suryo.
"Tuh udah." menunjukkan layar ponselnya pada Aditya yang terpampang transferan berhasil.
"Nah bagus, gue telepon Suryo dulu." kini Aditya yang tampak sibuk menghubungi Suryo.
"Bentar lagi dikirim sama dia." kata Aditya pada Roman.
Roman tampak diam menunggu.
"Lu masih suka ya sama Ninda?" Tiba-tiba pertanyaan ngeselin muncul begitu saja dari mulut Aditya.
Tak bisa di tahan lagi, akhirnya Roman menyerang Aditya karena kesal yang sejak tadi di tahannya.
"Bacot bangat lu Dit, bacot." menindih perut Aditya dengan dengkul kakinya.
"Aduh iya ampun, sakit Man sakit." meringis merasakan perutnya yang sakit tertekan keras oleh dengkul kaki Roman.
Ting..
Ponsel Aditya berbunyi membuat Roman menoleh.
"Turun lu." Aditya menyingkirkan Roman dari dirinya lalu menggapai ponsel di atas meja.
"Nih." menunjukkan langsung pesan yang di kirim oleh Suryo pada Roman.
"Yaudah gua cabut sekarang." Roman berkata cepat setelah membaca pesan dari Suryo.
"Gila." maki Aditya seraya membetulkan pakaian nya yang berantakan karena perbuatan Roman.
"Nih kalo tiba-tiba ada yang masuk bisa di sangka abis ngelakuin aneh-aneh kalo begini ceritanya." membetulkan dasi seraya menggerakkan kepalanya..
Roman langsung berlari dengan cepat, entah kenapa ia begitu senang bisa menemukan Karza, ia memang sudah tak ada hubungan apapun lagi dengan Ninda apalagi perasaan yang tadi di tanyakan oleh Aditya, sejujurnya ia membantu Ninda karena ia tak tega dengan seorang anak yang tidak mengenal ayahnya sejak kecil, karena ia membayangkan bagaimana jika anaknya yang mengalami hal itu.
Sungguh tidak ada maksud apapun lagi selain membantu Ninda mencari ayah dari anaknya yang kebetulan memang adalah temannya sendiri.
__ADS_1
*********