Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 106


__ADS_3

Di perjalanan pulang ke apartemen Darren terus saja memikirkan apa yang Ayahnya ceritakan.


Pria itu tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Ayahnya itu pernah menjalin hubungan dengan wanita yang pernah bertemu dengannya, pantas saja wanita itu merasa seperti mengenal wajahnya, karena memang dia yang sangat mirip dengan sang Ayah.


"Bagaimana bisa Ayah berhubungan dengan wanita menyeramkan seperti itu," gumam Darren merasa sangatlah aneh dan tidak akan percaya bahwa itu adalah cerita yang sesungguhnya, namun penampakkan wajah sang Ayah yang begitu serius saat bercerita juga apa yang dialami oleh Ibunya membuat dia harus percaya pada semua itu.


Pikiran Darren benar-benar sangat terganggu sekali apalagi setelah Ayahnya berulang kali memperingatkan untuk menjaga diri dan juga Rona.


Darren melihat dengan jelas betapa serius dan tegangnya wajah sang Ayah ketika memberikan peringatan kepadanya, jelas bahwa Ayahnya benar-benar sangat tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.



Pria itu kembali mempercepat laju mobilnya agar segera sampai dan bertemu dengan sang istri yang sejak tadi terus bertanya bagaimana keadaan Ibu mertuanya, Darren dapat mendengar dengan jelas suara istrinya yang begitu mengkhawatirkan sang Ibu.


"Gimana Ibu?" tanya Rona ketika Darren baru saja sampai.


Raut wajah istrinya itu terlihat begitu cemas saat mendengar kabar apa yang telah terjadi pada sang Ibu mertua, sungguh ia tidak pernah menyangka hal seperti ini bisa menimpa Ibu mertua yang bahkan ia sendiri pun sangat tau bagaimana baiknya wanita itu.


"Sudah diobati juga, cuma emang wajah sama badannya banyak memar," kata Darren seraya membuka kancing kemejanya dan mengeluarkan ujung bajunya yang dimasukkan diantara pinggang dan celananya.


"Gimana sih kok bisa Mamanya Sherin itu nyerang Ibu, memangnya mereka saling kenal? terus ada masalah?" cerocos Rona yang sejak tadi di dalam kepalanya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang kenapa dan bagaimana bisa mertua yang begitu baik mempunya musuh.


Darren menjatuhkan tubuhnya di kursi meja makan lalu meminum air yang Rona siapkan ketika mulutnya terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


"Ceritanya panjang Na, aku juga kaget dengarnya waktu Ayah cerita," Sahut Darren singkat setelah menghabiskan segelas air yang kini dengan lancarnya mengalir ke kerongkongannya membasahi tenggorokan yang sedari tadi terasa begitu kering.


Rona duduk berhadapan dengan suaminya lalu mulai menyimak setiap kata yang terucap dari bibir sang suami, hingga sampai pada satu kalimat yang membuat Rona terbelalak lalu menutup mulut dengan telapak tangannya, dan saat itu rasa mual kembali menyerang Darren.

__ADS_1


Pria itu sontak berlari menuju wastafel dan setelah itu sudah bisa di tebak apa yang selanjutnya akan terdengar.


"Uek, uek." Darren kembali muntah-muntah dan kali ini mengeluarkan sisa makanan yang padahal yang dia makan sedikit saja tadi sore ketika akan pulang kantor.


Setelah puas dan cukup lelah karena seharian ini harus bolak-balik muntah belum lagi di tambah perutnya yang sakit karena sambal dari rujak yang ternyata sangat pedas, sedangkan dia tidak terbiasa memakan makanan pedas.


Sungguh luar biasa anugerah yang Tuhan berikan untuknya karena mengalami sendiri apa itu yang dinamakan mual muntah dan ngidam di saat kehamilan.


"Aiiishhh," keluh Darren ketika kali ini merasakan perutnya bergantian sakit hingga dia gerak cepat berpindah posisi menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur.


Melihat tingkah suaminya Rona pun terheran dan menunggu suaminya keluar dari kamar mandi, beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka namun baru juga Darren muncul di ambang pintu, wajah pria itu kembali memperlihatkan raut wajah yang aneh lalu tanpa berkata kembali masuk dan menutup pintu kamar mandi.


"Kakak kenapa?!" teriak Rona yang akhirnya merasa khawatir melihat tingkah sang suami.


"Perut aku sakiiit," seru Darren dari dalam kamar mandi sambil merasakan sakit di perutnya.


Wanita itu berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu suaminya keluar, tak lama sang suami keluar sambil memegangi perutnya yang terasa panas.


"Aku nggak masuk angin," kata Darren menjawab ucapan istrinya tadi.


Kepala Rona menjengkit sedikit, "terus ini kenapa sampai bolak-balik kamar mandi?" tanya Rona sambil menunjuk perut suaminya yang tengah di usap oleh sang suami.


"Tadi itu aku makan rujak yang di beliin sama Mbak Desi," jelas Darren lalu berjalan ke dalam kamar seraya melepaskan ikat pinggang dari pinggang celananya lalu meletakkannya di atas meja rias.


"Di beliin, Mbak Desi itu siapa?" tanya Rona dengan mata yang terpicing sepertinya menaruh kecurigaan terhadap sang suami ketika mendengar nama lain yang tidak ia kenal.


"Sekretaris akuuu," jawab Darren dengan nada panjang disertai dengan raut wajah yang gemas terhadap wanita di depannya saat ini.

__ADS_1


"Cewek?" pertanyaan konyol malah meluncur dari mulut Rona.


"Namanya aja Desi, aku juga panggilnya Mbak Desi, udah jelas cewek Rona Aliza! masa iya sekretaris aku itu bencong!" sentak Darren menatap sang istri dengan pertanyaan tak masuk akal yang ada di dalam kepalanya.


Rona merengut dengan jawaban yang suaminya itu berikan, "terus kenapa dia beliin kamu rujak? urusannya apa?" pertanyaan yang akhirnya akan menyudutkan jika Darren tidak menjelaskan dengan sejelas-jelasnya dan nantinya malah menjadi bahan bagi Rona untuk bertengkar dengannya.


"Aku yang minta dia buat beliin Rona ku sayang, tiba-tiba aku kepingin makan rujak, mungkin Mbak Desi nggak tau kalau aku nggak suka pedas, jadi nggak nanggung-nanggung tuh rujak di bikin pedas sama yang jual." Darren menjelaskan dengan rinci namun ada kalimat yang membuat Rona kesal.


"Ya kalau dia tau kamu nggak suka pedas tuh namanya aneh! masa belum lama kerja bareng masa udah tau apa-apa aja yang kamu nggak suka!" ketus Rona melengos.


"Dih ngambek," tukas Darren dengan gaya bicara yang mengejek.


"Udah sana mandi, biar nanti pakein minyak angin perutnya," kata Rona masih tetap perhatian meskipun hatinya dongkol.


"Mandiin." si gila Darren malah dengan sangat manjanya merengek pada sang istri untuk di mandikan.


"Ogaaah, yang ada bukannya mandi," sungut Rona.


"Dih emangnya ngapain? pikiran kamu kemana-mana aja, udah mulai nih otaknya agak melenceng mikirin gituan," sahut Darren menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat menyebalkan di mata sang istri.


"Eh ngomong-ngomong udah berapa hari ya nggak itu?" sambung Darren mengajukan pertanyaan yang jelas-jelas tidak akan di jawab oleh Rona.


Lihat saja sekarang apa yang wanita itu lakukan? Rona malah kabur keluar dari kamar seraya mengibas-ngibaskan tangannya karena merasa tubuhnya mendadak sangat gerah dengan pertanyaan-pertanyaan dari sang suami.


Darren menahan tawa melihat tingkah istrinya sendiri yang kadang membuat gemas namun tak jarang menguras kesabaran serta emosinya.


****

__ADS_1


__ADS_2